Jika Kalian Shalat Mengimami Orang Banyak, Maka Peringkaslah Shalat

Jalsatul itsnain Majelis Rasulullah Saw

Senin,  26 juni 2017

-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
نعم المولى ونعم النصير

Yang kita hormati dan kita cintai guru-guru kita terlebih khusus guru kita Al-Habib muahammad Bagir bin Alwi bin Yahya kita doakan mudah-mudahan beliau panjang umur, sehat wal afiyah, sehingga bisa senantiasa membimbing kita untuk sampai kepada jalan keselamatan dunia akhirat. Guru kita Al-Habib Muhammad Al-Kaff,  hadirin hadirat rahimakumullah, demikian juga yang tidak terlupakan guru kita tercinta yang biasa mendidik kita dan mengajarkan kepada kita Al-Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Atthos yang mungkin saat ini masih di perjalanan, kita doakan mudah-mudahan panjang umur, sehat wal afiyah,.

Dan kami ucapkan Minal Aidin Wal Faidzin Kulla Amin Wa Antum BiKhoirTaqabbalallah Waminna Waminkum Taqabbal Ya Karim. Kami ucapkan selamat hari raya Idul Fitri, semoga Allah jadikan kita orang-orang yang dalam kebersihan dan kejernihan, di ampuni dosa-dosa kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat. Dan semoga ibadah-ibadah kita yang telah kita lakukan dan kita kerjakan dari awal Ramadhan sampai habis mudah-mudahan semuanya di terima oleh Allah Swt.

Alhamdulillah puji syukur kepada Alah zat Ilahir Rabbi yang telah mencurahkan kepada kita anugrah dan nikmatnya sehingga pada tanggal 2 Syawal malam ini Allah memberikan takdir yang indah kepada kita duduk bersama bertatap muka bersilaturrahmi di majelis ilmu majelis Rasulullah Saw. Mudah-mudahan duduk nya kita di majelis Rasulullah pada malam ini dan seterusnya Allah jadikan ilmu yang kita dapati menjadi ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat Amin Ya rabbal Alamin.

Baiklah hadirin hadirat Rahimakumullah kita akan melanjutkan elajaran hadist kita yang telah sampai pada Hadist yang ke 49 kita baca niat bersama:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

  1. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم قال (إذا صلى أحدكم فليخفف فإنّ فيهم الضعيف و السقيم و الكبير و إذا صلى أحدكم لنفسه فليطول ما شاء) متفق عليه

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda “Jika salah  seorang diantara kalian shalat mengimami orang banyak, maka hendaklah ia memperingkas shalatnya, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, tua. Jika salah seorang diantara kalian shalat sendirian, maka hendak lah ia memanjangkannya sekehendak hati’.”(Muttafqun ‘Aleih)

Berkatalah Sayyidil Habib Umar bin Salim bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim dalam rangkuman kitab Qutuful Falihin. Panjang umur nya sehat badannya, dan Allah jadikan kita orang-orang yang di cintainya dunia akhirat. Dalam kitab Qutuful Falihin Hadist yang ke 49.

Dari Imam Abu Hurairah Abdurrahman bin Shokhrin, semoga Allah meridhoinya dan kita mendapatkan barokahnya amin. Beberapa waktu lalu kita pernah membahas biografi tentang Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita berkah beliau.

أن رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم قال bahwasannya Nabi kita pernah bersabda: إذا صلى jikalau mana kalian sholat berjamaah, baik sholat wajib atau sholat sunnah yang berjamaah, seperti Tarawih, Witir, sholat gerhana matahari, gerhana bulan, istisqo, sholat idul fitri, sholat idul adha, sebagaimana beberapa hari yang lalu yang kita kerjakan bersama, dikatakan disini إذا صلى أحدكم Jika salah  seorang diantara kalian shalat mengimami orang banyak, orang banyak disini dia bukan istri kita, bukan anak kita, bukan murid kita, bukan jamaah kta, bukan di pesantren kita, bukan di majelis kita, tapi di Masjid, di lapangan, di tempat umum, anda jadi imam  فليخفف maka di anjurkan kita oleh Rasul untuk meringankan, mempersingkat waktu, meringkas, tidak berpanjang-panjang, ketika menjadi imam. Mengapa? Karena ada sebabnya. Sebabnya kata Nabi: فإنّ فيهم الضعيف karena sesungguhnya di antara kalian itu ada orang-orang yang lemah, capek, seharian kerja, waktunya sangat padat, tidak punya banyak waktu, atau sedang din anti, atau sedang di tunggu, ada janiji, macam-macam 1000 uzur yang masuk dalam katagori lemah, و السقيم atau makmumnya ada yang lagi sakit. و الكبير atau orang tau yang  tubuhnya sudah rapuh, sudah renta,yang masih cinta kepada Masjid dan Musholla, masih ingin menjalankan sunnahnya Nabi yaitu sholat berjamaah, sampai di dorong, di bopong pakai tongkat, tertatih-tatih susah payah sampai ke Masjid yang sudah tua renta ada di situ. و إذا صلى أحدكم لنفسه tapi kata Nabi jikalau anda sholat sendiri فليطول ما شاء maka di perbolehkan anda memanjangkan sholat  semau anda. Hadist riwayat Imam Bukhori Muslim.

Hadist ini berbicara tentang masalah keringanan dalam sholat ketika sholat berjamaah. Bukan berarti baginda Nabi kita Muhammad Saw orang yang tidak suka kepada sholat. Bukan berarti Nabi itu orang yang tidak cinta kepada sholat. Nabi itu sholat sampai membengkak kakinya. Tapi tidak berjamaah, maksdunya bukan berarti ketika nabi sholat jadi imam mengimami sampai kakinya bengkak, tapi ibadahnya Nabi di rumahnya ketika sendiri sholat sampai membengkak kakinya

Nabi orang yang paling cinta kepada sholat. Sampai Nabi katakan menjadi bola mata kegembiraanku adanya dalam sholat. Sampai kalau sudah datang waktu sholat Rasul saking senangnya berkata kepada Sayyidina Bilal bin Rabbah wahai bilal hibur saya buru-buru azan ini sudah masuk waktu. Nabi orang yang paling cinta kepada sholat. Bahkan di dalam hadist yang shohih Sayyidatuna Aisyah berkata: Nabi kalau sudah datang waktu sholat maka Rasul buru-buru bergegas memerah wajahnya tidak ada yang berani menegor Rasul untuk sampai kepada sholat karena saking serius saking khusu’nya, saking cinta nya Nabi kepada sholat.

Lalu maksud tujuan hadist ini apa? Maksud tujuan hadist ini kasih sayang Rasul kepada umatnya. عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. Apa yang kita suka Nabi suka. Apa yang kita merasa derita Nabi menderita. Apa yang membuat hati kita senang Nabi senang. Kalau kita sholat berjamaah Imam nya lama kita capek Nabi pun tersentuh hatinya. Makanya Rasul memerintahkan bagi para Imam yang sholat di Masjid, di musholla, baik dia menjadi Imam Qosdan.

Imam ada 2, yang pertama qosdan, dia betul-betul ingin menjadi Imam. Dia imam Rawatib di Masjid itu. Dia Imam Rawatib di Musholla itu. Maka ketika mendengar suara Qomat dia langsung maju untuk menjadi Imam, itu namanya Qosdan. Atau dia di suruh sama orang karena dia Alim. Karena dia orang Soleh karena dia orang tua di persilahkan untuk menjadi Imam. Atau dia termasuk Ahlul Bayt nya Rasul, dahulukan Bani Quraisyh, maka dia di jadikan Imam. Ini termasuk Qosdan.

Ada yang tidak Qosdan. Saya jadi makmum Masbuk, Imam nya Habib Bagir, saya datang telat Habib Bagir sudah Tahiyyat, saya datang maka saya langsung ikut sholat jadi makmumnya Habib Bagir. Kata Nabi kalau antum datang pergi ke Masjid di sana sudah sholat ikut sholat langsung, maka sisanya sempurnakan kalau kamu jadi makmum yang Masbuk. Lalu kata Nabi jangan sekali-kali kalian pergi untuk sholat di masjid secara berlari-lari sehingga tidak jadi khusu’.

Saya jadi makmum Masbuk dan Habib Bagir sudah Tahiyyat, setelah Habib Bagir salam maka saya lansgung melanjutkan untuk sholat tersebut. Contoh sholat Magrib, maka rakaat pertama bagi saya terhitung setelah saya lepas dari ikatan jadi makmumnya Imam. Ketika saya berdiri ada yang colek pundak saya tanda dia memilih kita jadi Imam. Itu bukan Qosdan, sebetulnya anda bukan Imam, tapi karena ada orang menjadikan anda Imam maka kamu jadi Imam.

Baik anda itu menjadi Imam Qosdan atau bukan Qosdan maka anjurannya tetap anda harus meringankan sholat. Jangan di panjang-panjangin kecuali kata para ulama termasuk dari pada Sunnah seorang Imam memanjangkan sholatnya ketika Makmumnya ada 2 sifat. Yang pertama makmumnya itu punya sifat terdeteksi: makmumnya itu istrinya, makmumnya itu anaknya, makmum nya itu santrinya, yang tau kalau imam ini panjang, yang mana imam ini bertujuan mendidik murid-muridnya dan anak-anaknya supaya cinta kepada sholat itu masuk katagori mahsurin yang pertama. Maka boleh dan sangat di anjurkan dia memanjangkan sholatnya.

