November 30, 2020

memotong kuku dan rambut (haid)

Home Forums Forum Masalah Umum memotong kuku dan rambut (haid)

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • Author
    Posts
  • #87561292
    Nur
    Participant

    Assalamu\’alaikum,,,pak habib,,,

    saya tertarik dengan ruang ini, semoga saya betah ya ,pak,,,,
    pak saya ada sedikit pertanyaan,,,mengenai wanita, khususnya mengenai haid..

    Pak, saya sudah membaca mengenai memotong kuku dan rambut di ruang sebelah, dimana disitu bapak mengatakan hukumnya makruh, pak saya selama ini memotong kuku dan rambut seperti biasa walaupun dalam keadaan haid, karena selama ini saya berpegang kepada dalil berikut, yang telah diberikan teman saya seorang salafy…

    saya jadi bingung pak, karena disatu sisi saya sudah terbiasa untuk itu, dan disisi lain saya baru tau hukumnya makruh, yang mana dalil terkuat pak,,,mohon penjelasannya ya pak,,,

    terimakasih

    berikut pak yang selama ini dalil dari memotong kuku dan rambut yang saya punya,,

    Dalam kitab Fiqhus-Sunnah karya Sayyid Sabiq jilid 1 halaman 75 disebutkan :

    [size=4]يجوز للجنب والحائض إزالة الشعر ، وقص الظفر والخروج إلى السوق وغيره من غير كراهية[/size]

    [Diperbolehkannya bagi orang yang junub dan haidl untuk menghilangkan/memotong rambut, memotong kuku, pergi ke pasar, dan selainnya tanpa ada sisi kemakruhan].

    Kemudian Sayyid Sabiq membawakan dalil atas membawakan dalil atas hal tersebut dengan atsar dari ‘Atha ‘ rahimahullah :

    [size=4]يحتجم الجنب ، ويقلم أظافره ، ويحلق رأسه ، وإن لم يتوضأ رواه البخاري[/size]

    “Orang yang junub boleh untuk berbekam, memotong kuku, dan mencukur rambut sekalipun ia belum berwudlu” [HR. Bukhari – Hadits tersebut disebutkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq. Disambungkan sanadnya oleh ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya dari Ibnu Juraij darinya (‘Atha’). Lihat Fathul-Bari juz 1 hal. 426 – Maktabah Sahab].

    #87561331
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Anugerah dan Cahaya Rahmat Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

    Saudariku yg kumuliakan,
    terdapat ikhtilaf akan hal ini, sebagian para fuqaha merujuk pada sunnahnya berwudhu untuk beraktifitas apapun disaat junub, dan memakruhkan aktifitas apapun dalam keadaan junub.

    terusan dari ucapan Imam Ibn Hajar itu pada kitab yg sama adalah :
    [size=4]
    [b]وَقَدْ خَالَفَ عَطَاء غَيْره كَمَا رَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْره فَقَالُوا : يُسْتَحَبُّ لَهُ الْوُضُوء[/b]
    [/size]
    dan telah ada perbedaan pendapat atas Atha\’ dari yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan Ibn Abiy Syaibah dari Hasan Al Bashri dan lainnya, mereka berkata dsiunnahkan padanya (junub) untuk berwudhu.

    (Fathul Baari Bisyarh Shahih Bukhari Bab Aljunub).

    Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #87561335
    Nur
    Participant

    Assalamu\’alaikum pak,,,
    terimakasih atas jawaban bapak, namun pak saya masih belum ada kejelasan, karena maklum pak saya masih ingin belajar mengenai madzhab syafi\’i, dan saya juga khawatir pak apa yang saya amalkan itu terhukum makruh (sesuatu yang dibenci Allah),

    saya juga mau bertanya lagi pak soal hadist atha ini, apa benar dia berstatus dhoif ?

    حدثنا موسى بن إسماعيل ثنا حماد أخبرنا عطاء بن السائب عن زاذان عن علي رضى الله تعالى عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من ترك موضع شعرة من جنابة لم يغسلها فعل به كذا وكذا من النار قال علي فمن ثم عاديت رأسي فمن ثم عاديت رأسي ثلاثا وكان يجز شعره

    mohon pak penjelasannya, dan maaf ya pak telah merepotkan,,,

    terimakasih,,

    #87561362
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Anugerah dan Cahaya Rahmat Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

    Saudariku yg kumuliakan,
    tentunya dalam madzhab syafii terdapat ikhtilaf dalam hal ini, namun dari fuqaha mutaakkhirin memilih memakruhkannya sebagaimana dijelaskan pada Fathul Muin dan Busyralkarim dll, namun hal itu bukan merupakan dosa teentunya, maka sebaiknya dihindari dan jika dilakukanpun bukan merupakan hal yg salah.

    mengenai hadits yg anda sebutkan itu sanadnya shahih dijelaskan pada ahaditsul mukhtarah, namun dijelaskan pada Aunul Ma\’bud bahwa salah satu periwayatnya yaitu Atha bin Assaib, ia berubah (akhlaknya berlaku buruk) sebelum wafatnya,

    berkata yahya bin muin bahwa hadits orang ini tidak bisa dijadikan hujjah.

    maka kedudukan hadits ini terdapat ikhtilaf muhadditsin antara shahih atau dhoifnya, namun Shohib Aunul Ma\’bud menjadikan hadits ini sebagai hujjah diperbolehkannya menghabisi/mencukur habis rambut walau berkesinambungan. (Aunul Ma\’bud Bab Ghusl minal janaabah).

    Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #87561363
    Nur
    Participant

    terimakasih kembali pak, telah memberikan penjelasa atas hal yang saya tanyakan tadi, pak, saya ada mendapat satu keterangan mengenai hadist berikut, bolehkah bapak berikan terjemahan dari isinya dan skalian status hadistnya pak, sohihkah atau dhoif ?

    sesudahnya saya ucapkan terimakasih,,
    berikut pak hadistnya, :

    حديث تحت كل شعرة جنابة فبلوا الشعر وأنقوا البشر أبو داود والترمذي وابن ماجة والبيهقي من حديث أبي هريرة ومداره على الحارث بن وجبة وهو ضعيف جدا قال أبو داود الحارث حديثه منكر وهو ضعيف وقال الترمذي غريب لا نعرفه إلا من حديث الحارث وهو شيخ ليس بذاك وقال الدارقطني في العلل إنما يروى هذا عن مالك بن دينار عن الحسن مرسلا ورواه سعيد بن منصور عن هشيم عن يونس عن الحسن قال نبئت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكره ورواه أبان العطار عن قتادة عن الحسن عن أبي هريرة من قوله وقال الشافعي هذا الحديث ليس بثابت وقال البيهقي أنكره أهل العلم بالحديث البخاري وأبو داود وغيرهما وفي الباب عن أبي أيوب رواه بن ماجة في حديث فيه أداء الأمانة غسل الجنابة فإن تحت كل شعرة جنابة وإسناده ضعيف وعن علي مرفوعا من ترك موضع شعرة من جنابة لم يغسلها فعل به كذا وكذا الحديث وإسناده صحيح فإنه من رواية عطاء بن السائب وقد سمع منه حماد بن سلمة قبل الاختلاط أخرجه أبو داود وابن ماجة من حديث حماد لكن قيل إن الصواب وقفه على علي قوله فسروا الأذى في الخبر بموضع الاستنجاء إذا كان قد استجمر بالحجر والخبر المشار إليه سيأتي من حديث ميمونة

    #87561402
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Limpahan kebahagiaan dan kesejukan hati semoga selalu menerangi hari hari anda,

    Saudariku yg kumuliakan,
    terjemahan riwayat diatas adalah sbgbr :
    Hadits \"dibawah setiap satu helai rambut ada hadas janabah maka basahkanlah rambut dan bersihkanlah kulit\" ini telah diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi dari hadits Abu Hurairah. Pusat permasalahannya yaitu pada Al Harits bin Wajbah. Beliau adalah seorang yang dhoif (lemah) sekali, Abu Daud berkata hadits Al Harits adalah hadits munkar dan hadits munkar dhoif, Imam Tirmidzi mengatakan \"ini hadits ghorib kami tidak mengenalnya melainkan dari hadits Al Harits dan ia adalah seorang syekh yang tidak dianggap (1) ((ليس بناك dan Imam Daruquthni mengatakan dalam kitabnya Al-\’Ilal hadits ini hanya diriwayatkan dari Malik bin Dinar dari AL Hasan secara mursal, dan Said bin Mansur telah meriwayatkannya dari Husyaim dari Yunus dari Al Hasan ia berkata aku diberitahukan bahwa Rasulullah saw…. Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut, Abban Al \’Aththor telah meriwayatkannya dari Qotadah dari Al Hasan dari Abu Hurairoh dari beliau dan imam Syafi\’I berkata hadits ini bukan tsabits (1), berkata Baihaqi : para Ahli ilmu hadits yaitu Bukhari, Abu Daud dan lainnya telah mengingkari hadits ini\"
    Dalam bab ini ada hadits Abu Ayyub yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sebuah hadits yaitu \"termasuk menunaikan amanah mandi dari hadas janabah, sesungguhnya dibawah setiap helai rambut ada hadas janabah\" t\" sanadnya dhoif, diriwayatkan dari Sayyidina Ali secara marfu\’ \"barang siapa membiarkan satu helai rambut dari hadas janabah maksudnya ia tidak mencucinya maka ia akan diperlakukan begini dan begitu (diazab). Sanad hadits ini shohih dari riwayat \’Atho bin Saib, Hammad bin Salamah telah mendengarnya dari \’Atho sebelum ia mengalami ikhtilath (2), Abu Daud dan Ibnu Majah telah mengeluarkan hadits ini dari Hammad tetapi ada yang mengatakan bahwa yang benar adalah bahwa Sayyidina Ali telah menjadikannya mauquf(3) pada dirinya.

    Para ulama mentafsirkan kalimat الاذى dalam hadits tersebut dengan makna tempat istinja yaitu jikalau ia telah beristinja dengan batu dan hadits yang dimaksud akan datang dari hadits riwayat Maymunah.

    Keterangan nomor

    (1) Salah satu shighot jarh artinya hadisnya tidak dianggap/tidak diterima
    (2) Kerusakan hafalan yang dialami para tsiqot
    (3) Maksudnya itu adalah hadits mauquf perbuatan beliau sendiri

    Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru