Sunnah –Sunnah Wudhu

JALSATUL ITSNAIN MAJELIS RASULULLAH SAW

27 November 2017

-HABIB JA’FAR BIN MUHAMMAD BAGIR AL-ATTHOS-

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kita ucapkan selamat datang kepada dewan guru kita Al-Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwi bin Yahya, semoga Allah panjangkan umur beliau, Allah sehatkan badan beliau, dan di berikan keberkahan oleh Allah Swt , keberkahan dunia sampai akhirat Amin Amin Amin Ya Rabbal Alamin. Di berikan Ilmu-Ilmu yang bermanfaat untuk kita semua Amin Ya Rabbal Alamin.

Guru kita bersama Al Habib Muhammad Al-Idrus, Habib Hasan Al-Hamid, dan para Habaib yang lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu , Kyai Abdussalam dan para Asatidzah yang lain para Hadirin-hadirat para pemirsa dari pada streaming Website dari pada Majelis Rasulullah Saw yang mudah-mudahan semuanya dalam limpahan Rahmat Allah Saw yang terbesar yang terindah untuk kita, anak-anak kita , keluarga kita, sanak Family kita, kerabat kita, tetangga kita, Ummat Nabi besar Muhammad Saw dimanapun berada Amin Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Deifinisi Sunnah adalah apabila kita mengerjakannya kita mendapat pahala karena kita memang menjalankan perintah Rasulullah Saw dan apabila kita tidak mengerjakannya kita tidak mendapatkan dosa.

Beliau memulai dengan pendapat Ibnu Hajar. Ibnu Hajar memulai bahwa sunnah –Sunnah Wudhu yang pertama kali beliau masukkan adalah Siwak. Khilaf di antara ulama Ibnu  Hajar dan Romli. Dari pertama saya katakan saya tidak akan keluar di dalam pembahasan khilaf Mazhab. Kita hanya membahas Ibnu Hajar, Romli, Nawawi dan Rofii. Dan ini untuk naik kelas, dari Risaltul Jamiah kemudian Sfinatunnajah.

Kita hanya mengambil kutipan yang paling kuat di dalam mazhab Imam Syafii yang di ambil oleh para ulama Syafii yaitu Imam Nawawi dan Rofii. Kemudian yang paling terkuat dari hasil rincian mereka dari Imam Nawawi dan Imam Rofii dari analisa yang teliti lagi di ambil oleh pendapatnya oleh ulama Syafi yaitu Ibnu Hajar dan Romli.  2 ini sudah di sepakati oleh ulama Syafii yang terkuat dari yang terkuat. Dari pendapat-pendapat ulama Syafiiyah.

Sebenarnya kita ini sudah paling nikmat sudah tidak pakai bahas Qur’annya, sudah tidak pakai bahas Hadistnya, kita terima jadi tinggal kita jalankan saja. Walaupun nanti kita akan mempelajari dalil-dalilnya, kemudian Al-Qur’annya, dari Sunnahnya, dari perkataan-perkataan para ulamanya tapi nanti, itu di namakan mempelajari yang kecil-kecil terlebih dahulu dari keilmuan kemudian naik kepada hal yang besar dalam ke ilmuan.

Ini tata cara yang di ambil oleh para ulama yang di katagorikan orang-orang yang benar-benar mendidik.karena dia mengajarkan hal-hal dari pada yang kecil –kecil dari keilmuan kemudian hal-hal yang besar di dalam keilmuan.

  Sunnah Wudhu.

Di sini di bahas Siwak. Makna Siwak adalah secara bahasa adalah gosokan. Kemudian di dalam Fiqihnya menggosok pada gigi dengan sesuatu yang kasar dengan niat tertentu dan yang di tentukan. Kenapa di dahulukan siwak? Ini pendapat Ibnu Hajar, pendapat Imam Romli hanya beda pemahaman sedikit kata ulama, kalau Ibnu Hajar memasukan siwak Sunnan di Wudhu.kalau Imam Romli memasukan Siwak Sunnah dari bagian Sunnah-sunnah Wudhu.

Makanya beliau memasukannya sebelum dari pada pembahasan Sunnah-Sunnah Wudhu yang lain. Nanti di bahas lagi Tasmiyah, kita bahas terlebih dahulu siwaknya.  Siwak yang kita tau yang paling afdhol dengan kayu batang Aroq. Siwak itu ada yang kering dan ada yang basah. Afdholnya yang dari akar dan yang masih basah. Kalau kering Sunnah di celupkan Air supaya basah dan tidak kasar di mulut kita. Itu dari sisi urutannya. Kayu Aroq, batang pelepah Kurma, kemudian Azzaitun.

Walaupun di dalam Hadist Rasulullah Saw bersabda: hendaklah kalian dengan Zaitun karena dia adalah siwakku dan siwak para Nabi sebelumku. tapi yang di kuatkan oleh para ulama Rasulullah Saw seringnya memakai Al-Aroq dari pada buah tertentu. Pokoknya siwak yang di jualin itu siwak Aroq. Tapi ada yang basah dan ada yang kering.

Kalau yang basah itu lebih afdhol. Kalau sudah kering di sunnahkan di celupkan di dalam air supaya tidak terlalu keras di gigi kita.

Kemudian Hukum Siwak

  • Di Sunnah kan ketika mau melakukan hal-hal ibadah bersiwak.
  • Lebih di tekankan lagi ketika bau Mulut. Baik bangun tidur maupun setelah makan.

 

Tasmiyah

Para Habaib mengambil pendapat Al-Imam Al-Habib Abdurrahman bin Ali-Al-Masyhur beliau mengatakan Tasmiyah Al-Qur’an lebih di utamakan dari pada Siwak. Jadi Bismillah dulu bari siwak, walaupun di sini Al-Imam  Abdullah bin Abdurrahman Bafadhol memasukannya bagian yang kedua. Karena Tasmiyah bagian dari Sunnah Wudhu, dia tidak terpisah seperti Siwak. Siwak Sunnah di Wudhu kalau Tasmiyah Sunnah dari Wudhu.

Makanya kalau bersiwaknya sebelum bertasmiyah maka di sunnahkan untuk membaca doa nya.( aku niat bersiwak yang di sunnahkan pada berwudhu. Kalau di masukan kedalam Sunnah-Sunnah Wudhu (aku niat sunnah-sunnah yang di sunnahkan dari pada berwudhu. Mudah-mudahan di waktu yang akan datang kita akan lebih jelaskan lagi. Mudah-mudahan Allah berikan kita Taufiq dan Hidayah untuk bersiwak untuk membersihkan mulut kita dan di cintai oleh Allah Swt dan di ridhoi oelh Allah Swt.

Wassalamu’alaikum Warahmtullahi Wabarakatuh.

Raih pahala, sebarkan kebaikan..

Comments are closed.