Fiqih: Syarat Syah Sholat, Menutup Aurat

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

¤اللهم يا نعم المولى ويا نعم النصير صلِّ وسلِّم عددَ علمِك على سيدنا محمدٍ مَن جعلته لنا حِرزاً حريزا، وعلى آله وصحبه وانصرنا به

والمسلمين بأسرارِِ ( وينصرك الله نصراً عزيزا )¤

ربى اشرح لى صدرى ويسر لى امرى واحلل عقدة من لسانى يفقهو قولي

و يشترط معرفة القبلة و يجب ستر العورة بساتر طاهر مباح. و يجب رفع النجاسة من الثوب و البدن و المكان. و يجب على القادر أن يصلي الفرض قآئما

Hadirin – hadirat rahimakumullah Alhamdulillah pada malam hari ini kita dapat kembali berkumpul dengan niat I’tikaf di masjid Al Munawar ini untuk melanjutkan kajian kitab baik dari fikih Risalatul Jami’ah maupun dari hadits yang akan di sampaikan oleh syekh Ridwan Al Amri nanti semoga Allah terus memberikan kepada kita ilmu- ilmu yang bermanfaat amiin dan di jauhkan oleh Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

اَللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَسِعَا  وَرِزْقًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً  اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Hingga kepada perkataan pengarang kitab ini Al Imam Al Habib Ahmad bin Zen Al Habsyi yang salah satu keturunanya ada di negri kita  atau cicitnya ada  negri kita yaitu Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi yang di makamkan di kubah ampel Surabaya dengan menantu beliau Al Habib Muhammad Bin Ahmad Al Muhdhar, beliau Al Imam Al Habib Ahmad bin Zen AL Habsyi melanjutkan pembahasanya didalam

يشترط لصحة الصلاة

Syarat sahnya shalat kemarin sudah kita baca syarat sah nya shalat adalah mengetahui masuknya waktu dengan yakin atau dengan kita berijtihad atau dengan kuatnya sangkaan atau dugaan

فإن صلى مع الشك لم تصح صلاته

Jika seseorang shalat dia ragu maka tidak sah shalatnya, dan  juga syarat sahnya shalat

و يشترط معرفة القبلة

Mengetahui arah kiblat baik di dalam  masjidil haram atau sekitarnya kita melihat ainul kiblat atau ainul ka’bah  bendanya ka’bah kita lihat yang menjadi kiblat kaum muslimin di dalam shalat, mereka semuanya berkumpul melihat atau mengarah kepada ka’bah kalau orang yang di luar dari masjidil haram terlebih yang jauh seperti kita ini maka cukup dengan arah, jihadul kiblat ( arah kiblat )  arah daripada kiblat tersebut namun yang kita sembah bukan ka’bah, ka’bah hanya batu bangunan yang persegi 4 , maka didalam bahasa fiqhulughah ‘’ Kulu binain muroba’ ‘’

Setiap bangunan yang persegi empat di sebut Ka’bah, itu di dalam bahasa, namun yang kita sembah tentu bukan Ka’bah namun Rabul Ka’bah, Allah pencipta dan daripada tuhan  Ka’bah  Ka’bah hanyalah batu, mungkin ada sebagian orang yang ingin mereka mengglincirkan kaum muslimin agar mereka goyah akidahnya tauhidnya kepada Allah swt seraya mengatakan berarti yang mereka kaum muslimin, yang mereka sembah adalah Ka’bah buktinya didalam shalat mereka menghadap Ka’bah di dalam shalat mereka, namun itu untuk menyatukan arah seluruh kaum muslimin kalau yang ada di timur Ka’bah berarti menghadap ke barat seperti kita ini yang berada di daerah Afrika di arah barat Makkah berarti menghadap ke timur yang berada di arah utara seperti Syam, Mesir berarti menghadap ke selatan yang berada di negeri selatan Makkah maka mengahadap ke utara dan seterusnya, ini hanya mengarahkan kaum muslimin muslimat di dalam shalat menghadap ke Ka’bah menjadi kiblat kita yang dahulu pernah menghadap ke masjidil Aqsa baitul Maqdis.

Sebagaimana juga pernah di ceritakan juga sayidina Abu Thalib paman nya Rasulullah saw ketika di tawan, di rampas onta beliau jumlahnya 200 ekor onta oleh Abrahah maka Abrahah mengatakan kepada Abu Thalib, “Siapa pemilik onta ini ?” maka pamanya Rasulullah asayidina Abu Thalib mengatakan ‘’saya pemilik onta ini dan  tuhan Ka’bah baitullah juga pemiliknya‘’. Jadi beliau tidak kawatir Ka’bah akan di serang dan di hancurkan oleh Abrahah sebelum kelahiran baginda Rasulullah saw yang sekitar 50 hari sebelum kelahiran Rasulullah saw menurut pendapat yang paling mashur yang paling shahih kejadian pasukan Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah, 50 hari sebelum kelahiran baginda Rasulullah saw oleh ibundanya sayidah Aminah Ra

و يجب ستر العورة بساتر طاهر مباح.

Yang berikutnya syarat sahnya shalat adalah menutup aurat, ‘’ Definisi aurat adalah wajib di tutup dan haram di lihat ‘’,  wajib di tutup di dalam babul ibadah dan haram di lihat masuk dalam babu nikah dan bahkan di bagi menjadi beberapa bagian aurat orang laki dan aurat orang perempuan dan aurat wanita yang merdeka bukan hamba sahaya bukan budak juga ada perincian nya .

Auratnya kita orang laki laki sesama laki-laki adalah antara pusar dan lutut itu batasanya, sementara definisi aurat adalah yang wajib di tutup dan dan haram di lihat ini  di dalam pembahasan fikih, ada juga aurat dalam kitab tasawuf itu sudah lain lagi, perbuatan yang tidak baik, cela aib seseorang di sebut aurat

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

‘’ Barang siapa menutup aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akherat ‘’

Ini aurat lain lagi, aib perbuatan yang tercela yang tidak baik yang ada pada diri saudara kita maka kita tutupi jangan kita beberkan, jangan kita ceritakan kepada orang lain namun kita tutupi.

Aurat orang laki sesama laki antara pusar dan lutut, sesama perempuan yang ajnabiyah seluruh badan nya dan kepada wanita yang makhram juga ‘’ BAINA SURAH WARUKBAH’’ antara pusar dan lutut kalau perempuan nya yang makhram bukan yang ajnabiyah.

Sementara aurat HURAH, auratnya wanita yang merdeka bukan budak dan bukan hamba sahaya atau juga di sebut adalah  budak wanita. Jaman dahulu biasa dari pihak musuh kalah itu yang di tawan maka di perbudak baik yang laki maupun yang perempuan, itu di jadikan budak hamba sahaya dan di perjual belikan. Sementara auratnya seorang yang merdeka, wanita merdeka itu sesama perempuan maka ‘’ BAINA SURAH WA RUKBAH ‘’. Namun sesama perempuan yang kafirat atau al fasiqot yang nampak ketika dia bekerja, yang nampak maka bukan aurat antara perempuan merdeka muslimah dengan wanita yang fasiqoh dan kafirat yaitu auratnya yang nampak ketika dia bekerja seperti leher, tangan sampai kesiku, kaki sampai ke betis  atau sampai ke  lutut itu yang nampak ketika dia bekerja maka bukan termasuk dari pada bagian aurat ini aurat wanita muslimah di hadapan wanita tetapi  dia fasik atau dia kafir, tapi kalau sesama muslimah antara pusar dan lutut dan juga di hadapan laki laki yang makhramnya juga antara pusar dan lutut  dan di hadapan laki laki yang ajnabi adalah seluruh badan nya ini pendapat yang mu’tamat yang di kukuhkan yang paling kuat, aurat muslimah di hadapan laki laki yang ajnabi bukan makhramnya seluruh badan nya sekalipun wajah dan kedua telapak tanganya.

Namun pendapat kedua mengatakan, imam Baijuri juga mengatakan khususon di akhir zaman ini kalau memang sekiranya aman dari fitnah tidak ada gangguan, sesuatu yang menjadikan dia berbahaya maka ‘’ ilal wajah wal kafain ‘’ 

Hadirin hadirat rahimakumullah ini mengenai menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib baik di dalam shalat begitu juga ketika melakukan tawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran juga di syaratkan menutup aurat sama seperti shalat

– suci dari najis

– suci dari hadats

– suci dari najis pakian badan dan tempat

– suci dari hadast kecil dan besar

– dan wajib menutup aurat sama seperti shalat

Kecuali di dalam thawaf kita di perbolehkan kita berbicara sementara di dalam shalat kita tidak boleh berbicara kecuali hanya

– membaca Al Qur’an

– dzikir

– tasbih

– istighfar

– Shalawat kepada nabi

– serta do’a

Sebagaimana definisi shalat adalah adu’a , shalat yang menurut istilah adalah adu’a

و يجب ستر العورة بساتر طاهر مباح.

Penutup aurat tersebut menggunakan penghalang, penutup yang thahir, yang suci dan mubah pakaian yang menjadi penutup aurat kita itu yang pertama pakaianya thahir , syaratnya adalah suci tidak boleh najis, tidak boleh mutanajis pakaian kita

Dan juga yang di maksud satir di sini yang tidak boleh terlihat bentuk tubuh kita, lekuk tubuh kita ga boleh berbayang, yang berbayang tidak sah, yang tipis, yang transparan tidak cukup, tidak boleh apalagi perempuan lebih bagus berwarna hitam bahan atau kain nya tersebut. Tapi itu juga kalau memang sudah cukup satir yang berwarna putih sudah cukup, namun kalau mungkin dia keluar maka lebih utama kalau pakaian yang berwarna transaparan maka lebih utama dan lebih terhindar, tidak bisa terlihat bentuk lekuk tubuhnya.

Jadi satir tersebut harus suci  maka kalau setiap hari kita memakai baju memakai pakian, pertama kita niat untuk menutup aurat bukan semata –mata kita memakai adat kebiasaan kita memakai baju tidak ada niatnya, atau pakai baju karena malu sama orang, bukan niat karena Allah swt menutup aurat, maka ketika dia tidak ada niat maka dia  tidak mendapat pahala.Namun kalau dia memakai baju meniatkan menutup aurat maka memakai bajunya itu bernilaikan pahala di sisi Allah SWT dan membaca do’a

Namun kalau dia memakai baju meniatkan menutup aurat maka memakai bajunya itu bernilaikan pahala di sisi Allah SWT dan membaca do’a

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا

وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan kepadaku pakaian ini dan yang telah memberikan rizki pakaian ini kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku.”

Lalu kita niatkan lagi thadus bi ni’mat, kita menjelaskan dan kita memperlihatkan kepada Allah swt nikmat yang di anugrahkan kepada kita, kita perlihatkan tahadus bi nikmat, jangan kita dapat nikmat kita sembunyikan orang ga tau dan kita tidak pernah memberikanya kepada orang lain sehingga saudara kita, tetangga kita tidak pernah mencicipi nikmat rizki yang Allah telah berikan kepada kita berarti dia tidak tahadus binikmah,  dapat nikmat kita ceritakan kepada orang tapi bukan cerita saja, habis kita dapat nikmat ya kita bagi- bagi ke orang itu ma’na tahadus bi nikmah , dengan cara kita memakai pakaian

خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

” pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).

Maknanya adalah pakai pakaian yang bagus bukan hanya kita akan ke masjid saja ,  akan tetapi tafsirnya adalah pakailah pakianmu yang bagus ketika akan shalat, shalat dirumah yang tidak terlihat oleh orang lain,  shalat sendirian kita shalat seadanya tapi kalau giliran ke masjid shalat berjama’ah ada orang yang liat baru dia pakaianya lengkap, baru dia nutup aurat pakaianya baju panjang, sementara kalau lagi shalat sendiri bajunya lengan pendek, bahkan mungkin pakai kaos oblong, kaosnya kumel, dekil, bau ini, bau itu, segala macam, tentu ini tidak adab terhadap Allah swt walaupun sudah sah menurut fikih asalkan pusar dan lutunya tertutup.

Kalau kita shalat di perindah , mungkin pakai sarung , pakai lengan panjang , pakai gamis , pakai siwak , kita pakai sorban , di sof awal shalatnya , dan di awal waktu pula dan berjama’ah , Masya Allah, keutamaan di atas keutamaan kita peroleh dari Allah swt, kita peroleh di awal waktu berjama’ah terutama walaupun 2 orang, walupun dengan istri atau dengan anak kita itu sudah di katakan berjama’ah, namun paling utama  semakin banyak semakin bagus , dan di masjid atau di mushala kita biasakan untuk memperhatikan shalat kita  dengan berjama’ah walaupun mungkin kita telat pergi ke masjid , terlambat pergi ke mushala maka kita adakan shalat berjama’ah.

Semoga Allah SWT limpahkan taufiknya kepada kita taufiknya , dan kita di jadikan Hamba – hambanya yang mamperhatikan shalat , yang menjalankan shalat dengan sebaik –baiknya yang menjalankan shalat dengan sunah sunahnya

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 Jasaltu Itsnain Majelis Rasulullah saw

2 Febuari 2015, Masjid Raya Almunawar, Pancoran

~Al Habib Alwi bin Utsman bin Yahya~

Comments are closed.