November 26, 2020

Jawaban Kaum Wahabi thd tulisan habib

Home Forums Forum Masalah Fiqih Jawaban Kaum Wahabi thd tulisan habib

Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • Author
    Posts
  • #90461058

    Assalamu\’alaikum wr

    Semoga Alloh dan Rasul Nya memuliakan habib dengan sebaik-baiknya kemuliaan. aamiin

    afwan bib sebelumnya, temen ana seorang wahabi tulen. ketika ana kasih tulisan habib tentang bid\’ah hasanah dan maulid, dia memberikan jawaban menurut versi mereka. Barangkali habib ada waktu untuk mengoreksinya, afwan

    [i]Bismillahirrohmanirrohim,
    Sebenarnya yg menjadi permasalahan adalah adanya bid\’ah hasanah atau tidak tetapi batasan-batasan yg dipakai/persamaan persepsi tentang bid\’ah itu sendiri. [/i]

    masalah ini telah jelas bagi kami dan bukan merupakan hal yg perlu dipertanyakan lagi, kami mempunyai sanad,

    Kami ahlussunnah waljamaah memahami siapa imam imam kami dan bagaimana fatwa mereka, kami bicara bukan dengan menggunting kalimat dan menukil, kami bicara dg sanad,
    Saya bicara fatwa Imam Syafii dan saya memiliki sanad kepada Imam Syafii, saya bicara hadits Bukhari dan saya mempunyai sanad kepada Imam Bukhari, saya bicara fatwa Imam Nawawi saya mempunyai sanad pada Imam Nawawi, saya bicara fatwa Imam Assuyuthi saya mempunyai sanad kepada Imam Assuyuthiy.
    kebenaran bahwa Bid\’ah hasanah itu adalah hal yg baik, ok, saya ulas lagi sebagian dari artikel saya, pendapat yg datang bukan dari tukang ketoprak, tapi dari para Imam dan muhaddits, silahkan periksa sendiri dalam kitab aslinya, saya bukan mengambil dari terjemahan.

    [i]Demikian juga dengan kami, mencari ilmu memang thd mereka para Ulama, para Imam, dan para Muhaddits. Ditambah lagi dengan pemahanan yg benar tentunya bukan hanya mengambil sepotong demi sepotong. Ketika Imam AsySyafi\’i mengatakan bid\’ah hasanah kemudian dg menuruti hawa nafsu mereka menjadikan pedoman umum, tdklah mereka melihat amalan Imam AsySyafi\’i, apakah beliau rahimahullah melazimkan bid\’ah?[/i]

    Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid\’ah

    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid\’ah terbagi dua, yaitu bid\’ah mahmudah (terpuji) dan bid\’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : \"inilah sebaik baik bid\’ah\". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
    [i]Permasalahan ini sangat mudah dijelaskan jika kita jeli. Bukankah tarawih pernah dilakukan oleh Rasulullah scr berjamaah kemudian dihidupkan lagi oleh Sahabat \’Umar, maka bisa disimpulkan bahwa bid\’ah yg dimaukan oleh Sahabat \’Umar adalah bid\’ah dlm artian umum (bid\’ah: mengadakan suatu yg baru) [/i]

    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    \"Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : \"seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid\’ah adalah dhalalah\" (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid\’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg Alqur\’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu \’anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : \"Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya\" (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid\’ah yg baik dan bid\’ah yg sesat\". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
    [i]Coba cek matan hadits-nya dlm bahasa Arab, kita juga bisa artikan :
    Barang siapa yg menghidupkan sunnah dlm islam, bukan barang siapa yg berbuat bid\’ah yg hasanah[/i]

    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
    \"Penjelasan mengenai hadits : \"Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya\", hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : \"semua yg baru adalah Bid\’ah, dan semua yg Bid\’ah adalah sesat\", sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid\’ah yg tercela\". (Syarh Annawawi \’ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid\’ah menjadi 5, yaitu Bid\’ah yg wajib, Bid\’ah yg mandub, bid\’ah yg mubah, bid\’ah yg makruh dan bid\’ah yg haram.
    Bid\’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid\’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid\’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid\’ah\". (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

    Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
    Mengenai hadits \"Bid\’ah Dhalalah\" ini bermakna \"Aammun makhsush\", (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : \"… yg Menghancurkan segala sesuatu\" (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : \"Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya\" QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : \"aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini\" (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

    [i]Hal inipun tergantung bagaimana kita menafsirkan, jika contoh yg diberikan seperti membuat buku2 syariah maka menurut kami ini adalah hal yg baik dan bukan mrp bid\’ah, ya ini hanya sekedar perbedaan penafsiran dg maksud yg sama. Adapun bagi mereka yg menganggap bid\’ah hasanah itu ada mereka menafsiri secara luas sehingga mereka membuat amalan2 yg tdk pernah dilakukan oleh para Imam2 mereka. [/i]
    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

    [i]Sungguh pendapat ini juga diambil dari pendapat mereka para Imam dan tdk pada sekedar sepotong-potong ayat tapi pada amalan global para Imam tsb, sikap mereka thd ahlul bid\’ah.
    Sedikit tambahan atsar dari Ibnu Mas\’ud radliallahu \’anhu:
    Setelah wafatnya Rasulullah sebagian orang membuat halaqoh/majelis dzikir berjamaah dimana didalamnya mereka menggunakan batu-batuan utk menentukan giliran. Kemudian ditegur oleh Ibnu Mas\’ud: Belum kering makam Rasulullah dan kalian sudah membuat sesuatu yg tdk pernah dicontohkan Rasulullah.
    Jika mau jujur lihat sejarah hidup para Imam, ahlul hadits, ataupun para Sahabat apakah mereka melakukan bid\’ah hasanah menurut yg kalian maksud.
    Tentang maulid Nabi, tahukah kalian siapa yg mempelopori? apakah dia seorang Imam, ahlul hadits, atau ulama? [/i]

    #90461079
    Budi
    Participant

    Afwan habibana saya nimbrung..

    saudara zaenal, penjelasan habib sudah jelas dan gamblang, mereka itu tak punya hujjah apa apa atas sangkalannya, cuma berpendapat, keledai juga bisa kalau cuma berpendapat, namun pendapat siapa yg mesti diikuti..?

    mengenai tanggapan mereka :

    Bismillahirrohmanirrohim,
    Sebenarnya yg menjadi permasalahan adalah adanya bid\’ah hasanah atau tidak tetapi batasan-batasan yg dipakai/persamaan persepsi tentang bid\’ah itu sendiri.

    [b]hal ini telah dijawab dg gamblang oleh para Muhaddits kita, permasalahannya sudah selesai, tidak perlu dikorek lagi di akhir zaman ini oleh orang orang yg tidak secuilpun bisa disejajarkan dg para Muhaddits dan Imam imam.[/b]

    Permasalahan ini sangat mudah dijelaskan jika kita jeli. Bukankah tarawih pernah dilakukan oleh Rasulullah scr berjamaah kemudian dihidupkan lagi oleh Sahabat \’Umar, maka bisa disimpulkan bahwa bid\’ah yg dimaukan oleh Sahabat \’Umar adalah bid\’ah dlm artian umum (bid\’ah: mengadakan suatu yg baru)

    [b]Rasul saw melakukannya dan kemudian menghentikannya, jika hal itu sunnah maka para sahabat akan melanjutkannya dimasa hidupnya Rasul saw, dan dengan fatwa ini berarti anda telah menuduh Khalifah Abubakar shiddiq ra menghapus hal yg sunnah, karena dimasa Khalifah beliau hal ini tak ada, dan semua sahabat pun bodoh karena tak tahu bahwa tarawih itu sunnah, ini menurut anda, dan Umar bin Khattab ra yg mengembalikan hal yg sunnah dan mengakuinya sebagai Bid\’ah pula?
    bodoh sekali.

    tentunya kita lebih berpegang pada fatwa Imam Syafii daripada pendapat anda yg rancu tanpa didasari ilmu yg jelas.[/b]

    Coba cek matan hadits-nya dlm bahasa Arab, kita juga bisa artikan :
    Barang siapa yg menghidupkan sunnah dlm islam, bukan barang siapa yg berbuat bid\’ah yg hasanah

    [b]coba anda belajar lagi bahasa arab yg betul, karena ini penyampaian pendapat para Imam, apakah mereka harus belajar bahasa arab pada anda pula dan para wahabi akhir zaman yg tak hafal berapa rukun shalat?[/b]

    Hal inipun tergantung bagaimana kita menafsirkan, jika contoh yg diberikan seperti membuat buku2 syariah maka menurut kami ini adalah hal yg baik dan bukan mrp bid\’ah, ya ini hanya sekedar perbedaan penafsiran dg maksud yg sama. Adapun bagi mereka yg menganggap bid\’ah hasanah itu ada mereka menafsiri secara luas sehingga mereka membuat amalan2 yg tdk pernah dilakukan oleh para Imam2 mereka.

    [b]tentunya jauh berbeda penafsiran para Imam dan Muhaddits dengan penafsiran para keledai.[/b]

    Sungguh pendapat ini juga diambil dari pendapat mereka para Imam dan tdk pada sekedar sepotong-potong ayat tapi pada amalan global para Imam tsb, sikap mereka thd ahlul bid\’ah.
    Sedikit tambahan atsar dari Ibnu Mas\’ud radliallahu \’anhu:
    Setelah wafatnya Rasulullah sebagian orang membuat halaqoh/majelis dzikir berjamaah dimana didalamnya mereka menggunakan batu-batuan utk menentukan giliran. Kemudian ditegur oleh Ibnu Mas\’ud: Belum kering makam Rasulullah dan kalian sudah membuat sesuatu yg tdk pernah dicontohkan Rasulullah.
    Jika mau jujur lihat sejarah hidup para Imam, ahlul hadits, ataupun para Sahabat apakah mereka melakukan bid\’ah hasanah menurut yg kalian maksud.
    Tentang maulid Nabi, tahukah kalian siapa yg mempelopori? apakah dia seorang Imam, ahlul hadits, atau ulama?

    [b]pendapat siapa mas..?, ibn mas;ud yg mana?, Ibn Mas;ud ra melarang orang orang terus terusan beribadah dan meninggalkan jihad dan nafkah, sahabat mana yg melarang orang dzikir..?, hanya setan saja yg alergi thd orang dzikir

    inilah wahabi, gunting tambal lalu berfatwa.
    [/b]
    mengenai maulid habib kita sudah menjelaskan dg gamblang, para Imam dan Muhaddits termasuk murid Ibn Taimiyyah yaitu Imam Ibn Katsir pun membuat maulid nabi saw, dengan namanya yg termasyhur, Maulid Ibn Katsir.

    berikut para Imam dan Muhaddits yg membuat riwayat maulid :

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
    Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
    dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi
    dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
    dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
    yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
    dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
    telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy
    dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
    dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’
    dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami
    dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri
    mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’
    dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
    dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
    dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
    dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
    dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
    dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani
    dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
    dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy
    dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi
    dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah.

    Tiada satupun para Muhadditsin dan para Imam yg menentang dan melarang hal ini, mengenai beberapa pernyataan pada Imam dan Muhadditsin yg menentang maulid sebagaimana disampaikan oleh kalangan anti maulid, maka mereka ternyata hanya menggunting dan memotong ucapan para Imam itu, dengan kelicikan yg jelas jelas meniru kelicikan para misionaris dalam menghancurkan Islam.

    afwan habibana ana nimbrung..

    mas zaenal, anda di web mana dg percakapan ini?, tidak usah menampilkan debat wahabi pada habibana, beliau sangat sibuk dan sedang kurang sehat, kalau urusan wahabi serahkan pada saya saja, saya satroni di web manapun..

    BUDHIZUTCHI PEMBASMI WAHABI.

    salam bib, cepat sembuh..

    #90461080
    Munzir Almusawa
    Participant

    saudara budhi, terimakasih atas perhatiannya, jaga akhlak..

    saudara zaenal, penjelasan saya tentang bid\’ah telah jelas jika ditelaah oleh parang yg memahami ilmu, namun tentunya jika dg hawa nafsu dan kedangkalan ilmu maka pendapat sejelas apapun akan ditentang.

    semoga Hidayah memenuhi jiwa jiwa kita dan teman teman kita dan muslimin dari kesalahan faham dan kealpaan, amiin.

    #90474209
    Anis Ahmad
    Member

    Assalamu\’alaikum wr

    Semoga Habib selalu dalam lindungan Allah SWT dan dimuliakan setinggi tingginya oleh Allah SWT dan baginda Nabi SAW. Amin…

    Sebelumnya saya mohon maaf karena saya baru bergabung dalam milis ini, Alhamdulillah saya mendapati milis ini semoga dapat memperkuat keimanan dan menambah ilmu saya. Dan semoga Habib dimuliakan dgn sebaik-baiknya oleh Allah SWT dan baginda Nabi SAW atas adanya forum ini.

    Ya Habib, Saya mohon bantuan Habib untuk menambah keyakinan saya.
    Di masjid kami sekarang para anggota DKM yg baru memahami bahwa Dzikir selepas sholat fardhu tidak perlu didhahirkan krn mengganggu orang lain. Dan mereka memberikan saya dalil2 dari Alquran bahwa dzikir tdk perlu di dhahirkan. Mereka dapat dari ustadz2 yg mereka undang untuk mengajar di masjid kami.Saya beritahu bahwa para ulama kita tidak melarang orang berdzikir dgn dizhahirkan, mereka jawab itu pendapat2 yg tidak berdasarkan Alquran. Juga menurut pendapat mereka berdoa gak perlu bersama sama dan dikeraskan.
    Ya Habib, saya tidak berdzikir keras, hanya sebatas saya lisankan saja. Apakah saya salah bila saya teruskan atau saya hentikan dzikirnya. Hati saya menolak pendapat mereka dan sekarang saya sholat berjemaah dgn anak2 saya yg sudah baligh dan beberapa kawan di masjid setelah sholat berjemaah yg awal selesai dgn berdzikir dan berdoa seperti biasa. Apakah ini dibenarkan atau apa yg harus saya perbuat. Mohon penjelasan Habib semoga Allah dan RasulNYA selalu menambahkan kemuliaanNYA kepada Habib.

    asslakum wr wb…
    Anis.

    #90474229
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,

    berikut penjelasan mengenai riwayat Ibn mas;ud ra yg mereka jadikan dalil sebagai larangan dzikir berjamaah :

    al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Shahihah, jld. 5, m.s. 11.
    Yaitu :

    Daripada ‘Amr bin Salamah katanya: “Satu ketika kami duduk di pintu ‘Abd Allah bin Mas‘ud sebelum solat subuh. Apabila dia keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musa al-Asy‘ari, lalu bertanya: “Apakah Abu ‘Abd al-Rahman telah keluar kepada kamu?” Kami jawab: “Tidak!”. Maka dia duduk bersama kami sehingga ‘Abd Allah bin Mas‘ud keluar. Apabila dia keluar, kami semua bangun kepadanya.
    Lalu Abu Musa al-Asy‘ari berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak lihat – alhamdulilah – melainkan ianya baik”. Dia bertanya: “Apakah ia?”. Kata Abu Musa: “Jika umur kamu panjang engkau akan melihatnya. Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan (halaqah) menunggu solat. Bagi setiap lingkungan (halaqah) ada seorang lelaki (ketua kumpulan), sementara di tangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata : Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir seratus kali. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali, mereka pun bertahlil seratus kali. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih seratus kali.” Tanya ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Apa yang telah kau katakan kepada mereka?”. Jawabnya: “Aku tidak kata kepada mereka apa-apa kerana menanti pandangan dan perintahmu”.
    Berkata ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa mereka dan engkau jaminkan bahawa pahala mereka tidak akan hilang sedikit pun”. Lalu dia berjalan, kami pun berjalan bersamanya. Sehinggalah dia tiba kepada salah satu daripada lingkungan berkenaan. Dia berdiri lantas berkata: “Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini?” Jawab mereka: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman! Batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih”. Jawabnya: “Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala-pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju baginda belum lagi buruk dan bekas makanan dan minuman baginda pun belum lagi pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya , apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, atau sebenarnya kamu semua pembuka pintu kesesatan?”
    Jawab mereka : “Demi Allah wahai Abu ‘Abd al-Rahman, kami hanya bertujuan baik.” Jawabnya : “Betapa ramai yang bertujuan baik, tetapi tidak menepatinya.” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Quran namun tidak lebih dari kerongkong mereka Demi Allah aku tidak tahu, barangkali kebanyakan mereka dari kalangan kamu.” Kemudian beliau pergi.
    Berkata ‘Amr bin Salamah: “Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan.”

    jawaban :
    Hujjah yang dikemukakan ini, adalah atsar (perbuatan) Abdullah bin Mas`ud r.a.. Atsar ini diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi dalam sunannya, jilid 1 halaman 68, dengan sanad dari al-Hakam bin al-Mubarak dari \’Amr bin Yahya dari ayahnya dari datuknya (Amr bin Salamah).

    Menurut sebagian muhadditsin, kecacatan atsar ini adalah pada rawinya (rawi : periwayat) yang bernama \’Amr bin Yahya (yakni cucu Amr bin Salamah). Imam Yahya bin Ma`in memandang \"riwayat daripadanya tidak mempunyai nilai\". Imam adz-Dzahabi menerangkannya dalam kalangan rawi yang lemah dan tidak diterima riwayatnya, dan Imam al-Haithami menyatakan bahwa dia adalah rawi yang dhoif.

    Dalam Atsar tersebut dapat dipahami bahwa yang ditegur oleh Sayyidina Ibnu Mas`ud adalah golongan KHAWARIJ. Maka atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud lebih kepada kritikan beliau kepada para pelaku yang tergolong dalam firqah Khawarij. Di mana golongan Khawarij memang terkenal dengan kuat beribadah, kuat sholat, kuat berpuasa, kuat membaca al-Quran, banyak berzikir sehingga mereka merasakan diri mereka lebih baik daripada para sahabat Junjungan s.a.w. Maka kritikan Sayyidina Ibnu Mas`ud ini ditujukan kepada kelompok Khawarij yang mereka itu mengabaikan bahkan mengkafirkan para sahabat karena beranggapan ibadah mereka lebih hebat dari para sahabat.

    Sehingga janganlah digunakan atsar yang ditujukan kepada kaum Khawarij ini digunakan terhadap saudara muslim lain yang sangat memuliakan para sahabat Junjungan Nabi s.a.w.

    Jangan dikira para ulama Aswaja tidak tahu mengenai atsar Sayyidina Ibnu Mas`ud ini.

    Imam as-Sayuthi rhm. pada \"Natiijatul Fikri fil Jahri fidz Dzikri\" dalam \"al-Hawi lil Fatawi\" juz 1. Di situ Imam asy-Sayuthi menguraikan 25 hadits dan atsar yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhan hingga yang diriwayatkan oleh al-Mirwazi berkaitan dengan zikir secara jahar dan majlis zikir berjamaah.

    Sedangkan terhadap atsar Ibnu Mas`ud tersebut, Imam asy-Sayuthi pada halaman 394 menyatakan, antara lain:
    (Jika engkau berkata) Telah dinukilkan yang Sayyidina Ibnu Mas`ud telah melihat satu kaum bertahlil dengan mengangkat suara dalam masjid, lalu beliau berkata: \"Tidak aku melihat kamu melainkan (sebagai) pembuat bid`ah\", sehingga dikeluarkannya mereka dari masjid tersebut. (Kataku – yakni jawaban Imam as-Sayuthi) Atsar daripada Sayyidina Ibnu Mas`ud r.a. ini memerlukan penjelasan lanjut berhubung sanadnya dan siapa yang telah mengeluarkannya dari kalangan para hafidz dalam kitab-kitab mereka.

    Jika seandainya dikatakan ianya memang tsabit (kuat riwayatnya), maka atsar ini bertentangan dengan hadits-hadits yang banyak lagi tsabit yang telah dikemukakan yang semestinya didahulukan (sebagai pegangan) dibanding atsar Ibnu Mas`ud apabila terjadi pertentangan (apalagi atsar itu dhoif sebagaimana dijelaskan bahwa rawinya dhoif) . Kemudian, aku lihat apa yang dianggap sebagai keingkaran Sayyidina Ibnu Mas`ud itu (yakni keingkarannya terhadap majlis-majlis zikir bersama-sama tadi) yakni penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab \"az-Zuhd\" yang menyatakan:- Telah memberitahu kami Husain bin Muhammad daripada al-Mas`udi daripada \’Aamir bin Syaqiiq daripada Abu Waail berkata:- \"Mereka-mereka mendakwa \’Abdullah (yakni Ibnu Mas`ud) mencegah daripada berzikir (dalam majlis-majlis zikir), padahal \’Abdullah tidak duduk dalam sesuatu majlis melainkan dia berzikirullah dalam majlis tersebut.\"

    Dalam kitab yang sama, Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa Tsabit al-Bunani berkata:- \"Bahwasanya ahli dzikrullah yang duduk mereka itu dalam sesuatu majlis untuk berdzikrullah, jika ada bagi mereka dosa-dosa semisal gunung, niscaya mereka bangkit dari (majlis) dzikrullah tersebut dalam keadaan tidak tersisa sesuatupun dosa tadi pada mereka\", (yakni setelah berzikir, mereka memperolehi keampunan Allah ta`ala).

    melarang dzikir dg suara keras di masjid hukumnya kufur, karena menentang Alqur\’an, Allah swt berfirman : [b]Dirumah rumah Allah (masjid) telah Allah izinkan untuk mengangkat suara sebutan dzikir Nama Nya, dan bertasbih pada Nya di pagi hari dan sore [/b](QS Annur 36).

    Allah swt berfirman : [b]Mereka yg ringan timbangan pahalanya maka mereka adalah orang yg merugikan dirinya sendiri dan mereka selamanya di neraka, wajah mereka hangus terbakar dan kedua bibirnya menjulur (kesakitan dan kepanasan), bukanlah sudah dibacakan pada kalian ayat ayat Ku dan kalian mendustakannya?, maka mereka berkata : Wahai Tuhan kami, kami telah tertundukkan oleh kejahatan kami dan kami telah tergolong kaum yg sesat, Wahai Tuhan Kami keluarkan kami dari neraka dan jika kami kembali berbuat jahat maka kami mengakui kami orang yg dhalim, (maka Allah menjawab) :[/b] [b][u]Diamlah kalian didalam neraka dan jangan kalian berbicara lagi, dahulu ada sekelompok hamba hamba Ku yg berdoa : Wahai Tuhan Kami kami beriman, maka ampuni dosa dosa kami, dan kasihanilah kami dan Sunguh Engkau Maha Berkasih sayang dari semua yg berkasih sayang, namun kalian mengejek mereka sampai kalian melupakan dzikir pada Ku dan kalian menertawakan mereka, Sungguh Aku membalas kebaikan mereka saat ini dan merekalah orang yg beruntung[/u] [/b](QS Al Mukminun 103 – 111)

    lihatlah ayat diatas sdrku, Allah swt murka pada mereka yg mengecoh dan mengejek dan menertawakan orang yg berdzikir bersama, lihat ucapan doa para ahlu dzikir itu, Allah menjelaskan mereka berkata : Wahai Tuhan kami, kami beriman maka ampunilah kami… dst.

    ucapan KAMI menunjukkan mereka berdoa bersama, bukan sendiri sendiri.

    Allah menjelaskan merekalah yg beruntung, dan yg mengejek mereka akan dihinakan Allah swt.

    Kita Ahlussunnah waljamaah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.

    Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman : “BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKU DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan) NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA”. (Shahihain Bukhari dan Muslim).

    Allah berfirman :
    \"DAN SABARKAN DIRIMU UNTUK TETAP BERSAMA ORANG ORANG YG BERDZIKIR DAN BERDOA KEPADA TUHAN MEREKA DI PAGI HARI DAN SORE SEMATA MATA HANYA MENGINGINKAN RIDHA ALLAH, DAN JANGAN KAU PALINGKAN WAJAHMU DARI MEREKA KARENA MENGHENDAKI KEDUNIAWIAN, DAN JANGAN TAATI ORANG ORANG YG KAMI BUAT MEREKA LUPA DARI MENGINGAT KAMI………….” (QSAl Kahfi 28)

    Berkata Imam Attabari : “Tenangkan dirimu wahai Muhammad bersama sahabat sahabatmu yg duduk berdzikir dan berdoa kepada Allah di pagi hari dan sore hari, mereka dengan bertasbih, tahmid, tahlil, doa doa dan amal amal shalih dengan shalat wajib dan lainnya, yg mereka itu hanya menginginkan ridho Allah swt bukan menginginkan keduniawian” (Tafsir Imam Attabari Juz 15 hal 234)

    Tentunya ucapan diatas menyangkal pendapat yg mengatakan bahwa yg dimaksud ayat itu adalah orang yg shalat, karena mustahil pula Allah mengatakan pada nabi saw untuk sabar duduk dg orang yg shalat berjamaah, karena shalat adalah fardhu, namun perintah “duduk bersabar” disini tentunya adalah dalam hal hal yg mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang.

    Dari Abdurrahman bin sahl ra, bahwa ayat ini turun sedang Nabi saw sedang di salah satu rumahnya, maka beliau saw keluar dan menemukan sebuah kelompok yg sedang berdzikir kepada Allah swt dari kaum dhuafa, maka beliau saw duduk bersama berkata seraya berkata : Alhamdulillah… yg telah menjadikan pada ummatku yg aku diperintahkan untuk bersabar dan duduk bersama mereka” riwayat Imam Tabrani dan periwayatnya shahih (Majmu’ zawaid Juz 7 hal 21)

    Sabda Rasulullah saw : “akan tahu nanti dihari kiamat siapakah ahlulkaram (orang orang mulia)”, maka para sahabat bertanya : siapakah mereka wahai rasulullah?, Rasul saw menjawab : :”majelis majelis dzikir di masjid masjid” (Shahih Ibn Hibban hadits no.816)

    Rasulullah saw bila selesai dari shalatnya berucap Astaghfirullah 3X lalu berdoa Allahumma antassalam, wa minkassalaam….dst” (Shahih muslim hadits no.591,592)
    Kudengar Rasulullah saw bila selesai shalat membaca : Laa ilaaha illallahu wahdahu Laa syariikalah, lahulmulku wa lahulhamdu…dst dan membaca Allahumma Laa Maani’a limaa a’thaiyt, wala mu’thiy…dst” (shahih Muslim hadits no.593)

    Hadits semakna pada Shahih Bukhari hadits no.808, dan masih banyak puluhan hadits shahih yg menjelaskan bahwa Rasul saw berdzikir selepas shalat dengan suara keras, sahabat mendengarnya dan mengikutinya, hal ini sudah dijalankan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu tabi’in dan para Imam dan Muhadditsin tak ada yg menentangnya.

    Sabda Rasulullah saw : “sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar dimuka bumi mengikuti dan menghadiri majelis majelis dzikir, bila mereka menemukannya maka mereka berkumpul dan berdesakan hingga memenuhi antara hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para malaikat itu berpencar dan kembali ke langit, dan Allah bertanya pada mereka dan Allah Maha Tahu : “darimana kalian?” mereka menjawab : kami datang dari hamba hamba Mu, mereka berdoa padamu, bertasbih padaMu, bertahlil padaMu, bertahmid pada Mu, bertakbir pada Mu, dan meminta kepada Mu,

    Maka Allah bertanya : “Apa yg mereka minta?”,
    Malaikat berkata : mereka meminta sorga,
    Allah berkata : apakah mereka telah melihat sorgaku?,
    Malaikat menjawab : tidak,
    Allah berkata : “Bagaimana bila mereka melihatnya”.
    Malaikat berkata : pastilah mereka akan lebih memintanya,
    Allah bertanya lagi : Apa yg mereka minta?
    Malaikat berkata : mereka meminta perlindungan Mu,
    Allah berkata : “mereka meminta perlindungan dari apa?”,
    Malaikat berkata : “dari Api neraka”,
    Allah berkata : “apakah mereka telah melihat nerakaku?”,
    Malaikat menjawab tidak,
    Allah berkata : Bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku.
    Malaikat berkata :: Pasti mereka akan lebih ketakutan.
    Allah swt berfirman : Apa yg mereka lakukan?
    Malaikat berkata : mereka beristighfar pada Mu,
    Allah berkata : “sudah kuampuni mereka, sudah kuberi permintaan mereka, dan sudah kulindungi mereka dari apa apa yg mereka minta perlindungan darinya, Malaikat berkata : “wahai Allah, diantara mereka ada si fulan hamba pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka,
    Allah berkata : baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu dzikir) adalah kaum yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa yg duduk bersama mereka” (shahih Muslim hadits no.2689),

    perhatikan ucapan Allah yg diakhir hadits qudsiy diatas : dan mereka (ahlu dzikir) adalah “kaum yg tak dihinakan siapa siapa yg duduk bersama mereka”, lalu hadits semakna pada Shahih Bukhari hadits no.6045.

    kasihanilah mereka itu sdrku, mereka tak faham alqur\’an dan hadits dengan benar, namun berfatwa semaunya, semoga Allah swt melimpahkan hidayah

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Fiqih’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru