December 2, 2020

Benarkah Imam Asy\’ari Bertaubat Dari Kefahamannya

Home Forums Forum Masalah Umum Benarkah Imam Asy\’ari Bertaubat Dari Kefahamannya

Viewing 2 posts - 1 through 2 (of 2 total)
  • Author
    Posts
  • #84892640
    Qudamah
    Participant

    Assalamu\’alaikum,,ya Habib,,,

    Saya ucapin terimakasih bib, atas beberapa jawaban yang habib berikan berkenaan dengan pertanyaan saya, namun maaf ganggu lagi nih bib, karena ada pertanyaan yang cukup membuat bingung,,

    Begini bib,
    saya punya teman yang mengatakan bahwa Imam Asy\’ari pernah bertaubat dari Muktazillah dan kemudian dia juga mengatakan bahwa kitab yang dipakai di pesantren NU adalah kitab i\’tiqad (sifat 20) yang sudah terpengaruh dengan faham Muktazillahnya Asy\’ari sebelum bertaubat.

    Bib, mohon dengan sangat pencerahannya, karena terus terang saya sangat tidak suka akan hal ini (mencela imam ahlussunnah wal jama\’ah) dengan mengatakannya sebagai pengikut muktazillah dan kitabnya kita pakai dikatakan sebagai kitab yang sudah terpengaruh dengan faham muktazillah,,naudzubillah

    berikut rujukan mereka bib,,

    [i]Al-Hafizh Ibnu Asakir ber­kata di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy\’ari, \’\’Abu Bakr Ismail bin Abu Muhammad al­-Qairawani berkata, \’Sesungguh­nya Abul Hasan al-Asy\’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu\’taziIah selama 40 tahun dan jadilah be­liau seorang imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari, sesudah itu beliau kembali ke Bashrah dan shalat di masjid Jami\’ Bashrah. Seusai shalat Jum\’at beliau naik ke mimbar se­raya mengatakan: Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama-­sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon pe­tunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta\’ala sehingga Allah memberikan petunjuk kepada­ku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelum­nya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini. maka beliau melepas baju beliau dan beliau serahkan kitab-kitab tersebut kepada manusia. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut me­reka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui kedudukan yang agung dari Abul Hasan al-Asy\’ari dan menjadikan­nya sebagai imam.\’\"

    Para pakar hadits (Ashhabul hadits) sepakat bahwa Abul Hasan al-Asy\’ari adalah salah seorang imam dari ashhabul hadits. Beliau ber­bicara pada pokok-pokok agama dan membantah orang-orang menye­leweng dari ahli bid\’ah dan ahwa\’ dengan menggunakan al-Qur\’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat. Beliau adalah pedang yang terhu­nus atas Mu\’taziah, Rafidhah, dan para ahli bid\’ah.

    Abu Bakr bin Faurak berkata, \’\’Abul Hasan al-Asy\’ari keluar dari pemikiran Mu\’tazilah dan mengikuti madzhab yang sesuai dengan para sahabat pada tahun 300 H.\"

    Abul Abbas Ahmad bin Mu­hammad bin Khalikan berkata dalam kitabnya, Wafayatul A\’yan (2/446), \’\’Abul Hasan al-Asy\’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu\’tazilah kemudian bertaubat.\"

    Al-Hafizh Ibnu Katsir berka­ta dalam kitabnya, al-Bidayah wan Nihayah (11/187), \"Sesungguhnya Abul Hasan al-Asy\’ari awalnya adalah seorang Mu\’tazilah kemu­dian bertaubat dari pemikiran Mu\’tazilah di Bashrah di atas mimbar, kemudian beliau tampakkan aib-aib dan kebobrokan pemikiran Mu\’tazilah.\"

    Al-Hafizh adz-Dzahabi ber­kata dalam kitabnya, al-Uluw lil Aliyyil Ghaffar, \’\’Abul Hasan al­Asy\’ari awalnya seorang Mu\’tazilah mengambil ilmu dari Abu Ali al-­Juba\’i, kemudian beliau lepaskan pemikiran Mu\’tazilah dan jadilah beliau mengikuti Sunnah dan mengikuti para imam ahli hadits.\"

    Tajuddin as-Subki berkata dalam kitabnya, Thabaqah Syafi­\’iyyah al-Kubra (2/246), \’\’Abul Hasan al-Asy\’ari -mengikuti pe­mikiran Mu\’tazilah selama 40 tahun hingga menjadi imam ke­lompok Mu\’tazilah. Ketika Alloh menghendaki membela agama­Nya dan melapangkan dada beliau untuk ittiba\’ kepada al-Haq maka beliau menghilang dari manusia di rumahnya.\" (Kemudian Tajuddin as-Subki menyebutkan apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Asakir di atas).

    Ibnu Farhun al-Maliki berkata dalam kitabnya Dibajul Madz­hab fi Ma\’rifati A\’yani Ulama\’il Madzhab (hal. 193), \’\’Abul Hasan al-Asy\’ari awalnya adalah seorang Mu\’tazilah, kemudian keluar dari pemikiran Mu\’tazilah kepada madzhab yang haq madzhabnya para sahabat. Banyak yang heran dengan hal itu dan bertanya se­babnya kepada beliau, Maka be­liau menjawab bahwa beliau pada bulan Ramadhan bermimpi bertemu Nabi Shalallahu \’alaihi wasallam yang memerintahkan ke­pada beliau agar kembali kepada kebenaran dan membelanya, dan demikianlah kenyataannya -walhamdulillahi Taala-.\"

    Murtadha az-Zabidi berkata dalam kitabnya Ittihafu Sadatil Muttaqin bi Syarhi Asrari lhya\’ Ulumiddin (2/3), \’\’Abul Hasan al-Asy\’ari mengambil ilmu kalam dari Abu Ali al-Jubba\’i (tokoh Mu\’tazilah), kemudian beliau tinggalkan pemikiran Mu\’tazilah dengan sebab mimpi yang beliau lihat, beliau keluar dari Mu\’tazilah secara terang-terangan, beliau naik mimbar Bashrah pada hari Jum\’at dan menyeru dengan lantang, \’Barangsiapa yang telah mengenaliku maka sungguh telah tahu siapa diriku dan barangsiapa yang belum kenal aku maka aku adalah Ali bin Ismail yang dulu aku mengatakan bahwa al-Qur\’an adalah makhluk, bahwasanya Allah tidak bisa dilihat di akhirat dengan mata, dan bah­wasanya para hamba menciptakan perbuatan-perbuatan mereka. Dan sekarang lihatlah aku telah bertau­bat dari pemikiran Mu\’tazilah dan meyakini bantahan atas mereka,\’ kemudian mulailah beliau mem­bantah mereka dan menulis yang menyelisih pemikiran mereka.\"

    Kemudian az-Zabidi berkata, \"Ibnu Katsir berkata, \’Para ulama menyebutkan bahwa Syaikh Abul Hasan al-Asy\’ari memiliki tiga fase pemikiran: pertama mengikuti pemikiran Mu\’tazilah yang kemu­dian beliau keluar darinya, Kedua menetapkan tujuh sifat aqliyyah, yaitu; Hayat, Ilmu, Qudrah, Iradah, Sama\’, Bashar, dan Kalam, dan beliau menakwil sifat-sifat khabariyyah seperti wajah, dua tangan, telapak kaki, betis, dan yang semisalnya. Ketiga adalah menetapkan semua sifat Allah tan­pa takyif dan tasybih sesuai man­haj para sahabat yang merupakan metode beliau dalam kitabnya al-Ibanah yang beliau tulis belakangan.\’\" [/i]

    Jazakallah,,

    #84892714
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Curahan Rahmat Nya swt semoga selalu menghujani kemudahan pada hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    apapun yg disangahkan mereka, ketahuilah bahwa Imam Asy\’ariy diakui oleh Imam Imam Ahlussunnah waljamaah, dan jika ia batil maka niscaya akan dibatilkan pula oleh Imam Imam kita,

    sepanjang riwayat yg disampaikan, justru memuji dan mensucikan Imam Asy\’ariy, bahwa ia kini dalam kebenaran, mengenai dahulunya, maka seluruh khulafa urrasyidin pun kafir, seluruh muhajirin dan anshar pun kuffar, namun mereka kemudian sampai pada kebenaran,

    kita tak butuh pendapat orang bodoh untuk menilai imam imam kita.

    anda mintalah pada teman anda itu, apa saja poin poin ajaran Imam Asy\’ariy yg kini dijalankan dan dipakai oleh ahlussunnah waljamaah yg dianggap sesat?,

    tunjukkan poin poinnya dan saya akan menjelaskan semuanya, jika mereka tak mampu menunjukkannya maka itu adalah jawaban yg jelas bahwa mereka adalah batil,

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

Viewing 2 posts - 1 through 2 (of 2 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru