Menu Utama
Home
Kios Nabawi
Multi Media
Multimedia lama
Jadwal Majelis
Tentang Kami
Program Dakwah
Laporan Dakwah
Kotak Amal
Berita
Artikel
Gallery
Live Streaming
Form Login
Username

Password

Ingatkan Saya
Lupa password?








Streaming
MR Radio Online
Jadwal siaran:
*Senin, 20.30-22.30 WIB
*Sabtu, 20.30-22.30 WIB



Jadwal Sholat
Waktu Sekarang* :
Subuh :4.14
Isyraq :6.04
Dhuhur:11.40
Ashar :14.49
Magrib:17.48
Isya :18.58
*Waktu jakarta,
untuk daerah lain klik disini.
E-Book










Home arrow Artikel arrow Rasul SAW Menyukai Memulai Dari Yang Kanan, Senin 30 Januari 2012
TUNJUKKAN KEPERDULIAN DAN BAKTI KITA PADA PEMBENAHAN ISLAM DENGAN TURUT MENYUMBANGKAN HARTA KITA SEBAGAI SAKSI, BANTUAN KITA ADALAH CERMIN KADAR IMAN KITA, RASULULLAH SAW BERSABDA : SETIAP HARI TURUN DUA MALAIKAT MULIA KE BUMI DAN BERDOA, WAHAI ALLAH BERI ORANG YANG BERINFAQ KESEJAHTERAAN, DAN BERI ORANG YANG KIKIR KEHANCURAN ( shahih Bukhari ) Bank Syariah Mandiri a. n Munzir Al Musawa 700-9492-946 & M. Ramzy Fuad Musawa No. Rek 7070559379 ( Cabang Depok )     
PDF Print E-mail
SocialTwist Tell-a-Friend
Ditulis Oleh: Munzir Almusawa   
Thursday, 09 February 2012
Rasul SAW Menyukai Memulai Dari Yang Kanan
Senin, 30 Januari 2012


قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

صحيح البخاري

Sabda Rasulullah saw : “Bahwa nabi saw menyukai memulai dari kanan, ketika beliau (saw) memakai sandal, ketika beliau (saw) menyisir, ketika beliau (saw) bersuci, dan dalam gerak gerik beliau (saw) ” (Shahih Bukhari)

Image

Assalamu’alaikum wrahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha Mengumpulkan kita dalam perkumpulan yang luhur, di bulan yang luhur, yang mana dalam perkumpulan seperti inilah Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmatNya dan mengangkat derajat hamba-hambaNya dalam keluhuran di dunia dan akhirat, dalam kemuliaan di dunia dan akhirat, dalam kesucian di dunia dan akhirat, dalam kebahagiaan di dunia dan akhirat yang semuanya sampai kepada kita dari tuntunan tersuci dan terluhur dari segenap tuntunan alam semesta, yaitu tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tuntunan termulia yang menuntun pada kebahagiaan di dunia dan akhirat, yang menuntun ummatnya untuk jauh dari perbuatan-perbuatan hina dan senantiasa berada pada perbuatan yang mulia. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga hari-hari kita untuk selalu berada dalam kemuliaan dan keluhuran serta jauh dari segala hal yang hina di dunia dan akhirat, amin.

Sampailah kita pada tuntunan mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disampaikan oleh sayyidah Aisyah Ra dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melakukan suatu perbuatan menyukai untuk mengawalinya dari sebelah kanan, seperti ketika memakai sandal, ketika bersuci, menyisir rambut, dan yang lainnya. Hal tersebut sangat disukai oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal tersebut pun telah terbukti secara ilmiah bahwa peredaran darah terlebih dahulu mengalir pada anggota tubuh yang bagian kanan kemudian pada bagian yang kiri, sehingga aliran darah itu terlebih dahulu membersihkan anggota tubuh bagian kanan, dan hal ini secara Ilmiah baru diketahui dalam akhir-akhir ini, namun hal tersebut telah diajarkan dalam tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummat Islam, yaitu dengan mengawali segala perbuatan baik dari anggota tubuh sebelah kanan. Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa hadits tersbut diatas bermakna ‘aam makhsuus (bersifat umum tapi dikhususkan), yaitu secara umum bermakna demikian adanya namun terdapat pengecualian, diantaranya adalah ketika masuk ke masjid mendahulukan kaki kanan, namun ketika keluar dari masjid mendahulukan kaki kiri, sebaliknya ketika masuk ke kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan, mengapa demikian?, Al Imam An Nawawi berkata bahwa segala hal atau sesuatu yang baik atau bersifat ibadah maka didahulukan dengan anggota sebelah kanan, maka selayaknyalah kita memahami sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ

“Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku ketika kerusakan ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid”

Berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini adalah hal yang mudah, namun banyak diremehkan oleh kaum muslimin, maka kita berusaha untuk menghidupkan kembali hal tersebut dengan melakukan sesuatu yang baik diawali dengan yang kanan.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita selayaknya memahami bahwa segala persahabatan akan berakhir, segala perkumpulan dalam keluarga, saudara dan teman akan berakhir, segala kenikmatan dan kegembiraan di dunia akan berakhir, dan kesemuanya berganti dengan kehidupan yang gelap di alam kubur, namun berbeda dengan keadaan mereka yang mengikuti tuntunan luhur sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana mereka akan gembira di dunia dan akhirat, gembira di alam kubur dan di alam barzakh, hari-hari mereka berada dalam kebahagiaan karena mengikuti tuntunan yang menuntun kepada keluhuran dan kebahagiaan, tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tibalah kita di bulan agung ini, bulan Rabi’ Al Awwal, dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ، أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ، وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ، تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ، فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

(الفيل : 1-5 )

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara bergaja, Bukankah Dia telah menjadikan siasat mereka (untuk menghancurkan ka'bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil : 1-5)

Dijelaskan dalam sirah Ibn Hisyam dan lainnya, dimana ketika kaisar Habasyah iri terhadap Ka’bah, dimana kota Makkah menjadi kota yang ramai dengan perdagangan dan banyak dikunjungi oleh orang-orang karena adanya Ka’bah disana. Dimana Ka’bah sudah ada sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana dibangun pada oleh Nabiyullah Ibrahim setelah runtuhnya dan terus ada serta menjadi tempat yang mulia dan muliakan, meskipun ketika itu masih dipenuhi dengan patung-patung berhala sebelum lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebelum terjadinya Fath Makkah. Maka ketika itu kaisar Habasyah membangun suatu bangunan di kota San’a Yaman untuk menyaingi Ka’bah, bangunan yang serupa dengan Ka’bah dan terbuat dari emas dan perhiasan-perhiasan berharga, dengan tujuan agar manusia mengalihkan perhatian mereka dari Ka’bah yang berada di Makkah kepada Ka’bah yang dibuat raja Habasyah di kota San’aa yang ketika itu San’aa berada dibawah kekuasaan raja Habsyah. Namun keesokan harinya setelah Ka’bah palsu itu dibangun, maka didapatinya banyak kotoran yang dilemparkan ke ka’bah buatan raja Habasyah itu sehingga murkalah ia karena penghinaan dan pelecehan orang-orang, lalu raja Habasyah mengerahkan pasukan dengan jumlah yang sangat besar dan menunggangi gajah untuk berangkat ke Makkah dan menghancurkan Ka’bah. Kemudian berangkatlah pasukan gajah itu yang mana sepanjang perjalanan ke Makkah tidak ada kabilah yang membela Ka’bah sanggup untuk menahan pasukan raja Habsyah. Maka pasukan gajah itu terus menempuh jazirah Arab menuju Makkah, dan di saat itu sayyidina Abdul Muthtalib sebagai pimpinan kota Makkah, beliau mengungsikan penduduk Makkah ke tempat-tempat yang aman, kemudian ia berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Allah, aku titipkan Ka’bah ini kepadaMu”, lalu sayyidina Abdul Muthtalib pun pergi dan kemudian pasukan gajah itu membawa beliau dibawa ke perkemahan pimpinan pasukan , maka panglima pasukan gajah itu berkata : “apakah engkau adalah pimpinan Makkah?”, sayyidina Abdul Muttalib berkata : “iya , aku adalah pimpinan Makkah”, lalu panglima itu berkata : “Engkau telah mengungsikan penduduk Makkah, tapi mengapa engkau justru pergi meninggalkan Ka’bah tempat yang suci itu tanpa membelanya dari serangan yang akan kami lakukan, padahal engkau adalah pimpinan kota Makkah?”, maka sayyidina Abdul Muttalib berkata : “Aku hanya menjaga diriku dan keluargaku, akan tetapi Ka’bah itu adalah milik Allah subhanahu wata’ala, maka Dia lah yang akan menjaganya”, lalu beliau pergi. Kemudian panglima pasukan gajah berkata kepada pasukannnya : “Mulai bergeraklah dan hancurkan Ka’bah”, maka mereka pun bergerak menuju kota Makkah dan setelah mendekat dengan Ka’bah dan Ka’abh sudah mulai terlihat oleh mereka, maka gajah terbesar sebagai pimpinan mereka yang berada pada barisan terdepan ketika itu berhenti, namun ketika diarahkan ke arah yang lain (bukan arah Ka’bah) gajah itu mau berjalan. Hingga mereka memanaskan besi hingga menjadi bara kemudian ditusukkan ke tubuh gajah itu, namun gajah itu tetap tidak bergerak, maka semua gajah yang berada di belakangnya pun tidak mau bergerak karena pimpinannya tidak bergerak. Maka dalam keadaan itu, pasukan gajah diliputi kebingungan ketika itu terlihatlah dari kejauhan seperti awan yang hitam gelap berjalan menuju mereka, yang mana itu adalah rombongan burung ababil yang membawa batu-batu kerikil api dari neraka kemudian melemparkan batu-batu itu kepada semua pasukan gajah tersebut, sehingga semua pasukan dan gajah-gajah itu hancur dan binasa dan hanya tertinggal satu orang yang masih hidup, maka orang itu pun lari untuk menyelamatkan diri namun seekor burung tetap mengejarnya hingga ia sampai ke perkemahan penduduk Makkah, dengan terengah-engah dia berkata : “semua pasukan gajah telah binasa, tinggallah aku sendiri yang selamat”, lantas penduduk Makkah berkata : “apa yang menjadikan mereka binasa?”, ia menjawab : “kelompok burung yang mengikutiku membawa batu-batu seperti bara api kemudian melemparkannya kepada pasukan-pasukan gajah hingga mereka binasa”, penduduk Makkah kaget dan heran bagaimana hal itu terjadi, maka ketika itu satu burung yang masih mengikuti seorang prajurit gajah itu melemparkan batu api itu kepadanya hingga hancur leburlah ia bagaikan dedauan kering yang hancur dimakan ulat. Allah subhanahu wata’ala ingin menunjukkan bahwa seperti itulah Allah menghancurkan pasukan-pasukan gajah itu, maka tidak ada kekuatan lagi bagi raja Habsyah untuk menghancurkan Ka’bah, karena Ka’bah akan tetap dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala, dan di tahun itu pula kelahiran sayydina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disebut dengan ‘Aamul Fiil (Tahun Gajah), yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Dan ketika sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim sayyidah Aminah, beliau melihat cahaya juga keluar dari rahimnya hingga ia dapat melihat istana-istana Romawi yang berjarak 3 bulan perjalanan dari Makkah, bagaimana hal itu bisa terjadi?, sebagaimana kita ketahui jika cahaya proyektor saja bisa memperlihatkan gambar dari jarak yang jauh menjadi terlihat dekat, begitu juga siaran langsung di Televisi dari tempat yang jauh bahkan di luar negeri dapat terlihat di depan mata kita, yang mana hal itu disebabkan kekuatan cahaya yang diciptakan oleh manusia yang berupa alat-alat elektronik dan lainnya, maka terlebih lagi cahaya Allah subhanahu wata’ala yang diterbitkan dengan lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang membuat ibunya dapat melihat kerajaan Romawi yang terletak sangat jauh dari kota Makkah, sebagaimana telah berfirman subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

(الأحزاب: 45-46 )

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS. Al Ahzaab : 45-46)

Demikian hebatnya cahaya mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam terlahir tanpa keluar setetes darah pun dan tanpa ada rasa sakit sedikit pun yang dirasakan oleh ibunya sayyidah Aminah. Setelah beberapa waktu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disusui oleh sayyidah Halimah As Sa’diyyah, dan ketika sayyidah Halimah membawa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke rumah beliau (perkampungan Bani Sa’ad), sayyidah Halimah berkata : “Tidak kami lewati pepohonan dan bebatuan kecuali mereka bersujud dan berkata : “Assalamu’alaika Ya Rasuulallah”. Demikian kemuliaan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang lahir dan tumbuh dalam keadaan yatim, namun beliau menjadi semulia-mulia makhluk karena Allah subhanahu wata’ala yang langsung mendidik beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau :

أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

“ Tuhanku (Allah) Yang telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam makhluk yang paling mulia, paling baik, paling ramah dan menjadi lambang cinta bagi segenap manusia yang mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam tafsir Al Imam At Thabari, dimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Al Insaan, yang mana surat ini berisi tentang kenikmatan surga dan keindahannya, maka seorang hamba sahaya yang mendengarkan bacaan surat Al Insaan itu yang menjelaskan tentang kenikmatan-kenikmatan surga, berkata : “Wahai Rasulullah, apakah mataku ini kelak akan dapat memandang matamu di surga?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Na’am (Iya)”, maka hamba sahaya itu menangis terharu hingga ia terjatuh pingsan, karena dahsyatnya tangisan gembira sebab telah dijanjikan akan melihat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kembali kelak di surga. Hamba sahaya itu tidak tergiur dengan kenikmatan dan keindahan yang ada di surga, namun yang di dambakan adalah setelah ia melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia apakah ia akan melihat kembali wajah beliau kelak di akhirat. Setelah beberapa waktu hamba sahaya itu wafat, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanjakan jenazahnya, dimana beliau lah yang langsung turun ke lahad kubur dan menguburnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

إِنَّ هَذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُورًا

( الإنسان : 22 )

“Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu disyukuri (diberi balasan).” ( QS. Al Insaan : 22 )

Melihat kejadian itu, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang telah terjadi hingga engkau mengucapkan hal itu?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamana kekuasaanNya, sungguh ruh jasad ini saat ini diberdirikan dihadapan Allah, dan Allah berkata : “ Wahai hambaKu, akan kujadikan wajahmu bercahaya”. Demikian keadaan orang-orang yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan keberuntungan terbesar bagi orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشْفِعٍ

“Saya pemimpin anak Adam di hari kiamat, dan orang pertama yang kuburnya terbelah (orang pertama yang dibangkitkan dari kubur di hari kiamat), dan orang pertama yang member syafaat dan yang dikabulkan syafa’atnya oleh Allah.”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Insyaallah acara Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tanggal 12 Rabi’ Al Awwal hari Ahad pagi di Monas, semoga acara ini sukses. Dan saya mohon kepada para Jamaah untuk hadir tepat waktu, karena dikhawatirkan banyaknya massa yang akan datang dari luar kota sehingga banyak dari mereka yang hadir dan datang lebih awal lalu menempati tempat-tempat yang di depan, seharusnya kita lah yang dari dalam Kota memberikan contoh kepada mereka yang datang dari luar kota bahwa kita datang tepat waktu.

Selanjutnya kita bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah melimpahkan rahmat dan kebahagiaan bagi kita semua, dan memberikan pemahaman yang luhur, taufik dan hidayah kepada kita untuk mengikuti tuntunan-tuntunan indah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan semoga semua yang hadir langsung langsung di acara ini atau yang menyaksikan via streaming web majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semoga dilimpahi rahmat dan hidayah Allah subhanahu wata’ala dalam hari-harinya, semoga Allah melimpahkan kepada kita anugerah yang besar, dan mengangkat segala musibah dan kesulitan-kesulitan kita dan menggantikannya dengan rahmat dan segala kemudahan, amin allahumma amin…

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ

Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 09 February 2012 )
Monday, 20 October 2014