Atau yang ke dua Rodhin, dia tau bahwa makmumnya ini bakal ridho, tidak ada orang tua, tidak ada ibu-ibu yang bawa anak, dia tau makmumnya murid-muridnya, bukan pekerja, bukan petani yang capek, dia tau makmumnya ini orang-orang sehat muridnya, keluarganya, mereka rela kalau saya panjangin maka di sunnahkan dia untuk memanjangkan. Panjang dari pada sholat ada 2. Ada nutqon ada dzonnan. Kata Imam Ibnu Hajar panjang yang di maksud Nutqon bacaanya.

Kata Imam Romli dzonnan ini kurang lebih dugaan. Yang di maksud panjang di sini mengikuti apa yang di perintah oleh baginda Nabi kita Muhammad Saw. Apa yang di contoh oleh baginda Rasul itu di rangkum oleh ulama kita. Imam Ghozali merangkum bacaan sholat-sholat surat yang di baca oleh baginda Rasul Saw. Dari situ di ukur mana sholat yang panjang mana sholat yang pendek. Sehingga di sunnahkan mengatur aturan bacaan surat-surat dalam sholat.

Ada 3 mufassholat.

  • Yang pertama di sunnahkan seorang Imam mengatur bacaannya dengan bacaan surat-surat yang panjang. Yaitu dari surat Al-Hujrat sampai Ammayatasa Alun. Kalau anda tau makmum anda ridho makmum anda mahsurin silahkan and abaca surat-surat yang panjang Mufassholat dari surat Al-Hujrot sampai Ammayatasa Alun seorang Imam boleh memilih. Sholat nya sholat apa? Ada 2 sholat. Sholat Subuh dan sholat Zuhur. Surat nya Al-Hujrot sampai Ammayatasa Alun tinggal kita memilih surat yang mau kita baca.
  • Awsatul mufasshol pertengahan. Dari surat Ammayatasa Alun sampai Waddhuha. Pilih surat yang mana saja. Untuk sholat apa? Untuk 2 sholat yaitu sholat asar dan sholat isya.
  • Qishorul Mufasshol bacaan surat-surat pendek. Khusus untuk sholat Magrib. Yaitu dari Waddhuha sampai Annas. Kata ulama yang lain Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Sebetulnya itu di baca untuk sholat Magrib. Jadi Imam Afdholnya di baca Waddhuha sampai An-nas boleh dia pilih surat yang mana saja ketika sholat Magrib.

Ini bacaan yang ada pada sholat-sholat wajib yang di baca oleh baginda Nabi kita Muhammad Saw.di luar itu memang ada surat-surat tertentu. Ada riwayat Nabi pernah menjadi Imam baca surat Al-A’rof dalam dua Rakaat.rakaat pertama setengah surat, rakaat ke dua setengah surat. Nabi baca surat yang panjang tapi lengkap. Dari awal sampai akhir. Yang belum di temukan ketika Nabi membaca potongan-potongan ayat. Beberapa Masjid banyak Imam yang bacaan dan suaranya bagus membaca beberapa potongan-potongan ayat itu tidak salah. Dia tetap mendapatkan fadhillah sunnah, membaca Ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi tidak Afdhol. Yang Afdhol itu baca dari awal sampai akhir surat. Kalau di potong-potong khawatirnya maknanya tidak nyambung.

Makanya jarang ulama-ulama kita yang Ahli Fiqih memotong-motong ayat. Kalau mau baca-baca, kalau tidak baca yang pendek. Pernah Rasul baca surat panjang tapi di potong di tengah-tengah ketika mendengar suara anak kecil nangis.

Dalam riwayat yang shohih ketika Rasul menjadi Imam sholat Subuh, Nabi kalau menjadi Imam sholat Subuh baca ayat Al-Qur’an 2 lembar. Pada suatu hari Nabi membaca surat yang panjang yang ukuranya kurang lebih 2 lembar tiba-tiba di tengah-tengah bacaannya Nabi mendengar suara anak yang menangis maka Nabi langsung memberhentikan surat itu melanjutkan dengan surat Al-Ikhlas. Maka sahabat pada bingung, setelah selesai sholat mereka bertanya :

Wahai Rasulullah kok tumben-tumbenan baca ayat sepotong-sepotong? Ini ada uzur. Apa kata Nabi kita Muhammad Saw: tadi saya lagi sholat mendengar tangisan anak yang memanggil ibunya maka saya ringkas sholat saya karena kasian kepada anak dan ibunya. Itulah Rahmatnya baginda nabi kita Muhammad Saw. Nah di situ Nabi memotong ayat yang panjang tapi di tutup dengan surat yang lengkap. Yaitu Al-Ikhlas. Sehingga boleh contoh kalau kita sholat taubah. Sholat Taubat setelah Waladdholin amin kita membaca potongan-potongan ayat yang meminta ampunan kepada Allah.setelah itu membaca istighfar setelah itu baru membaca surat Al-Ikhlas.

Kembali kita ke masalah Mufassholat. Bagian surat-surat tadi ada Thulul Mufasshol(bacaan yang panjang) yaitu sholat Subuh dan Zuhur. Awsatul Mufasshol(standar tengah-tengah) yaitu sholat Asar dan Isya. Qisshorul Mufasshol yaitu surat yang pendek yaitu pada sholat Magrib antara Waddhuha sampai Annas.

Ada lagi beberapa riwayat yang Nabi memilih beberapa malam tertentu dengan surat-surat khusus. Contohnya yaitu malam Jum’at. Nabi kalau jadi Imam pada sholat Isya malam Jum’at Nabi selalu membaca surat Jum’ah dan AlMunafiqun.

Sholat Subuh hari Jumat Nabi selalu baca surat Assajadah dan surat Addahr. Kalau Nabi jadi Imam ketika sholat Jum’at nya Nabi membaca Sabbihisma dan Hal ataka.

Kata ulama kalau anda jadi Imam pada malam Jum’at sholat Isya atau Subuh Jum’at atau sholat Jum’at surat yang di baca oleh Nabi silahkan anda baca walupun Makmum nya tidak senang. Karena Nabi tidak pernah meninggalkan surat-surat tersebut yang selalu dibaca pada Isya malam Jum’at yaitu surat Jum’ah dan Munafiqun. Subuh Jum’at surat Assajadah dan Addahr. Dan sholat Jum’at nya Nabi baca Sabbihisma dan Hal ataka.

Makanya kadangkala juga  kita bingung. Kalau ada khotib Jum’at khutbahnya panjang ketika menjadi Imam membaca Waddhuha. Yang lebih parah lagi Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

Itu yang di baca oleh Rasul di atur oleh Imam Ghozali dalam Ihya Ulumuddin seperti itu. Karena baginda Nabi kita Muhammad Saw orang yang paling bijak. Kalau kita ingin tau orang yang paling bijak itu siapa yaitu Sayyidina Muhammad.

Dalam shohih Muslim di sebutkan dalam suatu riwayat Ibnu Khuzaimah. Nabi itu orang yang paling ringkas sholatnya dan yang paling sempurna.

Bahkan Imam Anas bin Malik sumpah demi Allah. Kata Anas bin Malik saya demi Allah sumpah tidak pernah jadi makmum siapapun melebihi ringkas dan sempurnanya Imam dari pada Imamnya Rasulullah. Saya selalu jadi makmumhnya Rasul. Rasul itu sholatnya paling ringan.

Bahkan dalam riwayat ketika Sayyidina Muadz bin Jabal menjadi Imam lalu memanjangkan sholatnya setelah selesai sahabat datang kepada Rasul. Mengeluh, lalu di panggillah muadz oleh Rasul dan ditanya sampai tiga kali apakah engkau cari-cari masalah ya Muadz? Tidak boleh memanjangkan sholat, silahkan kau baca Sabbihisma, silahkan kamu baca Wassyamsi wadhuhaha, silahkan kamu baca Wallayli idza yaghsa, jangan yang panjang-panjang.

Kecuali kalau anda sholat sendiri tidak apa-apa. Sebgaimana para wali-wali, orang-orang soleh. Imam Haddad setiap malam sholatnya 2 rakaat. Rakaat pertama khatam Qur’an 1 kali. Rakaat kedua khatam Qur’an lagi satu kali. Setiap malam 2 kali khatam Qur’an.tapi sholat sunnah. Jadi kalau sholat sunnah kita panjangin tidak apa-apa. Tapi kalau sholat berjamaah jadi Imam ringankanlah.

Apapun yang tidak menyebabkan khusyu’ jadi makruh. Sholat tahan kencing makruh. Nahan buang hajat besar makruh. Banyak bergerak makruh. Terburu-buru makruh. Apapun yang Makruh tinggalkan.

Mudah-mudahan sholat-sholat kita di terima oleh Allah, ibadah kita di terima oleh Allah, dan Allah jadikan kita orang-orang yang bijak. Di dalam menyikapi segala bentuk kebaikan Amin Allahuma Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

 

 

Comments are closed.