May 9, 2021

ILMU USHULUDDIN

Home Forums Forum Masalah Tauhid ILMU USHULUDDIN

Viewing 10 posts - 1 through 10 (of 11 total)
  • Author
    Posts
  • #105961934
    ADHI RAHMAT
    Participant

    لسلام ءليكم ورحمة الله وبركاته

    Dgn hormat kehadapan Ayahanda habib yg dimuliakan Allah swt.

    Dahulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah belajar sifat2 yg wajib bagi Allah, tapi hanya sekedar hafalan saja tanpa maknanya, sekarang saya mau belajar kepada Ayahanda habib secara langsung mendalaminya sedikit demi sedikit.

    Dlm kitab Khutbah, karya Hb Thahir bin Husain disebutkan \"…bahwa pokok dan dasar agama adh mengenal dan memahami (ma\’rifat) sebenar2nya Tuhan yg disembah, sebelum melakukan ibadat. Dan itulah hakikat makna syahadat.\"

    Dng kata lain, utk melakukan ibadat itu hrs disertai dng ilmu pengetahuan ttg siapa Yang disembahnya itu, yakni ttg Allah dan sifat2Nya, ttg syariat2Nya, dsb. Tanpa itu semua akan sia2lah amal ibadat yg dilakukan.

    Ttg sifat2 yg wajib bagi Allah swt, diantaranya adh \’WUJUD\’ (yg artinya: \’ada\’, dan mustahil \’tiada\’).

    Adanda yg jahil dan fakir ini, dng segala kerendahan hati mohon pelajaran dari Ayahanda habib;
    1.apa pemahaman ttg sifat \’wujud\’ yg wajib bg Allah swt.
    2.bagaimana pengamalannya dlm kehidupan sehari-hari.
    3.dimana penghayatannya dlm ibadah sholat.

    Demikian disampaikan terimakasih sebelumnya atas pelajaran yg Ayahanda habib berikan.

    Mohon maaf jika ada kata2 saya yg salah dlm tulisan ini, dan semoga Ayahanda habib selalu dlm keadaan sehat wal afiat.

    Wassalmu\’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Hormat Ananda,
    Adhi

    #105961944
    Munzir Almusawa
    Participant

    alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kedermawanan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dengan kesejahteraan

    saudaraku yg kumuliakan,
    1. Wujud, artinya Allah itu Ada, dan Mustahilnya adalah Allah itu tiada, maka apapun yg terjadi, yaitu sebelum alam ini ada, saat alam ini berlangsung, dan hingga alam ini sirna, Allah swt wajib ada. (selalu ada), dan keberadaan Allah swt tak terikat dengan keberadaan zaman, karena Allah swt ada sebelum segalanya ada, dan keberadaan Allah abadi.
    keberadaan Allah swt tidak berawal dan tidak berakhir, berbeda dengan keberadaan makhluk yg berawal dan berakhir,

    keberadaan Allah swt adalah akan selalu ada, sedangkan keberadaan makhluk tidak wajib ada, boleh ada boleh belum lahir, boleh wafat, boleh tiada, namun Allah swt \"Ada\" tanpa batas.

    2. pengamalannya dalam kehidupan sehari hari adalah menempatkan Allah swt kepada yg paling ada dari semua yg ada, maka pada Nya lah bertawakkal, pada Nya lah menghukumi kehidupan, pada Nya lah tempat mengadu, dan terus berjuang menghadirkan Allah swt dihati dalam segala keadaan.

    3. demikian dan lebih tajam didalam shalat, karena shalat adalah memalingkin diri dan jiwa dari semua makhluk, kepada Allah Alkhaliq.

    perlu diketahui bahwa serendah rendah tauhid adalah memahami bahwa Allah itu tunggal, tidak bersekutu.

    jika ia telah tahu dan mengakui ini maka seluruh amalnya tidak sia sia, dan semakin dalam pemahaman tauhidnya maka semakin sempurna ibadahnya.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

    #105962004
    ADHI RAHMAT
    Participant

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Ayahanda habib yg dimuliakan Allah swt.

    Alhamdulillah dan terimakasih,
    Mohon berkenan!, saya dpt melanjutkan kembali pelajaran dr Ayahanda.

    Ayahanda habib yg mulia,

    apa2 yg saya sampaikan dlm tulisan ini adh dr lubuk hati yg paling dalam, maksud tdk lain dan tdk bukan adh pengharapan saya kpd Ayahanda utk mengkoreksi & membetulkan yg salah, kemudian mengijazahkannya kpd saya sekedar mensyahkan keimanan saya, dan juga pelajaran2 yg diterima dr Ayahanda sbg Guru.

    Saya mengimani bahwa Allah swt itu wajib \’ada\’, selalu ada dan tetap ada (abadi),
    Mengutip dr salah satu artikel Ayahanda, disebutkan bahwa \"…setiap debu yang ada di alam semesta ini tercantum padanya nama Allah, & dlm setiap sel tubuh kita itu ada cahaya nama Allah, & seluruh sel tubuh itu milik Allah\".

    ini artinya diri kita adh milik Allah, gerak kita dan semua mahluk di alam semesta ini juga dari Allah,
    krn yg tampak hanya Allah, nama Allah dan kebaikan2 Allah swt sajalah berarti yg pantas dipuji dng segala puji hanya Allah saja sebab kita semua tdk memiliki apa2 dan tdk bisa berbuat apa2, dng kata lain kita sbg mahluk semua fakir, lemah tiada daya, hina juga fana.
    demikiankah wahai Ayahanda..? mohon koreksi dan pemahaman yg lebih !

    Seperti Ayahanda sampaikan bahwa,
    keberadaan Allah tidak berawal,
    berarti ini adh sifat ke-2 yg wajib bg Allah yaitu \"QIDAM\", dan
    keberadaan Allah tiada berakhir, berarti ini adh sifat ke-3 yg wajib bg Allah yaitu \"BAQA\".
    demikiankah wahai Ayahanda ..? mohon pemahaman yg lebih !

    Trus kita mengimani Allah swt itu bersifat \’Qidam\’ & \’Baqa\’, bgmna pengamalannya dlm keseharian dan juga dlm ibadah sholat?

    Demikian yg saya sampaikan, semoga Ayahanda tetap dlm keadaan sehat walafiat.

    Wassalmu\’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Hormat Ananda,
    Adhi Rahmat

    #105962042
    Munzir Almusawa
    Participant

    alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kedermawanan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dengan kesejahteraan

    saudaraku yg kumuliakan,
    Allah swt meminjamkan pada kita alat alat berupa tubuh dan bumi ini, nah…, disini kita diberi kebebasan, namun kebebasan kita adalah kebebasan yg terikat.

    bagaimana..?

    takdir sudah Allah swt tentukan, namun kita pula yg berperan atas ketentuan itu.

    Amir diberi mobil, maka jika ia maju ke depan, ia akan sampai kerumah pembagian harta, jika ia kekanan, maka ia akan sampai ke restoran, jika ia kekiri ia akan sampai ke jurang api, jika ia ke belakang maka ia akan dirampas oleh para perampok..

    maka amir diberi kebebasan, terserah mau mengarah kemana, namun amir tetap terikat dengan keadaan (takdir), jika ia ke kiri maka tak mungkin ia temukan restoran, ia tetap akan temukan jurang api, jika ia pelahan kekiri lalu balik ke kanan maka ia mendekat pada api lalu mengarah ke restoran, amir bebas memilih, namun ia terikat dengan keadaan.

    contoh lain yg mirip, anda berada di Jakarta, jika anda bisa ke bandung, ke Banten, ke cikampek, atau ke bandara untuk pergi ke tempat lebih jauh.

    namu jika anda mengarah ke bandung lewat puncak, maka anda akan melihat kesejukan fenomena puncak, anda menikmatinya atau tidak, anda tetap melewatinya dan pasti.
    jika anda ke Bandung melalui cikampek, anda akan menemui tol yg panjang, dan itu pasti anda temui dan mustahil tidak.

    jika anda mengarah kedepan anda misalnya, anda jalan lurus saja, anda akan sampai kerumah A, jika sedikit mengarah kekanan maka anda akan sampai kerumah B, jika mengarah lebih kekanan lagi akan sampai ke C, anda bebas mau kemana namun tak mungkin anda kekiri lalu menemukan rumah C, namun bisa saja anda ke kiri lalu menemui C disana karena ia sedang diluar rumah..

    maksud penjelasan saya adalah, demikianlah takdir, anda berperan menentukan kemana takdir anda, namun anda terikat juga dengan Takdir yg tak bisa membuat anda merubah keadaan tsb, sebagaimana contoh tadi bahwa kedepan tak mungkin anda akan temui api, pasti akan anda temui pembagian harta, itu tak bisa anda rubah, sudah takdirnya demikian, namun anda bisa merubah arah utk memilih yg lainnya.

    cuma bedanya dalam Takdir Allah perbedaan arah keberuntungan dan kerugian ini adalah perdetik, terhitung niat, langkah, gerak gerik dll. sangat rumit dan pelik sekali.

    mengenai Qidam dan Baqa sedikit penjelasannya bahwa Allah swt itu tidak terikat dengan kapan dan hingga.

    maka jika ditanyakan : Kapan Allah itu ada?
    atau ditanyakan hingga kapan Allah berakhir?

    maka ketahuilah bahwa kalimat \"kapan\" itu adalah ciptaan Allah swt, dan kalimat kapan tak bisa mengikat Allah swt, karena Allah sudah Maha Ada sebelum kalimat kapan itu ada.

    kapan adalah pertanyaan waktu, dan waktu itu dicipta Allah dengan perputaran bumi, bulan dan matahari, maka perhitungan waktu itu sendiri adalah ciptaan Allah swt, maka kalimat kapan tak bisa ditaruhkan pada Dzat Allah swt, karena Allah Maha Ada sebelum kalimat kapan itu ada.

    demikian pula Hingga, Allah swt akan terus ada ketika semua yg \"hingga\" akan berakhir,

    semua makhluk terikat dengan kalimat Hingga. karena mereka fana, namun Allah swt tak terikat dengan kalimat Hingga, karena kalmat hingga adalah ciptaan Allah swt.

    bagaimana manusia?, bukankah manusia pun abadi kelak..?

    namun keabadian manusia itu terikat pada kehendak Allah, mereka bukan pemilik keabadian, mereka hanya hamba bagi Yang Memiliki keabadian, maka keabadian mereka itu adalah keabadian yg fana, yaitu keabadian yg semu, dan bisa saja berakhir, karena terikat dengan kehendak Allah swt.

    mengenai penerapannya pada kehidupan dan ibadah kita adalah dengan mengingat hakikat Qidam dan Baqa Allah swt ini maka kita memahami bahwa inilah tujuan kehidupan kita, Allah swt…, bukan kaya atau miskin, terhormat atau hina, maka ini akan menenangkan kita saat kita sedih dan susah, dan akan membuat kita tidak lupa diri saat dalam kenikmatan dan kegembiraan.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

    #105962053
    ADHI RAHMAT
    Participant

    ا لسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Ayahanda habib yg dimuliakan Allah swt.

    Alhamdulillah dan terimakasih, sekarang ananda jadi mengerti dan bertambah ilmu berkat Ayahanda dan sungguh terasa semakin jahil diri ananda, ya walaupun di buku2 umum ada juga pelajaran ringkas ttg sifat2 yg wajib bagi Allah, tapi ilmu-Nya Allah swt itu kan Maha Luas dan Tiada Terbatas. Tentu seperti takdir Allah swt yg Ayahanda contohkan di atas, jika semakin rajin seseorang menuntut ilmu dan bertafakur, maka semakin dalam pemahamannya ttg ilmu-Nya Allah, … demikiankah wahai Ayahandaku?

    Tentang sifat ke-4 yg wajib bagi Allah adh \’مُخَالَفَةٌ لِلْحَوَادِثِ \’ (artinya; Allah swt berlawanan dg segala sesuatu yg baru).

    Bagaimana pemahamannya, dan juga pengamalannya dalam kehidupan dan ibadah sehari-hari ?

    Demikian, atas pelajaran yg Ayahanda habib berikan sebelum dan sesudahnya, ananda mengucapkan terimakasih kembali dan semoga Ayahanda tetap dlm keadaan sehat walafiat.

    Wassalmu\’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Hormat Ananda,
    Adhi Rahmat

    #105962099
    Munzir Almusawa
    Participant

    alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kebahagiaan dan kesejukan hati semoga selalu menaungi hari hari anda

    saudaraku yg kumuliakan,
    \"mukhalafatul lilhawadits adalah berbeda dengan semua makhluk\"

    yaitu misalnya ALlah Maha Mendengar pada Allah, dan manusia pun mendengar, namun sifat Mendengar ALlah swt berbeda dengan sifat mendengar manusia/makhluk, Allah Maha Mendengar dan mendengar getaran hati, sedangkan pendengaran makhluk terbatas dg frekwensinya masing masing, Allah membatasi pendengaran manusia, mereka bisa mendengar yg jauh namun tak bisa mendengar yg sangat dekat,

    telinga manusia tak bisa mendengar suara aliran darah ditelinganya, atau suara detak urat nadinya, atau aliran sel yg mengalir di telinganya, karena Allah swt menutup frekwensi manusia hingga hanya mendengar hal hal yg terbatas saja,

    jika manusia mendengar semua suara itu maka manusia tak akan bisa istirahat atau tenang karena ributnya suara disekitar telinganya. subhanallah..

    namun ALlah swt Maha Mendengar tanpa batas, dan Allah Maha Mendengar tanpa membutuhkan telinga atau alat mendengar, beda dengan makhluk yg tak bisa mendengar kecuali dg alat.

    demikian pada yg lainya, melihat, bicara, dll, Allah tak perlu mata untuk melihat, berbicara namun tak butuh lisan dan suara,

    demikian sekilas makna : Mukahalafah lilhawadits.

    mukhalafah artiknya berbeda, dan hawadist artinya semua yg baru, yaitu makhluk

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

    #105963367
    Sory Sukmantara
    Participant

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Habib Munzir Yth.

    Saya mengamati penjelasan-penjelasan Habib atas beberapa pertanyaan dari para santri, dimana dari penjelasan yang diutarakan oleh Habib, tidak memberikan pemahaman yang jelas dan terarah, terlebih dalam Ilmu Ushuluddin sebagai ilmu pokok Agama Islam.

    Ilmu Ushuluddin adalah ilmu yang membahas tentang Tuhan, atau di kenal dengan Ilmu Ketuhanan.
    Maksud dan tujuannya adalah supaya Tuhan yakni Alloh SWT. Ddapat dipahami dan diketahui secara pasti, bukan kira-kira atau prasangka. Kata Alloh yang terdiri dari 3 (tiga) hurup membahas mengenai Dzat,Sifat, dan Fi’il ( perbuatan ).

    Dalam penjelasan Habib tentang sifat Wujud, tentu saja yang dibahas tentang wujudnya , adalah Dzat, Sifat dan Fi’il nya.

    Sebelum saya menguraikan lebih lanjut tentang Dzat, Sifat,Fi’il, maka ada baiknya saya bahas dulu pengertian tentang Wujud itu sendiri.
    Kata Wujud diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai Ada, adapun pengertian Wujud, sebenarnya berbeda dengan pengertian Ada. Dalam kamus Bahasa Indonesia , pengertian Wujud adalah : Sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra, baik oleh indra penglihatan, pendengaran,perasa, peraba dan seterusnya.
    Contoh :
    1.Sebuah benda yang terlihat oleh pandangan mata, maka benda tersebut dikatakan wujud, karena dapat ditangkap oleh indra penglihatan.
    2.Suara yang terdengar oleh telinga , maka suara itu disebut wujud, karena dapat ditangkap oleh indra pendengaran.
    3.Angin yang menerpa kulit, keberadaan angin terasa oleh indra peraba kulit, maka keberadaan angin disebut wujud.
    4. Rasa manis yang terasa di lidah, maka manis itu disebut wujud, karena dapat ditangkap oleh indra perasa.
    5.Bau harum yang tercium oleh hidung, maka harum itu disebut wujud, karena dapat ditangkap oleh indra penciuman.

    Sesuatu yang dikatakan Wujud, sebagaimana yang saya jelaskan dalam contoh di atas, sudah pasti ada, namun sesuatu yang dikatakan ada, belum tentu Wujud.
    Contoh : Ada ikan di dalam air.
    Ketika keberadaan ikan belum terlihat oleh mata, belum terba oleh indra peraba, maka belumlah bias ikan tersebut dikatakan wujud, namun hanya bias dikatakan ada, karena Wujud merupakan pembuktian dan penyaksian oleh indra itu sendiri.

    Yang pertama yang saya koreksi disini adalah tentang pembahasan Habib mengenai :
    1.Melihat dan Maha Melihat.
    Melihat adalah menggunakan indra, sedangkan Maha Melihat, tidak menggunakan indra.
    2.Mendengar dan Maha Mendengar.
    Mendengar adalah menggunakan indra sedangkan Maha Mendengar, tidak menggunakan indra.
    Yang memiliki indra, adalah Makhluk, yakni manusia, Hewan, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Sedangkan bagi Alloh, Maha Melihat Nya dengan menggunakan Sifat Nya yakni Al Basyar. Maha Mendengar Nya Alloh dengan sifatnya yakni Sifat Samma’.
    Perbedaan yang nyata dan jelas antara melihat yang menggunakan alat yang disebut indra, dengan Maha Melihat yang tidak menggunakan indra.

    Berbicara mengenai Wujud Alloh, harus terlebih dahulu memahami tatanan, yakni tahap demi tahap.
    Tahap pertama, harus menjelaskan tentang kedudukan Dzat, yakni Dzatulloh, atau Dzat Nya Alloh. Tentang kedudukan Sifat dalam hal ini Sifatulloh atau Sifat Nya Alloh. Tentang kedudukan Fi’il yakni perbuatan-perbuatan Alloh. Hal ini harus dilakukan, supaya ummat dapat memahami dengan benar tentang apa itu Dzat, Sifat dan Fi’il Alloh itu .
    Disamping ummat diberikan pengertian mengenai Dzat, Sifat , Fi’il, juga diberikan contoh-contoh nyata akan apa yang ada dialam semesta ini, maupun yang ada di dalam diri manusia itu sendiri, sebab penjelan dan pengertian tanpa contoh, tidaklah akan dapat dipahami secara sempurna, sebab dalam hal mengajar dan menjelaskan kepada orang lain, tidak boleh sedikitpun menimbulkan keraguan atau kurang paham bagi mereka yang menerima penjelasan.
    Kedudukan seorang Guru, seperti Habib saat ini, haruslah seperti obor, yang menerangi pikiran dan hati umat manusia yang ada. Apalah artinya sebuah Obor, apabila Obor itu sendiri, bukanlah sebagai penerang.

    Dalam hal membahas tentang sifat, tentu saja tidak terlepas dengan yang disifati.
    Contoh :
    Manisnya gula, ketika dicampur dengan air teh, maka air the akan menjadi manis. Manisnya air teh tersebut adalah manis yang disifati, sedangkan manisnya gula, adalah manis yang mensifati.
    Al Hayyun (Hidup) adalah sifat yang mensifati, sedangkan hidupnya makhluk , adalah hidup yang disifati.
    Untuk mengenal Sifat, atau yang mensifati, harus dikenal atau dipahami lewat yang disifati.

    Untuk mengenal dan memahami Al Hayyun ( Hidup), sebagai Sifat yang mensifati, maka harus dikenal atau dipahami melalui yang disifati, yaitu makhluk yang dihidupkan Nya.
    Melihat dan memahami wujud yang disifati, itulah memahami tentang sifat yang mensifati itu sendiri.
    Untuk memahami tentang adanya kekuatan, tentu saja harus lewat anggota gerak jasmani yang digerakan oleh kekuatan itu sendiri, karena tidak mungkin dapat bergerak kalau tidak digerakan oleh kekuatan. Kekuatan adalah yang mensifati, sedangkan anggota tubuh yang bergerak, adalah yang disifati.

    Dalam hal menjelaskan dan menjabarkan ilmu, haruslah menggunakan atau berdasarkan Dalil-dalil :
    1.Dalil Fi’il, yakni Dalil tentang kenyataan-kenyataan.
    Bergeraknya anggota tubuh, karena digerakan oleh kekuatan, ini adalah merupakan satu kenyataan, sebab definisi dalil adalah : Kenyataan yang tidak dapat dibantah, bergeraknya anggota tubuh yang digerakkan oleh kekuatan,ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah,dan ini dinamakan Dalil Fi’il.

    2.Dalil Aqli, yakni dalil yang diterima oleh akal, atau dipahami secara akal.
    Sesuatu penjelasan yang menyangkut kenyataan-kenyataan yang tidak dapat dibantahkan , kemudian dapat diterima secara akaliyah , ini yang disebut dengan Dalil Aqli.

    3.Dalil Nash , yakni dalil-dalil yang ada di dalam Qur’an dan Hadist Nabi.
    4.Dalil Samm’I, adalah merupakan dalil tentang apa yang kita dengar dan ketahui, melalui /lewat penuturan orang-orang Alim terdahulu.

    Dalam hal menjabarkan Ilmu, haruslah berpijak /berdasarkan kepada ke empat dalil tersebut di atas,dengan maksud dan tujuan nya adalah supaya jelas dan dapat dipahami , baik lewat kenyataan-kenyataan, diterima dengan akal,dan berpijak kepada Nash, serta sesuai dengan pandangan Ulama-ulama (Orang Alim ) sebelumnya.

    Lebih lanjut saya menguraikan untuk Jamaah setia Majelis Rasulullah,

    Sifat Qidam.
    Qidam artinya terdahulu, mustahilnya didahului, yang terdahulu ada adalah Al Hayyun yakni Hidup, sedangkan yang dihidupkan adalah yang baru atau yang didahului.
    Kekuatan adalah yang terdahulu, sedangkan yang digerakkan adalah yang baru atau yang didahului.

    Sifat Baqo’.
    Baqo’ artinya kekal, mustahil binasa, yang kekal itu adalah Al Hayyun ( Hidup ), sedangkan yang binasa adalah yang dihidupkan. Yang kekal adalah kekuatan, sedangkan yang binasa adalah yang digerakkan.

    Hidup dan Kekuatan mustahil binasa, karena Dia bukanlah Jirrim, yakni bentuk-bentuk kasar, hanya bentuk kasarlah yang mengalami binasa atau perubahan.
    Hidup dan kekuatan juga bukanlah Jissim, yakni tubuh halus, karena bentuk Jissim itu sendiri mengalami perubahan, seperti sedih dan gembira, susah dan senang dan sebagainya.
    Perubahan dari sedih menjadi gembira atau dari susah menjadi senang, ini yang disebut mengalami perubahan, atau tidak kekal. Yang mengalami perubahan ini adalah Jissim yakni tubuh halus, atau yang disebut dengan Ruh. Maka disini Alloh bukanlah Jirim ataupun Jissim.

    Ini saja dulu penjelasan singkat dari saya, sekedar mengoreksi akan apa yang disampaikan oleh Habib, barangkali ada manfaatnya bagi jamaah Majelis Rasulullah dimana saja berada.

    Wassalam,

    Kelana

    #105963381
    Munzir Almusawa
    Participant

    alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Ketenangan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari anda

    saudaraku yg kumuliakan,
    terdapat kesalahan dalam penjelasan anda masalah wujud, wujud bukan harus mesti dilihat, didengar, dan dirasa, tapi wujud adalah ada, dan keberadaan Allah tak bisa dipungkiri dengan tiadanya bukti.

    terlihat, terdengar, terasa, dan kesemua itu adalah pembuktian wujudnya Allah swt, namun keberadaan dan kewujudan Allah tetap ada / wujud walau tanpa bukti, dan tak bisa kita katakan Allah itu tiada jika tak bisa dibuktikan,

    maka jelaslah sudah bahwa wujud adalah ada, hati hati dengan penjelasan anda, karena penjelasan anda justru membatasi keberadaan Allah dengan adanya bukti bukti, ketahuilah Allah Maha Ada walaupun tanpa bukti, Allah Ada (wujud) walau alam ini tiada

    \"Maha Ada\" sebelum ada perasaan, penglihatan, pendengaran dll.

    mengenai Maha Melihat dan Maha Mendegar telah saya jelaskan dengan gamblang, bahwa Allah Maha Melihat dan Mendegar tanpa membutuhkan alat dengar dan alat penglihatan

    mengenai penjelasan yg panjang lebar waktu saya sangat sempit untuk itu dan oleh sebab itu kita persilahkan yg tidak jelas untuk bertanya.

    dan saudaraku, ilmu tauhid ini luas dan dalam, tentunya tak cukup berpedoman pada kamus bahasa indonesia, hendaknya anda berguru dan mengambil ilmu dari jalur sanad guru yg jelas, maka keterangannya bisa dipertanggungjawabkan dan dijadikan rujukan

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

    #105963403
    zufar
    Participant

    Assalamu\’alaikum Wr Wb
    Semoga diberikan kesabaran yang luas atas guru habib munzir yang kami hormati. Dengan penuh tawadzu\’ dan penuh kelembutan selalu nasehat habibana menyinari kehausan dan mencari ilmu dari kami semua.
    Untuk kang kelana, semoga panjenengan memperbanyak untuk mendalami adab, Karena dalam manhaj dakwah yang ditulis oleh sayyidi Muhammad Abbas Al maliki, jika kita punya ilmu tapi ghiroh dan adab kurang itu seperti masakan yang kurang bambu. Jadi ilmu dan ghiroh harus selalu beriringan sehingga para masayech menasehati agar kita memperhatikan adab.
    kalo melihat keterangan yang terhormat habib Munzir tentang ilmu ushuluddin sangatlah jelas. Karena Beliau menrangkan pokok dari sifat2 Allah. kalo menurut saya bahwa memberikan filosofi (inti) dari keterangan beliau yang sangat gamblang. Itulah bedanya kita yang awam ini dalam menerangkan sesuatu, kalo beliau InsyaAllah dengan kekuatan jiwa dan sakinah (ketenangan) setiap memberikan jawaban, itulah juga yang dipesankan oleh sayyid Muhammad Abbas Al Maliki. Marilah kita berusaha menguatkan jiwa kita dan jiwa sakinah kita sehingga setiap tutur kata kita akan memberikan manfaat dan faedah bagi yang menyimaknya.
    Mohon ya habibana dan akang kelana dan seluruh penikmat forum ini. Semoga kita semua diberikan cahaya hati kita, penglihatan kita, lisan kita, pendengaran kita dan jasad kita sehingga semua itu tidak dapat membantah. (do\’a al imam Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi)
    wassalamu\’alaikum wr wb

    #105963409
    Munzir Almusawa
    Participant

    alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Rahmat dan kelembutan Nya swt semoga selalu membimbing hari hari anda

    saudaraku yg kumuliakan,
    maaf mengenai ilmu ushuluddin, bukan ilmu tentang ketuhanan, ilmu tentang ketuhanan adalah ilmu tauhid, Ushuluddin adalah ilmu yg membahas bukti, dasar dalil dan sebab sebab suatu masalah dalam hukum syariah, termasuk akidah dll, bukan hanya ketuhanan saja.

    silahkan anda bertanya jika ada yg tak difahami dalam pembahasan ushul, akan saya jawab jika saya tahu jawabannya,

    dan untuk saudara Zulfar terimakasih atas nasihatnya.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

Viewing 10 posts - 1 through 10 (of 11 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Tauhid’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru