Alhamdulilah segala puji bagi Allah, salawat & salam atas baginda Nabi Muhammad saw, alhamdulilah atas izin Allah swt kita dapat berkumpul di majelis ini di tempat yang Allah cintai yaitu masjid Nya, rumah para hamba Nya berdo’a dan mendekatkan diri kepada Nya. Nabi Muhammad saw bersabda “Tempat yang paling di cintai Allah adalah masjid Nya dan tempat yang paling di benci Allah adalah pasar pasar” karena di pasar banyak hal hal yang Allah haram kan disana, tempat segala kebutuhan dunia ada disitu, kecurangan, penipuan, melebihkan timbangan dan masih banyak lagi hal hal yang Allah benci. Jika pasar tidak seperti itu pasti pasar bisa jadi tempat yang Allah cintai juga. Alhamdulilah Allah ijin kan kita berada di lingkaran cinta Nya Allah. Jika kita ingin masuk kerumah raja pasti harus seijin rajanya, sama seperti kita hadir disini tak mungkin kita mampu untuk hadir disini di tempat yang Allah cintai tanpa seijin Nya. Hadirnya kita disini sebab cinta kita pada Allah dan sang Nabi.

Kumpulnya kita disini sebab cinta, tak mungkin kita dapat berkumpul selain karena cinta, cinta sang Nabi untuk ummat nya, umat yang selalu ada dalam setiap do’a nya. Tak akan pernah kita dapati cinta yang melebihi cinta Rasulullah saw kepada umat nya, tak akan pernah sebanding dengan apapun, tak akan sanggup kita membalas cinta nya Rasulullah kepada kita. Kalaupun kita semua yang hadir disini mengumpulkan cinta kita semua, tak akan setetespun sebanding dengan cinta nya Rasulullah, dalam senang Rasulullah ingat kita, dalam sedih Rasulullah ingat kita, dalam doa Rasulullah ingat kita.

Adakah orang yang kita cintai bisa memberikan cinta yang besar dan luas seperti sang Nabi. Begitu besar mahabbah sang Nabi pada kita, bahkan sebelum kita lahir, jauh sebelum kakek kakek kita lahir Rasulullah saw sudah mendo’akan kita. Kita hidup seribu tahun lebih dari Rasulullah, tapi lihat doa nya sampai hingga kita lahir di dunia. Pernah kah kita bertanya dengan sahabat filla kita, sahabat yang karena Allah kita mencintainya tentang kabar anak nya, cucu nya, bahkan mendo’akan orang yang belum lahir dari sahabat filla kita itu. Pernahkah sahabat filla kita ada dalam setiap do’a kita? Tapi lihat cinta nya sang Nabi, beliau selalu berdo’a untuk kita, keturunan kita, kita selalu ada dalam setiap doa nya Rasulullah.

Pernah suatu saat ketika Rasulullah saw sedang berdo’a, lalu masuklah sayyidatuna Aisyah dia duduk dihadapan Nabi. Lalu Rasulullah pun berdo’a “Wahai Allah, ampunilah dosa dosa Aisyah yang nampak ataupun yang tidak nampak” senang lah hati sayyidah Aisyah atas do’a Rasulullah. Nabi pun bertanya “Bagaimana perasaan mu wahai aisyah?”. Sayyidah Aisyah menjawab “Aku sangat gembira, bagaimana tidak nama ku disebut dalam do’a mu ya Rasulullah” lalu Rasulullah berkata “Ketahuilah Aisyah, do’a yang ku panjatkan tadi adalah do’a yang selalu ku panjatkan setiap malam untuk umat ku” inilah cinta yang Rasulullah bawa untuk kita, cinta & doa dari Rasulullah untuk kita. Apakah tidak besar cinta Rasulullah saw untuk kita? adakah yang lebih mencintai kita seperti ini selain Rasulullah?.

Dulu ketika selesai perang Uhud, Rasulullah saw dibawa mundur oleh para sahabat dan saat itu ada sebagian para sahabat yang melaknat orang orang kafir sebab mereka jahat dan selalu memerangi Rasulullah saw. Lalu Rasulullah pun berkata “Jangan kalian ucapkan itu, sebab aku di utus oleh Allah tidak pernah untuk melaknat”. Inilah cinta yang tulus, cinta yang membawa ke damaian, Rasulullah balas semua kejahatan dan kebencian dengan cinta.

Pernah juga Rasulullah saw berdakwah di kota Tho’ib, disana Rasulullah di lempari batu hingga ia terjatuh, di angkat lagi, dilempari lagi hingga Rasulullah terjatuh tiga kali, di angkat lagi oleh mereka tapi bukan untuk menolong Rasulullah melainkan membantu Rasulullah berdiri agar dapat mereka lempari lagi dengan batu. Rasulullah saw duduk di bawah pohon sambil memandangi darah yang mengalir dari wajah nya. Ia takut jika darah itu sampai jatuh ke bumi maka Allah akan murka pada mereka.

Dalam keadaan penuh darah disaat sakitnya, Rasulullah berdo’a “Wahai Allah berilah hidayah kepada kaum ku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui nya”. Lihatlah oleh kita bagaimana Rasulullah saw membalas kesakitan nya dengan do’a, kejahatan dengan cinta. Inilah yang harus kita tiru dari cinta sang Nabi Muhammad saw. Rasulullah tak pernah berhenti berharap jika nanti kelak anak anak dan cucu cucu mereka akan membawa bendera nya Rasulullah, itulah harap sang Nabi yang tak pernah padam meski dengan kejahatan & kebencian dari mereka.

Dalam sholat kita dekat dengan Rasulullah, kita sangat dekat. Bersalawat yang Allah ucapkan untuk Rasulullah dalam setiap sholat kita, “Assalamualaika ayyuhan nabiyuh warahmatullahi wabarokah tuh” itulah salam yang langsung Rasulullah jawab secara kontan, tunai kepada kita. Dalam nahwu bahasa “Ayuhan” di ucapkan untuk orang yang dekat jarak nya dengan kita, padahal jarak kita dengan Rasulullah jauh bermil mil dari sini, tapi kenapa Allah menyebutnya “Ayyuhan” buat orang yang dekat? Sebab Rasulullah sangat lah dekat dengan kita. Hati, cinta, do’a semua sangat dekat dengan kita. Maka berkhusuk lah dalam sholat kita, hadirkan Allah dan Rasulullah dalam setiap sholat kita, jika belum bisa minimal kita khusuk ditiga hal dalam sholat, yaitu ketika mengucapkan “Iyaa kanakbudu wa iya ka nastaim”, ketika membaca salam kepada Rasulullah “Assalamualaika ayyuhan nabiyu warohmatullahi wabarokatuh” dan dalam sunnah “Ini wajjahtu wajhiya lillazi”. Jika kita berusaha khusuk pada yang tiga tadi Insya Allah, Allah kasih kita ke khusu’an dalam sholat, sebab dalam hadist Nabi berkata “Tidaklah dari kalian yang mengucap salam untuk ku, maka Allah mengembalikan ruh ku kepada jasad ku”. Jadi hadir kan Rasulullah ketika mengucap salam dalam sholat kita.

Dulu Al Imam Syech Ali Ali Khasam di ceritakan oleh sang murid, jika beliau Al Imam Syech Ali Ali Khasam sedang sholat dan bersalawat kepada Rasulullah maka semua orang yang ada disitu yang sholat bersama beliau, mendengar langsung jawaban langsung dari Rasulullah. Sebab begitu khusu’ nya hati beliau, tulus murni cinta beliau untuk Rasulullah. Kalau kita mungkin masih banyak maksiat, oleh dari itu Allah belum buka hijab kita, tapi tetap lah yakin Rasulullah menjawab langsung salam kita, meski kita tidak mendengar langsung. Inilah cinta yang membuat hidup kita lebih indah, lebih bahagia, lebih luas, cinta kepada Rasulullah yang akan membawa kita pada kebahagiaan, sebab cinta pasti akan di balas pula dengan cinta.

Suatu ketika Abu Hurairoh keluar dari masjid nya ahli sufah, Abu hurairoh adalah salah satu perawi terbanyak hadist nya Rasulullah saw, beliau dalam keadaan kelaparan, lewat lah sayyidina Abu Bakar dan ia membacakan hadist Rasulullah saw di hadapan Abu Bakar. Ia berharap sayyidina Abu Bakar akan memberikan ia makanan, namun selesai membacakan hadist sayyidina Abu Bakar pergi. Tak lama bertemulah ia dengan sayyidina Umar dan ia melakukan hal yang sama namun sama seperti sayyidina Abu Bakar, sayyidina Umar pun setelah selesai langsung pergi sebab dua sahabat Rasulullah saw tidak mengerti apa maksud dari Abu Hurairoh. Lalu tak lama muncul lah Rasulullah dari kejauhan, Rasulullah sudah tau apa yang di inginkan oleh Abu Hurairoh, maka di ajaklah Abu Hurairoh kerumah Rasulullah saw, namun tak di temukan makanan apa apa.

Bayangkan oleh kita seorang pemimpin semesta alam, pemimpin para anbiya, pemimpin ummat terbanyak, Sayyidil Wujud Rasulullah saw tidak ditemukan makan sedikitpun makanan dirumah nya. Lihat lah sang Nabi Muhammad saw, bagaimana keadaan kita? makanan kita simpen buat berhari hari masih ada. Lalu Rasulullah menyuruh Abu Hurairoh untuk meminta susu ke tetangga sebelah rumah Rasulullah saw, diberilah susu itu namun hanya sedikit.
Saat itu Rasulullah menyuruh untuk semua orang yang ada di dalam masjid ahli sufa untuk datang kerumah Rasulullah. Saat itupun Abu Hurairoh bingung, bagaimna susu ini hanya sedikit sedangkan yang akan meminum banyak. Di masjid itu paling sedikit ahli sufah adalah tujuh puluh orang dan paling banyak tiga ratus orang. Maka datanglah mereka kerumah Rasulullah dan Rasulullah menyuruh mereka meminum susu itu bergantian masuk sepuluh orang sepuluh orang. Hingga selesai tersisalah tinggal Abu Hurairoh dan Rasulullah saw yang belum minum, maka Rasulullah saw menyuruh Abu Hurairoh meminum nya. Diminum sedikit disuruh minum lagi, di minum sedikit, lalu di suruh minum lagi. Rasulullah berkata “Sampai engkau kenyang Abu Hurairoh”, maka kenyanglah Abu Hurairoh dan mengatakan “Aku tak sanggup lagi ya Rasulullah, jika aku minum lagi maka akan keluarlah susu itu dari jari jari ku” dan Rasulullah pun menghabiskan susu itu. Inilah akhlak budi pekerti Rasulullah saw, cinta yang tulus untuk ummat nya, selalu mengutamakan ummat nya dari diri nya sendiri.

Samudra para pecinta, markas para muhibin, cinta yang tidak akan pernah kita dapati dalam hidup. Rasulullah pernah berkata “Sesungguh nya hidup ku baik untuk kalian dan mati ku pun baik untuk kalian” sebab hidup nya Rasulullah membawa banyak manfaat dan wafat pun banyak bawa manfaat untuk kita. Setiap hari senin dan kamis amal amal ummat nya Rasulullah dibawa ke hadapan Rasulullah, namun sebelum itu Rasulullah melihat dulu catatan catatan amal umat nya. Jika ia dapati amal amal umat nya baik, maka Rasulullah pun mengucap syukur kepada Allah, jika buruk maka Rasulullah mengucap istigfar memohon ampun kepada Allah. Begitu besar dan luas cinta Rasulullah untuk kita, nanti ketika hari kiamat, hari yang sangat menakutkan, hari dimana harta dan anak tidak akan membawa manfaat, disaat itu lah Rasulullah menunggu umat nya, membanggakan umat nya.

Sahabat pernah bertanya “Ya Rasulullah, pada saat kiamat itu datang, dimanakah aku dapat menemui mu ya Rasulullah?” maka Rasulullah menjawab “Aku akan ada di mizan ketika ummat ku di timbang amal baik buruk nya, jika tidak kau temui maka aku ada telaga kautsar tempat para ummat ku meminum dari telaga ku yang tidak akan merasa kehausan selama lamanya, jika tak kau temui maka aku ada di jembatan sirotul mustaqim ketika para ummat ku menyebrangi jembatan itu, aku akan menolong jika ada ummat ku yang terjatuh. Jika tidak kau temukan maka aku ada di depan pintu surga menunggu ummat ummat ku datang”.

Bagaimana jika sehari saja Rasulullah melihat keadaan kita, rumah tangga kita, anak anak kita, saudara saudara kita, yang rumah kita masih tidak sholat, membuka aurat, menonton tv yang tidak bawa manfaat. Malu rasa nya diri kita, apa yang mau kita bangga kan di hadapan Rasulullah? mau berkata apa kita di hadapan Rasulullah? inikah balasan dari cinta yang begtu besar untuk kita. Cinta yang tidak akan kita dapat kan lagi selamanya.

Cinta yang membela kita nanti di Yaumil Qiyamah, cinta yang tidak pernah berhenti berdo’a untuk kita, cinta yang dalam wafat nya hanya memikir kan kita, cinta yang membalas cinta yang sedikit dengan cinta yang banyak, dialah sang maha cinta, kekasih Allah, pemimpin para anbiya, pemimpin alam semesta, Sayyidil Wujud, dialah RASULULLAH SAW. Buktikanlah cinta kita kepadanya dengan istiqomah, sambut cinta nya dengan mengerjakan apa yang ia kerjakan, sholat witir sebelum tidur, khusu’ dalam sholat, hadir kan hati dan jiwa kita ketika bershalawat kepada nya, didik istri dan anak anak kita ke jalan yang Rasulullah sukai.

Jalsatu isnain, Masjid Almunawar,  1 desember 2014.

~Habib Muhammad bagir bin alwy bin yahya~