October 26, 2020

Re:bolehkah kita??

Home Forums Forum Masalah Umum bolehkah kita?? Re:bolehkah kita??

#94856225
Munzir Almusawa
Participant

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Keindahan Anugerah Nya swt semoga selalu terlimpah pada hari hari anda dan keluarga,

Saudaraku yg kumuliakan,
berikhtilaf ulama kita akan istighatsah pada yg telah wafat, Istighatsah adalah meminta tolong Langsung, berbeda dengan tawassul, tawassul adalah berperantara, misalnya wahai Allah demi kemuliaan fulan, demi cinta Mu pd fulan.., ini tawassul

Istighatsah adalah memanggil nama, wahai Fakhrul wujud, wahai dan wahai..

hal ini diperbolehkan pada Rasulullah saw.

pada wali wali sebagian ulama memakruhkannya, sebagian lain mengharamkannya, sebagian lain memperbolehkannya.

dan sebagian besar mempebolehkannya, karena jelas sudah kita mengucap salam pada ahlilkubur merupakan perintah Rasul saw riwayat shahihain Bukhari dan Muslim.

Salam sejahtera untukmu wahai ahli kubur..!,

bukankah ini berbicara?, berkata Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa hadits itu merupakan bukti jelas bahwa ahli kubur itu mendengar, jika tak mendengar maka mustahil Rasul saw memerintahkan berbicara dan bersalam

Rasul saw mengajarkan : Asalamualaikum ahluddiyar, inna bikum laahiquun\" (shahih Bukhari dan Shahih Muslim) yairu Assalamualaikum wahai penduduk sekitar ini, kami akan menyusul kalian\"
bukankah ini berbicara?, Imam Ibn Katsir berkata bahwa jika mereka itu tak mendengar, maka sama saja dengan batu dan benda mati, maka mustahil Rasul saw memerintahkan kita berbicara pada batu dan bersalam pada batu.

lalu kalau berbicara didengar, apakah ada bedanya meminta kepada yg hidup dan yg sudah wafat?, tentunya tak ada bedanya, karena mereka sama sama mendengar, cuma mereka tak bisa menjawab hingga didengar.

kalau saya datang pada anda dan berkata : \"saudaraku, tolong saya, doakan agar kesulitan saya selesai, atau tolong saya, uang saya hilang, bantu saya menemukan pencurinya\" ucapan bolehkah?, apakah saya syirik karena minta tolong pada anda?, tentunya tidak, maka adakah demikian pula pada yg mati, boleh boleh saja karena tak ada beda antara yg hidup dg yg mati dalam manfaat dan mudharrat, tetap dg izin Allah,

jika Allah bisa membuat anda membantu saya karena anda masih hidup, apakabh mustahil Allah membuat orang mati membantu saya?, atau kita membatasi Qudrat Allah swt?

pantasnya saya minta uang pada orang kaya, pantasnya saya berobat minta obat ke dokter, pantasnya saya minta doa pada orang shalih,

nah.., semua jabatan sirna dengan kematian, menteri, konglomerat, dokter, pejabat, polisi, semua tercabut jabatannya dg kematian..

kecuali ulama yg shalih, jabatan mereka kekal.. maka boleh boleh saja ber Istighatsah ke kubur mereka atau dirumah.

karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yg nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yg bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yg bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.
Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yg keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yg paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dg suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dg sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yg memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yg mengajari hal ini.

Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam, bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu, yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yg lari mencari tim SAR tidak selamat..

Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

Walillahittaufiq

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a\’lam

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru