Sebaik baiknya Jihad

JALSATUL ITSNAIN MAJELIS RASULULLAH

SENIN, 6 MARET 2017

-AL-HABIB ALWI BIN ABDURRAHMAN AL-HABSYI-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
نعم المولى ونعم النصي

Yang kita hormati dan kita cintai semua guru-guru kita terlebih khusus Habibanal Mahbub guru kita Al-Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Atthos kita doakan semoga beliau selalu senantiasa selalu di beri kesehatan oleh Allah, di panjangkan umurnya dan ilmu yang berikan untuk kita menjadi ilmu yang berguna dan bermanfaat. Guru kita tercinta Al-Habib Muhammad Bagir bin Alwi bin Yahya kita doakan juga mudah-mudahan panjang umur sehat dan afiyah dan ilmu yang di berikan kepada kita menjadi ilmu yang berguna dan bermanfaat. Al-Habib Ahmad Al-Idrus, Al-Habib Hasan  bin Muhammad Al-Hamid, guru kita Ust. Abdussalam Hadirin Hadirat Rahimakumullah.

Kita baca hadist malam ini bersama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

  1. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و آله و سلم قال (أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر) رواه أبو داود والترمذي و قال حديث حسن

Dari Abu Sa’id AlKhudri RA, Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baiknya jihad ialah menyampaikan kalimat yang adil dihadapan pemimpin yang zhalim” (HR Abu Daud dan Tirmidzi berkata Imam Tirmidzi Hadits Hasan)

Di katakan di sini orang yang melakukan perbuatan seperti hadist tersebut adalah orang yang mempunyai kesempurnaan keyakinan dan ketebalan iman di dalam tubuhnya sehingga dia mampu dan berani menyampaikan kalimat yang benar di hadapan seorang pemimpin atau penguasa yang di kenali memiliki power untuk membunuh, memiliki kekuatan untuk memenjarakan orang , memiliki otoriter dan dengan intimidasi, tanpa rasa takut dengan penjara, tanpa rasa takut dengan kezolimannya, dengan pembunuhan atau keluarganya yang ingin di terror. Kenapa? Karena dia sudah menjual dirinya untuk Allah. Dan dia lebih lebih mengorbankan haknya Allah di dalam agama Islam dari pada hak dirinya. Sehingga persis orang yang menjual diri dan hartanya untuk Allah di beli oleh Allah.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa dan harta mereka dengan (imbalan) bahwasannya bagi mereka surga

Sehingga hadirin hadirat rahimakumullah amar ma’ruf nahi munkar itu adalah salah satu bentuk jihad, kalau saya mengajak anda untuk beramal soleh, saya larang anda untuk melakukan kemunkaran, saya mendapatkan pahala jihad. Walaupun tidak ada dampak yang mudhorot buat saya, tapi berbeda ketika saya menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di hadapan raja yang zolim ini ada dampak mudhorot buat saya. Maka nya di beri pahala oleh Allah melalui lisan nabi ini

“Jihad yang paling utama menyampaikan kalimat yang hak di hadapan seorang penguasa yang zolim”

Sehingga kalau seumpama hadirin hadirat yang namanya nasehat untuk meluruskan segala kemunkaran dengan cara individu  itu lebih baik. Bisa secara 4 mata dan rahasia itu lebih baik dan itu yang lebih di utamakan. Bahkan kata Allah Swt berfirman:

“serulah kepada manusia kepada jalannya Allah. Caranya dengah hikmah  dan pelajaran yang baik, kalau mereka mengajak debat atau argument maka tentang lah dengan bentuk yang terbaik yang di penuhi dengan akhlaqul karimah”

Metode ini di ajarkan oleh nabi kepada kita bukan hanya nabi kepada ummat, sejak zaman dahulu pun ketika seorang nabi seorang utusan Allah yaitu yang bernama Nabi Allah Musa dan adiknya Nabi Allah Harun pun itu di suruh menyampaikan dan meluruskan kemunkaran itu kepada seorang raja yang teramat zolim yang sekarang tidak ada tandingan nya  yaitu Fir’aun. Fir’aun itu mengaku tuhan, memiliki power dia bisa menghidupkan dengan cara membiarkan orang yang hidup, dia bisa mematikan dengan langsung membakar atau memotong dan menggantung siapa saja yang dia mau, tapi apa kata Allah:

“Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut”

Nabi bersabda : “barang siapa yang menasehati orang secara sembunyi-sembunyi maka bener itu adalah nasehat dan sekaligus menghormati dan menghargai orang yang di nasehatinya itu. Barang siapa yang menegur dengan cara terang-terangan berarti seakan-akan dia telah menghina orang yang mau dia nasehati dan dia telah menjelek-jelekan”.

Melalui hadist ini kita bisa perhatikan bagaimana begitu penting nya mengungkapkan kebenaran di depan seorang raja yang zolim.

Dalam riwayat Imam Nasai:

Suatu hari ketika hendak terjadi pertempuran ada orang mendekat kepada Rasul dia bertanya, sementara itu orang sudah mau berperang, kaki nya sudah naik di atas kuda mata kakinya sudah masuk di pelana kuda dan sudah siap untuk berperang, tapi masih ada kesempatan dia tidak mau buang kesempatan itu dia menyempatkan bertanya kepada Rasulullah,  wahai sang Rasul jihad apa yang paling afdhol? Jihad yang paling utama  menyampaikan kebenaran di hadapan seorang penguasa  yang zolim.

Dari sini ulama menyerap maksud dari hadist itu, mau perang kok nabi sampai menyampaikan Jihad yang paling utama itu artinya bukan di perang, kalau perang itu duel, tapi nabi bilang jihad yang paling utama bukan seperti itu, maksud jihad yang paling utama sampai sebelum perang pun nabi mengecam dengan kalimatnya yang paling afdhol jihad itu berbicara lantang kebenaran meluruskan di hadapan  seorang penguasa yang zolim.

Berarti menyampaikan kebenaran di depan penguasa  yang zolim itu lebih bahaya, contoh saya masuk ke istana kerajaan  lalu saya bilang wahai Raja, saya mau berangkat haji susah, enteng atau berat?tidak ada yang membela kita, kalau perang kita beramai-ramai, kalau masuk berbicara lantang di depan raja Cuma berdua saja, samping nya ada ajudannya, ada prajurit, mau lari kemana kita? Kalau raja tidak suka dia bisa membunuh, itulah yang di maksud jihad yang paling afdhol menyampaikan kebenaran  di depan seorang raja yang zolim walaupun maksud kita bukan raja yang kita maksud, tetapi bicara global. Ketika ada seorang raja yang zolim  di bawah kepemimpinannya atau seorang pemimpin di suatu negri yang memiliki otoriter di bawah powernya kita menyampaikan, maka ini mudhorot nya besar, tapi pahala jihad nya sungguh utama.

Saudara, dari tadi kita berbicara tentang jihad, jihad itu macam-macam , nanti malam saudara bangun malam lalu Tahajjud itu Jihad. Besok puasa sunnah itu jihad, bantu orang tua itu jihad, sampai setelah perang besar pun nabi  bersabda: kita baru pulang dari medan perang yang kecil kepada jihad yang besar. Lalu sahabat bertanya apa jihad yang besar? Jihad melawan hawa nafsu juga jihad. Sampai ibu-ibu perempuan pun ada jihadnya.

Ada seorang ulama besar memberikan pandangan kepada kita tentang jihad kepada seorang pemimpin, biar kita tidak sempit, kenapa ada yang berdemo dan ada yang tidak berdemo? Kata beliau ada 3 pandangan

  1. Pandangan Imam ibnu Abbas di kuatkan oleh Imam ibnu Mas’ud, di kuatkan oleh Imam Hudzaifa ibnul Yaman, di kuatkan juga oleh Usamah bin Zeid. Semuanya sahabat Rasulullah. Beliau-beliau itu berkata: sesungguhnya menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zolim bisa menjadi afdhol dengan 2 syarat:

a) Kalau yang menyampaikan merasa aman.

b) Dia yakin kalau dia sampaikan kebenaran ke penguasa tidak aka nada Mudhorot yang besar, tapi ketika dia yakin kalau dia sampaikan akan terjadi keributan negri ini, maka mereka itu yang saya sebut  Imam ibnu Mas’ud, Imam Hudzaifa, Usamah bin Zeid, mereka mengatakan berarti hadist ini ada syaratnya. Kalau anda yakin diri anda bakal selamat silahkan.

2. yaitu pandangan Amirul Mukminin Sayyidina Umar Ibnul Khattab. Yang di kuatkan oleh   pendapat Imam bin Ka’ab, keduanya sahabat Rasul yang istimewa. Mereka tegas dan mereka berkata: wajib anda meluruskan kemunkaran apapun secara lantang kepada siapapun. Saat itu Sayyidina Umar memang jadi Amirul Mukminin. Tidak ada yang berani kepada beliau. Dan beliau adalah seorang Amirul Mukminin yang adil sehingga beliau berkata siapapun melakukan kemunkaran luruskan.

3. mengingkari kemunkaran yang muncul dari para pemimpin, yang muncul dari para penguasa cukup dengan hati. Maksud nya dengan doa, karena Rasul pernah bersabda: di dalam riwayat Imam Muslim dari istrinya Rasul yang bernama Ummi Salamah namanya Hindun binti Abi Umayyah: sesungguhnya nanti kalian akan di pimpin dengan seorang pemimpin yang kalian sudah melihat kesalahannya, kalian sudah melihat ke zolimannya, kalian sudah melihat dengan nyata kemunkaran yang muncul dari dirinya, lalu kata nabi  barang siapa menyaksikan itu hatinya kesal, hatinya tidak menerima karena dia tidak mampu untuk berceramah , karena tangannya tidak mampu memegang senjata karena dia bukan prajurit. Tapi minimal hatinya mengingkari, maka sungguh dia sudah terbebas dari dosa. Ini kadar yang paling bawah. Barang siapa yang mengingkari itu penguasa yang zolim baik dengan lisannya atau dengan tenaganya dia sudah selamat dari pada maksiat. Tapi kata nabi barang siapa yang rela dengan kepemimpinannya yang salah itu apalagi dia mengikutinya dan mendukungnya, lalu sahabat tidak kuat dan mengangkat suara ya Rasulullah apakah lebih baik kita perangi saja para pengikut pemimpin yang zolim? Kata nabi jangan, selagi mereka masih sujud, selagi mereka orang muslim yang masih sholat jangan di perangi. Maka Imam Jurair mengambil kesimpulan dengan mengatakan kebenaran kepada seorang pemimpin jikalau dia mampu dan yakin maka hukumnya wajib. Tapi jikalau dia tidak yakin lebih baik jangan.

Kalau kita membuka Al-Qur’an ada nama nya Ashabul Ukhdud, mereka menyampaikan kebenaran di depan seorang penguasa yang zolim mereka yakin mereka bakal di bunuh. Karena mereka juga yakin kalau mereka di bunuh sekampung akan beriman kepada Allah.

Kita buka surat Al-Kahfi, Ashabul Kahfi itu hanya ada 8 orang. Berani bersuara lantang di depan penguasa yang zolim mereka yakin akan di bunuh dan mereka juga yakin kalau mereka mati di bunuh agama Islam ini akan menjadi makmur.

Oleh karena itu dakwah ada metode, ketika kita menyampaikan sesuatu yang benar di hadapan seorang penguasa yang zolim kita lihat dampaknya kalau dampaknya jadi baik maka silahkan. Tapi kalau dampaknya tidak baik lebih baik jangan. Apalagi di dalam satu kampung hanya ada 1 orang yang berani menyampaikan kebenaran di depan raja dan hanya dia satu kampung guru ngaji di kampung itu.ketika dia menyampaikan kebenaran akhirnya dia di bunuh satu kampung tidak mengerti ilmu agama  karena guru nya sudah di bunuh., jadi ada dampak positif negatif yang harus lebih bersih kita di dalam memikirkannya tapi jangan lupa hati tetap mengingkari segala kemunkaran dan kita doakan orang-orang yang di berikan kekuatan oleh Allah untuk menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar sampai di hadapan para pemimpin kita doakan semoga di beri kemenangan oleh Allah Swt.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

Comments are closed.