Waktu-waktu yang haram melakukan sholat

JALSATUL ITSNAIN MAJELIS RASULULLAH SAW

SENIN,27 MARET 2017

-HABIB JA’FAR BIN MUHAMMAD BAGIR AL-ATTHOS-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kita ucapkan selamat datang kepada dewan guru kita yang pertama Addailallah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi dan Habib Muhammad Bagir bin Alwi bin Yahya dan para Habaib yang lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu namun tidak mengurangi rasa Ta’dzim dan hormat kami untuk semuanya, para Asatidzah Ust. Ahmad Afif dan yang lain-lainnya. Para hadirin-hadirat yang tua, yang muda, yang laki, yang perempuan, yang menyimak lewat streaming Majelis Rasulullah Saw kita doakan bersama yang mudah-mudahan di akhir-akhir dari pada bulan Jumadil Akhir dan masuk akan di dalam awal bulan Rajab mudah-mudahan Allah Swt memberikan limpahan rahmat Maghfiroh keridhoaan dari Allah Swt untuk kita semuanya. Keluarga kita kerabat kita sanak Family kita tetangga kita umat Nabi besar Muhammad Saw dan di berikan pertolongan untuk saudara-saudara kita yang di Syam yang di Yaman dan di manapun berada, dan ummat nya Rasulullah Saw di jauhkan oleh Allah Swt, di angkat segala Bala dan musibah bencana malapetaka yang di timpahkan oleh Allah Swt dengan masuknya bulan Allah Swt nanti Insya Allah Amin amin amin Ya Rabbal Alamin.

Sebelum kita mulai kit abaca terlebih dahulu niatnya Al-Habib Abdullah Al-Haddad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْد

Alhamdulillah wa syukrulillah di malam hari ini kita kembali dalam kajian kitab Safinatunnajah yang di karang oleh Al-Imam syekh Salim Bin Abdullah bin Saad bin Sumair yang mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dari pada Ilmu-ilmu yang beliau berikan kepada kita dan di berikan cahaya nya oleh Allah Swt dan di berikan Khossyahnya oleh Allah Swt Amin amin amin Ya Rabbal Alamin.

Sholawat serta salam tidak lupa kita haturkan ke hadirat baginda Rasulullah Saw yang selalu mengajak kita untuk menambah dari pada ilmu kita terutama dalam Syariat nya Allah Swt di dalam doa yang selalu di kumandangkan oleh Rasulullah Saw “Ya Allah tambahkanlah ilmu untuk ku”. Kalau saja Rasulullah Saw dalam setiap harinya meminta kepada Allah Swt untuk di tambahkan ilmu bagaimana kita ummatnya? Bahkan Rasulullah saw sering  katakan setiap hari bertambah ilmu untukku yang mendekatkan kepada Allah Swt maka tidak di berikan keberkahan dengan terbitnya matahari di hari tersebut. Tapi mudah-mudahan Allah Swt selalu memberikan petunjuk untuk kita, hidayah selalu, taufiq selalu dari Allah Swt dan rahmat dari Allah Swt Amin amin amin Ya Rabbal Alamin.

Karena besarnya makna Taufiq bukan hanya sekedar kita minta untuk mendapat taufiq, tapi selalu di dalam taufiq. kata Al-Habib Abdullah Al-Haddad “yang utama dan yang istimewa bukan hanya sekedar mendapatkan taufiq tapi dalam selalu taufiq Allah Swt”. Selalu hidayah dari Allah Swt, terkadang kita mendapatkan taufiq hadir majelis Rasulullah dan ketika bubar kita sudah berubah lagi. Tidak ada semangatnya, di dalam ibadahnya kurang, tapi mudah-mudahan kita introspeksi diri kita karena kita akan segera memasuki bulan-bulan yang di muliakan oleh Allah Swt. Bulan Rajab, bulan Sya’ban dan bulan Ramadhan, Allah Swt tuangkan rahmatnya Allah Swt begitu besar. Dan Allah tidak ingin mendengar dari amalan-amalan kita yang tidak baik di angkat oleh Allah Swt dan para malaikatnya. Mudah-mudahan kita di jaga oleh Allah Swt, jaga sholat kita, ibadah kita, semua amalan-amalan kita dengan Allah Swt. Kalau kita boleh menangis dan menjerit  Ya Allah aku masih seperti ini saja Ya Allah, datang lagi bulan Rajab belum sempurna juga ibadahku, belum sempurna juga sholatku, belum sempurna juga zikirku, belum sempurna juga sholawatku, belum sempurna juga dari pada qiroat qur’an ku Ya Allah, tapi Allah Swt memandang hati kita, kalau kita merintih, kita mengeluh dengan Allah Swt itu saat-saat yang istimewa bagi seorang hamba, ketika dia bersama dengan Allah Swt dengan rintihannya,  “aku bersama orang orang yang merintih hatinya  karena aku” kata Allah Swt.

Kalau dulu di ceritakan ada seorang hamba beribadah 500 tahun, lalu dia lihat ibadahnya hampa seolah-oleh dia merasakan kesia-siaan dengan amalannya. Ketika dia sadari dia duduk termenung, duduk tafakkur dengan Allah Swt, merintih dan menjerit di dalam hatinya dengan Allah Swt, dia salahkan hawa nafsu dirinya dengan Allah Swt. Yang tidak mersakan kenikmatan, kelezatan ke khusu’an dan kehadiran hati ketika beribadah dengan Allah Swt selama 500 tahun dia tidak merasakan kenikmatannya, dia salahkan dirinya, dia tegur dirinya, dia introspeksi dirinya, dia menjerit dengan Allah Swt dalam hatinya, Allah Swt mengatakan kepada nabi pada zaman tersebut “katakan wahai Daud kepada hambaku si fulan bahwa aku terima amalnya dalam keluhan nya sesaat itu melebihi dari pada amlan nya yang 500 tahun”.

Maka hendaknya kita juga punya Tawaaquf kepada Allah Swt dan Tafakkur kepada Allah Swt, keluhankan diri kita, keluhkan hati kita, keluhkan ruhani kita, keluhkan rahasia-rahasia kita dengan Allah Swt. Setiap hamba Allah, setiap Makhluk Allah Swt mempunyai rahasia-rahasia yang Allah Swt sembunyikan yang tidak di buka oleh Allah Swt kepada yang lainnya kecuali Allah Swt ingin lecehkan dia, ingin nistakan dia. Mudah-mudahan kita di jaga oleh Allah Swt.

Maka Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Habsyi selalu meminta “Ya Allah tutupi aku dengan tutupanmu yang maha indah di dunia dan di akhirat”. Mudah-mudahan kita di tutupin oleh Allah Swt. Ya Allah kalau engkau menguji kami engkau pasti akan nistakan kami, engkau akan hinakan kami, engkau akan buka aib kami, kalau engkau sudah buka aib kami, engkau akan siksa kami Ya Allah. Mudah-mudahan Allah Swt melindungi kita. Kalau orang-orang dulu masih berkecimpung dengan dosa (nur) para sholihin, kalau kita masih berkecimpung dengan dosa-dosa maksiat-maksiat yang kita lakukan dan kotoran-kotoran yang kita berikan kepada Allah Swt. Kecendrungan hati kita kepada dunia dengan Allah Swt itu kotoran yang sangat pekat di dalam hati kita yang harusnya di bersihkan setiap minggu, setiap saat kita hadir di dalam majelis-majelis besar seperti ini tempat cucian dari Allah Swt. Musti kita minta kepada Allah dengan sungguh agar kita termasuk hamba-hambanya yang sudah naik tingkatannya.

Ketika Rasulullah Saw mengatakan di dalam hadistnya “berdengung di dalam hati ku sehingga aku beristighfar kepada Allah, meminta ampun kepada Allah Swt setiap hariku 70 kali, dan aku bertaubat kepada Allah Swt 70 kali dalam 1 hari”. Mudah-mudahan Allah angkat kita, Allah bersihkan kita dari dosa-dosa kemaksiatan kita, kita rasakan  kenikmatan kita di dalam ibadah, di dalam berzikir, di dalam bermuamalat  dengan Allah Swt  dan bermuamalat dengan sesama kita ada kenikmatan  yang di dalam kenikmatan itu  penuh dengan adab, penuh dengan akhlak, penuh dengan sunnah Nabi Saw  yang di ajarkan sehingga kita masuk dari satu tingkat ke tingkatan, dari satu derajat ke derajat, untuk terus di dalam makna Taubat kita dengan Allah Swt tidak ada hentinya, karena Allah Swt maha luas dan tidak terbatas, taubat kita kepada Allah tidak ada batasnya. Semakin kita mendekat Allah Swt semakin dermawan, ”baca lah dengan nama Allah yang maha dermawan” semakin kita membaca yang ada di depan kita dalam diri kita semakin Allah Swt memuliakan kita, tapi terkadang kita , masih lama membacanya, terkadang masih jauh di dalam Tafakkurnya, saat-saat seperti ini untuk kita ingatkan lagi diri kita, sudah mau masuk Rajab bulannya Allah Swt, banyak manusia yang lupa dengan Allah Swt, masuk Rajab keluar Rajab , masuk Sya’ban keluar Sya’ban, masuk Ramadhan keluar Ramadhan tidak ada artinya untuk dia, tidak ada perbedaannya untuk dia. Padahal orang-orang terdahulu kalau sudah masuk bulan Rajab mereka menanam bibit ibadahnya sehingga nanti kalau sudah masuk bulan Sya’ban mereka menyirami bibit-bibit ibadah sehingga kita masuk di dalam bulan Ramadhan kita sudah mendapatkan buah dari kejernihan dari pada amal ibadah kita dengan Allah Swt. Dengan kita jaga diri kita, kita introspeksi diri kita  apa yang banyak kita lakukan untuk Allah Swt? Kemaksiatan mata, telinga, hidung, lisan, tangan kita badaniyah kita dengan Allah Swt mulai tinggalkan .

Sehingga kita tidak akan merasa nikmat ibadahnya kita, kalau kita tahan nikmat maksiat mata kita, maksiat telinga kita, sudah banyak perubahannya di dalam diri kita. Kata Habib Abu Bakar coba buktikan kalau tidak percaya, kalian tahan pandangan kalian dari yang haram, di televisi, di internet, di dalam Handphone kita, di dalam semua media-media yang di sebarkan oleh orang-orang di luar islam untuk merusak dari pada hati kita. “sesungguhnya pandangan dan pendengaran kita dan jiwa kita ini pasti akan di minta pertanggung jawaban oleh Allah Swt”

Yang paling erat kaitannya dengan hati kita adalah mata kita, kalau kita tahan pandangan kita dengan Allah Swt dari yang di larang oleh Allah, dari yang di benci oleh Allah, dari yang di haramkan oleh Allah Swt perubahan kita rasakan dengan spontanitas kita akan menikmatinya. Ibadahnya kita, zikir nya kita, tapi kita nya tidak pernah mencobanya. Saya sering sekali mencoba dan kita buktikan, kalau kita sudah mulai mau masuk kederajat orang-orang yang beriman kita percaya kepada Allah Swt, kita percaya kepada Rasulullah Saw, naik kederajat orang-orang yakin, walaupun dari ilmu yakin, ilmu yakin harus dengan pembuktian, harus dengan kita terapin, terapin dari pengetahuan kita yang kita dapat, dari ilmu-ilmu yang kita timba, dari para Ulama-ulama kita, para Dai-dai kita, kita cerna dengan baik, kita buktikan mana hasilnya, mana dari pada kenikmatannya, yang mereka katakan di dalam kitab-kitab mereka di dalam perkataan-perkataan mereka bahwa di dalam iman ada kenikmatan, sesungguhnya di dalam iman ada manisnya. Mudah-mudahan Allah Swt membukakan hati kita, membuka ruhani kita, jiwa kita dengan Allah Swt, tidak masuk bulan Rajab Ya Allah melainkan engkau sudah bersihkan jiwa kami, engkau memberikan kenikmatan –kenikmatan yang kau berikan kepada hamba-hambamu yang kau berikan keluhuran di dalam hati mereka, jiwa meraka , badaniyah mereka amin amin amin Ya Rabbal Alamin.

Kita masuk di dalam masalah sholat dari masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah sholat. Yang kemarin sudah kita bahas dari waktu-waktu di dalam sholat. Bukan karena sekedar ibadah, Allah Swt menginginkan gambaran sholat, gambaran puasa, gambaran haji, gambaran sedekah, Allah Swt bukan menginginkan gambarannya, Allah inginkan tunduknya kita, patuhnya kita dengan Allah Swt yang merupakan makna dari pada hakikat dari ibadah,

Kata Imam Mutawalli Sya’rawi   ketaatan seorang hamba yang ahli ibadah dengan yang di sembah yaitu Allah Swt di seluruh perintah-perintah dan larangannya dalam gerak geriknya. Kalau kita mengerti makna ubdiyah kita ibadah kita dengan Allah Swt di dalam seluruh gerak gerik kita, kita taat dengan Allah Swt. Sholat gambarannya walaupun ibadah ada waktu-waktu yang Allah Swt  katakan jangan sholat, jangan kau lakukan sholat, Allah ingin  menguji kita apakah kita melakukan setiap amalan kita karena gambarannya, karena  bentuk sholatnya, atau karena aku kata Allah Swt. Maka Allah Swt menguji manusia, menguji hamba-hamba nya, begitu juga dengan puasa ada puasa yang ku  wajibkan ada yang puasa ku haramkan untuk mu. Jangan kau puasa di waktu waktu tersebut. Begitu juga haji, haji hanya waktu nya di tentukan oleh Allah Swt, Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, kalian mau haji di bulan-bulan lain bukan haji yang kau dapat tapi haram yang kau dapat dari Allah Swt. Begitu juga zakat, ini kepatuhan kita tunduknya kita, yakin nya kita dengan Allah Swt, itu yang mempunyai nilai batiniyyah dengan Allah Swt yang sempurna dengan Allah Swt.

Yang banyak tertipu, yang banyak terbawa arus dari pada hamba Allah yang dulunya ahli ibadah berapa puluh ribu tahun Iblis beribadah dengan Allah Swt, tapi dia terpaku dengan gambaran ibadah. Jika satu perintah dia tidak mau tunduk dengan Allah Swt di lepaslah nilai seluruh ibadahnya  yang puluhan ribu tahun bahkan 70.000 tahun iblis ibadah, tidak ada di jagat raya ini tanpa ibadahnya iblis sejengkal pun kata para ulama, sudah ibadah iblis di dalamnya. Maka yang menakutkan adalah diri kita kata para ulama. Kalau iblis kesalahannya satu sudah begitu dahsyatnya Allah berikan balasan, ganjaran untuknya di tolak dari rahmat Allah, di laknat oleh Allah Swt, bagaimana kita tidak merasa takut dengan Allah Swt. Banyak perintah Allah yang banyak kita langgar, kemaksiatan yang berani kita kerjakan, kalau kita tidak di berikan kesadaran oleh Allah Swt, tidak ada taubat yang ada di dalam hati kita yang di berikan oleh Allah Swt. bahayalah kita dengan Allah Swt, nyarislah kita di dalam jurang malapetaka yang Allah  sediakan. Tapi mudah-mudahan seluruh yang hadir bahkan yang kita hadirkan di dalam hati kita bahkan yang kita niatkan di dalam sanubari kita di jaga oleh Allah Swt dan tidak dapat kemurkaan Allagh Swt, kita copot kedurhakaan kita dengan Allah Swt, kita pakai pakaian kesetiaan dengan Allah Swt, kalau orang sudah dapat hal seperti itu di dalam dirinya dia akan mersakan kenikmatan bertaubat kepada Allah Swt. Karena kita posisinya hamba, apapun yang Allah perintahkan dan apapun yang Allah inginkan kepada sang hamba harus di patuhi. Dan hamba harus setia dengan Allah  Swt dalam keadaan apapun, ini bukti dari ulama fiqih kita mengajarkan bahwa ada sholat waktunya haram,

Haram sholat yang bukan punya sebab Mutaqaddim dan sebab yang berbarengan.

Ada sholat sebab Mutaqqadim: seperti sholat sunnat wudhu, wudhu terlebih dahulu baru sholat sunnatnya.

Ada sholat sebab berbarengan: seperti sholat sunnat Tahiyyatul Masjid, walaupun sebagian ulama ibin hajar mengatakan dia termasuk dari pada sebab mutaakhir. Tapi yang di maksud di sini Imam Syafii sangat jeli dan sangat hati-hati walaupun Imam Abu Hanifah Mutlaq. Haram sholat yang berkaitan dengan 3 waktu dan yang berkaitan dengan kerjaan dua. Di sini Imam Syafii dan para pengikutnya hati-hatinya sangat tinggi, sehingga dia koreksi lagi hadist-hadistnya. Imam syafii mengatakan makruh littahrim walaupun ibarat yang di sini mengatakan haram, Imam Syafii mu’tamatnya makruh littahrim, apa bedanya haram dan makruh littahrim? Kalau makruh littahrim mendekati haram, dalilnya tidak kuat, kalau haram dalilnya kuat, nanti kita akan bahas masalah dalil, dalilnya sudah pasti tidak ada khilaf, dari Qur’an dan hadist yang Shohih. Kalau dalil makruh littahrim dalilnya masih di permasalahkan oleh para ulama tentang kebenaran nya. Jadi dia mendekati haram,

Waktu-waktu yang haram melakukan sholat.

Haram melakukan sholat yang  tidak ada baginya sebab yang terdahulu dan yang ada menyertai (kecuali dengan sebab tertidur, lupa atas sholat yang wajib dan sholat sunnah  tahiyyat masjid  pada sholat jum’at)

Penjelasan sebagai berikut: Yang di haramkan hanya sholat sebab mutaakhir, seperti sholat istikhoroh di waktu-waktu ini di haramkan. Karena sebabnya mutaakhir, kita sholat terlebih dahulu baru nanti Allah akan memberikan buktinya. Atau ihram, kita berpakaian terlebih dahulu baru kita melakukan ihram, semua sholat yang sebabnya mutaakhir kata Imam Syafii itu sholat di haramkan. Kalau sebab mutaqaddim masih di bolehkan. Sebabnya bersamaan masih di bolehkan, walaupun khilaf, seperti tahiyyatul masjid, ketika waktu-waktu yang di tentukan nanti, kita mau sholat tahiyyatul masjid setelah ashar dan setelah fajr tidak boleh, kata ulama-ulama Imam syafii khilaf, ada yang mengatakan boleh ada yang mengatakan tidak boleh dan di mazhab Imam Abu Hanifah mutlaq tidak boleh sholat di 5 waktu ini.

Apa saja waktunya sebagai berikut:

  • Ketika terbitnya matahari hingga matahari naik kira-kira satu tombak.

Penjelasan: kalau 2 tombak nya sudah masuk waktu dhuha, 2 tombak dari ukuran ahlul falaq nya itu 14 derajat. 1 tombak 7 derajat, 7 derajat hitungan menitnya kurang lebih 10 menit.jadi 2 tombak 20 menit. Jadi kalau sudah terbit matahari ke 20 menit ke depan itu sudah masuk waktu dhuha.

  • ketika matahari tepat di tengah selain hari jumat dan orang-orang yang berada di kota makkah hingga matahari condong ke barat.

Penjelasan:  posisi matahari tepat di berada atas kepala kita, gambarannya kalau daerah-daerah yang di masukin katulistiwa itu ada bayangan. Tapi makna matahari tepat di kepala berarti tidak ada bayangan, dari waktu matahari tepat berada di atas kepala gelincir sedikit ke barat itu sudah masuk waktu zuhur. Kata ulama walaupun sedikitnya itu belum sampe 1 tombak, tadinya tidak ada bayangan tau tau ada bayangan berarti sudah masuk waktu zuhur. Di sunnah kan kita sholat sunnah sebelum zuhur 4 rakaat karena saat itu di buka pintu-pintu langit oleh Allah Swt dan pintu langit terbuka nya cepat , saat saat Kabul ketika turun hujan (ketika rintikan yang pertama itulah pintu langit di buka setelah itu di tutup kembali).

  • Ketika matahari menguning hingga terbenam.

Penjelasan: seperti ini ketika mau terbit dan ketika mau terbenam. Ada ulama yang mengatakan 2 waktu itu adalah waktu pergantian  masuknya syaithon dan keluarnya syaithon. Saat itu kata Rasulullah Saw Allah melarang kita untuk melakukan sholat, padahal sholat ibadah, tapi Allah melarangnya, bukan karena gambaran sholatnya, akan tetapi Allah Swt mau tau dengan hambanya, apakah hambanya tunduk atau tidak kepada Allah. Kalau soal gambarannya Allah tidak melihat, akan tetapi yang Allah lihat hatinya dengan Allah swt.

  • Sesudah sholat subuh hingga terbitnya matahari

Penjelasan: setelah sholat subuh kita tidak boleh melakukan lagi sholat apapun, itu dalam mazhab Imam Abu Hanifah,

  • sesudah sholat asar hingga terbenamnya matahari.

 

Diam yang di sunnatkan dalam sholat:

  • diam di antara takbirotul ihram dan doa iftitah.

Penjelasan: di antara takbirotul ihram dan doa iftitah di sunnahkan diam sekadar ucapan subhanallah.

  • Diam di antara doa iftitah dan ta’awuz.
  • Diam di antara fatihah dan ta’awuz.
  • Diam di antara akhir fatihah dan amin.

Penjelasan: barang siapa yang membarengkan amin dengan amin imamnya maka para malaikat mengaminkan sholatnya juga.

  • Dan diam di antara amin dan surat.
  • Dan diam di antara surat dan rukuk.

 

Mudah-mudahan kita bisa amalin dari pada ibadah kita, mudah-mudahan Allah selalu berukan kita taufiq,amin-amin amin ya robbal alamin.

 

Wal afuw minkum

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

Comments are closed.