December 2, 2020

Kemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah

Home Forums Iseng dalam keluhuran Kemuliaan Mahabbah kepada Sang Pewaris Risalah

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #72909408
    Adie bin Ahmad
    Participant

    [i]Bismillah walhamdulillah wa ?ala niyyati sunnati rasulillah Muhammad ibn Abdillah shallallah wa sallam wa baraka ?alaih, wa ba?d[/i]

    Alhamdulillah dengan rahmat dan hidayahNya kita masih terus mengikuti perkumpulan mulia ini, perkumpulan yang senantiasa mengajarkan kita tentang keindahan risalah Baginda Rasulullah SAAW, perkumpulan dimana para pengikut dan pecinta Baginda Rasulullah berkumpul terikat dalam kekuatan mahabbatullah dan mahabbatur rasul. Shalawat serta salam termuliakan selalu kepada Baginda kita, junjungan kita, pemimpin kita, kekasih kita tecinta Al-Musthofa Muhammad Shallallahu wa sallam wa baraka ?alaihi. Salam hormat penuh kecintaan ini senantiasa kita sampaikan kepada Guru kami bersama, guru yang mengasihi murid layaknya seorang ayah kepada anaknya, guru yang senantiasa menebar senyuman penyembuh kegundahan, guru yang menerangi sanubari para muridnya, guru kami Habibana Munzir Al-Musawa. Ma ta annallahu bihi wa nafa?ana fid daroin.

    Sahabat-sahabatku yang kubanggakan, sebagai seorang penuntut ilmu kita disandingkan dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang keduanya saling berkaitan dan saling melengkapi. Hak-hak yang telah kita dapatkan sebagai seorang penuntut ilmu adalah mendapatkan penjelasan mengenai ilmu agama yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk para penuntutnya/mempelajarinya. Amat sangat merubah seluruh kehidupan yang mempelajarinya, banyak memberikan manfaat, semakin dekat hubungannya dengan Robbul ?Alamin, semakin berakhlak dalam pergaulan, semakin membuka pintu rezeki, semakin indah kesehariannya, dan semakin semakin yang lainnya..

    Maka berkaitan dengan hak?hak tersebut terdapat pula kewajiban-kewajiban kita yang menyeimbangkan hak-hak tersebut, dalam hal ini saya mengutip apa yang pernah disampaikan oleh [i]Sayyidina Ali karromallahu wajhahu[/i] yaitu bahwa ada 6 hal yang harus diperhatikan yaitu bahwa dalam menuntut ilmu yaitu diperlukan [i]dzakaa?in[/i] (kecerdasan), [i]wa hirsin[/i] (serakah dalam menuntut ilmu), [i]wastibarin[/i] (harus dengan kesabaran), [i]wa bulghotin[/i] (ada biayanya), [i]wa thuliz zaman[/i] (masanya panjang), [i]wa bi irsyadil ustadz[/i] (dengan bimbingan pengajar).

    Jelas disana kewajiban kita sebagai pelajar adalah menjalankan kesemuanya dengan ikhlas, seperti halnya ilmu pendidikan yang sangat membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Maka jikalau untuk ilmu dunia saja kita berani menjalankan semua syaratnya, maka apalagi kepada ilmu agama yang akan menuntun kita kepada keluhuran kelak dan membimbing kita mencapai kemuliaan hingga dihantarkan karenanya kepada kita pintu gerbang keridho?an Ilahi Robbi, tiada lain yang kita harapkan dalam kehidupan ini selain mencapai ridho?Nya. Maka sebagai hambaNya wajib bagi kita untuk menempatkan urusan akhirat diatas urusan dunia.

    Yang harus kita garis bawahi juga adalah bahwa ilmu itu bertempat di dada sang guru sebagai penyambung dan pewaris risalah mulia Baginda Rasulullah SAAW. Dan ilmu yang kita terima dari guru manapun tidak akan membawa kebaikan sedikitpun jikalau terdapat hati yang su?udzhon (prasangka jelek) terhadap guru, tidak mahabbah/mencintai guru, apalagi sampai tidak pernah terbesit dihatinya untuk memperhatikan kehidupan sang guru.

    Alangkah ruginya dia duduk berjam-jam untuk mendengarkan kemuliaan dan kesempurnaan risalah Baginda Rasulullah SAAW tetapi tidak sedikitpun hatinya tergerak untuk berusaha memperhatikan apalagi mencintai pewaris risalah mulia tersebut, tidak akan sampai dia pada hakikat mahabbatullah dan mahabbaturrasul. Karena kunci keduanya adalah mahabbah kepada penyambung dan pewaris risalah yaitu kecintaan pada sang guru. Maka janganlah sedikitpun kita mengeluh kepada 6 hal yang tadi disebutkan jikalau kita bercita-cita untuk mendapatkan keridho?an Robbul ?Alamin.

    Berkaitan dengan mahabbah, hal ini pun telah lama dijalankan dan diamalkan oleh para auliya? dan sholihin sejak zaman Shababah, tabi?in, tabi?it tabi?in, ulama salaf, hingga masa ini. Tercatat dalam sejarah betapa mulia seseorang jikalau kehidupannya senantiasa diisi dengan kecintaannya kepada sang guru. Salah satunya dalam manaqib Shohibur Ratib Alattas yaitu Habib Umar bin Abdurrahman Alattas yang senantiasa ratibnya kita lazimkan 2 minggu sekali, yaitu terjadi pada khadimnya sekaligus muridnya Syaikh Ali bin Abdullah BaRos yang sangat mencintai gurunya Habib Umar Alattas Shohibur Ratib hingga kehidupannya senantiasa dipenuhi dengan berkhidmat kepada sang guru yaitu menjadi khadim (pembantu) sang guru dan dijalankannya dengan ikhlas selama bertahun-tahun sehingga dengan kesibukannya memuliakan dan mengurus sang guru sampai-sampai Syaikh Ali tidak sempat untuk ikut duduk dalam majlis ta?lim yang digelar oleh sang guru. Sampai pada suatu masa iblis datang menyerupai seorang yang ?alim dan bersahaja layaknya tuan guru untuk menggoda Syaikh Ali yang tengah menimba air untuk mandi sang Habib dari sumur sambil berkata iblis itu katanya : ?wahai Ali, percuma kamu menjadi khadim Habib Umar, karena meskipun kamu bertahun-tahun berkhdimat padanya, ilmunya belum sampai kepadamu sedikitpun, (karena tahu kesibukan Syaikh Ali hingga tidak dapat mengikuti majlis ta?lim Habib Umar Alattas) lebih baik engkau sampaikan saja permintaanmu kepada Habib Umar untuk berhenti menjadi khadimnya agar bisa mengikuti pengajian yang digelarnya.? Perkataan ini membuat Syaikh Ali risau, karena memang dalam hati kecilnya membenarkan bahwa dia belum pernah lagi menerima ilmu sedikitpun dari Habib Umar Alattas semenjak bekhidmat kepada beliau. Maka perasaan gundah ini disampaikan kepada sang guru pada saat Habib Umar tengah melayani ummat yang sedang menuntut ilmu dengannya, maka sebelum Syaikh Ali mengutarakan lebih dulu maksud dan tujuan pembicaraannya, dengan cahaya petunjuk dari Sang Maha Luhur maka Habib Umar lebih dahulu berbicara sebelum Syaikh Ali berbicara dengan perkataan, ?engkau mau berhenti menjadi khadimku agar bisa mendapatkan ilmuku??? maka Syaikh Ali pun terheran-heran dan langsung mengatakan ?Ya. Hamba sangat ingin sekali merasakan kemuliaan risalah baginda Nabi Muhammad SAAW dengan hadir duduk mengikuti pengajian.? Maka Habib Umar pun berkata,?yang bertemu denganmu disumur tadi itu adalah iblis yang menggodamu agar berhenti menjadi khadimku? maka Syaikh Ali pun tersentak kaget atas perkataan gurunya itu dan beristighfar atas kelancangannya. Belum surut kerisauan Syaikh Ali, Habib Umar langsung memerintahkan Syaikh Ali untuk duduk ditempat Habib Umar mengajar, agar menggantikan Habib Umar dalam mangajar dan memimpin majlis ilmu itu. Tambah bingung Syaikh Ali karena menyadari bahwa belum satu pun ilmu yang pernah diajarkan oleh Habib Umar, tetapi malahan disuruh untuk bergantian mengajar majlis ilmu yang dihadiri ratusan orang itu. Habib Umar meninggalkannya kedalam rumah dan menyuruh agar Syaikh Ali tidak risau dan menurut dengan perkataannya, maka Syaikh Ali pun sami?na wa atho?na. Dengan keridho?an Robbul Izzati dengan keluhuran dan keistiqomahan Habib Umar Alattas dan mahabbah dari Syaikh Ali kepada sang guru tercinta maka Allah Ta?ala membantu Syaikh Ali dengan luasnya samudra keilmuanNya yang tiada tandingan seketika itu pula Syaikh Ali dapat mengajarkan dan memimpin majlis ilmu yang dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan hadirin itu layaknya Habib Umar yang sedang memberikan penjelasan.

    Bahkan dalam manaqib Shohibur Ratib Alattas dijelaskan bahwa jika seorang yang membaca Ratibul Attas tanpa disertai tawassul kepada Syaikh Ali bin Abdullah BaRos, maka dia belumlah membaca Ratibul Attas.

    Demikianlah keadaan kecintaan sang guru Habib Umar Alattas kepada muridnya, begitu juga sebaliknya Syaikh Ali sebagai murid yang sangat mencintai dan menghormati sang guru sehingga dia merasakan betapa indahnya hamparan samudra keilmuan Robbul ?Alamin. Sebab mahabbah dan keistiqomahan dapat menyebabkan Allah Ta?ala memberikan curahan rahmat dan hidayah yang tiada putus-putusnya sepanjang hari. Dan masih banyak kisah-kisah yang berkaitan dengan ini yang dapat menjadikan kita semangat dalam bermahabbah kepada pewaris risalah Baginda Rasulullah SAAW yaitu tuan-tuan guru kita saat ini yang memang ilmunya bersanad kepada Baginda Rasulullah SAAW.

    Semoga Allah Jalla Jalaluh mendekatkan kepada kita semua keindahan mahabbah itu agar kita dapat dengan segera meraih kekuatan yang tiada tandingannya yaitu kekuatan mahabbatullah wa rasuluh.. semoga Allah menyampaikan tabir keridho?anNya kepada kita hamba yang nista, agar Dia mengangkat dan meng-ijabah doa? dan munajat kita semua, agar diri kita ini semakin merasakan manfaat dari ilmu yang telah kita pelajari dan kita terima dari para pewaris risalah kebenaranNya, agar semakin menumbuhkan rasa takut kita kepadaNya dengan memuliakan orang-orang yang terlebih dahulu takut kepadaNya, sesuai firmanNya : ?Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…? (QS. Faathir : 28), Allah Ta?ala memuliakan kita semua dengan hadirnya ulama? ditengah-tengah kita,
    terkhusus kepada Habibana Munzir Al-Musawa sebagai guru kita semua, semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara beliau dengan DzatNya Yang Maha Mulia, maka dengan kemuliaan itu senantiasa kita jaga mahabbah ini kepada para pewaris dan penyambung risalah Baginda Rasulullah SAAW.

    Izinkan kami mencintaiMu Yaa Robbi, semampu kekuatan kami mencintaiMu melewati cinta kami kepada hamba-hambaMu para pewaris risalah kebenaranMu.
    Wa shallallahu wa sallam ?ala sayyidina wa habibina Muhammadin nabiyyil ummi wa ?ala alihi wa shohbihi ajma?in Walhamdulillahi robbil ?alamiin.

    Wallahu a?lam

Viewing 1 post (of 1 total)
  • The forum ‘Iseng dalam keluhuran’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru