December 4, 2020

Apakah AbuHanifah termasuk golongan femahaman Irja

Home Forums Forum Masalah Tauhid Apakah AbuHanifah termasuk golongan femahaman Irja

Viewing 3 posts - 1 through 3 (of 3 total)
  • Author
    Posts
  • #76157917
    AbuNajiyah
    Participant

    Assalammu\’aliakum warahmatullahi wabaraktuh,

    Fadhilatusy Syaikh Habib Munzir [i] hafizhahullahu.[/i], Habib saya mau tanya Apakah Abu Hanifah termasuk golongan femahaman Irja keterngan tersebut dibahas di buku Syarh ushulu \’Itiqad. Dan lagi Habib sebagai penguatnya setahu saya bahwa Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit yang terkenal dengan Imam Hanafi. Dimana beliau adalah Imam madzhab Fiqh yang empat, yang tertua dari ke-empat Imam madzhab Fiqh itu. Beliau mempunyai pemahaman bid’ah yang sesat yaitu pemahaman murji’ah yang menganggap bahwa amalan tidak menaikkan iman dan tidak menurunkan iman. Sehingga iman para Nabi sama dengan iman orang-orang fasiq. Mereka mengatakan pula bahwa iman itu tetap dan tidak akan bertambah dan berkurang. Pemahaman murji’ah Abu Hanifah ini mengikuti jejak pendahulunya dari tokoh-tokoh penggagas pemahaman tersebut.

    Yang paling keras dari para Ulama Ahlul Hadits dalam membantah pemahaman sesat Abu Hanifah ini adalah Al Imam Al Hafidz Abdullah Bin Muhammad Bin Abi Syaibah Al Kufi (wafat pada tahun 235 H), beliau terkenal dengan karyanya yang monumental berjudul “Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah” dimana didalam karya tersebut beliau mengkritik Al Imam Al Hanafi dengan kritikan tajam dalam satu bab khusus di jilid 8 hal. 363 sampai 433 dengan judul Kitabu Roddi ‘Ala Abi Hanifah (kumpulan bab-bab yang berisi tentang bantahan terhadap Abu Hanifah). Kemudian Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam sub judulnya “Ini adalah keterangan tentang perkara dimana Abu Hanifah telah menyelisihi sunnah Nabi”. Dalam keterangan beliau, dibawakan 124 masalah bahwa Abu Hanifah telah menyelisihi sunnah dalam masalah-masalah tersebut.

    Ulama kedua yang paling keras dalam membantah Abu Hanifah adalah Al Imam Al Hafidz Abu Bakr Ahmad Bin ‘Ali Al Khotib Al Baghdady (wafat pada tahun 463 H). Dalam kitab karya beliau berjudul “Tarikh Baghdad” jilid 13, beliau membawakan riwayat hidup Imam Hanafi dan sekaligus kritikan-kritikan tajam yang beliau sampaikan tentang penyimpangan-penyimpangan Abu Hanifah, bahkan sebelum kedua Ulama tersebut tampil pula Abdullah Bin Ahmad Bin Hambal (putra Imam Hambali) yang menulis dalam kitab beliau “As Sunnah” dengan judul “Bantahan Terhadap Murji’ah”, padanya Imam Abdullah Bin Ahmad Bin Hambal membawakan riwayat-riwayat kritikan para Ulama terhadap Imam Hanafi dalam penyimpangannya tentang pemahaman murji’ah ini.

    Maka dengan adanya berbagai kritikan itu, menyebabkan kita semakin yakin bahwa tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) kecuali Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam. Dan kalau kita mensyaratkan untuk mengambil ilmu itu hanya dari orang yang tidak mempunyai kesalahan, maka semua pintu ilmu akan tertutup. Karena semua orang termasuk Shahabat Nabi yang menyampaikan Sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Sallam kepada kita, juga tidak lepas dari kekeliruan dan kesalahan.
    Hanya saja kita tidak boleh mengabaikan kesalahan-kesalahan itu sehingga kita mengikutinya. Dan tidak boleh pula kita menyudutkan para Ulama tersebut dengan tanpa merujuk kepada para Ulama yang se-level dengan mereka dalam menyoroti kesalahan mereka.

