Setiap Manusia adalah Pemelihara, Senin 03 Januari 2011


S
etiap Manusia adalah Pemelihara
Senin, 03 Januari 2011

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

(صحيح البخاري)

“Semua Kalian adalah pemelihara (bagi anaknya, hartanya, dirinya), dan semua pemelihara akan ditanyai akan yang diasuhnya” ( Shahih Al Bukhari ) 

{mosimage}Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan sepanjang zaman, Yang Maha menciptakan segenap hamba dari tiada, sesuatu yang selain Allah adalah makhluk, selain Dia Yang Maha Tunggal, Maha Sempurna dan Maha Abadi, kesemuanya adalah fana dan terikat kepada Yang Maha memiliki segala yang ada di langit dan bumi. Langit dan bumi ini adalah kerajaan milik Allah subhanahu wata’ala, Allah pemilik Tunggal Yang Maha berwibawa, Allah Yang Maha memberikan keluhuran, Yang Maha memberikan cahaya dan kegelapan, Yang Maha memulikan hamba-hamba-Nya dan menghinakan, Yang Maha menghidupkan dan Maha mematikan , Yang Maha melimpahkan keluhuran dan kesucian, Yang Maha memperbaiki keadaan hamba yang dikehendaki Nya, terlebih lagi jika hamba-Nya meminta dan terus berharap kepada-Nya, sungguh Dialah (swt) Yang paling tidak mengecewakan dari semua yang tidak mengecewakan, Dialah Yang Maha berhak dipercaya melebihi semua yang dipercaya, Dialah (swt) Yang Maha mendengarkan semua keluhan dan seruan hati kita melebihi semua yang mendengarkan keluhan dan seruan hati, Dialah (swt) Yang Maha mengerti perasaan kita melebihi semua yang baik kepada kita karena Dia (swt) Maha Baik. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kita keluhuran dengan menghadirkan kita di malam hari ini untuk berkumpul di dalam perkumpulan hamba-hamba yang dicintai-Nya, perkumpulan hamba-hamba yang dimuliakan-Nya, yang diikat Nya dengan rantai keluhuran kepada hamba-hamba terdahulu yang telah dimuliakan-Nya yang tersambung kepada Pemimipin para pembawa keluhuran, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah lah (swt) Yang menyambungkan kita kepada sang nabi (saw) melalui guru-guru kita hingga sampai kepada pemimpin semua guru, pemimpin semua makhluk Allah (swt) di dunia dan di akhirat, Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling luhur budi pekertinya, manusia yang paling indah akhlaknya, manusia yang paling sempurna dari seluruh ciptaan Allah subhanahu wata’ala. Tiada satu makhluk pun yang Allah (swt) ciptakan yang memiliki keringat wangi, dan tiada satu makhluk pun Allah (swt) ciptakan yang wajahnya lebih terang dari matahari dan lebih indah dari bulan, sehingga ketika beliau berjalan tidak terlihat bayangannya (saw), karena cahaya wajah beliau (saw) lebih bercahaya dari matahari, namun cahaya kemuliaan yang Allah (swt) berikan kepada sang nabi (saw) tidak Allah (swt) tampakkan kepada makhluk-makhluk-Nya Allah (swt), kecuali sedikit saja yang diperlihatkan, karena jika semuanya diperlihatkan maka manusia tidak akan mampu memandang sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari keindahan Allah (swt) yang berpijar di wajah beliau, namun kemuliaan itu akan terasa ketika hamba mulai mencintai Allah (swt) dan nabi-Nya (saw), keindahan Sang Maha indah (swt) dan makhluk ciptaan-Nya (saw) yang terindah akan mulai tersingkap dari tabir yang tertutup sebab gelapnya dosa, semoga Allah (swt) membukakan tabir keindahan itu sehingga sanubari kita menyaksikan keindahan Allah (swt), keindahan makhluk yang paling indah dan paling dicintai-Nya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saudara saudariku yang kumuliakan

Sungguh Allah subhanahu wata’ala telah memuliakan hamba-hamba-Nya dan menciptakannya dengan kehendak-Nya. Dan segala kehidupan, seperti hewan, tumbuhan dan lainnya, Allah ciptakan dari air, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

( النور : 45 )

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( QS. An Nuur : 45 )

Dijelaskan di dalam kitab-kitab tafsir bahwa tidaklah satu makhluk hidup pun diciptakan kecuali salah satu kandungannya adalah air, sehingga menjadikan makhluk itu butuh pada air . Sebagian ahli tafsir mensyarahkan makna air adalah sebagai rahmat Allah subhanahu wata’ala yang tiada berhenti mengalir, karena makhluk Allah subhanahu wata’ala ada yang diciptakan dari api, ada yang diciptakan dari cahaya, namun Allah subhanahu wata’ala menciptakan segala makhluk hidup yang ada di bumi, yaitu makhluk yang memiliki jasad tentunya salah satu unsurnya adalah air. Sedangkan makhluk-makhluk lain seperti jin dan syaitan diciptakan dari api, serta malaikat diciptakan dari cahaya, maka tidak termasuk dalam kalimat دابة (daabbah) karena tidak memiliki jasad tertentu, namun sebagian pendapat mengatakan bahwa mereka juga termasuk dalam kalimat دابة namun kalimat “air” dalam ayat ini adalah sesuatu yang ma’nawi yaitu rahmat Allah subhanahu wata’ala yang terus mengalir . Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

( الأعراف : 156 )

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” ( QS. Al A’raf : 156 )

Maka Allah (swt) mengatur makhluk-makhluk hidup, manusia dan hewan, ada yang berjalan dengan perutnya seperti ular, ada yang berjalan dengan kedua kaki dan ada yang berjalan dengan empat kaki, karena Allah menciptakan segala sesuatu dengan kehendak-Nya. Kehendak Allah tidak bisa dipastikan, hewan yang seharusnya berkaki empat, bisa Allah ciptakan dengan berkaki tiga atau lima, hewan yang selayaknya berkaki dua maka bisa Allah ciptakan dengan berkaki satu atau tiga, demikian Allah subhanahu wata’ala jika menghendaki sesuatu pastilah terjadi. Dari sini terbukalah rahasia-rahasia kemuliaan doa dengan firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

( النحل : 77 )

“Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( QS. An Nahl : 77 )

Kalimat ini membuka rahasia harapan bagi mereka yang mau berharap kepada Yang Maha menentukan segala sesuatu (swt), Yang Maha memutuskan segala ketentuan (swt), jika mereka berdoa kepada Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu (swt), sungguh hanya Dialah (swt) yang paling mampu merubah segala keadaan yang kita kehendaki, namun jangan terjebak dengan hawa nafsu apabila kita telah berdoa, yakinlah bahwa Allah pasti memilihkan yang terbaik untuk kita jika kita telah memohon kepadaNya. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

( البقرة : 185 )

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” ( QS. Al Baqarah : 185 )

Dan Allah berfirman dalam ayat yang lain :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

( البقرة : 216 )

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” ( QS. Al Baqarah : 216 )

Rahasia keluhuran dari kelembutan ketentuan Ilahi ditunjukkan disini Agar kita memahami apa-apa yang telah kita mohonkan kepada Allah (swt), namun belum Allah (swt) kabulkan maka barangkali hal itu belum baik untuk kita saat ini, dan pastilah Allah akan memberikan yang lebih baik dari yang kita minta, Allah tidak pernah memberi sesuatu yang sama seperti yang diminta oleh hamba-Nya, Allah pasti akan member hajatnya dan ditambah lagi pahalanya atau diberi penghapusan dosa sebab dia berdoa, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi:

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ فَلاَ أُبَالِي

” Wahai keturunan Adam , jika engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Kuampuni dosa-dosa kalian tanpa Kupertanyakan lagi. ” (HR Musnad Ahmad)

Besarnya harapan dan munajat menghapus dosa-dosa kita, maka ketahuilah bahwa mengampuni dosa adalah sesuatu yang mudah dan remeh bagi Allah subhanahu wata’ala, namun jangan kita meremehkannya, karena jika hal itu terjadi bisa saja Allah (swt) tidak mau mengampuni dosa-dosanya. Jika kita meremehkan dengan berfikir bahwa Allah (swt) pasti mengampuni dosa sehingga timbul dalam fikiran kita untuk tidak perlu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka hal yang seperti itu bukanlah merupakan harapan atau prasangka baik terhadap Allah (swt), akan tetapi merupakan penghinaan makhluk terhadap Allah subhanahu wata’ala. Tentunya kita tidak dituntut oleh Allah melebihi dari kemampuan kita, kita tidak pula dipaksa lebih dari batas kemampuan, sebagaimana firman-Nya:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

( البقرة : 286 )

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” ( QS. Al Baqarah : 286 )

Dari ayat ini kita memahami makna kelembutan Ilahi bahwa Allah (swt) tidak akan memaksa lebih dari kemampuan hamba-Nya, namun Rasulullah shaallallahu ‘alaihi wasallam memperjelas makna ayat ini dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

 اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ

“Bebankan (lakukanlah) amal sesuai kemampuan kalian” (Shahih Bukhari)

Maksudnya bukan berarti memaksakan diri lebih dari kemampuan, tetapi jangan sampai jika kita masih mampu melakukan suatu ibadah namun hanya karena terjebak malas atau yang lainnya sehingga kita tidak mau melakukannya. Tetapi jika sampai pada batas kemampuan maka Allah tidak memaksakan untuk lebih lagi dari itu. Maka lakukan amal ibadah hingga batas kemampuan kita dengan berusaha dan berdoa selanjutnya kita pasrahkan kepada Allah subhanahu wata’ala atas ketentuannya. Tidak cukup dengan kita berdoa saja dan tidak mau berusaha, karena hal yang seperti itu seakan-akan kita memerintah Allah untuk menjadi budak kita dan memberikan segala yang kita inginkan. Dan tidak pula sebaliknya, hanya dengan berusaha saja tanpa berdoa kepada Allah, karena kita tidak memiliki nafas kita sendiri bagaimana kita merasa tidak butuh lagi berdoa kepada Allah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ

“Manusia yang paling lemah adalah orang yang paling lemah dalam berdo’a” (HR alma’jamul kabiir littabrani, syi’bul Imaan lilbaihaqi dll)

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud orang yang berani bukanlah orang yang mampu memukul yang lain atau menyerang, namun justru orang yang berani adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Sebatas apa seseorang mampu menahan amarahnya maka sekadar itu juga keberaniannya.
Maka berhati-hatilah terhadap orang yang selalu sabar karena jika amarahnya memuncak, Allah akan memunculkan kekuatan kemurkaan Allah pula, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

( البقرة : 153 )

“ Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar ” ( QS. Al Baqarah : 153 )

Allah senantiasa bersama orang yang bersabar, jika hamba yang bersabar sudah memaksakan diri dengan segenap kemampuan untuk bersabar sehingga ia tidak mampu lagi menahan kesabarannya, maka Allah subhanahu wata’ala akan turut bertindak untuk membantu hamba-Nya yang bersabar.

Demikianlah yang telah terjadi pada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana beliau selalu bersabar atas musuh-musuhnya namun mereka terus-menerus menyakiti, menyerang, menganiaya dan lainnya sehingga beliau pun terpaksa membela diri karena memikirkan keadaan ummat beliau yang terus dibantai. Sehingga berapa banyak dari sahabat beliau yang dibantai namun beliau membiarkannya sampai beliau tidak lagi dapat menahannya, sehingga terjadilah perang Badr Al Kubra maka turunlah 5000 malaikat pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala. Ketika itu Rasulullah telah terusir dan hijrah meninggalkan kampung halamannya namun masih saja terus dikejar dan diganggu juga, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membela diri bersama para sahabat dari kaum muhajirin dan anshar, demikian keadaan para hamba dari zaman ke zaman hingga malam hari ini, kekuatan Allah ada pada hamba yang bersabar. Maka bersabarlah karena kekuatan Allah akan bersamamu.

Saudara saudariku yang dimuliakan Allah
Rahasia keindahan Allah subhanahu wata’ala terus diulurkan kepada kita dengan munculnya hadits kepada kita, sehingga sampailah ucapan mulia ini dari lisan manusia yang paling suci dan indah :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” 

Hadits ini teriwayatkan lebih dari 5 hadits dengan lafazh yang sama dan makna yang sama pula bahwa “Setiap kalian adalah pemimpin, pengasuh, atau pemelihara yang akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, diasuhnya atau yang dipeliharanya”. Kalimat رَاعٍ mempunyai arti pengembala namun yang dimaksud adalah pengasuh, atau pemelihara sesuatu yang bersamanya, seperti seorang suami memelihara istrinya, seorang ibu menjaga anaknya, seorang anak menjaga hak-hak orang tuanya, atau seseorang yang mempunyai harta maka ia berkewajiban menjaga hartanya yang Allah berikan kepadanya. Seluruh kenikmatan akan dimintai pertanggungjawaban kepada manusia kelak di hari kiamat. Semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban, jika ia pemimpin maka ia bertanggung jawab atas rakyatnya, jika ia rakyat maka ia bertanggungjawab untuk taat kepada pemimpin, demikian pula imam terhadap makmum dan sebaliknya, seorang imam harus menjaga agar makmum mengikuti imam, dan bagaimana seorang makmum harus mengikuti imam dan tidak mendahuluinya. Bahkan seseorang bertanggung jawab atas sel-sel di tubuhnya, manusia akan ditanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala tentang kehidupannya, dan setiap nafas dan detik yang lewat pun ia bertanggung jawab atasnya. Namun rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kejelasan bahwa orang yang baik dan selalu berusaha semampunya untuk berada dalam keluhuran dengan banyak bershadaqah dan senantiasa berbuat kemuliaan maka Allah akan membantunya dengan kemudahan di dunia dan akhirah, sebaliknya orang yang selalu berpaling dari kebenaran maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kesulitan, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ، وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

( الليل : 5- 7 )

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail : 5-7 )

Sebaliknya orang yang kikir dan selalu berpaling dari kebenaran, maka Allah mudahkan baginya jalan kesulitan, dan kikir bukan hanya dalam harta saja, namun termasuk pula kikir terhadap usia dan malas dalam beribadah, sebagaimana firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

( الليل : 8-10 )

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sulit.” ( QS. Al Lail : 8-10 )

Semoga Allah menjaga kita dan selalu menuntun kita pada kemudahan, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“ Barangsiapa yang dihisab, maka ia disiksa”. Aisyah ra bertanya,”Bukankah Allah telah berfirman : “maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah” ( QS. Al Insyiqaaq: 8), maka Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: “Hal itu hanyalah pembentangan, tetapi barangsiapa yang dipertanyakan dan diteliti hisabnya, maka ia akan celaka (mendapat azab)”.

Seseorang jika dipertanyakan satu saja tentang dosa seseorang maka hal itu sudah cukup untuk melemparkannya ke dalam api neraka. Jangankan sesuatu yang dosa, hal yang makruh saja jika dipertanyakan oleh Allah mengapa seseorang melakukan hal yang tidak disukai oleh Allah walaupun tidak dosa, maka satu pertanyaan itu akan membuat manusia lebur menjadi debu, betapa takut dan amlunya dihadapan Allah ketika Allah subhnahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ، الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ ، فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ ، كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ ، وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ، كِرَامًا كَاتِبِينَ ، يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ ، إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ، وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ ، يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ ، وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

( الإنفطار : 6-19 )

“Wahai manusia, apakah yang telah membuatmu kamu berpaling dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu, Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni’matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu, Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, dan, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?,  (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah .” ( QS. Al Al Infithar : 6-19 )

Apa yang bisa kita jawab dengan partanyaan ini : “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?”. Sungguh indah firman Allah subhanahu wata’ala, seduatu yang akan terjadi kelak Allah ceritakan saat ini, hal itu adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah memberitahukan ucapan yang akan ditanyakan kelak di hari kiamat agar manusia faham dan mengetahui apa yang akan dipertanyakan kelak. Misalkan murid yang akan menghadapi ujian, tidak akan mungkin guru memberitahukan soal-soal ujiannya dari jauh hari sebelumnya, tiada yang lebih baik melebihi Allah subhanahu wata’ala yang memberitahukan sesuatu yang akan ditanyakannya kelak. Semua guru akan berusaha menjaga agar semua pertanyaan tidak diketahui oleh muridnya, karena jika diberitahu kepada muridnya maka akan dikatakan khianat. Namun justru Allah memberitahu semua pertanyaan yang akan ditanyakan kelak, Allah bertanya dalm firman-Nya :

“Wahai manusia, apakah yang telah membuatmu kamu berpaling dari Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu, Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni’matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka, Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan, Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu”.

Hadirin hadirat, mengapa Allah mengucapkan hal ini ? yaitu agar kita menghindari kejahatan. Jika tidak karena kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka Allah akan diam saja tanpa memberitau hal ini kepada hamba-Nya, Allah akan biarkan saja jika seseorang berbuat baik maka dia akan menerima balasannya, dan jika seseorang berbuat jahat maka ia pun akan menerima balasannya. Namun Allah mengabrakannya kepada kita bahwa orang yang berbuat jahat atau zhalim kepada yang lain dia akan menempati tempat di neraka dan sebaliknya orang yang senantiasa mengerjakan keluhuran dia akan ditempatkan di tempat yang mulia, yaitu surge Allah. Hal itu Allah sampaikan kepada kita agar kita senantiasa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan perbuatan jahat. Maka tidak seharusnya kita sangat membenci orang-orang yang berbuat jahat atau zhalim kepada kita karena Allah telah menentukan tempatnya kelak di neraka. Semoga orang-orang yang berbuat jahat dan berbaut zhalim diberi hidayah oleh Allah untuk bertobat, amin.

Firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ، يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

) الإنفطار : 17 – 19 )

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?, dan, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?,  (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah .” ( QS. Al Al Infithar : 17-19 )

Saat kita berkuasa atas diri kita sendiri walaupun tidak sepenuhnya, misalnya kita ingin bergerak maka dengan mengangkat tangan maka tangan bergerak, namun bisa juga kita ingin bergerak namun tidak bisa bergerak, dengan kehendak kita pula kapan kita ingin berkedip maka kita bisa berkedip, dan dengan kehendak Allah meskipun kita punya mata tapi tidak bisa melihat. Namun sebagian besar kita menguasai atas jasad kita yang telah diberikan Allah kepada kita kekuasaannya, maka di saat itu (hari kiamat) seseorang tidak bisa berkuasa atas dirinya, kemana dirinya akan pergi hal itu ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala, dan saat itu keputusan berada pada Allah subahanahu wata’ala. Allah telah putuskan jika orang yang cinta kepada orang yang selalu berbuat luhur maka ia kan bersamanya, dan orang yang cinta kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk orang yang paling beruntung di saat itu. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka, amin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dan janganlah menghinakan orang yang terhina di dunia, barangkali orang itu termasuk orang yang mulia di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

رُبَّ أَشْعَثٍ مَدْفُوْعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

“Bisa jadi orang yang rambutnya kusut, berdebu, dan terusir dari pintu-pintu rumah, namun jika ia berdoa kepada Allah, Dia (Allah) pasti mengabulkannya” 

Maka bisa jadi seorang pengemis yang berbaju lusuh yang terusir dari rumah-rumah, jika ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya doanya, jika ia marah atau tersinggung maka Allah akan mengabulkan doanya, maka berhati-hatilah terhadap kaum lemah dan orang susah yang terhina atau teraniaya jika berakhir kesabarannya maka Allah akan mengikuti kehendaknya karena perbuatan buruk kita kepadanya . Maka para sahabat medengarkan tuntunan sang nabi dengan seindah-indah keadaan, oleh karena itu orang-orang yang berkuasa tidak akan berani untuk berbuat zhalim kepada yang lemah, dan yang lemah pun menjadi tertolong dan terhibur oleh orang-orang yang diberi kekuatan oleh Allah dengan jabatan, harta atau yang lainnya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasulullah telah menjelaskan kepada kita secara gambling bahwa walaupun masa atau generasi kehidupan kita jauh dari masa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, 14 abad yang silam, namun Allah subhanahu wata’ala tidak melupakan kita, jauhnya jarak dan masa tidak bisa membuat Allah jauhSebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat bertanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mohon izin ikut hijrah namun beliau tidak mengizinkan karena dia dalam keadaan lemah dan sangat tidak memungkinkan, maka rasulullah berkata :

 فَاعْمَلْ مِنْ وَرَاءِ الْبِحَارِ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَتِرَكَ مِنْ عَمَلِكَ شَيْئًا

“Maka beramallah dari belakang lautan, sesungguhnya Allah tidak akan menyia nyiakan amalmu sedikitpun.”

Beramallah walaupun di seberang lautan, maksudnya adalah meskipun kita berada di tempat yang paling jauh sekalipun namun Allah melihat perbuatan kita dan tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan kita sedikitpun bahkan Allah akan memberi balasan lebih atas sesuatu yang kita perbuat. Allah tidak hanya memberi apa yang kita minta saja, namun Allah akan memberikan kepada kita tambahan pahala atau penghapusan dosa, walaupun doa ita bersifat duniawi, selama kita memanggil nama-Nya, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan pahala selama doa itu bukan permohonan atas hal-hal yang munkar.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah memuliakan kita dengan rahasia keindahan-Nya, memuliakan kita dengan tuntunan terluhur dari makhluk yang paling luhur nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling suci, makhluk yang paling indah, budi pekertinya yang paling sempurna, yang teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mau menjawab salam kecuali dalam keadaan berwudhu atau dalam keadaan bersuci, demikian indahnya budi pekerti dan akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah memperbaiki akhlak dan budi pekerti kita untuk semakin indah dan semakin luhur dan mulia, untuk kita dan semua yang menyaksikan di streaming www.majelisrasulullah.org , dan juga untuk semua yang mendengarkan di radio-radio yang menyiarkan acara ini. Semoga Allah memperindah hari-hari kita semakin indah setelah detik ini, di harei esok dan lusa pun semakin indah dan semakin suci dan mulia di dunia dan akhirah, kesemua itu mustahil kita dapatkan kecuali dari-Nya, Allah rabbul ‘alamin. Kembali kepada-Nya segala ketentuan dan kejadian, datang dari-Nya segala kehidupan dan kembali kepada-Nya segala kehidupan. Kematian adalah awal perpisahan hamba menuju Allah dan berpisah dari semua yang bersamanya, berpisah dari keluarga, teman, jabatan, harta, kekasih, musuh, dan disaat itu hanya amal-amal yang menemani, atau kiriman amal teman dan kerabat yang mengingatnya. Semoga Allah memuliakan kita dan menjadikan kita senantiasa di dalam gelombang rahmat-Nya yang terus berlimpah tiada berhenti tercurah kepada kita semua, kerabat kita, keluarga kita, keturunan kita hingga hari kiamat. Yang masih hidup, yang telah wafat dan yang akan hidup kelak semoga dilimpahi kemuliaan oleh Allah subhanahu wata’ala, doa ini mustahil kami dapatkan kecuali dari-Mu Ya Allah…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Selanjutnya qasidah penutup “ Yartaah qalby “ dan doa penutup oleh Al Habib Shalih Al Habsyi, kemudian kalimat talqin oleh Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas, yataffaddhal masykuuraa.

Comments are closed.