Tausyiah Al Habib Ali bin Syaikh Abu Bakr bin Salim Bersabar Atas Cobaan, Senin 02 Mei 2011


T
ausyiah Al Habib Ali bin Syaikh Abu Bakr bin Salim “Bersabar Atas Cobaan”
Senin, 02 Mei 2011

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إِنَّ اللَّهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي، بِحَبِيبَتَيْهِ، فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ، مِنْهُمَا الْجَنَّةَ، يُرِيدُ عَيْنَيْهِ.

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh Allah SWT berfirman: Jika Kuberi cobaan pada hambaKu dengan mengambil kedua kesayangannya, maka ia bersabar, kubalas dengan sorga, yang dimaksudNya (SWT) adalah kedua mata hambaNya” (Shahih Bukhari)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الَْحَمْدُلله رَبِّ اْلعَالَمِيْن وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

{mosimage}Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala atas limpahan kenikmatan yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, sebanyak ciptaan-Nya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

( إبراهيم : 7 )

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”

Dikatakan oleh para Ulama’ bahwa barangsiapa yang menginginkan kenikmatan itu kekal bagi dirinya maka perbanyaklah ia memuji Allah, dan jika ia menginginkan tambahan kenikmatan itu maka ia memperbanyak syukur atas nikmat yang telah diperolehnya. Maka hal pertama yang harus kita syukuri adalah kenikmatan Islam dan Iman agar Allah menambahkan keimanan untuk kita, dan kita juga bersyukur atas nikmat kesehatan yang dengan itu Allah akan menambahkannya untuk kita, serta kita bersyukur kepada Allah atas nikmat mulia yang diberikan kepada kita yaitu diutusnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita sehingga Allah lebih mengenalkan kita kepada nabi kita dan menambahkan kecintaan dan panutan kita kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kita bersyukur dan memuji Allah atas kehadiran kita dalam perkumpulan yang mulia ini sehingga Allah menambahkan untuk kita keberkahan dan mendapatkan banyak faidah dari perkumpulan luhur ini serta limpahan rahmat kepada kita semua, dan semoga Allah melimpahkan kenikmatan kepada para pelaksana dan menjadikan terlaksananya majelis ini, karena nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

“orang yang menunjukkan kepada kebaikan bagaikan orang yang melakukannya”

Dan mereka-mereka yang menjadi pelaksana majelis ini telah menunjukkan kepada yang hadir atau yang mendengarkan untuk mendapatkan kemulian dengan hadir di majelis ini sehingga mereka pun mendapatkan kemulian seperti mereka yang hadir dan mendengarkan majelis ini. Maka kita memohon kepada Allah agar menambahkan untuk kita sifat syukur atas nikmat yang diberikan kepada kita, karena Allah menyukai hamba-hamba yang bersyukur dan memuji-Nya. Sungguh kenikmatan Allah yang diberikan kepada hamba sangatlah banyak dan tidaklah terhitung, sebagaimana firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

( إبراهيم : 34 ، النحل : 18 )

“Dan jika kamu menghitung-hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya”.( QS. Ibrahim : 34, An Nahl : 18 )

Dan kita mengetahui dari hadits yang telah kita baca tadi bahwa nikmat yang paling berharga adalah nikmat melihat ( mata) , sebagaimana difirmankan oelh Allah dalam hadits qudsi :

إِنَّ اللَّهَ قَالَ إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ يُرِيدُ عَيْنَيْهِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan kedua mata yang buta lantas dia bersabar, maka niscaya akan Aku ganti dengan balasan surga.”

Dia bersabar atas musibah itu, tanpa menyesalkan dan mencelanya maka Allah akan menggantikan musibah itu dengan surga untuknya. Dan segala kenikmatan yang ada pada seseorang, kemudian diambil oleh Allah maka Allah akan menyiapkan gantinya yang sangat agung, begitu pula segala musibah yang menimpa seorang hamba jika dia bersabar maka ia akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirah. Oleh sebab itu sebagian ulama’ berkata : “ orang yang banyak ditimpa musibah di dunia dan ia bersabar atas musibah itu maka dialah orang yang akan mendapatkan ketenangan kelak di akhirah” . Begitu juga jika kita tidak menghendaki musibah menimpa kita maka hendaklah kita peduli terhadap saudara-saudara kita yang terkena musibah, dan jangan sampai kita menghina dan mencela orang-orang yang terkena musibah, seperti orang yang diberi musibah dengan kebutaan, maka jangan sampai kita menghinanya karena bisa saja Allah subhanahu wata’ala mengambil kenikmtatan itu dari kita dan membuat kita menjadi buta, wal ‘iyadzubillah. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَادَ أَعْمَى أَرْبَعِيْنَ خُطْوَةً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

“ Barangsiapa yang menuntun orang buta sebanyak 40 langkah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang”

Maka jika engkau mendapati seorang buta di jalan dan tidak ada yang mendampinginya kemudian menuntunnya hingga 40 langkah, maka Allah akan mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang. Diriwayatkan dalam riwayat yang kuat bahwa datang kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seseorang yang mendapatkan musibah dengan mata yang buta, maka dia berkata kepada Rasulullah : “wahai Rasulullah, doakanlah aku supaya aku sembuh dan bisa melihat“, Rasulullah berkata : “bersabarlah, maka bagimu surga”, maka orang itu pun menjawab : “wahai Rasulullah, aku menginginkan surga dan aku juga menginginkah agar disembuhkan mataku”, kemudian Rasulullah berkata : “jika itu yang kau inginkan, pergilah berwudhu kemudian shalat lah 2 raka’at, lalu berdoalah” :

 اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّد، إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّيْ أَنْ يَرُدَّ بَصَرِيْ اَللّهُمَّ شَفِّعْهُ فِيَّ وَشَفِّعْنِيْ فِيْ نَفْسِيْ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan bertawajjuh kepadaMu dengan nabiMu, Muhammad Saw, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku bertawajjuh denganmu kepada Tuhanku agar mengembalikan penglihatanku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat”

Kemudian orang itu pergi berwudhu lalu shalat 2 rakaat dan berdoa dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, maka seketika itu penglihatannya kembali dan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu pada matanya, subhanallah. Hal itu karena dia berdoa kepada Allah dengan harapan yang besar dan juga dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dijelaskan oleh para Ulama’ bahwa tidaklah seseorang berdoa kepada Allah kecuali dia pasti akan mendapatkan salah satu dari 3 hal ; mungkin Allah memberikan apa yang ia inginkan di dunia, atau ditunda hingga kelak di akhirah, atau Allah subhanahu wata’ala menyingkirkan bala’ dan musibah darinya karena doanya. Oleh karena itu setiap doa pasti akan memberi manfaat bagi manusia, mungkin di dunia atau di akhirah atau dijauhkan dari musibah. Maka sebagian hamba kelak ketika di hadapan Allah subhanahu wata’ala akan berkata : “Ya Allah seandainya dahulu doa-doaku ketika di dunia tidak ada yang dikabulkan sehingga sehingga menjadi hutang bagi-Mu dan Engkau berikan balasannya di akhirah”, karena mereka melihat banyaknya pahala yang Allah siapkan untuk mereka di akhirat atas doa-doa yang belum dikabulkan ketika di dunia. Kita bersyukur kepada Allah atas kenikmatan-kenimatan yang diberikan kepada kita,dan janganlah diantara kita berharap untuk sakit atau mendapatkan musibah. Sebagian orang berkata : “wahai Allah jika kenikmatan ini akan mendatangkan azab untukku kelak di akhirat, maka janganlah berikan kenikmatan itu kepadaku, biarkanlah musibah itu menimpaku di dunia”, maka Rasulullah bersabda untuk tidak mengatakan hal seperti itu namun katakanlah :

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”

Maka janganlah kita mengharapkan untuk diberi musibah, namun jika musibah menimpa kita maka bersabarlah karena Allah akan segera menghilangkan musibah itu karena kesabaran kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang dilimpahi kenikmatan, bukan hamba yang dilimpahi musibah dan cobaan, dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada kita limpahan kemuliaan taubat yang sebenar-benarnya, sering kita mendengar doa:

اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِيْنَ

“ Ya Allah jadikanlah kami dalam kelompok orang-orang yang bertobat”

اَللّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا

“ Ya Allah ampunilah (dosa-dosa) ku “

Seseorang yang berdoa dengan doa itu adalah orang yang ingin dicintai Allah, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

( البقرة : 222 )

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat “ ( QS. Al Baqarah : 222 )

Maka barangsiapa yang bertobat pastilah Allah akan mencintainya, dan jika Allah telah mencintai seorang hamba maka DIA akan memberikan apa yang diinginkan hamba-Nya bahkan lebih dari yang diinginkannya, sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi :

مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

“Hamba-Ku masih terus mendekati kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat”

Sungguh betapa mulianya seorang hamba yang melihat dan mendengar dengan cahaya Allah, demikianlah keadaan orang-orang yang dicintai oleh Allah, mereka akan mendapatkan kemuliaan yang agung di dunia dan di akhirah. Semoga Allah mencintai kita, dan tiadalah Allah akan mencintai kita kecuali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mencintai kita, maka mendekatlah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengikuti tuntunan-tuntunan beliau agar kita dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala dan dicintai oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Perbanyaklah shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ikutilah budi pekerti dan akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika engkau mengikuti nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka engkau akan dicintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga akan dicintai Allah subhanahu wata’ala, dan jika Allah mencintaimu maka Allah tidak akan memberimu kesusahan, karena tidak ada seorang kekasih yang akan menyakiti kekasihnya akan tetapi dia akan memberi segala yang diinginkan oleh kekasihnya, memuliakannya, dan mendekatkannya kepadanya sedekat-dekat keadaan. Adapun majelis seperti ini mendekatkan kita kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terlebih lagi majelis ini bernama “majelis rasulullah” shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketahuilah para ulama’ berkata bahwa setiap sesuatu itu tergantung pada namanya, maka jika namanya baik dan dengan niat yang baik maka sesuatu itu akan menjadi baik, dan jika namanya buruk maka sesuatu itu akan menjadi buruk. Terdapat dalam sebuah hadits, bahwa seseorang datang kepada sayyidina Umar Bin Khattab Ra, maka sayyidina Umar bertanya: “ siapa namamu?”, maka ia menjawab : “namaku “Lahab” (yang menyala), kemudian sayyidina Umar bertanya lagi : “engkau berasal dari qabilah mana?” , ia menjawab : “Dzaat Lazhaa (api ), lalu sayyidina Umar kembali bertanya : “dari mana asalmu?”, dia menjawab : “ dari “Wadi Sa’ier” ( lembah neraka ), maka sayyidina Umar berkata : “ sekarang engkau pulanglah ke tempatmu karena rumah dan keluargamu sedang terbakar”. Itulah akibat dari memilih nama yang buruk. Namun bagaimana dengan nama “Majelis Rasulullah” shallallahu ‘alaihi wasallam, tentunya akan mendapatkan banyak kebaikan dan keberkahan, serta mendapatkan perhatian dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita tidak meminta kepada siapapun, namun kita hanya meminta kepada Allah atas segala sesuatu yang kita inginkan,maka kita meminta kepada yang dermawan tidak kepada yang kikir, karena jika meminta kepada yang kikir maka mungkin dia akan menolak permintaan kita, namun jika meminta kepada Yang Maha Dermawan dengan sekadar permintaanmu, maka DIA akan memberimu dengan sekadar kedermawanan-Nya, dan saat ini kita meminta kepada Allah agar Allah memandang kita dengan pandangan kasih sayang, dan kita juga menjadi orang yang mencintai dan dicintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semakin besar rasa cinta kita kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita akan semakin tidak suka untuk berbuat dosa, jika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyayangi kita maka akan berpijar cahaya di hati kita, apabila cahaya itu semakin meluas maka akan mengalir ke semua anggota tubuh kita, dan jika cahaya itu telah mengalir ke seluruh tubuh maka tiadalah sesuatu yang ia perbuat kecuali hanya kebaikan dan kebaikan. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di majelis ini, semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan keberkahan kepada yang hadir, yang melihat dan mendengar majelis ini, dan semoga Allah melimpahkan keberkahan dan kemuliaan kepada yang membangun dan mengelola masjid ini. Jika Allah subhanahu wata’ala menyayangi hamba yang membantu menyelesaikan hajat sesamanya, maka terlebih lagi hajat yang mulia ini yang mendekatkan hamba kepada Allah. Dan hal ini merupakan hajat yang lebih mulia dari sekedar hajat-hajat keduniawian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 إِنَّ لله خَلْقاً خَلَقَهُمْ لِقَضَاءِ حَوَائِجِ النَّاسِ، آلى عَلَى نَفْسِهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ باِلنَّارِ، فَإِذَا كاَنَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ وُضِعَتْ لَهُمْ مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ يُحَدِّثُوْنَ اللهَ تَعَالىَ وَالنَّاسُ فِي الْحِسَابِ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang Dia ciptakan untuk memenuhi kebutuhan orang banyak. Dia berjanji kepada diri-Nya sendiri bahwa Dia tidak akan menyiksa mereka di neraka, dan kelak di hari kiamat dibuatkan mimbar-mimbar untuk mereka, dan mereka berbincang dengan Allah sedangkan orang-orang lain sedang dihisab.”

Rasulullah berjanji bahwa orang yang demikian tidak akan disiksa oleh Allah subhanahu wata’ala. Dan kelak ketika di hari kiamat mereka akan diberi oleh Allah mimbar-mimbar cahaya sembari berbincang-bincang dengan Allah subhanahu wata’ala, mereka adalah orang-orang yang memenuhi hajat-hajat keduniawian sesamanya maka terlebih lagi mereka yang memenuhi hajat-hajat sesama dalam masalah agama dan masalah akhiratnya. Maka orang-orang yang demikian itu Allah lah yang menuntun mereka untuk berbuat demikian, sehingga Allah menjadikan kenikmatan itu berlimpah kepada mereka. Dan terdapat dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda : bahwa Allah subhanahu wata’ala memberikan kenikmatan yang besar pada suatu kaum dan Allah biarkan kenikmatan itu untuk mereka selama ada diantara mereka orang yang selalu membantu menyelesaikan hajat-hajat orang lain, dan jika mereka telah mulai bosan untuk membantu orang lain maka Allah pindahkan kenikmatan itu kepada kelompok yang lain, karena kenikmatan itu dari Allah subhanahu wata’ala. Maka dalam majelis yang seperti ini perbanyakalah doa dan munajat karena Allah akan mengabulkan hajat-hajat kita, karena majelis-majelis dzikir adalah tempat dikabulkannya setiap doa, terlebih lagi di majelis ini bukan dihadiri 100 atau 200 orang akan tetapi dihadiri oleh ribuan orang. Tidak mungkin Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Dermawan mengumpulkan puluhan ribu ummat berdoa dan berdzikir kecuali ada diantara mereka yang menjadikan doa-doa terkabulkan. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita dalam majelis yang penuh barakah ini, kita memohon kepada Allah semoga menambahkan kenikmatan untuk kita. Kita senantiasa berbuat taat dan menjauhi kemaksiatan maka Allah akan menambahkan untuk kita kenikmatan yang besar. Perbanyaklah ibadah dan dzikir ynag dengan itu Allah akan menjaga kita dari perbuatan dosa dan mengampuni dosa-dosa kita, dan setelah menunaikan shalat wajib 5 waktu maka sempurnakanlah juga dengan shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah, shalat witir, dan shalat dhuha semampunya selama kita masih dalam kehidupan yang fana ini, karena jika seseorang telah wafat maka terputuslah amal-amalnya kecuali mereka yang telah menanam saham besar berupa ibadah-ibadah di dunia yang berkelanjutan maka hal itulah yang membawa manfaat baginya. Semoga majelis ini berkelanjutan dan Allah panjangkan usia Al Habib Munzir Al Musawa untuk selalu membinanya karena semua kalangan masyarakat dari golongan pria, wanita, tua dan muda mendapatkan manfaat dari majelis ini. Dan semoga keberkahan majelis ini berlimpah kepada kita semua, semoga Allah subhanahu wata’ala mengabulkan doa-doa kita, dan Allah menyampaikan semua yang telah kita cita-citakan. Semoga Allah menerangi sanubari kita dengan cahaya dzikir, dan menerangi rumah-rumah kita dengan cahaya bacaan Al qur’an. Rasulullah ketika melakukan shalat jama’ah ( shalat wajib ) di masjid, beliau memerintahkan untuk shalat sunnah di rumah saja agar rumah kita juga mendapatkan cahaya, karena rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir, shalat, atau membaca alqur’an maka masuklah syaitan dan jin yang membawa kehinaan . Di sebagian rumah yang tidak pernah terdengar suara dzikir kepada dan tidak pula shalawat kepada Rasulullah, yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang fasik, maka rumah yang seperti itu tidak terbentengi, dan bisa saja dimasuki sihir, cobaan , atau penyakit tanpa ia sadari. Akan tetapi rumah yang sering dibaca didalamnya Al qur’an, dzikir, atau shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka tidak satu pun dari jin dan syaitan yang bisa memasukinya, tidak dari yang zhahir tidak pula dari yang bathin. Sebagaimana kejadian seorang sahabat sayyidina Abu Darda’ RA yang suatu hari ia pergi pasar, maka ketika itu terbakarlah rumah-rumah di wilayahnya, maka seseorang berkata : “wahai Abu Darda’, pulanglah ke wilayahmu karena rumahmu sedang terbakar ”, namun Abu Darda’ tetap berada di pasar itu dan berkata : “sungguh rumahku tidak akan terbakar”, maka seseorang berkata : “wahai Abu Darda’ semua rumah yang ada disekitarmu telah terbakar, bagaimana mungkin hanya rumahmu yang tidak terbakar”, maka mereka bersama-sama pergi utnuk melihat keadaannya maka ketika itu mereka mendapati semua rumah terbakar dan ketika api itu menuju rumah Abu Darda’ api itu pun padam, maka mereka bertanya kepada Abu Darda’ : “bagaimana bisa rumahmu tidak terbakar, sedangkan rumah-rumah yang lain terbakar?” maka Abu Darda’ berkata : “sungguh aku mendengar Rasulullah bersabda”: Barangsiapa di pagi hari dan sore harinya membaca :

” اَللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَأَنْتَ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ ماَ شَاءَ اللهُ كاَنَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ . أَعْلَمَ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ . وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئِِ عِلْمًا. اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دآبَّةٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا. إِنَّ رَبِّيْ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ”

Maka dirinya, keluarganya dan hartanya akan dijaga dari sesuatu yang membahayakan. Sungguh dzikir-dzikir yang diajarkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bermanfaat bagi kita dan agama kita di dunia dan di akhirat. Sayyidina Ibn Mas’ud Ra ketika akan wafat ditanya oleh para sahabatnya, karena dia adalah seorang yang faqir maka yang akan ia tinggalkan untuk keturunannya yang banyak, maka sayyidina Ibn Mas’ud berkata : “ aku wariskan kepada keturunanku untuk senantiasa membaca surah Al Waqiah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,, : “Barangsiapa yang menghafal dan membaca surah Al Waqi’ah maka ia tidak akan ditimpa kefakiran”, namun dengan niat yang baik . Demikian pula para ulama’ berkata bahwa shalat dhuha adalah shalat yang menjadikan manusia kaya dan selalu dicukupkan oleh Allah, karena yang senantiasa melakukannya tidak akan ditimpa kefakiran, maka dikatakan bahwa tidak akan kefakiran bersama orang yang melakukan shalat dhuha, sebagaimana tidak akan kecukupan atau kekayaan bagi orang yang melakukan zina, wal’iyazubillah. Maka orang-orang yang selalu berbuat dosa dan tidak mau menghindari dosanya, mereka itu dibenci oleh rizki yang halal, karena rizki yang halal hanya menyukai orang-orang yang baik. Semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan kepada kita rizki yang halal serta tidak membawa kesulitan bagi kita, dan tidak pula menjadi cobaan bagi kita, namun menjadikan perantara bagi kita untuk mencapai derajat yang luhur . Dan semoga dengan kehadiran kita di majelis ini menjadikan kita semakin memahami agama kita, membawa kebahagiaan bagi kita di dunia dan di akhirah, dan semoga Allah menguatkan iman dan islam hingga kelak kita berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala .Wahai Allah segala yang terlintas dalam benak yang hadir di majelis ini dari hajat dunia dan akhirah kabulkanlah, sembuhkanlah penyakit kami, dan jauhkan dari segala musibah, dan limpahkan keberkahan atas segala kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami,, semoga Allah menambahkan keberkahan kepada majelis ini dan menyempurnakannya dengan dzikir dan ibadah, amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Comments are closed.