    Kita menerangkan kesalahan para Ulama dengan menukil keterangan para Ulama yang se-level dengan mereka tentang kesalahan itu dengan niat ikhlas karena Allah yakni untuk menyelamatkan diri kita dan ummat kita dari kesalahan tersebut, dan tidak dalam rangka mencari-cari kesalahan para Ulama itu.

    Wassalammu\’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    #76157930
    Munzir Almusawa
    Participant

    [b]saudaraku, saya sibuk sekali untuk merujuk kitab kitab induk, beri saya waktu beberapa hari untuk mempelajarinya dulu.[/b]

    #76158163
    Munzir Almusawa
    Participant

    Maksud perkataan Imam abu hanifah iman tidak bertambah dan berkurang yaitu (iman tidak bertambah dan tidak berkurang dari segi yg diimaninya (yaitu Allah swt, yaitu mu’manun bihi) dan bertambah serta berkurang dari segi keyakinannnya, maka dari itu iman malaikat, jin dan manusia tidak masuk kedalamnya (iman) kekurangan dan kelebihan didunia dan akhirat,
    karena seorang mu’min akan berkata: saya beriman kpd Allah dan semua yg datang dari Nya swt, dan saya percaya kepada Rasul dan semua yg dibawanya.

    dan ini semua secara global tidak ada perbedaan, apabila ada perbedaan tidak dinamakan dg iman, seperti seseorang yg tidak mempercayai akhirat atau Rasul dari para Rasul atau Qodar, seakan akan dia memungkiri semua yg harus diimani olehnya.
    (syarah fiqh akbar li abu hanifah yg disyarahkan oleh abu Mansur al maturidi hal 149 cetakan Qatar)

    maksud perkataan Abu hanifah adalah iman tidak bertambah dan berkurang dari segi kepercayaan orang itu sendiri, karena kepercayaan apabila tidak dg betul betul maka akan berada di derajat sangkaan (dhon) atau ragu2 (tardid), sedangkan sangkaan itu tidak ada faedahnya dalam masalah aqidah, firman Allah swt : “Sungguh persangkaan tidak bermanfaat apa apa pada kebenaran” (QS Yunus 36)
    Kepercayaan yg betul sebagaimana dikatakan oleh Imam fakhrur rozi tidak menerima tambahan dan kekurangan dari segi asal kepercayaan itu sendiri, bukan keyakinan.
    (syarah fiqh akbar li mulla ali al qori hal 184)

    Contoh masalah diatas:
    kita percaya Allah itu ada, malaikat percaya Allah itu ada, para nabi percaya Allah itu ada, maka dari segi asal kepercayaan maka semua percaya bahwa Allah itu ada, oleh sebab itu dikatakan bahwa iman manusia, malaikat, jin sama dari segi asal kepercayaannya, akan tetapi kekuatan iman (keyakinan) mereka itu berbeda beda menurut derajatnya masing masing

    Apabila seseorang mengatakan ahli kitab percaya Allah itu ada, namun ia mengingkari rukun rukun iman yg lain spt iman kepada nabi muhammad saw serta syariatnya, maka kepercayaan mereka itu tidak bisa dinamakan iman, sebagaimana yg diterangkan di atas.

    dalam kitab Alwashiyah diterangkan iman tidak bertambah dan tidak berkurang karena tidak terbayang bertambahnya iman kecuali berkurangnya kufur, bagaimana mungkin dalam diri seseorang ada dua keaadaan mukmin dan kafir, tidak ada dalam iman seorang mukmin keraguan, dan tidak ada dalam kufur seorang kafir keraguan, sebagaimana firman Allah ”Mereka itulah mukmin yg sebenar benarnya” (QS Al Anfal: 2) dari satu sisi, namun dan dari sisi lain firman Allah swt : ”Merekalah orang orang kafir yg sebenar benarnya” (QS Annisa’ 150), dan orang yg berbuat maksiat dari ummat muhammad saw termasuk dari golongan mukmin haqqo (mukmin yg sebenar benarnya) bukan dari qolongan kafir haqqo.

    Ini semua keterangan maksud dari masalah perkataan iman tidak bertambah dan tidak berkurang.

    Sebelum kita menuduh seseorang dari salah satu golongan, kita harus tahu golongan apakah itu?
    MURJI’AH adalah golongan yg mengatakan bahwa tidak ada balasan dari perbuatan maksiat jika dibarengi dg iman, seperti tidak ada manfaatnya perbuatan taat jika dibarengi dg kufur (lihat kitab Al milal wannihal karangan Abil fatah Muhammad bin Abdul karim bin Abubakar Ahmad Syahrastani juz 1 hal 162).

    MURJI’AH adalah golongan yg mengatakan tdk ada balasan dari perbuatan maksiat jika dibarengi dg iman, dan orang orang yg berbuat dosa besar menurut mereka orang yg sempuna imannya dan tdk berhaq masuk neraka.(SYARAH AQIDAH AL WASITIYAH LI IBN TAIMIAH HAL 191)

    Perbedaan abu hanifah dg imam imam lain hanya dlm definisi iman saja, karena Imam Abu hanifah tidak memasukkan amal dlm definisi iman,maka ia dianggap oleh sebagian golongan bahwa ia termasuk qolongan murji’ah, padahal Jumhur Ulama Ahlussunnah waljamaah mengatakan bahwa beliau bukan dr golongan murji’ah yg sesat.

    Imam abu ja’far attohawi dlm kitab usul aqidah islamiah berkata: perbedaan hanya lafad saja, dan dalil yg menunjukkan bahwa iman itu bertambah dan berkurang adalah menurut definisi iman seorang yg sempurna yg tersusun atas kepercayaan (tasdiq) dan amal, sedang bertambah dan berkurangnya tergantung dari kesempurnaan amal tsb.
    Sedang dalil yg menunjukkan iman tdk bertambah dan tdk berkurang menurut dasarnya iman (asli iman) yaitu kepercayaan(attasdiq).

    Berkata imam fakhrurrozi: sesungguhnya perbedaan dari dua pendapat bukan sebenarnya (laisa haqiqian) akan tetapi perbedaan lafdzi, karena dalil yg menunjukkan bahwa iman itu tidak ada perbedaannya diantara satu dg yg lain menurut asal kepercayaan (asluttasdiq) dan dalil yg menunjukkan ada perbedaan dlm iman adalah menurut kesempurnaan amal, dan perbedaan dalam masalah ini hanyalah definisi saja. (asshohih syarah aqidah tohawiyah hal 98-99)

    Berkata Ibn Taimiyah: dan irja yg dituduhkan kepada sebagian imam ahli kufah spt Abu hanifah karena perkataan mereka bahwa amal bukan dari iman, tapi dg itu mereka menyamai pendapat ahlussunnah bahwa Allah menghukum orang orang yg berbuat dosa besar dineraka, kemudian mengeluarkannya dg syafaat atau dg sebab yg lain, maka dari itu irja’ spt ini tdk kufur. (syarah aqidah wasitiyah li ibn taimiyah 191)

    Juga barkataan dari Ibn Taimiyah: Irja’ yg masuk ke dalam fuqaha dari imam imam ahlul ’ilm waddiin tidak ada kekufuran dari salah satu dari mereka, dan ini semua perbedaan aqwal (perkataan) bukan perbedaan aqidah, (risalah al iman hal 343 li imam al mujtahid abu ubaid al qosim bin salam)

    Berkata Imam Ibn hajar: dan apabila engkau telah mengerti wahai orang orang yg diberi petunjuk masalah masalahh yg lalu (setelah menerangkan masalah iman) maka dari itu haruslah dapat membedakan perkataan Imam Abu hanifah rohimahullah dlm masalah iman dg golongan murji’ah yg sesat(lht al fath juz 1 hal 110)

    maka tidak benar mereka yg mengatakan Imam Abu hanifah sesat.

    demikian saudaraku yg kumuliakan,

    wallahu a\’lam

Viewing 3 posts - 1 through 3 (of 3 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Tauhid’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru