Mencintai Kota Madinah, Senin 04 April 2011


M
encintai Kota Madinah
Senin, 04 April 2011

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

(صحيح البخاري)

“Wahai Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah.” ( Shahih Al Bukhari )

{mosimage}Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kemuliaan dan Maha membagi-bagikan rahmat dengan keinginannya setiap waktu dan saat, Yang Maha mengakhiri kehidupan alam semesta dengan goncangan yang dahsyat, seraya berfirman :

الْقَارِعَةُ ، مَا الْقَارِعَةُ ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ، وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

( القارعة : 1 – 5 )

“ Hari kiamat, apakah hari Kiamat itu?, tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?, pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung bagaikan bulu yang dihambur-hamburkan.” ( QS : Al Qaari’ah : 1-5 )

Goncangan yang dahsyat dan suara bergemuruh yang menakutkan, sehingga mampu membuat hati dan sanubari hancur. Al Qaari’ah adalah hari kiamat, yaitu hari dimana manusia tindih menindih antara satu sama lain bagaikan serangga-serangga yang keluar dari perut bumi dan dimuntahkan oleh bumi, semua manusia yang wafat dari masa nabi Adam hingga manusia yang terakhir hidup di muka bumi, mereka semua keluar untuk mendatangi panggilan Allah subhanahu wata’ala. Dan ketika itu gunung-gunung yang kekar dan kokoh tertiup bagaikan butiran debu. Di saat itu manusia yang pernah hidup di muka bumi kembali hidup kemudian digiring ke padang mahsyar, dimana sebagian mereka ada yang berubah menjadi wajah hewan, ada yang berbau busuk, ada yang menjerit, ada yang menyesali dosa-dosa yang lalu atau mencari orang-orang yang pernah berbuat jahat padanya, dihari itu satu sama lain saling menuntut. Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

( القارعة : 6-7 )

“ Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dala kehidupan yang memuaskan,

Dan barangsiapa yang amal pahalanya lebih berat maka dia akan berada dalam kehidupan yang sejahtera , kesejahteraan yang abadi yang semakin detik semakin indah, semakin mulia dan semakin suci. Sebagaimana dalam riwayat bahwa manusia ada yang bertemu dengan Allah seribu tahun sekali di dalam surga Allah, padahal tidak ada kenikmatan yang lebih nikmat daripada memandang keindahan dzat Allah, ada pula yang diberi kesempatan memandang Allah dalam seratus tahun sekali, dan ada yang diberi kesempatan selama 10 tahun sekali untuk melihat Allah, ada yang bisa melihat Allah setiap setahun sekali, ada pula yang sebulan sekali, dan adapula yang diizinkan melihat Allah setiap hari Jum’at, dan ada yang diizinkan Allah untuk memandang Dzat-Nya kapan pun di waktu yang ia kehendaki. Ketika para sahabat bertanya : “wahai Rasulullah, bagaimana agar kelak kami banyak melihat Allah?” maka Rasulullah menjawab : “ Jagalah shalat 5 waktu dan sempurnakan shalat Asar” . Maka shalat 5 waktu adalah modal untuk bisa bertemu dengan Allah, semakin malas seseorang melakukan shalat maka semakin sedikit kesempatan untuk berjumpa dengan Allah. Semoga aku dan kalian termasuk orang yang semakin hari semakin asyik dan menikmati shalat, semakin asyik dengan sujud, amin.

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ، نَارٌ حَامِيَةٌ

( القارعة : 8 – 11 )

“ Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah, dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?(yaitu) api yang sangat panas”. ( QS: Al Qaari’ah : 8-11 )

Adapun orang yang amal dosanya lebih berat dari amal pahalanya maka tempat tinggalnya adalah neraka jahannam yaitu api yang yang sangat panas yang membakar kulit dan setiap detik kulit itu hancur kemudian digantikan dengan kulit yang baru. Dijelaskan dalam firman Allah yang lainnya bahwa api itu menceraikan tulang satu sama lain, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al Ma’aarij bahwa di saat itu manusia berharap siksa api neraka tidak bisa ditukar dengan keluarga, kerabat atau sahabat, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

يُبَصَّرُونَهُمْ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ، وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ، وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ ، كَلَّا إِنَّهَا لَظَى ، نَزَّاعَةً لِلشَّوَى ، تَدْعُوا مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى ، وَجَمَعَ فَأَوْعَى

( المعارج :11- 18 )

“ Sedang mereka saling melihat, orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya, sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama), serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya”. ( QS : Al Ma’aarij : 11- 18 )

Di saat itu (hari kiamat ) satu persatu manusia akan menghadap Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا ، لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا ، وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

( مريم : 93-95 )

“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba, sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti, dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. ( QS : Maryam : 93-95)

Semua yang ada di langit dan bumi akan datang menghadap kepada Allah sebagai hamba, dan Allah telah mengetahui semua jumlah mereka, dan mereka akan datang menghadapAllah satu persatu, “ Fulan bin Fulan maju kehadapan Allah “, maka di saat itu beruntunglah orang-orang yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan dalam tafsir Al Imam Ibn Abbas bahwa para sahabat berkata : “ tidak ada ayat yang lebih menggembirakan kami melebihi dari firman Allah subhanahu wata’ala ” :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى

( الضحى : 5 )

“ Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. ( QS : Ad Dhuha : 5 )

Karena kami ( para sahabat ) tahu bahwa nabi Muhammad belum ridha jika masih ada satu ummat nya yang di neraka. Sungguh beruntung pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beruntunglah nama-nama mu yang telah dipilih Allah untuk menjadi pengikut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Maha Suci Engkau wahai Rabbi yang telah mengumpulkan kami dalam perkumpulan orang-orang yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, perkumpulan –perkumpulan majelis dzikir seperti ini akan dibanggakan oleh Allah kelak di hari kiamat . Adapun hadits yang kita baca tadi, doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Wahai Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah.”

Menunjukkan bahwa mencintai Madinah Al Munawwarah lebih dari kecintaan kepada Makkah Al Mukarramah maka hal itu diperbolehkan , bukan justru hal yang syirik. Di zaman sekarang jika ada orang yang berangkat Umrah mereka tidak mengunjungi Madinah, padahal Makkah tidak akan menjadi qiblat jika tidak dipilih oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah lah yang memilih qiblat ke Ka’bah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

( البقرة : 144 )

“ Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan”. ( QS : Al Baqarah : 144 )

Dan bukan berarti nabi Muhammad lebih mulia dari Allah, tetapi Allah menginginkan arah kiblat seperti yang dikehendaki oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika nabi Muhammad tidak memintanya maka Masjidil Haram tidak menjadi kiblat sampai saat ini. Oleh sebab itu Rasulullah berdoa kepada Allah untuk mencintai Madinah lebih dari kecintaan pada Makkah, ada apa di Madinah? ada jasad sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , maka berdoalah Rasulullah dengan doa ini :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“ Wahai Allah, jadikan kami mencintai Madinah, seperti kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah.”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Saya tidak bisa berpanjang lebar dalam tausiah karena tamu-tamu kita akan boarding jam 10.00 WIB, jadi harus segera berangkat ke Bandara. Dan jangan lupa malam Minggu yang akan datang Dzikir Akbar Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dzikir “Ya Allah” 1000 x dan ziarah kubra di makam Al Habib Abdurrahman Al Habsyi Cikini . Alhamdulillah acara di Sukabumi waktu yang lalu sukses dan 3 orang dari Singapora ikut hadir disana. Dan acara itu bertepatan dengan hari jadi kota Sukabumi yang ke-94, Alhmadulillah hadir pada acara itu sekitar 20.000 muslimin muslimat di wilayah tersebut, dan sambutan mereka sangat baik dan mengharapkan kedepannya untuk diadakan lagi acara disana, dan Insyaallah di waktu yang akan datang akan kita adakan acara-acara di daerah sekitar. Selanjutnya kita berdzikir bersama, semoga Allah subhanahu wata’ala menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Di saat kita dipanggil oleh Allah subhanahu wata’ala “ Fulan bin Fulan datang kehadapan Alla”, disaksikan oleh semua nenek moyang dan semua keturunannya hingga akhir zaman untuk mempertanggungjawabkan semua kehidupannya di dunia, semoga kita tidak di debat oleh Allah dengan hujjah, semoga kita tidak datang sebagai hamba yang menghadap kepada Allah dengan muka yang cemberut, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

( الإنسان : 10 )

“ Sesungguhnya kami takut akan (azab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan”. ( QS : Al Insan : 10 )

Disaat nama kita dipanggil, dalam keadaan bagaimana Allah menyambut kedatangan kita, dalam keadaan murka atau dalam kerinduan?!. Orang yang disaat hidup ia berdzikir memanggil nama Allah dan meneteskan air mata rindu kepada-Nya maka Allah pun rindu kepadanya . Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi:

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ

“ Barangsiapa yang rindu berjumpa denganKu, maka Aku pun rindu berjumpa dengannya “.

Wahai Allah jadikanlah kami sebagai hamba yang datang kepada-Mu dalam keadaan hamba yang dirindukan-Mu, bukan hamba yang Engkau murkai…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Selanjutnya qasidah penutup “ Muhammadun” , kemudian talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, tafaddhal masykuuraa…

Comments are closed.