Bersedekah Dari Usaha Yang Baik

Bersedekah Dari

Usaha Yang Baik
Senin, 30 November 2009


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَابِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلَوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Barangsiapa yg bersedekah (walau) sebesar kurma dari usaha yg baik, dan Allah tidak

menerima kecuali yg baik, dan Sungguh Allah swt menerimanya dg sambutan hangat, lalu melipat

gandakannya untuk orang itu seperti kalian mengasuh bayi yg disusuinya, hingga sebesar

gunung” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلكَرِيْمِ وَاْلحَمْدُلِلهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْجَلْسَةِ اْلعَظِيْمَةِ

Limpahan puji ke hadirat Allah subhana wa ta’ala , yang selalu naik kepada Nya setiap getaran doa dari jiwa-jiwa suci mulai dari Abul Basyar Nabi Adam ‘alaihissalam hingga malam hari ini getaran doa dari hamba-hamba yang bermunajat ke hadirat Rabbul ‘alamin terus terlantun dan terkumandang dengan gema yang tidak didengar telinga namun di dengar seluruh alam semesta, doa yang dengan sekejap telah sampai ke hadirat Maha Raja alam semesta dan dengan itu bercahayalah permukaan bumi dengan limpahan rahmat Ilahi dari jiwa para pendoa , Allah subhana wa ta’ala berfirman :


وَلَوْلاَ رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا ( الفتح : 25

” Dan kalau bukan karena ada beberapa orang beriman laki-laki dan perempuan yang tidak kamu ketahui, tentulah kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesulitan tanpa kamu sadari , karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmatNya. Sekiranya mereka terpisah tentu kami akan mengazab orang-orang yang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih “. ( QS. Al Fath : 25 )

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Kalau bukan karena pria-pria dan wanita-wanita beriman yang tidak diketahui kemuliaan doa dan zikir mereka yang bermunajat memohon keselamatan, kalau seandainya kelompok-kelompok itu tidak ada, para mukminin dan wanita shalihat yang selalu berdoa kepada Allah meminta keselamatan di bumi, jika mereka itu tidak ada niscaya Allah akan tumpahkan siksaan yang pedih bagi semua yang kufur terhadap kenikmatan Allah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Para pemilik jiwa luhur yang bercahaya dengan cahaya munajat, semakin hari semakin sedikit, semakin hari semakin berkurang. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaih wasallam bersabda :


يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً

“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( HR. Bukhari )

Maka dari waktu ke waktu para shalihin terus wafat, dan tersisalah para pemilik jiwa yang kosong dari keluhuran cahaya doa , jiwa yang penuh dengan hal-hal yang hina di sisi Allah ta’ala bagaikan ampas-ampas gandum atau sampah yang tidak terlihat kemuliaannya di hadapan Allah ta’ala , karena hari-hari dan jiwanya penuh dengan hal-hal yang dihinakan Allah ta’ala . Tiada lagi tersisa jiwa yang menginginkan Allah, diantara mereka ada yang meminta ini dan itu, tapi adakah yang meminta Allah ? adakah yang meminta cintaNya ? adakah yang meminta ingin dekat denganNya ? adakah yang meminta ingin dicintaiNya ?, adakah yang meminta ingin diridhaiNya ?. Bagaimana Sang Maha mendengar melihat jutaan dan milyaran doa hambaNya dan sedikit dari mereka yang meminta ZatNya untuk dekat, yang meminta ZatNya untuk mencintai , terus menerus mereka meminta ini dan itu, kapan mereka meminta Zat Allah, meminta cinta Allah yang selalu ditawarkan, meminta pengampunan dan keridhaan Allah ???.

Hadirin- hadirat, semoga Allah menerangi sanubari kita semua dengan cahaya kemuliaan dan menjaga para shalihin serta memanjangkan usia mereka dalam keluhuran dan kebahagiaan, di tengah-tengah kita hadir Al Habib Sofyan Ba Syaiban matta’anallahu bihi, usia beliau sudah sangat sepuh namun semoga Allah memanjangkan usia beliau, dilimpahai keberkahan pula para guru dan ulama kita dijaga oleh Allah ta’ala untuk terus dipanjangkan usianya, karena tersisanya jiwa-jiwa itu merupakan benteng-benteng bagi permukaan bumi atas turunnya bala’ dan cobaan, karena pengampunan turun sebab mereka meminta . Hujjatul Islam wabarakatul Anam Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas ‘alaihi rahamtullah Shahib Ar Raatib, yang setiap selesai shalat tahajjud dan witir ia berdoa hanya dengan satu kalimat yang terus diulang-ulang, yaitu :


اَللّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ

” Wahai Allah berilah kami ( orang-orang muslim ) hidayah, seperti orang yang telah Engkau beri hidayah ”

Itulah doa beliau sepanjang malam, doa itu saja yang dipanjatkan beliau sampai azan subuh, kata putra beliau. Demikian indahnya jiwa-jiwa yang menginginkan turunnya hidayah bagi para pendosa di barat dan timur dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menginginkan semua yang belum menyembah Allah agar diberi cahaya hidayah oleh Allah subhana wa ta’ala, merekalah pewaris jiwa yang luhur yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang bermunajat sebagaimana riwayat Musnad Ahmad :


اَللّهُمَّ اَقْبِلْ بِقُلُوْبِهِمْ

Beliau menghadap ke Yaman, menghadap ke Syam , menghadap ke barat dan timur dan ke seluruh penjuru seraya berdoa ” Wahai Allah beri sanubari mereka hidayah , datangkan hati mereka pada keluhuran “. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sampai ke barat dan timur namun doanya sampai , hidayah terpancar di barat dan timur dengan bantuan doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Tiada henti-hentinya Allah memperindah dan memuliakan jiwa para pendoa, dan setiap waktu dan saat terus gema dan gemuruh doa mereka, membuat keamanan dan keselamatan bagi wilayah sekitar. Allah subhana wata’ala berfirman :


وَمَا كاَنَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيْهِمْ وَمَاكاَنَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ( الأنفال : 33

” Tiadalah Allah akan menghukum mereka selama engkau ( Muhammad ) berada di antara mereka, dan tidaklah ( pula ) Allah menghukum mereka , sedang mereka masih memohon ampunan ” . ( QS. Al Anfal : 33 )

Maka Allah tidak akan menumpahkan musibah selama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berada di antara mereka, dan tiada pula Allah akan menimpakan musibah selama masih ada di antara mereka yang memohon pengampunan kepada Allah atas dosa-dosa . Kalau masih banyak orang-orang yang beristighfar maka Allah tahan musibah itu , semakin banyak orang yang beristighfar maka semakin berkurang musibah bagi mereka dan bagi wilayah mereka. Sebaliknya semakin berkurang yang beristighfar kepada Allah, dan tidak peduli lagi atas dosanya maka Sang Pembersih dosa siap untuk mengikis dosa-dosa dengan cobaan dan musibah.

Hadirin hadirat, pisau kalau sudah berkarat tentunya harus diasah kembali , terlebih lagi keadaan jiwa kita jika kita tidak bisa menajamkan sendiri maka harus ditajamkan oleh pemiliknya, oleh sebab itu tajamkan terus, maksudnya apa ? yaitu selalu benahi dosa-dosa kita dengan istighfar, dan dari banyaknya dosa yang telah kita perbuat maka perbanyaklah berbuat amal pahala. Sebagaimana firman Allah subhana wata’ala :


إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ( هود : 114

” Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan ( dosa-dosa ) “. ( QS. Hud : 114 )

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Sampailah kita pada hadits agung di malam hari ini , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari :


مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلَوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ (صحيح المسلم

“Siapa yang bersedekah dengan sebiji korma yang berasal dari usahanya yang halal lagi baik, Allah tidak menerima kecuali dari yang halal lagi baik., maka sesungguhnya Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya ( dengan sambutan yang hangat) kemudian Allah menjaga dan memeliharnya untuk pemiliknya seperti seseorang di antara kalian yang menjaga dan memelihara anak kudanya. Hingga sedekah tersebut menjadi sebesar gunung.”

Maka siapa diantara kalian bershadaqah walaupun kecil sebesar korma, maksudnya bukan bershadaqah korma, tapi yang dimaksud adalah nilainya sebesar sebutir korma ( bukan sebesar korma, karena kalau kalau yang dishadaqahkan sebesar korma jika itu berlian maka besar nilainya ). Nilainya sebesar sebutir korma, berapa nilai sebutir korma ? mungkin tidak mencapai seratus rupiah, atau mungkin seratus rupiah. Dan dari perbuatan atau pekerjaan yang baik, maksudnya dari usaha yang baik dan halal, sedangkan Allah tidak menerima sesuatu kecuali yang baik, jadi semakin baik perbuatan yang kita tunjukkan ke hadirat Rabbul ‘Alamin maka semakin baik pula balasannya. Hadirin hadirat, maksudnya adalah ketika kita ingin beramal diantaranya adalah shadaqah, kalau shadaqah itu dari pekerjaan atau usaha yang paling kita jaga jangan sampai ada hal shubhatnya, jangan sampai ada hal yang haram, kecuali hanya hal-hal yang mulia, maka Allah ta’ala pun lebih dari itu memuliakannya, semakin kita berusaha menyempurnakan amal kita baik itu shadaqah atau lainnya maka Allah akan melimpahkan lebih dari apa yang kita perjuangkan, dan Allah menerimanya dengan tangan kanannya, tentunya bukan tangan kanan Allah ta’ala, tapi yang dimaksud adalah bahwa Allah menyambutnya dengan sambutan yang hangat yaitu sambutan yang mulia, walaupun bershadaqah dengan senilai sebutir korma tapi dari perbuatan yang baik, maka Allah menyambutnya dengan hangat , kemudian Allah ta’ala melipatgandakannya dan mengasuhnya, seakan-akan bayi yang disusui ibunya. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari, mensyarahkan makna hadits ini adalah bahwa Allah ta’ala membesarkannya, menumbuhkannya dari sesuatu yang kecil seakan menanamnya sampai menjadi besar sampai sebesar gunung, dari hal yang kecil saja tapi dari usaha yang baik . Hadits ini memberikan makna kepada kita bahwa semua perbuatan yang kita berusaha memperindahnya hasilnya berjuta kali lipat, seberapa besarnya korma dan seberapa besarnya gunung?! Maka Allah akan membesarkannya sebesar gunung. Satu hal lagi, inilah keindahan Allah yang mengasuh mulai dari sebesar korma saja sampai sebesar gunung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapakan kalimat ” يُرَبِّيْهَا ” ( Allah yang mengasuhnya ), jika kita dalami makna kalimat ini maka mengalir air mata kita, maksudnya amal kecil yaitu shadaqah kita itu diasuh oleh Allah tidak dibuang begitu saja, karena muncul dari jiwa yang baik, jiwa yang suci ingin beramal karena Allah maka Allah membesarkannya dan melipatgandakan balasannya menjadi sebesar gunung, terlebih lagi jika bershadaqah dengan shadaqah yang banyak maka bagaimana hangatnya sambutan Sang Rabbul ‘Alamin. Oleh karena itu kita mendengar agungnya budi pekerti Khalifah Abu Bakr As Shiddiq radiyallahu ‘anhu, diriwayatkan dalam salah satu atsar bahwa ada dua orang kakak beradik, yang satu kaya raya dan yang satu lagi tidak kaya tapi dermawan . Maka si kakak yang kaya raya ini berkata : ” aku mau pergi haji, aku titip hartaku ada ladang gandum yang luas ini tolong dikeluarkan zakatnya, kebetulan saat aku berangkat nanti masuk waktu haul untuk membayar zakat, maka keluarkanlah zakatnya “.

Zakatnya tentunya jelas 2,5 %, dan tempat hasil panen gandum telah disiapkan, sebuah gudang besar kalau sudah panen gudang ini penuh . Maka kakaknya berangkat haji, setelah pulang perasaannya senang karena ibadah hajinya sudah selesai dan zakat untuk hasil gandumnya sudah diamanahkan kepada adiknya, maka tentunya sudah dikeluarkan zakatnya, maka ia ingin melihat hasil panen di gudangnya seberapa banyak, setelah dilihat ternyata gudangnya kosong, maka ia berkata kepada adiknya ” mana hasil panennya?, apa kita belum panen bukannya sudah waktunya panen ” ?, maka si adik menjawab : ” betul, kita sudah panen kakak “, si kakak bertanya : ” lalu, sudah dikeluarkan zakatnya “ ? si adik menjawab ” sudah “. Lalu mana sisanya, dicuri orang kah ?, maka si adik berkata : ” sudah dizakatkan semuanya “, sang kakak berkata : ” kamu ini mengikuti mazhab siapa, zakat dikeluarkan 100% ??!!, si adik menjawab : ” mazhab Abu Bakr As Shiddiq Ra “. Sayyidina Abu Bakr As Shiddiq serahkan semua hartanya untuk Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meninggalkan keluarganya untuk keridahaan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita belum sampai kesana (ketingkat itu) tentunya, namun kalau seandainya kita belum mampu mencapai hal itu, paling tidak kita memahami bahwa ada jiwa-jiwa luhur yang berbuat seperti ini.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Dan jangan lupa bahwa shadaqah itu bukan hanya harta saja, karena Allah subahanahu wata’ala berfirman :


وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ( البقرة : 219

Ketika mereka bertanya kepada mu ( Muhammad ) tentang apa yang harus mereka infakkan, maka katakanlah agar berinfak dengan memaafkan orang lain. Memaafkan kesalahan orang lain juga merupakan infak shadaqah untuk keberkahan harta kita. Semakin seseorang tidak mau memaafkan orang yang bersalah kepadanya, maka semakin tidak barakah hartanya . Oleh sebab itu jika seseorang berjuang bershadaqah dengan amal yang kecil sebesar biji korma saja, maka Allah yang mengasuhnya sehingga sebesar gunung. Pantas saja orang-orang yang berjiwa suci itu, amal-amalnya terlihat tidak terlalu banyak , tapi karena jiwanya suci dan penuh keluhuran, maka Allah lipatgandakan pahalanya hingga seperti sebesar gunung, sebagaimana riwayat Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh salah seorang sahabat : ” Wahai Rasulallah, kapan datangnya hari kiamat ? “, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : ” Apa yang kau siapkan untuk menjumpai hari kiamat itu “?, maka orang itu menjawab : ” Aku tidak banyak melakukan amalan-amalan sunnah berupa shalat atau puasa dan yang lainnya, tetapi sungguh Aku mencintai Allah dan RasulNya “, tidak ada di hatinya selain Allah dan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hatinya penuh cinta kepada Allah dan RasulNya, ini amal kecil maksudnya bukan ia tidak shalat, ia tetap menjalankan yang fardhu, shalat sunnah atau puasa sunnah tidak seberapa banyak tapi sungguh dia mencintai Allah dan RasuluNya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :


اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

” Seseorang bersama dengan yang yang dia cintai ”

Hal ini menunjukkan bahwa amal sanubari hati kita itu sangat menentukan dan bisa melipatgandakan amal yang kecil menjadi sangat besar, seperti hadits yang kita telah kita baca, bahwa hanya bershadaqah dengan senilai sebiji korma itu Allah yang akan memeliharanya hingga amal itu menjadi besar seperti gunung, karena kesucian niatnya, karena keindahan jiwanya maka perindahlah jiwa kita agar semakin indah dan semakin luhur, maka amal-amal kita akan langsung sampai pada sambutan hangat Rabbul ‘Alamin .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Perbaiki sanubari kita untuk selalu berusaha mencintai Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kalau belum mampu kesana maka cintailah orang yang mencintai Allah dan RasulNya . Mencintai Allah dan RasulNya belum mampu malah membenci pula orang yang mencintai Allah dan RasulNya , maka hal ini adalah kejauhan yang berlebihan, tentunya amal-amalnya tidak sampai kepada Allah sebelum semerbak niat yang indah sampai ke hadirat Rabbul ‘alamin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ وَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ نِيَّاتِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan amal-amal kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan niat kalian.” (shahih Muslim dan lainnya)
Jadi bentuk atau rupa dan apa yang diperbuat seseorang bukan menjadi tolak ukur utama , namun yang menjadi ukuran adalah jiwa dan sanubari serta niat kita .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memuliakan orang walaupun ia adalah pendosa, memuliakan yg dimaksud adalah bukan berarti tidak mempedulikan mereka, tetapi memuliakan para pendosa agar mereka itu mencintai Nya dan mau mendekat pada keluhuran, maka perbuatan itu mulia. Tetapi jika seseorang yang mencintai pendosa tanpa peduli dosanya, maka tentunya ia akan bersamanya di hari kiamat (naudzubillah) . Sebaliknya jika ia menyayangi, melindungi, menaungi dan bersopan santun kepada para pelaku maksiat dengan niat dia bisa bersaudara dan berteman dengannya, karena diantara penyebab seseorang terjebak ke dalam dosa adalah pergaulan dan kegundahan, itulah dua penyebab terbesar yang menjadikan seseorang terjebak ke dalam dosa dan didukung oleh lemahnya iman. Imannya sudah lemah dan tidak berteman dengan orang-orang shalih , tidak mempunyai teman yang selalu hadir di majelis, dan juga tarbiyah islamiyah ( Pendidikan Islam ) nya tidak sampai padanya karena tidak diajarkan oleh Ayah dan Ibunya . Akhirnya terjebaklah ia dalam gelombang dosa siang dan malam. Maka datanglah engkau kepadanya ajak mereka agar mereka tau kelompok-kelompok keluhuran, yang dengan itu barangkali mereka sampai kepada hidayah Allah subhanahu wata’ala. Berhasil atau tidak, kita sudah mendapatkan pahalanya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Orang yang mau mengajak temannya dari kejahatan menuju keluhuran, maka ia telah seperjuangan dengan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , sehati dengan sang Nabi, seniat dengan sang Nabi, satu cita-cita dengan sang Nabi , dan pasti sekelompok dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena peduli dengan apa yang dipedulikan Rasul shallallahu ‘alahi wasallam. Di zaman sekarang banyak orang bertanya ” Ustaz…, Habib…, kadang-kadang saya ingin mengajak orang lain berbuat baik, tapi saya sendiri masih banyak juga berbuat dosa ?!” justru itu amalkan perbuatan baik dengan mengajak orang lain kepada keluhuran . Jika kita tidak bisa banyak atau kurang bisa berbuat baik, tidak juga mau mengajak orang lain berbuat baik, maka bertambahlah kehinaannya. Jangan terjebak dengan bisikan setan ” Kamu, mengajak orang untuk berbuat baik dan luhur sedangkan dirimu sendiri sering berbuat dosa “, ini adalah bisikan setan. Justru dengan perbuatan kita mengajak orang lain berbuat baik barangkali dengan itu Allah ta’ala mencabut keinginan kita untuk berbuat buruk, dan hal itu bisa terjadi .

Hadirin hadirat, mengenai firman Allah subhanahu wata’ala :


كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَاللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَالاَ تَفْعَلُوْنَ ( الصف : 3

” Besar kemurkaan Allah jika kalian mengatakan hal-hal yang tidak kalian kerjakan “. ( QS. As Shaff : 3 )

Maksudnya seseorang menyuruh kepada kebaikan dia sendiri tidak mau mengerjakannya (bukan belum mampu mengerjakannya). Al Imam Abdullah bin Alawy Al Haddad Hujjatul Islam Wabarakatul Anam mensyarahkan makna ayat ini, dan sebagain para ahli tafsir mrnafsirkn maksudnya adalah hujatan Allah kepada kaum munafik yang mana mereka tidak mau ikut bersama Rasul shallallahu ‘alahi wasallam untuk berjihad, tetapi mereka menyuruh orang lain untuk berangkat . Maksudnya mereka tidak mau mati di dalam membela Allah dan RasulNya , orang lain disuruh berangkat supaya mereka muslimin wafat dalam jihad dan mereka kaum munafik bisa berkuasa kembali . Tapi justru orang yang belum mampu untuk melakukan suatu kemuliaan , tapi ia menyampaikannya kepada orang lain maka ia termasuk mengamalkan dan mendapatkan pahala amal itu . Misalnya, kita belum mampu untuk shalat tahajjud setiap hari, maka ajarkan orang lain untuk shalat tahajjud (dan ajarkan kemuliaannya), dan jika dia mau melakukan shalat tahajjud maka kita mendapatkan pahala tahajjud dari orang yang kita ajarkan . Karena apa? karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi mandat agung dan luhur untuk seluruh ummatnya, sederhana sekali kalimatnya, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :


بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

” Sampaikan (sesuatu ) dariku walaupun satu ayat “

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mensyarahkan hadits ini riwayat Shahih Al Bukhari maksudnya adalah bukan berarti satu ayat dari ayat-ayat Al qur’an, tapi satu kalimat dari tuntunan sang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena semua yang disampaikan oleh sang Nabi itu adalah perintah Allah, dan perintah Allah itu adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Jadi makna hadits ini adalah sampaikan tuntunan sang Nabi walaupun satu kalimat , itu merupakan satu tugas besar, mandat yang diberikan kepada kita dari sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita menjadi wakil beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Seluruh ummat Nabi Muhammad adalah wakil beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Misalnya seseorang berkata kepadamu ” sampaikan kepada si fulan salam dariku “, berarti kau telah menjadi perantara atau wakil untuk menyampaikan salam atau ” sampaikan hadiah ini kepada Abdullah “, berarti engkau menjadi perantara untuk menyampaikan hadiah itu. Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :


بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

” Sampaikan (sesuatu/ tuntunan ) dariku walaupun satu ayat “

Maukah engkau bersambung dengan rantai perantara sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? . Di saat hari kiamat Allah memanggil para pezina dengan kelompoknya, para pendosa dengan kelompoknya, ada kelompok yang dipanggil manakah yang menjadi perantara Muhammad Raulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga kita diantara mereka . Sampaikan semua yang engkau dengar dan kau fahami dari keluhuran sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada temanmu, keluargamu, kerabatmu dan siapa pun yang bisa disampaikan baik dengan ucapan, lewat surat, lewat email, lewat sms , lewat facebook, dan dengan apa saja yang bisa menjadi perantara untuk kau menyampaikan . Datang waktu subuh, bangun bagi-bagi sms bangunkan orang lain untuk shalat subuh. Kalau di zaman sekarang hal-hal yang bersifat maksiat pengumumannya disebarluaskan oleh banyak perusahaan-perusahaan GSM dan lainnya, banyak sms masuk seperti pemberitahuan bahwa ada panggung dosa di tempat ini, ada panggung dosa di tempat itu, maka kita saingi juga waktunya shalat tahajjud, waktunya shalat subuh kita bangun. Selesai kita shalat tahajjud sms teman-teman kita semampu kita , dia bangun atau tidak maka kita telah mendapatkan pahalanya karena sudah menyambung rantai menjadi perantara sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah …
Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menghendaki kedamaian bagi muslimin seraya bersabda :


لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena ia tidak tahu jika setan menggerakkan tangannya sehingga ia terperosok ke lubang neraka . “

Jangankan menyerang sesama saudara muslim, mengacungkan senjata saja dilarang oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karena bisa jadi setan menuntun tanganmu sampai kau melukai saudaramu sehingga kau bisa terjebak ke dalam api neraka . Mengacungkan senjata saja kepada sesama saudara muslimin dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , membawa senjata itu hukumnya makruh dan sebagian mengatakan haram selama bukan untuk menjaga diri di wilayah yang banyak terjadi kejahatan dan bahaya , kalau dirisaukan akan terjadi bahaya maka boleh membawa senjata, selain dari itu tidak diperkenankan dalam Islam membawa senjata .

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melihat salah seorang sahabat membawa pedang dan masuk ke dalam masjid, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ” Kau tidak pantas masuk ke masjid dengan membawa senjata, pegang ujungnya !! jangan kau pegang gagangnya sehingga ujungnya nanti melukai muslim yang lain, jika kau memegang ujungnya kau sendiri yang akan terluka dengan pedang itu jangan melukai orang lain “. Demikian indahnya budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , apakah menjadi lemah muslimin ? demi Allah tidak, muslimin tidak akan lemah karena taat kepada perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka pertolongan Yang Maha Kuat mampu menggetarkan jiwa semua musuh sebelum berhadapan dengan musuhnya , karena dalam riwayat Shahih Al Bukhari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersbada :


نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ( صحيح البخاري

“Sungguh aku diberi pertolongan dengan Ar-Ru’bi (timbulnya rasa takut/gentar pada musuh) selama perjalanan satu bulan”. ( Shahih Al Bukhari )

Yang mana pertolongan ini juga diberikan kepada umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam . Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar yang dimaksud dengan الرُّعْب مَسِيْرَةَ شَهْرٍ adalah ketakutan ketakutan di hati musuh selama perjalanan kaki sebulan, perjalanan kaki sebulan itu kira-kira ribuan km . Ribuan km sebelum berjumpa dengan musuh, musuhnya sudah gentar, mundur dan menjauh . Demikian indahnya budi pekerti dan kekuatan orang yang mau berpegang teguh dengan kedamaian . Jadi ketika musuh berhadapan mereka itu dengan setengah hati, atau seperempat hati, keberaniannya bukan 100% karena sebelum bertemu musuh dari ribuan km hatinya sudah merasa risau dan ketakuakan, ketika bertemu maka hanya menunggu kekalahannya saja, apalagi ditambah dengan bantuan para malaikat dan muqarrabin, karena malaikat itu bukan hanya turun di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan hanya untuk zaman Badr Al Kubra, bukan hanya turun di zaman Uhud , sebagimana firman Allah subhanahu wata’ala :


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ( فصلت : 30

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu “. ( QS. Fusshilat : 30 )

Orang-orang yang mengatakan tuhan kami ALLAH, mereka adalah para pendoa ,orang yang banyak mendekat kepada Allah , jiwanya selalu ingin dekat dengan Allah, selalu ingin rindu kepada Allah , tentu dengan pekerjaan dan segala aktifitasnya di siang dan malam, namun hatinya terus membayangkan ingin berjumpa dengan Allah , hal itu bisa saja terjadi. Terkadang kita sedang bekerja terbesit dalam fikiran kita “betapa enaknya kalau seandainya saya minum ini atau makan itu”, atau seandainya kita dalam kesibukan terkadang kita berfikir ” aku rindu dengan temanku si fulan “, padahal kita terus bekerja tidak meninggalkan kesibukan kita namun hal-hal seperti itu sering kita fikirkan . Tapi kerinduan kepada Allah ini paling jarang ada di hati manusia, padahal itulah yang paling luhur dan mulia. Hadirin hadirat, sepanjang kehidupan melintas fikiran kita ke barat dan timur, makanan dan minuman, keuntungan dan kerugian , musibah dan kenikmatan, semua itu fana dan sirna dan yang termulia adalah lintasan fikiran tentang Allah subhanahu wata’ala . Salah satu kelompok yang dinaungi oleh Allah kelak di hari kiamat adalah sesorang yang mengingat Allah kemudian menetes airmata nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :

سَبْعَةٌ يَظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ : اَلإِمَامُ اْلعَادِلُ وَ شَابٌ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ تَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بصدقة فَأَخْفَاهَا حَتَّىلاَتَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ( صحيح البخاري

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
1. Pemimpin yang adil,
2. pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah),
3. seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya),
4. dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5. seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah,
6. seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya
7. seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu menetes air matanya.

Maka golongan yang ketujuh ini adalah seseorang yang mengingat Allah lantas mengalir airmatanya, maka ia dinaungi oleh Allah di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wata’ala .
Akhir dari penyampaian saya adalah riwayat tafsir Al Imam Qurthubi, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al qur’an surat Al Insan :

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا …( الإنسان : 1

” Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut… “

Lantas seorang budak dari Afrika bertanya : ” Wahai Rasulullah, apakah kedua mataku ini juga akan melihat apa yang engkau lihat?, yaitu melihat Allah dengan segala keindahan ZatNya !?”, doa dan harapan serta puncak dari segala cita-cita terindah . Pertanyaan yang singkat dan agung, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam terdiam kemudian berkata : ” Iya, kamu akan melihat apa yang aku lihat “, maka robohlah ia dengan tangisnya karena gembira dijanjikan Sang Nabi akan melihat keindahan Allah. Maka ketika orang ini wafat, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam yg memanjakan jenazahnya dan beliau turun ke lahatnya dan membaca salah satu ayat firman Allah dalam surat Al Insan, maka para sahabat berkata : ” Wahai Rasulallah, betapa indahnya orang ini kau begitu memuliakan dia “, inilah balasan dari Allah atas kerinduan hambaNya kepada Allah, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ” Taukah kalian, demi Allah ruh orang ini sedang dihadapkan kepada Allah dan sedang diberdirikan di hadapan Allah subhanahu wata’ala, kemudian Allah berkata : ” Wahai hambaKu, sekarang kan Kuterangi engkau dengan cahayaKu “. Demikian jiwa yang rindu kepada Allah subhanahu wata’ala .

Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar menjauhkan kita dari segala musibah yang zhahir dan yang bathin, musibah zhahir adalah berupa gempa bumi, banjir, letusan gunung, dan semua musibah agar dijauhkan dari kami demi keagungan namaMu Ya Allah, dan musibah yang bathin adalah dosa dan kegelapan hati serta tertutupnya jiwa dari rindu pada keindahan perjumpaan denganMu, inilah musibah yang sangat dahsyat memberatkan ummat, mereka terjauhkan sejauh-jauhnya dari semulia-mulianya keadaan, Rabby…maka buka tabir hijab kerinduan bagi kami semua yang hadir Ya Rahman Ya Rahim . Terangi jiwa kami, buka tabir kerinduan bagi seluruh jiwa kami hingga siang dan malam kami terus diterangi cahaya rindu kepadaMu , dan Kau merinduakan orang-orang yang rindu kepadaMu,

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Katakanlah bersama-sama..

يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ…يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ…لاَإلهَ إِلاَّ الله… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah …

Segala pertanyaan dalam permasalahan kita jawabannya selesai dengan rindu kepada Allah subhanahu wata’ala, jika kita sudah berusaha menyelesaikan masalah namun masih juga belum selesai, maka jawabannya adalah ” Rindukan Allah “, karena jika Allah telah rindu kepada hambaNya maka berkata kepada Jibril ‘alaihissalam bahwa Dia mencintai hamba itu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :


إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعاَ جِبْرِيلَ فَقَالَ : إِِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ قاَلَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِىالسَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ ( صحيح مسلم

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan berkata pada Jibril “Sungguh Aku mencintai si fulan “,maka cintailah hamba tersebut. Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril pun menyeru penduduk langit seraya berkata bahwa Allah mencintai si fulan, maka cintailah hamba tersebut. Lantas penduduk langit pun mencintainya. Kemudian seluruh penduduk bumi pun menerima dirinya”. (Maksudnya seluruh penduduk bumi yang mengenalnya akan mencintainya)

Bayangkan nama yang dikumandangkan ke seluruh alam semesta karena ia cinta kepada Allah subhanahu wata’ala, maka Allah pun mencintainya. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsy riwayat Shahih Al Bukhari :


إِذَا تَقَرَّبَ اْلعَبْدُ إِلَيَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً وَإِذَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً وَإِذَا أَتَانِي يَمْشِيْ أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

” Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang menemuinya dengan berlari ( bersegera ) “

Hadirin hadirat, jika seorang hamba mencintai Allah maka Allah lebih mencintainya. Ketika kita mencintai Allah maka suara itu dikumandangkan ke seluruh alam semesta. Dan kelompok kedua, ketika Allah murka kepada hambaNya maka berkata kepada Jibril ‘alaihissalam bahwa Allah murka kepada hamba itu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim :

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ فَيَقُوْلُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيْلُ ثُمَّ يُنَادِيْ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلاَناً فَأَبْغِضُوْهُ قَالَ فَيُبْغِضُوْنَهُ ثُمَّ تُوْضَعُ لَهُ اْلبَغْضَاءُ فِي اْلأَرْضِ ( صحيح مسلم

“Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi”

Jika Allah telah murka kepada seorang hamba, maka seluruh alam semesta melaknatnya . Di kelompok mana namaku dan nama kalian , Rabby…inilah harapan kami dan Engkau Maha tidak mengecewakan harapan , Kau kumpulkan kami di tempat ini, di majelis orang-orang yang Kau rindukan , dan Kau telah berfirman di dalam hadits qudsy, ketika malaikat berkata : “Wahai Rabbi ada diantara mereka yang tidak ikhlas niat kehadirannya “, maka Allah subhanahu wata’ala berkata :


هُمُ الْجُلَسَاءُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيْسُهُمْ

“Mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa- siapa yg duduk bersama mereka”

Yang duduk bersama mereka yang berzikir pasti mendapat kemuliaan dan tidak akan dihinakan. Ya Rahman, pastikan nama kami berada dalam kelompok yang Kau rindukan di dunia dan akhirah . Hadirin hadirat, Alahamdulillah majelis di luar kota sukses, di Denpasar malam Rabu yang lalu sukses, dan tadi malam di Banjarmasin sukses . Alhamdulillah, jiwa yang semakin hari semakin bangkit untuk mengenal keindahan Allah dan RasulNya , telah siap menerima tuntunan keluhuran di barat dan timur . Dan mohon doa insyaallah malam Senin yang akan datang majelis di Masjid Raya Bogor namun belum ada kepastian sampai saat ini, kalau jadi barangkali pengumumannya diumumkan di pamflet-pamflet dan baleho di wilayah Jakarta, Bogor, Cianjur dan sekitarnya . Tapi yang pasti bulan Desember ini karena telah disetujui oleh Walikota hanya tinggal sedikit permasalahan karena keadaan Negara, suhu politik saat ini tampaknya sedikit memanas, maka para aparat berusaha untuk menghindari perkumpulan atau pengumpulan massa dalam jumlah besar, namun tentunya kalau kita berkumpul untuk berzikir dan munajat justru menenangkan Negara bukan membuat rusuh Negara . Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala segera menyelesaikan permasalahan di negeri kita dan memberikan sebaik-baik keadaan,sebaik-baik kejadian yang dengan itu Allah subhanahu wata’ala menjadikan kejadian-kejadian ini agar kita banyak beristighfar dan berdoa, maka tentunya Allah akan membantu penyelesaian dan kedamaian di negeri kita ini .

Hadirin hadirat yang dimulikan Allah…
Demikian pula kerjasama Majelis Rasulullah dengan Kapolwil Bandung dan Gubernur Jawa Barat di wilayah Bandung insyaallah pada pertengahan bulan Desember ini mudah-mudahan tidak ada halangan, dan di Denpasar pada tanggal 22 Desember akan kembali mengadakan Tabligh Akbar , karena yang kemarin masih belum puas banyak jamaah yang tidak tau adanya tabligh akbar disana , begitu juga di wilayah Banjarmasin yang di bulan Januari atau akhir Desember masih meminta jadwal kunjungan , karena banyak jamaah Majelis Rasulullah yang disana tidak sampai kabar kepada mereka akan adanya kunjungan kita kesana . Kita doakan semoga semua rencana ini sukses , dan juga wilayah Cianjur Sukabumi juga mengharapkan kita untuk mengadakan tabligh akbar dan sudah diadakan pembicaraan dengan beberapa tokoh masyarakat dan oleh aparat setempat, namun karena waktu dan kesibukan barangkali sedikit tertunda .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah…
Semoga acara agung malam 1 Januari kita sukses bersama guru mulia Al Musnid Al ‘Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh , dan juga acara di Monas 4 Januari juga sukses dihadiri oleh banyak muslimin yang membawa kedamaian bagi diri kita dan bangsa kita dan bagi seluruh muslimin di barat dan timur, Amin Allahumma Amiin. Kita teruskan dengan doa bertawassul kepada Ahlul Badr untuk tersingkirnya musibah agar hujan yang datang membawa rahmat tidak membawa musibah agar segala yang terjadi membawa rahmat tidak membawa musibah Amin Allahumma Amin, Shalawat Al Badr falyatafaddhal masykuraa..


صَلاَةُ اللهِ سَلاَمُ الله عَلَى طه رَسُولِ الله
صَلاَةُ الله سَلاَمُ اللهِ عَلَى يس حَبِيْبِ الله

Untuk zikir Jalalah tidak diadakan (malam sabtu yg lalu), maka digantikan esok malam dengan Majelis Haul Al Habib Abdullah Al Habsy di kediaman Al Habib Jamal Al Habsyi jam 21.00 di Tanah Koja Klender Jatinegara Jakarta Timur dan kita padukan pula dengan zikir Jalalah 500 kali, karena malam Sabtu lalu bergandengan dengan Idul Adha maka kita gantikan dengan esok malam . Malam Sabtu yang akan datang tetap zikir Jalalah seperti biasa karena tentunya kita tidak mau lewat satu minggu pun dalam keagungan zikir Jalalah naik ke hadirat Allah subhanahu wata’ala, seruan-seruan agung memanggil nama Allah dari majelis-majelis agung diantaranya Majelis kita, kalau terlewati maka kita qadha’ karena kita tidak mau kehilangan keagungan nama Allah yang menerangi jiwa kita . Selanjutnya doa penutup oleh ayahanda Fadhilah As Sayyid Al Habib Abdullah Sofyan Syaiban Basaudan falayataffadhal masykuraa.

Comments are closed.