December 1, 2020

Majelis Rasulullah Depok

Home Forums Forum Masalah Umum Majelis Rasulullah Depok

Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • Author
    Posts
  • #71733446
    syechan alhaddad
    Participant

    Assalamu\’alaikum Wr wb Ya….habiburasul

    alfagir mau menanyakan apakah ada Majelis Rasulullah didaerah Depok, dan apabila ada setiap hari apa?, maaf karena alfagir tinggal didaerah Depok Timur.
    terima-kasih

    Alfagir
    syechan bin toha bin Ahmad Alhaddad

    #71733452
    Munzir Almusawa
    Participant

    Majelis kami di wilayah Depok adalah Tablig Akbar sebulan sekali, tepatnya setiap malam minggu ketiga setiap bulannya, anda dapat klik \"Agenda majelis\", dan melihat setiab sabtu minggu ketiga jadwal wilayah Depok

    namun karena kami belum mempunyai tempat yg tetap maka majelis masih berpindah pindah, kordinator kami di wilayah Depok adalah Bpk Ustaz Syukron yug mengatur dan mengkordinir cabang wilayah depok. anda dapat menmghubungi beliau di 021 7756536. untuk mengetahui tempat yg akan datang,

    Jazakumullah khair atas partisipasi antum..
    Barakallah fiikum habiby

    #71733497
    syechan alhaddad
    Participant

    Assalamu\’alaikum wr wb

    Syukron Ya…Habiib atas jawabannya, ana harap Majlis Rasululloh tetap ada sampai akhir zaman

    wassalamu\’alaikum wr wb

    syechan bin toha bin ahmad alhaddad

    #71745905
    syechan alhaddad
    Participant

    Ass. Wr.Wb
    Ya habiby alfagir mohon bantuannya untuk dapat menjawab sanggahan dari pengikut ahmadiyah, apa yg harus alfagir katakan karena menggunakan argumentasi dan penggalan ayat2 Alqur\’an yg menurut alfagir lebih dapat menyesatkan lagi……mohon bantuan ya habiby atas hal ini

    Wassalam
    Alfagir

    ini merupakan jawaban dari mereka (AHMADIYAH)
    Dikarenakan ada beberapa pernyataan yang disampaikan oleh sdr Jehan berkenaan dengan Ahmadiyah dengan informasi yang salah, maka saya yang lemah dan tuna ilmu ini ingin meluruskan apa yang telah sdr.Jehan sampaikan berkenaan dengan itu. Karena pernyataan sdr Jehan disampaikan melalui milis maka saya akan jawab melalui media yang sama. Marilah kita singkirkan syak wasangka, perasaan benci sehingga menutup mata hati untuk mengkaji suatu hal yang belum tentu kita tahu akan sebenarnya., marilah kita tabayyun sehingga forum ini akan menjadi sebuah discourse yang sehat bagi anggota milis lainnya, bukan ajang caci maki. Sebagaimana hak sdr Jehan untuk menyampaikan pendapatnya, saya juga punya hak yang sama untuk menyampaikannya.

    (sdr Jehan mengatakan)

    Memang sudah sangatlah jelas bahwa \"aliran ahmadiyah\" adalah bukan \"ISLAM\" Dan itu tidak bisa ditawar lagi…..perbedaannya sangatlah jelas..

    Pernyataan yang akan saya sampaikan tentu bukan bermaksud untuk membuka ruang pelomik atau pembelaan terhadap sesuatu yang saya yakini, karena saya berkeyakinan hanya ALLAH SWT yang berhak sepenuhnya menilai siapa yang Muslim dan siapa yang bukan, siapa yang kafir dan siapa yang bukan.

    \"Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu…\" (22:78)

    Menurut Hz. Sayyidina Rasulullah s.a.w., yang disebut sebagai orang Islam (Muslim) adalah:

    \"Siapapun yang shalat seperti aku dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kita dan makan binatang sembelihan kita, maka ia adalah Muslim dan berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah mengkhianati Allah dengan mengkhianati orang-orang yang berada di dalam perlindungan-Nya\". (Bukhari)

    Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar r.a.: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa Islam didasarkan pada lima prinsip berikut: Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

    Jika menurut sdr jehan Ahmadiyah itu sesat, kafir, fasik atau apalah sebutannya, apakah sdr Jehan sudah menyelidikinya dengan seksama?

    ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Al-Hujurat:6)

    (sdr Jehan mengatakan)

    1. Punya nabi sendiri

    2. Punya kitab sendiri

    Berkenaan dengan tuduhan sdr jehan yang mengatakan bahwa Ahmadiyah memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri, berikut ini saya kutipkan perkataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.,

    “Tidak ada kitab kami selain Qur’an Syarif. Dan tidak ada Rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa Nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya’, dan Qur’an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak. Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w.. Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur’an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apapun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah Ta’ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan.” (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)

    dan beberapa pernyataan beliau dan sabda-sabdanya berkenaan dengan “khaataman-nabiyyiin” sebagai berikut:

    “Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jemaat saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah s.a.w. sebagai Khaataman Nabiyyiin, merupakan kedustaan besar yang dilontarkan pada kami. Kami meyakini Rasulullah s.a.w. sebagai Khaatamul Anbiya’ dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seratus ribu bagian dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam khaatamun nubuwwat Sang Khaatamul Anbiya’. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari para tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khaatamun Nubuwwat. Apa makna mengimaninya? Namun, kami dengan penuh bashirat (Allah Ta’ala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah s.a.w.. sebagai Khaatamul Anbiya’. Dan Allah Ta’ala telah membukakan hakikat Khaatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapatkan suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata-air ini juga”. (Malfuzhaat, jld. I, hlm. 342)

    dan dalam bukunya yang lain :

    “Cahaya agung yang dianugerahkan kepada manusia yang paripurna tidak terdapat pada wujud malaikat, tidak pula pada bintang-kemintang, tidak pula pada sang rembulan, tidak pula pada sang surya. Cahaya itu tidak terdapat pula di samudera-samudera dan sungai-sungai di dunia. Cahaya itu pula tidak terdapat di dalam batu-batu mirah delima atau yaqut atau zamrud atau permata nilam atau mutiara. Pendek kata, tidak terdapat disemua benda duniawi atau samawi. Hanyalah dalam diri sang manusia, yakni, di dalam diri manusia paripurna yang perwujudannya yang penuh, sempurna, tinggi lagi luhur adalah terdapat pada Majikan serta Junjungan kita, Penghulu segala Nabi, Penghulu segala makhluk hidup, Muhammad Musthafa shallallahu ‘alaihi wasallam. Jadi, cahaya itu dilimpahkan kepada manusia itu dan menurut urutan martabatnya, kepada seluruh pribadi yang sewarna dengannya, yakni, kepada orang-orang yang sampai pada kadar tertentu mengandung warna itu pula …Kemegahan setinggi-tingginya, sesempurna-sempurnanya, dan selengkap-lengkapnya ada pada Majikan kita, Junjungan kita, pemandu jalan kita, Nabi Ummi, Shadiq, Mashduq [wujud yang kebenarannya diakui] Muhammad Musthafa shallallahu ‘alaihi wassallam”. (Ruhani Khazain, jld. 5, Aina Kamalati Islam, hlm. 120-121).

    Sebagai seorang Ahmadi (Pengikut Ahmadiyah) yang diajarkan oleh orang tua saya dari sejak dini adalah membaca Al-Qur’an terutama diwaktu subuh, membaca dan mengkaji arti dan tafsirnya menamatkan membacanya di bulan suci ramadhan, jadi bukan Tadzkirah seperti yang anda tuduhkan. Dan saya mengajarkan yang sama kepada anak saya yang masih balita untuk belajar membaca dan mencintai Al-Qur’an. Memang benar pada halaman pertama Kitab (Buku) Tadzkirah terdapat tulisan \"wahyu muqaddas\" dan setiap Muslim yang suka belajar mengerti bahwa semua wahyu yang berasal dari Allah Ta\’ala adalah wahyu muqaddas (wahyu suci). Wahyu dari Allah yang diterima oleh para nabi adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh perempuan (Siti Maryam dan ibundanya Nabi Musa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh laki-laki yang bukan nabi (para sahabat Nabi Isa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh binatang (Lebah) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh para wali (Imam Syaafi\’i r.h., Imam Ahmad bin Hanbal r.h., Syekh Muhyiddin ibn Arabi r.h., Syed Syekh Abdul Qadir al-Jaelani r.h., dan lain-lain) adalah wahyu suci. Demikian pula dengan wahyu dari Allah Ta\’ala yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah wahyu suci. Semua wahyu dari Allah Ta\’ala kepada hamba yang dikehendaki-Nya tidak akan pernah berhenti, karena Allah adalah Mutakallim (Maha Berkata-kata).

    Karena sdr Jehan ini berusaha mengatakan bahwa wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan kemudian dikumpulkan dalam suatu buku (Buku Tadzkirah) harus dinamakan sebagai kitab suci, dan jika tidak dinamakan sebagai kitab suci, maka wahyu-wahyu itu tidak suci. Logika keliru seperti itu jelas timbul dari kurangnya pengetahuan dan bertentangan dengan fakta yang ada. Hz. Sayyidina Rasulullah s.a.w. banyak menerima wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) dari Allah Ta\’ala yang kemudian dikumpulkan dalam suatu buku namun TIDAK dinamakan sebagai KITAB SUCI oleh umat Islam. Wahyu-wahyu suci itu dikenal dengan nama HADITS QUDSI (Hadits Suci), dan wahyu-wahyu suci itu bukanlah bagian dari Al-Qur\’an.

    Apakah sdr Jehan berani mengatakan wahyu-wahyu suci (Hadits Qudsi) yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikumpulkan oleh orang-orang Islam ke dalam suatu buku kemudian dinamakan sebagai KITAB SUCI?

    Demikian pula jawaban soal Tadzkirah, bagi Jemaat Ahmadiyah kitab Tadzkirah bukanlah Kitab Suci dan kitab sucinya Jemaat Ahmadiyah adalah Al-Qur\’an, dan yang terus berusaha memfitnah dengan mengatakan Tadzkirah sebagai kitab sucinya Ahmadiyah adalah para penentang Ahmadiyah, termasuk sdr Jehan. Jadi pertanyaan saya kenapa Anda keukeuh kalau Ahmadiyah Memiliki Nabi dan Kitab Suci sendiri? Padahal jelas kami sebagai Ahmadi menyangkalnya, bahwa yang anda tuduhkan itu tidaklah benar.

    Allah Ta\’ala pasti memberi hukuman yang sekeras-kerasnya kepada siapapun yang berani-berani mengaku menjadi Nabi, padahal dia sesungguhnya bukan seorang Nabi. Dia berfirman: \"Seandainya dia mengada-ada sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya\". (69: 44-46)

    (sdr Jehan mengatakan)

    3. Menganggap aliran diluar ahmadiyah adalah sesat.

    Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan pernah menyebut yang non-ahmadiyah adalah kafir. Karena :

    pesan mulia Hz. Rasulullah s.a.w.:

    \"Barang siapa memanggil atau menyebut seorang itu kafir atau musuh Allah padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan [menuduh] itu\" (Keterangan ini diambil dari kitab Bukhari)

    Dalam kaitan ini sudilah memperhatikan dengan cermat tulisan Pendiri Jemaat Ahmadiyah berikut ini:

    \"Cobalah perhatikan kebohongan para alim-ulama, betapa mereka menuduh kami telah mengkafirkan dua ratus juta kaum Muslimin, padahal bukanlah kami yang memulai hal ini, bahkan para ulama-lah yang mula-mula mengkafirkan kami dan mereka pulalah yang telah menimbulkan kiamat dengan menghamburkan fatwa-fatwa mengkafirkan kami, dan dengan fatwa-fatwa itu mereka telah menimbulkan kegemparan di seluruh India …\" (Haqiqatul Wahyi, hlm.120-121)

    beberapa bukti bahwa para ulama Islam di Hindustan-lah yang pertama kalinya mengkafirkan Hz. Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaat Ahmadiyah.

    Fatwa-Fatwa Kafir Para Ulama di Hindustan Kepada Ahmadiyah
    Maulvi Muhammad, Maulvi Abdullah, dan Maulvi Abdul Aziz yang semuanya berasal dari Ludhiana, mengeluarkan fatwa pada tahun 1301 H atau 1885 M sebagai berikut:

    “Dalam fatwa kami tahun 1301 Hijriah, kami telah menyatakan bahwa Mirza adalah berada di luar Islam. Dia dan para pengikutnya tidak menjadi bagian dunia Islam, dan kami masih menganggap bahwa orang ini dan siapapun yang percaya pada keyakinan sesatnya sebagai kebenaran, adalah murtad menurut ajaran Islam”.

    “Jumlah keseluruhan dari tulisan-tulisan kami yang lama maupun baru (mengenai subyek ini) adalah bahwa orang ini adalah murtad, dan sebagaimana tertulis dalam ‘Hidaya’ dan kitab-kitab Hukum Islam lainnya (Fiqh), adalah haram dan terlarang bagi orang Islam untuk berbicara atau berhubungan dengan orang seperti itu. Siapapun yang percaya kepadanya juga menjadi kafir, yaitu murtad”. (Isyaa’atus-Sunnah, jld. 4, no. 12, 1890, Editor Abu Said Maulvi Muhammad Hussein Batalwi, Advokat Ahlul Hadits).

    Maulvi Mohammad Latifullah pada tahun 1892 mengeluarkan fatwa sebagai berikut:

    “Ia adalah, tanpa diragukan lagi, berada di luar Islam, seorang atheis dan seorang kafir. Kami mencari perlindungan Allah dari rencana-rencana jahatnya”. (Isyaa’at Sunnah, jld. 13, no. 6, hlm. 90)

    dan ratusan fatwa sesat dan kafir lainnya ditujukan kepada Ahmadiyah, termasuk fatwa sesat dari MUI.

    (sdr Jehan mengatakan)

    4. Tidak mau sholat berjamaah jika mereka menjadi makmum, why??????????????

    Yang pertama kali mengharamkan shalatnya Ahmadi dengan NonAhmadi adalah ulama yang menjadi penentang Hz. Mirza Ghulam Ahmad tahun 1900 atau 11 tahun setelah berdirinya Ahmadiyah (1889).

    Pada tahun 1892 Maulvi Nadzir Hussein dari Delhi telah mengeluarkan fatwa mengenai Pendiri Jemaat Ahmadiyah sebagai berikut:

    \"…jangan memulai salam kepadanya….jangan melaksanakan shalat dengan bermakmum kepadanya…\" (Isyaa’atus-Sunnah, jld.13, no.6, hlm.85)

    Maulvi Muhammad Hussein dari Batala mengeluarkan fatwa:

    \"Menjadi pengikut Qadiani dan pada saat yang sama, menjadi imam bagi orang-orang Islam adalah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya tidak dapat bersatu.\" (Syar\’i Faishlah, hlm.31)

    Maulvi Rasyid Ahmad Ganggohi memberikan fatwa:

    \"Membiarkan dia atau siapapun juga yang menjadi pengikutnya sebagai imam anda, adalah haram.\" ( Syar\’i Faishlah, hlm.31)

    Maulvi Sanaullah dari Amritsar mengeluarkan fatwa:

    \"…di belakang dia, melaksanakan shalat adalah tidak sah…\" (Fatwa Syari\’at Gharra, hlm.9)

    Itulah diantara puluhan Fatwa dari penentang Ahmadiyah berkenaan dengan shalat. Adapun sikap Ahmadiyah adalah seperti yang telah disampaikan oleh pendirinya :

    “………Khan Ajab Khan Tahsildar bertanya kepada Hz. Masih Mau’ud a.s.: “Jika di suatu tempat terdapat orang-orang yang tidak kita kenal, dan kita tidak tahu apakah mereka Ahmadi atau bukan, maka apakah kita boleh shalat di belakang mereka atau tidak?” Hz. Masih Mau’ud a.s. bersabda: Tanyakan kepada imam yang tidak dikenal itu. Jika dia membenarkan [saya], maka shalatlah di belakangnya. Jika tidak, maka jangan. Allah Ta’ala ingin membentuk sebuah Jemaat yang tersendiri. Oleh karena itu, mengapa melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Orang-orang yang Dia ingin pisahkan, lalu berkali-kali menyusup di antara mereka, itu adalah bertentangan dengan kehendak-Nya. Kemudian Khan Ajab Khan Tahsildar itu kembali bertanya: “Apa tugas besar yang harus kami lakukan jika kembali ke tempat kami?” Hz. Masih Mau’ud a.s. bersabda: Sampaikan pendakwaan saya ini kepada orang-orang. Perkenalkan kepada mereka ajaran-ajaran saya. Ajarkan kepada mereka tentang takwa, Tauhid dan Islam sejati”.

    (sdr Jehan mengatakan)

    5. Mempunyai hitungan Hari,tanggal Dan bulan sendiri.

    Bagimana dengan orang Jawa yang punya penanggalan Jawa, tetapi mereka Muslim? Bagaimana dengan orang China yang punya penanggalan sendiri tetapi meraka juga muslim? Apakah mereka bukan orang Islam?

    Saya sebagai salah satu pengikut Ahmadiyah, Demi ALLAH bahwa yang Anda tuduhkan tidak benar. Kami mengerjakan rukun ISLAM dan mengimani rukun Iman. Nabi Kami adalah Manusia paripurna, yang tidak ada bandingannya diatara Makhluk yang telah ALLAH ciptakan yaitu Yang Mulia Rasulullah SAW yang kepadanya AL-Qur\’an diturunkan dan ISLAM sebagai agama yang DAMAI. saya pribadi tidak perlu pengakuan dari siapapun mengenai keislaman saya. Hanya ALLAH lah dimana tempat saya bergantung yang menilai apakah saya ISLAM atau TIDAK. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

    Wassalam,

    #71745935
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Keindahan Anugerah Nya swt semoga selalu terlimpah pada hari hari anda dan keluarga,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    saran saya anda tak usah berdebat dengan mereka, hanya membolak balik fakta kesana kemari dan membolak balik kata semaunya, menafsirkan dg ilmu seadanya, lalu jadilah yg namanya ahmadiyyah.

    jika Ahmadiyyah bukan ajaran yg bertentangan dg ajaran Rasulullah saw, maka Ahmadiyyah ini apa kah?, siapa pula Mrza Ghulam Ahmad ini?, Imam Madzhab kah?, bagaimana ilmunya tentang hadits Rasul dan syariah jika ia mengaku Imam Madzhab?, kemana sanadnya ?,

    seorang Hujjatul Islam adalah yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, lalu bagaimana dengan beliau ini?

    mana sanadnya?, atau hanya mengandalkan ucapan wahyu?,

    yg disebut wahyu adalah kepada para Rasul, bukan yg lain, mengenai kejadian yg turun kepada Maryam dll yg bukan para nabi itu, itu adalah ilham, bukan wahyu.

    saudara kita itu tak bisa membedakan antara wahyu dan ilham, menurutnya sama saja.

    dan telah jelas Mirza Ghulam Ahmad menuduh seluruh kaum muslimin tak mengerti makna KhatamunNubuwwah, hanya ia yg tahu, maka ucapan ini menunjukkan kekufurannya, karena Rasul saw bersabda : \"Barangsiapa yg memisahkan diri dari jamaah, lalu ia wafat maka ia akan wafat dalam kematian Jahiliyah\" (Shahih Bukhari).

    hanya Mirza ghulam ahmad itu saja yg tahu apa Khatamunnubuwwah, seluruh Imam Madzhab tidak tahu, padahal Imam Madzhab berasal dari satu rumpun berpadu sanadnya kepada sahabat, maka para sahabat Nabi pun tak tahu makna Khatamunnubuwwah, hanya Mirza ghulam ahmad sendiri yg mengetahuinya.

    jelas sudah Jumhur para Ulama sedunia mengatakan AHmadiyah sesat.

    tentunya ini merupakan Hujjah kuat, dan para pengikut Ahmadiyyah lebih memilih seorang yg tak faham ilmu hadits, apalagi mencapai derajat Hujjatul Islam, ia dijadikan pemimpin yg fatwanya hanyalah khayalan2 belaka tanpa sanad yg jelas,

    dan orang dan kelompok semacam ini telah diperingati oleh Rasul saw bahwa mereka akan mati dalam kematian Jahiliyah, karena memisahkan diri dari Jamaah.

    jika tidak, maka tak perlu buat masjid sendiri, kumpullah bersama kami, jika mengakui rukun islam maka ikutlah bermakmum bersama kami, dan tak perlu memisahkan diri sendiri,
    ikutlah fatwa Imam Imam muslimin, ikuti tuntunan Madzhab, ikuti para kyai dan ulama, bukan mengikuti khayalan khayalan seorang manusia yg ditentang oleh seluruh ulama muslimin.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru