Rasul SAW Memerintahkan Perbuatan Sesuai Kemampuan. Senin, 29 Maret 2010

Rasul SAW Memerintahkan Perbuatan Sesuai Kemampuan
Senin, 29 Maret 2010


كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنَ اْلَأعْمَالِ بِمَا يُطِيْقُوْنَ قَالُوْا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ حَتَّى يُعْرَفَ اْلغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

( صحيح البخاري )

” Bahwa Rasulullah Saw jika memerintahkan mereka ( para sahabat dan ummat beliau Saw ) maka beliau memerintahkan perbuatan-perbuatan menurut kemampuan mereka, maka para sahabat berkata: ” Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang ( mestinya kami lebih banyak ibadah darimu ), maka murkalah Rasul Saw hingga terlihat jelas di wajah beliau Saw, seraya bersabda: ” Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku”. ( Shahih Al Bukhari )

{mosimage}Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِيْ هَذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ

Limpahan puji kehadirat Allah Swt dan kita bersyukur dengan kehadiran kita di majelis ini, dengan berkumpulnya kita disini semoga kita berkumpul pula dihadapan Rasulullah Saw di yaumul qiyamah, berhadapan langsung dengan Rabbul ‘alamin Yang Maha Dermawan dan Maha Melimpahkan anugerah, Yang telah memilih kita termasuk dalam jumlah hadirin yang hadir disini didalam dzikir, didalam shalawat, didalam perkumpulan ilmu dan pembahasan hadits-hadits sang Nabi Muhammad Saw, perkumpulan luhur yang menjadi bekal untuk kita bisa berkumpul kembali dengan sang pembawa rahmatan lil’alamin Sayyidina Muhammad Saw, kelak di padang mahsyar betapa beruntungnya orang-orang yang berkumpul bersama beliau, jumlah mereka jutaan atau mungkin lebih, orang-orang yang di dunia mencintai sayyidina Muhammad Saw maka di akhirat bersama sayyidina Muhammad Saw, karena seseorang akan berkumpul bersama orang yang ia cintai. Maka, Rabbi pastikan seluruh wajah kami berkumpul kembali di majelis Rasulullah di hari kiamat, dan kita selalu berkumpul sebagaimana kami selalu berkumpul dalam majelis ini, ada yang hadir setiap malam, ada yang hadir setiap minggu, ada yang hadir setiap bulan, ada yang baru beberapa kali hadir, ada yang baru pertama kali hadir, semoga kesemuanya kelak selalu hadir di istana Rasulullah Saw di yaumul qiyamah, istana yang paling megah dari semua istana-istana di surga, istana yang paling mewah dan paling dekat dengan Rabbul ‘alamin, dan disitulah tempat tinggal Muhammad Rasulullah Saw di surga, menerima tamu-tamunya, para pecintanya di dunia, khususnya mereka yang belum sempat berjumpa dengan beliau di muka bumi akan diprioritaskan untuk sering berjumpa dengan beliau di yaumul qiyamah karena mereka telah mencintai nabi dan merindukan nabi serta mengikuti nabi Muhammad Saw semampunya walaupun mereka tidak berjumpa dengan nabi, maka mereka memiliki nilai tambah atas kerinduannya dengan sambutan hangat dari nabi Muhammad Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Air mata tangisan rindu dari pecinta Rasulullah tiada akan pernah berhenti sepanjang waktu dan zaman, ingin berjumpa dengan sang nabi Saw, mereka ingin melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling baik, disana sini dimusuhi, difitnah, dipersulit, dicaci dan dimaki, sudah banyak wajah-wajah yang bosan melihat dunia dan ingin segera melihat wajah orang yang paling ramah, wajah orang yang paling menyambut para tamunya, yang dikatakan:

لَوْ جَاءَ عَبْدٌ مُلَطَّخٌ بِالذُّنُوْبِ لَقَالَ لَهُ أَهْلًا وَمَرْحَبًا

( Jika datang kepada beliau seorang hamba yang berlumur dosa beliau akan menyambut hangat dengan mengucapakan ” ahlan wa marhabaa” ),
demikian budi pekerti Muhammad Rasulullah Saw. Entah apalagi artinya siang dan malam, matahari dan bulan, kaya dan miskin, menjadi pejabat ataupun menjadi rakyat, menjadi pengusaha atau pedagang dan lainnya dibandingkan dengan indahnya duduk bersanding dan berhadapan langsung wajah dengan wajah, mata dengan mata, saling pandang dengan sayyidina Muhammad Saw, saling senyum dengan sayyidina Muhammad dan memeluk tubuh nabi Muhammad Saw dan mengadukan keluh kesah kehidupannya di dunia dari kesulitan yang dilewati, musibah yang dilewati, mengadukannya kepada manusia yang lebih lebih lembut dan lebih berkasih sayang dari ibunda kita, sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin hadirat, maka pujilah Allah Swt sebanyak-banyaknya yang dengan itu kehidupan kita terpuji, dan Allah Swt menyukai pujian dan tidak menyukai dosa-dosa dan kehinaan.
Rasulullah Saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari :

لَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلِذَلِكَ حَرَّمَ اْلفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحَ مِنَ اللهِ وَلِذلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ

( صحيح البخاري )

” Tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah, karena itulah Dia mengharamkan segala yang keji, dan tidak ada yang lebih suka dipuji selain dari Allah Swt, karena itu Dia memuji diri-Nya sendiri”. ( Shahih Al Bukhari )

Maka beruntunglah orang-orang yang memuji Allah Swt, dan Allah Swt membenci dosa-dosa, oleh sebab itu Allah mengharamkan perbuatan dosa. Mengapa Allah Swt suka dipuji?, karena Allah tau bahwa pujian itu datang dari cinta. Jika seorang hamba mencintai sesuatu maka pastilah ia banyak memujinya, jika seorang hamba memuji Allah, maka ia pun dicintai Allah. Seseorang yang melaksanakan shalat maka ia telah banyak memuji Allah, dan ia termasuk orang yang banyak memuji Allah dan ia juga termasuk orang yang dicintai Allah jika ia mendalami makna ucapan-ucapan dalam shalatnya. Oleh sebab itu, sebagian para shalihin sebagaimana dijelaskan oleh para guru kita bahwa mereka sangat asyik memuji Allah didalam shalatnya dan disaat mereka I’tidal mereka mengucapkan :

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Wahai Rabb kami, bagiMu segala puji, aku memujiMu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu”

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa ucapan ini adalah ucapan salah seorang sahabat, ketika ia sedang bermakmum kepada Rasulullah Saw bersama sahabat lainnya. Ketika Rasulullah mengucapkan ” Sami’allahu liman hamidah ” untuk I’tidal, maka sahabat itu mengucapkan:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءَ اْلأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ … إلخ

Tanpa ada yang mengajarinya, tetapi muncul dari hatinya maka Rasulullah selesai shalat bertanya: siapa tadi yang mengucapkan : ربنا لك الحمد حمدا كثيرا… إلخ?, salah seorang sahabat mengacungkan tangan dan berkata: ” aku wahai Rasulullah “, maka Rasulullah berkata: ” Jibril tadi mengatakan kepadaku bahwa puluhan malaikat berebutan mencatat pujianmu itu, untuk disampaikan kepada Allah Swt”.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketika kita menikmati pujian kepada Allah dan sedikit bersabar atas diri kita untuk memuji Allah Swt, maka Allah akan memberi kenikmatan dan kelezatannya, jika kita sudah merasakan lezat memuji Allah maka tentunya kita akan selalu asyik memuji Allah Swt, yang dengan itu Allah Swt akan membuat kehidupan kita semakin terpuji dunia dan akhirah, dan sang penuntun segala keterpujian dari tuntunan yang terpuji, hamba Allah yang paling terpuji, Muhammad Saw. Namanya saja Muhammad yang berarti yang banyak dipuji atau yang banyak memuji. Nabi kita Muhammad memang orang yang paling banyak dipuji karena ia dipuji oleh Allah Swt dan oleh seluruh hamba Allah yang beriman.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu Allah Swt menyukai pujian, dan tidak ada yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Kalau kalimat ini kita paparkan sedikit, ada orang-orang kaya yang suka dipuji dan jika ia dipuji maka ia akan memberi hadiah kepada orang-orang yang memujinya, dan tentunya Allah Swt lebih dari itu, kalau Allah dipuji maka Allah akan memberi yang lebih untuknya. Allah tidak butuh pujian, namun Allah Maha Tau bahwa dengan pujian itu maka hamba-Nya mencintai-Nya. Sebagian Ahli ma’rifah billah mewarisi dari apa-apa yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Rasulullah juga suka dipuji, kenapa? karena memuji Rasulullah Saw akan membuat orang yang mendengarnya bertambah cinta kepada Rasul Saw, beliau bukan suka dipuji untuk pribadinya tetapi karena orang-orang yang banyak memuji itu bisa bertambah cintanya kepada Rasulullah Saw, dan mencintai Rasulullah Saw adalah kesempurnaan iman. Rasulullah tidak suka dipuji, karena sudah terpuji di hadapan Allah Swt namun dengan banyak memuji Rasulullah Saw maka seseorang akan sampai kepada kesempurnaan iman, sebagaimana hadits Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

” Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia”

Dan dalam riwayat lain:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

” Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian daripada keluarga, harta dan segenap manusia”

Tentunya iman mempunyai derajat, terkadang kita berangan-angan bahwa sungguh berat jika kita mencintai Rasul lebih dari keluarga atau harta kita sepertinya adalah derajat yang sangat susah sekali dicapai, tidak juga!. Kita semua disini sudah mencapai hal itu, kita hadir disini karena cinta kepada Rasul Saw dan sekarang kita meninggalkan keluarga dan harta kita, rumah kita tinggalkan, dan kita duduk disini setelah itu kita kembali kepada keluarga dan harta kita, kita tinggalkan untuk hadir disini, padahal kita tidak melihat sang Nabi, bagaimana kalau seandainya kita melihat sang Nabi, barangkali sehari sebelumnya, atau seminggu sebelumnya atau sebulan atau mungkin setahun sebelumnya masjid ini sudah penuh dengan orang-orang yang ingin melihat wajah Rasulullah Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah Swt sangat mencintai kita, dan tidak ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah Swt. Mungkin kita kaget ketika mendengar Allah pencemburu, maksudnya apa?, cemburu itu datangnya dari cinta, cemburu itu adalah ingin kekasihnya selalu dekat dengannya dan jangan jauh darinya, jika saja ada gerakan atau ucapan yang membuat kekasihnya jauh, maka ia akan marah itulah sifat cemburu. Hadirin hadirat, ternyata Allah itu cemburu kepada hamba-hamba-Nya, oleh sebab itulah Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan jahat, kenapa Allah mengharamkan perbuatan dosa?, karena dengan perbuatan dosa hamba-Nya akan jauh dari Allah dan Allah tidak mau hamba-Nya jauh dari-Nya, Allah ingin kita dekat, Allah tidak ingin kita berbuat buruk hingga menjauh dari Allah, Allah ingin kita berada dalam kasih-Nya, ketika berbuat hal-hal yang tidak disukai Allah maka ia akan terkena dosa, kenapa? karena Allah ingin hamba-Nya jauh dari dosa karena cinta-Nya kepada kita. Kita lihat, jika seandainya Allah Swt tidak cinta kepada kita, maka sekali seorang hamba berbuat dosa dan dicabut nyawanya sehingga wafat dalam su’ul khatimah sekali berbuat dosa. Tetapi Allah cinta kepada hamba-Nya, sekali ia berbuat dosa maka ditunggu barangkali beristighfar, dihadirkan di majelis dzikir dan majelis ta’lim maka ia akan mendapat pengampunan dan mendekat lagi kapada Allah, sungguh indahnya Allah. Dan ketika shalat lima waktu maka terus dihapus dosa-dosanya, ketika ia berwudhu maka ia mendapat penghapusan dosa, memuji Allah ia mendapat penghapusan dosa, selesai shalat ia membaca subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, dan Allahu Akbar 33x maka ia mendapatkan lagi penghapusan dosa. Di hari Jum’at, antara Jum’at satu dengan Jum’at lainnya mendapat penghapusan dosa, ketika tiba bulan Ramadhan mendapat penghapusan dosa lagi, ketika puasa Arafah mendapat pengampunan lagi, ketika puasa ‘Asyura mendapat pengampunan lagi, terus pengampunan mengejar kita. Seorang hamba yang malas beribadah, tapi ia banyak berbuat baik kepada saudaranya maka diberi pertolongan oleh Allah Swt.

Diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika seorang hamba sudah kalah seluruh pahalanya oleh dosa-dosanya, lalu ia berkata: ” dulu aku banyak membantu orang susah, jika seseorang meminjam kepadaku dan ia adalah orang yang susah maka tidak aku tagih, jika seseorang berbelanja kepadaku dan dia orang yang tidak punya maka aku murahkan lebih dari harga yang semestinya, maka beri aku keringanan”, maka Allah Swt menjawab: ” Aku lebih berhak daripada engkau untuk berbuat hal itu, biarakan hamba-Ku masuk ke surga-Ku “. Demikian indahnya Allah Swt.

Hadirin hadirat, alangkah besarnya keinginan Allah agar kita dekat dengan-Nya, alangkah baik dan cintanya Allah kepada kita, namun betapa kita tidak mau menjawab cinta Allah Swt kepada kita. Kapan kita mau menjawab cinta itu, kapan mau kita jawab kasih sayang itu, maka bersujud dan banyak berdzikirlah kepada Allah, banyak berdoa dan memohon pengampunan kepada Allah Swt, memohonlah ridha dan restu atas nafas-nafas yang lewat daripada rindu kepada Allah Swt. Nafas yang tidak sempat rindu kepada-Mu wahai Rabbi maafkanlah, semestinya setiap nafasku ini dipenuhi rindu kepada-Mu dari kebaikan dan keindahan-Mu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits mulia, dimana Rasul Saw jika memerintahkan sesuatu perintah kepada sahabat atau ummatnya, pastilah memerintah sesuatu yang mereka mampu. Rasul tidak mau memerintahkan lebih dari kemampuan mereka. Maka suatu ketika beberapa sahabat berkata kepada Rasul Saw:

إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ

” Kami bukan seperti keadaanmu wahai Rasulullah, sungguh Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang”

Maksudnya, kalau engkau ( Rasulullah) sudah dijamin pengampunan dosa dari Allah, sedangkan kami tidak demikian maka kami harus lebih banyak beribadah daripada engkau. Maka wajah Rasulullah berubah menjadi marah dan berkata:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

” Sungguh yang paling bertakwa diantara kalian dan yang paling berilmu diantara kalian adalah aku”

Maksudnya adalah seseorang atau ummat yang telah dipilihkan oleh sang nabi suatu ibadah maka jangan berusaha untuk mencari pendapat yang lebih lagi, sebagaimana dijelaskan oleh sayyidina Jabir bin Abdillah Ra bahwa Rasulullah Saw ingin mempermudah ummatnya, maka jangan mencari yang sulit-sulit , Rasul tidak menyukai kesulitan pada ummatnya, banyak sekali riwayat yang muncul dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu, diantaranya: diriwayatkan didalam Shahih Al Bukhari ketika sayyidina Abdullah bin Umar berpuasa setiap hari, dan setiap malam ia menghatamkan Al qur’an dalam usia muda, maka dipanggil oleh Rasul berkata: ” engkaukah yang puasa setiap hari, dan setiap malam melakukan qiyamullail dan menghatamkan alqur’an “, maka Abdullah bin Umar berkata: ” betul wahai Rasul”, maka Rasul berkata: ” Jangan lakukan hal itu, cukup engkau puasa tiga hari sebulan karena hal itu adalah puasa seumur hidup”, karena setiap kali puasa pahalanya sepuluh kali lipat, jadi puasa sehari sama dengan puasa sepuluh hari, puasa tiga hari sebulan maka seperti puasa 30 hari ( sebulan ), maksudnya Rasul adalah ” jika kamu ingin berpuasa setiap hari cukuplah berpuasa 3 hari setiap bulan, dan pahalanya sama dengan puasa setahun penuh karena 3 hari puasa pahalanya 30 hari, alangkah indahnya tuntunan sayyidina Muhammad Saw. Maka Abdullah bin Umar berkata: ” wahai Rasulullah, aku mampu lebih dari itu”, maka Rasul berkata: ” kalau begitu 3 hari dalam seminggu “, Abdullah bin Umar berkata lagi: ” wahai Rasulullah aku mampu lebih dari itu”, demikian terus Abdullah bin Umar meminta lebih kepada Rasul, akhirnya Rasul berkata: ” sehari puasa dan sehari tidak puasa, itu adalah puasa nabi Daud dan tidak ada lagi yang lebih dari itu”. Maka Rasulullah Saw tidak menyetujui sayyidina Abdullah bin Umar untuk berpuasa lebih dari puasanya nabi Daud As, kenapa? karena beliau masih muda, kalau sudah lanjut usia beda lagi, boleh-boleh saja jika ia berpuasa setiap hari. Jika masih muda terbukti dari ucapan sayyidina Abdillah bin Umar, didalam riwayat ia berkata: “sungguh aku menyesal karena sudah dinasihati sang Rasul dan diberi keringanan tetapi aku tetap meminta tambah, hingga aku merasa belum lanjut usiaku aku sudah merasa lemah sekali tubuhku, karena sudah terlalu banyak berpuasa di siang harinya ketika masa mudanya dan banyak qiyamullail di malam harinya, alangkah beruntungnya jika aku terima saran dan keringanan-keringanan dari sang nabi Muhammad Saw”. Maksudnya, untuk pemuda boleh banyak beribadah tetapi jangan terlalu berlebihan karena jika berlebihan maka akan membuat ia lemah di masa tuanya, dan menjadi lemah untuk beribadah di masa tua padahal itu adalah waktu-waktu yang semakin dekat menjelang wafat. Namun jangan salah pengertian, sebagian ada yang berkata: ” tidak usah shalat dulu kan masih muda”, hati-hati dengan hal-hal yang fardhu, hal-hal yang fardhu berbeda dengan hal yang sunnah, hal yang sunnah tetap kita amalkan namun jangan yang berat-berat. Puasa Senin-Kamis mungkin terlalu berat, maka puasa 3 hari dalam sebulan itu sudah termasuk sunnah nabi Muhammad Saw, jangan ditambah lebih dari itu lagi sampai puasa setiap hari terus tanpa dibatalkan, maka hal itu akan melemahkan kita. Kalau seandainya bangun di malam hari, maka sisakan 1 atau 2 jam untuk beristirahat, demikian indahnya tuntunan sang nabi Muhammad Saw.

Perkataan Rasulullah Saw:

إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا

Maksudnya adalah jika telah diberi keringanan oleh Rasul Saw maka jangan mencari yang sulit, karena Rasul Saw selalu memilihkan yang paling ringan untuk kita. Hadits ini dipakai oleh sebagaian saudara kita untuk tidak menambah-nambahi ibadah, dari dahulu tidak diajarkan maulid kok sekarang diadakan maulid, Rasul tidak mengajarkan maulid dan lain sebagainya. Maulid tidak menyusahkan kita, maulid bahkan membuat kita gembira, berbeda jika kita menyusahkan diri kita misalnya ketika tiba maulid nabi kita berpuasa 1000 hari, atau kita berdiri saja 24 jam tidak bergerak, berdiri saja karena gembira dengan kelahiran sang nabi, dari subuh sampai maghrib berdiri, tentunya hal itu menyusahkan dirinya, maka sesuai dengan hadits ini. Tetapi jika mengadakan acara silaturrahmi besar, bangkitkan lagi semangat muslimin , menjamu muslimin, bersilaturrahmi, bershalawat dan berdzikir bersama, maka hal seperti itu adalah hal yang mulia, dan hal itu tidak memberatkan muslimin. Kecuali jika seandainya mau mengadakan maulid maka semua masyarakat harus menjual rumahnya untuk perayaan maulid, tentunya tidak. Untuk bangun toilet saja 10 juta , kalau untuk maulid 10 ribu saja dikatakan mubadzzir, padahal untuk syiar Allah, tetapi jika untuk membuat toilet hingga puluhan juta dianggap tidak mubadzzir wal’iyadzubillah.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah Saw adalah pembawa keluhuran, tadi kita dengar bagaimana Abdullah bin Umar mengatakan: ” alangkah indahnya jika aku terima keringanan-keringanan dari sang nabi”. Rasulullah Saw jika dipilihkan antara dua hal maka beliau akan memilih sesuatu yang lebih ringan untuk diperbuat oleh ummatnya. Rasulullah Saw bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمْرُتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Kalau seandainya tidak akan menyusahkan umatku akan aku perintah mereka untuk bersiwak disetiap akan shalat “.

Subhanallah, padahal shalat memakai siwak pahalanya 70 kali lebih besar, sebagaimana sabada Rasulullah Saw:

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ

“Dua rakaat shalat dengan bersiwak itu terlebih baik daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak”

Rasul ingin ummatnya sampai ke derajat itu, hingga shalatnya dilipatkan 70 kali lebih besar . Tetapi beliau tidak mau memaksakan ummatnya, akhirnya ummatnya repot kesana kemari mencari siwak, jika siwak diwajibkan dalam setiap shalat, dan tiba-tiba ketika akan melaksanakan shalat dan lupa dimana siwaknya maka ia akan mencarinya hingga ketemu, orang lain sudah takbiratul ihram dan hampir selesai shalat, ia pun masih sibuk mencari siwak yang akhirnya harus pergi untuk membeli siwak, Rasul Saw tidak ingin hal ini terjadi pada ummatnya, yang memiliki siwak pergunakanlah dan yang tidak memilikinya sungguh tidak ada kewajibannya, alangkah indahnya sayyidina Muhammad Saw.

Hadirin hadirat, didalam mencari ilmu tentunya merupakan hal yang sangat penting bagi kita, kehadiran kita di malam hari ini barangkali tadi hujan turun, hati saya juga risau barangkali banyak sekali yang tertahan tidak bisa hadir dikarenakan hujan, namun Alhamdulillah Allah Swt menguatkan sebagian dari kita untuk tetap hadir, dan mereka yang tidak bisa hadir semoga mendapat pahalanya, dan mereka yang hadir semoga Allah jadikan setiap tetes air hujan yang mengenai tubuhnya menyaksikannya di yaumul qiyamah bahwa ia melangkah ke jalan yang luhur.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan didalam musnad imam Ahmad dan didalam Ma’jam Al Kabir oleh Al Imam At Thabrany tentang Sayyidina Jabir bin Abdillah Ra, ia mendengar ada satu hadits yang belum pernah ia dengar, yaitu pada sayyidina Abdullah bin Unays di Syam. Syam adalah wilayah antara Iran dan Jordan yang mana perjalanan satu bulan dengan onta. Maka ia pun membeli onta dan berjalan menuju rumah Abdullah bin Unays untuk mendengarkan satu hadits yang belum pernah ia dengar itu, satu hadits saja. Kalian kesini berapa banyak hadits yang telah kalian dengar sejak tadi. Satu bulan perjalanan naik onta, berarti menginap dalam perjalanan selama 30 malam, kita belum pernah merasakan perjalanan selama satu bulan, kalau dengan pesawat jarak yang terjauh bisa ditempuh dengan beberapa hari saja.

Maka bagaimana dengan perjalananan satu bulan, apalagi menggunakan onta, beliau berjalan sendiri terus beliau menyusuri jalan sendiri, berhenti, berkemah, makan dan minum kemudian melanjutkan perjalanan lagi demikian selama satu bulan, berapa bekal yang harus ia bawa, berapa uang yang harus ia bawa, bagaimana ia melewati hari-harinya dalam panas terik matahari, melewati hutan dan padang pasir selama satu bulan perjalanan hanya untuk satu haditsnya Rasulullah Saw yang belum ia tau. Maka sesampainya di Syam, ia berkata kepada salah seorang pelayan Abdullah bin Unays Ra: ” Katakan kepada tuanmu, bahwa Jabir bin Abdillah menunggu di depan pintu “, maka Abdullah bin Unays datang seraya menyambutnya dan mereka saling berpelukan, kemudian Abdullah bin Syin berkata: ” wahai Jabir, apa yang membuatmu jauh-jauh dari Madinah datang kesini?, maka Jabir bin Abdillah berkata: ” aku dengar engkau mempunyai satu hadits yang belum diajarkan kepada banyak orang, aku mau mendengar hadits itu “, Abdullah bin Unays berkata: ” wahai Jabir, satu bulan perjalanan engkau kesini hanya untuk satu buah hadits?!, ia berkata: ” aku takut wafat sebelum aku mendengarnya, maka jangan sampai hal itu terjadi”. Beliau ingin menambah ilmu haditsnya walaupun hanya satu, sampai-sampai ia takut keburu wafat dan belum mendengarnya. Kita sekarang telah memiliki bermacam-macam bahkan telah dibukukan, ribuan bahkan jutaan hadits. Dalam 1 kitab Shahih Al Bukhari terdapat 70 ribu hadits, hadir di majelis ini malam selasa ada kajian Shahih Al Bukhari dan lainnya, majelis-majelis ta’lim yang lain, ada majelis tafsir, majelis fiqh, apalagi yang digabung dengan shalawat dan dzikir atau maulid nabi Saw, maka akan tumpah ruah zhahir dan bathin ilmu fiqh nya, tafsir, hadits dan lainnya, dan juga pengampunan dan kedekatan kepada Allah Swt.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan bahwa seseorang datang bertanya kepada Al Imam Malik Ra. Beliau adalah seorang Imam besar di Madinah Al Munawwarah, datang seseorang yang sorbannya sangat besar, Al Imam tau di masa itu jika seseorang sorbannya semakin besar maka semakin banyak ilmunya. Suatu ketika datang kepada beliau seseorang yang sorbannya sangat besar, dan ketika itu Imam Malik sedang duduk dengan menyelonjorkan kakinya sedang duduk santai bersama beberapa muridnya karena bukan di waktu mengajar, ketika orang itu muncul dihadapannya Al Imam pun segera menarik kakinya seakan-akan beliau duduk tawarruk karena ia menyangka yang datang adalah Ulama besar. Maka orang itu berkata: ” Assalamu’alaikum, wahai Imam Malik aku datang untuk bertanya “, Al Imam menjawab: ” Labbaik wa sa’daik, iya silahkan apa yang akan kau tanyakan semoga aku bisa menjawabnya?”, orang itu berkata: ” wahai Imam bagaimana jika esok matahari tidak lagi terbit?”, maka Imam Malik diam lalu tersenyum dan berkata: ” kalau besok matahari tidak terbit berarti aku boleh melonjorkan kakiku lagi”, maksudnya apa? Jika ia bukan orang yang tidak waras berarti ia bukan ulama, masa iya menanyakan jika matahari tidak terbit kepada Imam Malik, maka ia bukanlah ulama yang bertanya hal yang demikian itu. Demikianlah Al Imam Malik bin Anas bin Malik yang mengambil sanadnya dari Al Imam Ja’far bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib suami Fathimah Az Zahra’ putrid Rasululllah Saw.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Makna dari yang saya sampaikan tadi adalah tidak semua pertanyaan harus dijawab. Jika muncul pertanyaan dari musuh-musuh Islam atau orang-orang yang tidak waras dan lainnya, maka tidak perlu semua pertanyaannya dijawab karena hal yang demikian telah diperbuat oleh para imam terdahulu, buktinya Imam Malik melakukan demikian, ketika ditanya ” jika matahari tidak muncul besok”, maka beliau santai saja menjawabnya sambil bercanda dan tertawa tidak serius menjawabnya, tidak perlu dihoramati sebgaimana penghormatan kepada ulama’, karena penghormatan pada Ulama’ sebagaimana dijelaskan oleh para muhadditsin jika para ulama datang maka dianjurkan untuk berdiri menghormatinya , atau orang shalih atau orang yang lebih tua dan tidak dikenal bahwa ia adalah orang yang fajir atau ia adalah pemimpin muslimin maka disunnahkan untuk berdiri menyambut kedatangannya, demikian pendapat Al Imam An Nawawy, dan Al Imam Ibn Hajar dan lainnya.

Hadirin hadirat, yang juga perlu saya sampaikan adalah sabda Rasulullah Saw:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ

” Tidak beriman seorang dintara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya dari kebaikan “.
Sebagaimana ia tidak menyukai musibah, maka ia ingin saudara muslim yang lain juga tidak terkena musibah, jika ia tidak ingin diganggu maka ia juga tidak mau mengganggu orang lain.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu diantara maslah yang muncul di majelis kita adalah banyaknya keluhan tersendatnya jalan karena kedatangan jama’ah, tentunya hal ini tidak bisa dihindari . Jika ada orang yang protes seperti itu, tentunya perlu kita dengarkan dan kita benahi semampunya dan diluar dari kemampuan kita maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau di pasar-pasar atau di mall-mall sama juga macet, tetapi kenapa jika pengajian justru diprotes, perkumpulan ini bukan perkumpulan orang-orang tawuran, bukan juga mau merampok atau merusak tetapi perkumpulan orang-orang yang mau ngaji, mau belajar, masih beruntung dengan adanya pengajian-pengajian besar maka kriminalitas di Jakarta semakin berkurang, hal ini diakui oleh Kapolda Metrojaya yang selalu memberi nasihat kepada kita, dan selalu membantu mengarahkan semua Kapolres untuk turut membantu ketertiban Majelis Rasulullah, karena ini adalah gerakan damai, maka akan semakin menurun kriminalitas-kriminalitas di Jakarta dengan semakin berkembangnya majelis-majelis besar seperti ini, namun ucapan-ucapan dari orang yang tidak suka perlu kita perhatikan juga, jika itu adalah kritik membangun maka perlu kita dengarkan, terutama saat konvoi maka jangan pinggirkan orang lain untuk kita lewat, karena jalan umum bukan milik kita. Oleh sebab itu jangan smapi berbuat demikian. Tentunya kita konvoi itu untuk keluhuran, biarkan saja jika ada yang berkata: ” kenapa ngaji kok pakai konvoi “, biarkan saja jika tidak mau ngaji maka tidak usah hadir, jika mau ngaji hadir baik ikut konvoi, atau tidak ikut konvoi, mau jalan sendiri atau bersama jama’ah, hal ini tidak ada larangannya dalam syariah, pemerintah pun tidak melarang konvoi, yang dilarang adalah jika tidak tertib. Maka ketertiban yang kita jaga, agar tidak mengganggu orang lain hal itu yang perlu kita jaga.

Dan juga masalah helm, maka yang mampu belilah helm dan pakailah demi keamanan kita, karena banyak peraturan-peraturan lalu lintas itu memang betul-betul untuk keamanan kita, diantaranya helm dan sabuk pengaman, sedikit saya cerita masalah sabuk pengaman karena saya jarang naik motor, ketika mengendarai motor saya sudah kebiasaan menggunakan sabuk pengaman, sebelum ada perintah harus memakai sabuk pengaman saya sudah terbiasa memakai sabuk pengaman, kenapa? karena sering punya kesibukan di mobil, terkadang baca alquran, baca kitab, memegang tasbih dan lainnya, hal itu jika tiba-tiba ada gerakan atau goncangan karena ada lobang atau yang lainnya maka tubuh akan tergoyang, tapi jika memakai sabuk pengaman maka seakan-akan ada yang memegangi sehingga tidak terlalu terguncang, alquran tidak jatuh atau tasbih tidak berantakan juga, jadi saya memakai sabuk pengaman karena saya merasa tubuh ini lebih terpegang itu saja yang membuat saya memakai sabuk pengaman. Suatu waktu pada tahun 2002 memang sudah kebiasaan memakai sabuk pengaman, kebetulan ibunda saya kurang sehat hari itu lebaran kedua, saya kejar dengan kecepatan tinggi 180 km/jam lewat tol jagorawi menuju Cipanas, rumah ibunda saya. Saat itu ada sedikit kesalahan karena sore harinya kanvas rem baru saja diganti barangkali ada yang salah pasang sehingga terjadi kecelakaan, untunglah pengendara saya lebih berpengalaman, jika ia injak rem maka tentunya mobil akan terguling-guling dan akan ditabrak lagi oleh belasan mobil dibelakangnya karena kecepatan yang sang tinggi, maka ia biarkan saja mobil itu kemana larinya, dan dihadapan ada beton yang dipinggiran tol maka beton itu yang ditabrak, yang mana beton itu jika 10 orang yang mengangkat maka tidak akan terangkat, sehingga beton itu terpental sejauh 20 meter karena kerasnya tabrakan itu sehingga membuat seluruh body bagian depan hancur, mesinnya pecah karena dahsyatnya benturan, Alhamdulillah saya menggunakan sabuk dan jika saya tidak memakai sabuk barangkali takdir saya berbenturan dengan beton di depan saya, Alhamdulillah Allah selamatkan dengan sabuk, kita tidak mengatakan bahwa sabuk yang menyelamatkan saya, Allah yang menyelamatkan saya, tetapi sebelum kita bertawakkal kita harus berusaha terlebih dahulu.

Rasul Saw pernah melihat salah seorang sahabat kehilangan keledainya, maka Rasulullah bertanya: “kenapa engkau kehilangan keledai” ? maka sahabat itu menjawab:” ia aku tinggalkan wahai Rasulullah untuk mendapatkan shalat jama’ah, maka Rasulullah Saw berkata: ” kau salah, seharusnya kau ikat terlebih dahulu keledaimu barulah kau bertawakkal kepada Allah Swt”, maka Allah Swt akan menjaganaya, tetapi jika kita hanya bertawakkal saja tanpa usaha, kok seakan-akan kita ingin memperbudak Allah, Allah kita suruh menjaga kita tanpa kita menjaga diri kita sendiri. Jadi adabnya kita usaha dulu kemudian tawakkal kepada Allah Swt. Dan yang saya lihat kendaraan sekarang tidak seperti kendaraan 10 atau 5 tahun yang lalu yang mana sangat jarang kecepatan motor mencapai 80 km/jam, tapi sekarang bisa mencapai 100 hingga 110 km/jam.

Hadirin hadirat, demi keamanan, ilmu kita,dzikir kita dan kita bisa terus hadir majelis maka kita jaga dan juga jaga ketertiban, sering saya lihat rombongan sepeda menyeberang dengan mengangkatnya, jika menggunakan motor maka tidak bisa menyeberang begitu saja seperti sepeda diangkat oleh adik-adik kita yang masih kecil, adik-adikku hati-hati karena kalian berlawanan arah, mobil yang datang dari arah pasar minggu tidak melihat karena sepeda tidak ada lampu, maka bisa saja terbentur. Jadi adik-adikku berhati-hatilah dan dijaga, jika ampai terjadi sesuatu pada kalian, maka kalian akan dilarang untuk hadir majelis lagi oleh ayah ibumu.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita bermunajat kepada Allah Swt, semoga Allah Swt memuliakan hari-hari kita di dunia dan akhirat dan semoga Majelis Rasulullah Saw menjadi pelopor kedamaian dan ketertiban di bumi Jakarta ini, amin. Dan juga kita bermunajat untuk semua saudara-saudara kita yang masih terjebak dalam kehinaan, dosa besar dan kerusakan aqidah semoga Allah hujani mereka dengan kemuliaan dan hidayah, amin allahumma amin. Rabbi, kami telah mendengar firman-Mu didalam hadits qudsy dan sabda nabi-Mu bahwa Engkau sangat mencintai kami sehingga Engkau tidak ingin kami menjauh dari-Mu, Engkau ingin kami selalu dekat dengan-Mu. Rabbi, sungguh hati kecil kami tidak ingin jauh dari-Mu dan selalu ingin dekat dengan-Mu namun dosalah yang menghalangi kami maka singkirkanlah, dan segala kehinaan ini jauhkanlah, jadikan kami semakin dekat ke hadirat-Mu dan semakin luhur, beri kami kesempatan untuk menyaksikan cahaya keindahan-Mu di dunia dan akhirah didalam khusyu’, didalam doa, didalam sujud, didalam ruku’ , didalam I’tidal, penuhi kami dengan kelezatan memuji nama-Mu Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dzattawli wal in’am. Penuhi sanubari kami dengan rahasia keluhuran, penuhi hari-hari kami dengan kesuksesan, penuhi hari-hari kami dengan kebahagiaan dunia dan akhirah. Diantara kami masing-masing mempunyai hajat, dan adik-adik kami yang akan melewati ujian semoga dipermudah dalam menghadapi ujiannya, dan setelah melakasanakan ujian semoga diberi kelulusan oleh Allah Swt. Yang telah melewati ujian dan yang akan menghadapi ujian semoga diberi kelulusan dan kesuksesan oleh Allah Swt. Allah Swt tidak sekali-kali mengecewakan orang yang berdoa, jika kalian memohon kelulusan kepada Allah kemudian tidak lulus, maka jangan sekali-kali kalian menyalahkan Allah sesekali jangan!, ketahuilah jika sudah berdoa kpeada Allah walaupun tidak diberi kelulusan maka Allah akan memberi kesuksesan setelah kelulusan. Sedemikian banyak orang yang lulus tetapi kehidupannya tidak sukses, banyak juga orang-orang yang lulus dan hidupnya sukses, banyak pula orang-orang yang lulus dan hidupnya sukses, semoga kita dapat yang ketiga yaitu lulus dan sukses, amin allahumma amin. Banyak orang yang sukses di dunia tapi di akhirah menjadi fuqara’, banyak orang yang susah di dunia tetapi di akhirah menjadi orang yang sukses, Rabbi jadikan kami orang yang sukses di dunia dan di akhirah, Rabbanaa atinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Tidak lupa kita doakan para habaib kita, para ulama’ kita yang hadir pada malam hari ini semoga dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah Swt. Dan Syaikh Yusuf Islam dari Australia terima kasih atas kehadiran beliau dan semoga Allah beri kesuksesan dunia dan akhirah, dan tidak lupa dewan pengurus masjid raya Al Munawwar semoga dilimpahi rahmat dan keluhuran oleh Allah Swt, serta dari kepolisian setempat yang turut mengamankan semoga diberi rahmat dan keberkahan oleh Allah Swt, dan kita semua yang datang kesini penuh dengan dosa, semoga kita keluar dan telah diberi pengampunan, dan barangkali yang datang kesini mungkin ada nama yang masih tertulis untuk melewati api neraka semoga kita keluar dari tempat ini nama-nama kita terhapus dari semua pintu neraka dan dipastikan masuk kedalam surga, amin allahumma amin. Dan juga saya menghimbau bagi yang akan bersalaman nanti setelah doa penutup, dan para krew juga menjaga karena banyak laporan bahwa banyak copet yang hadir di majelis, dan ternyata copet juga bawa jadwal majelis kita, dan yang menjadi incaran utama adalah yang berdesak-desakan, maka berhati-hatilah. Semoga semua copet diberi hidayah oleh Allah Swt, datang kesini berniat untuk mencopet dan setelah keluar bertobat dan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Jika disini mencopet dan keluar dari sini mencopet lagi ( Wal’iyadzubillah ) maka Allah yang akan memperlihatkan musibah di dunia dan di akhirah dalam kesulitan. Semoga para copet yang hadir di Majelis Rasulullah diberi hidayah oleh Allah dan bertobat, amin allahumma amin. Jika tidak bertobat ( wal’iyadzubillah ) maka musibah dan kemurkaan Allah, kecemburuan Allah atas orang-orang yang mengganggu para tamu-tamu kehormatannya.

Comments are closed.