November 28, 2020

Mereka menolak bid`ah hasanah

Home Forums Forum Masalah Umum Mereka menolak bid`ah hasanah

Viewing 4 posts - 1 through 4 (of 4 total)
  • Author
    Posts
  • #77483650
    MK Mattawaf
    Participant

    Assalaamu `alaikum ya Habib yang kami cintai
    Setelah memposting Bid`ah Hasanah dari Habib
    Mereka (sepertinya) orang-orang Wahabi membalas (me-reply)
    dengan tulisan di bawah, kami mohon kepada Habib
    agar dapat memberikan penjelasan kepada kami, mengenai
    tulisan mereka ini

    Demikian Bib, Wassalaamu `alaikum wr. wb.

    ========= start

    Assalamu\’alaikum wr.wb

    Berikut ini ana kutipkan tentang syubhat-syubhat orang
    yang mengakui adanya bid\’ah hasanah, berikut bantahannya:

    Syubhat pertama:
    Mereka menggunakan dalil hadits Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa
    sallam,\"Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang hasanah
    (baik) dalam Islam maka baginya pahala dari perbuatannya itu dan
    pahala dari orang yang melakukannya sesudahnya tanpa mengurangi
    pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan
    buruk (sayyi\’ah) maka baginya dosanya dan dosa dari orang yang
    melakukan sesudahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun\".
    [Ditakhrij oleh Muslim no.1017]

    Sanggahan:
    Pertama, bahwasanya makna \"MAN SANNA\" adalah \"barangsiapa yang
    melakukan amalan sebagai penerapan dari syariat yang ada, bukan
    orang yang melakukan suatu amalan sebagai penetapan suatu syariat
    yang baru\".
    Oleh karena itu yang dimaksud dengan hadits tersebut adalah beramal
    sesuai dengan ajaran sunnah nabawiyyah yang telah ada. Yang
    menunjukkan hal ini adalah faktor penyebab disabdakannya hadits itu,
    yakni sedekah yang disyariatkan.

    Kedua, bahwasanya orang yang mengatakan \"MAN SANNA FIL ISLAMI
    SUNNATAN HASANATAN\" adalah Rasulullah yang juga beliau
    mengatakan \"KULLU BID\’ATIN DHOLALAH\". Jadi tidak mungkin dari orang
    yang paling mulia dan paling dipercaya perkataannya muncul dua
    perintah yang berlawanan. [Al-Ibdaa\’ Fii Kamaalis Syar\’i Wakhatharil
    Ibtida\’ oleh Syaikh Ustaimin rahimahullah, hal 19]
    Oleh karena itu kita tidak dibenarkan mengamalkan suatu hadits lalu
    berpaling dari hadits yang lain.

    Ketiga, bahwasanya Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam
    mengatakan \"MAN SANNA\" (barangsiapa yang melaksanakan sunnah pertama
    kali) dan beliau tidak mengatakan \"MAN IBTIDA\’\" (barangsiapa yang
    melakukan sesuatu yang baru dalam agama), dan beliau pun
    mengatakan \"FIL ISLAMI\" (dalam Islam), sedangkan bid\’ah itu bukan
    dari syariat Islam. Beliau mengatakan \"HASANAH\" (yang baik)
    sedangkan bid\’ah bukan merupakan sesuatu yang baik. Dan jelas sekali
    perbedaan sunnah dan bid\’ah, sebab sunnah merupakan suatu jalan yang
    diikuti sedangkan bid\’ah itu merupakan sesuatu yang dibuat-buat
    dalam agama.

    Keempat, tidak pernah dinukilkan dari seorangpun dari ulama salaf
    yang menafsirkan kata \"SUNNATAN HASANATAN\" dengan arti bid\’ah yang
    diada-adakan oleh manusia dari diri mereka sendiri.

    Kelima, bahwasanya makna \"MAN SANNA\" adalah barang siapa yang
    menghidupkan sunnah yang pernah ada kemudian hilang lalu duhidupkan
    kembali\". Oleh karena itu maka jadilah kata \"Sunnah\" itu disandarkan
    kepada orang yang menghidupkan sunnah tersebut setelah sunnah
    ditinggalkan orang.

    Dalilnya hadits:
    Barangsiapa yang menghidupkan salah satu sunnahku lalu orang-orang
    ikut mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala dari orang yang ikut
    mengamalkannya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan
    barangsiapa yang mengadakan suatu bid\’ah lalu mengamalkannya, maka
    ia akan mendapatkan dosa dari orang yang ikut melakukannya, tanpa
    mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.[ Sunnan Ibnu Majah no.209,
    disahihkan oleh Al-Albani]

    Keenam, bahwasanya perkataan Rasulullah Shallallau \’alaihi wa
    sallam \"MAN SANNA SUNNATAN HASANATAN\" dan \"WA MAN SANNA SUNNATAN
    SAYYI\’AH\" tidak bisa ditafsirkan dengan \"menciptakan sesuatu yang
    baru\", sebab keberadaanya sebagai sesuatu yang baik atau buruk itu
    tidak mungkin diketahui kecuali melalui syari\’at agama. Karena itu
    maka yang dimaksud dengan sunnah dalam hadits tersebut haruslah baik
    menurut syara\’ atau sebaliknya buruk menurut syara\’. Maka pengertian
    itu hanya berlaku bagi bentuk sedekah yang telah disebutkan, adapun
    sedekah yang serupa dengannya merupakan bagian dari sunnah-sunnah
    yang telah disyari\’atkan, sehingga tinggalah kedudukan \"sunnah
    sayyi\’ah (yang buruk)\" itu ditafsirkan sebagai perbuatan maksiat
    yang keberadaannya menurut syara\’ jelas-jelas maksiat, seperti
    membunuh, sebagaimana diperingatkan oleh Rasulullah
    Shallallahu \’alaihi wa sallam kepada kita dalam hadits mengenai anak
    Adam, dimana beliau bersabda,\"LI ANNAHU AWWALA MAN SANNA AL QOTLA\"
    (Artinya: sebab dialah yang pertama-tama melakukan sunnah membunuh).
    [HR.Bukharino. 2010]

    [Sumber Al Luma\’ Fil-Rudd \’Alaa Muhassiny Al-Bida\’, oleh Abdul
    Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahibaniy – Maktabah Al-Khudhairy
    Madinah An-Nabawiyyah / Edisi Indonesia, Mengapa Anda Menolak Bid\’ah
    Hasanah]

    =========== end

    #77483662
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    makin hari saya jadi makin lucu melihat mereka ini, kasihan, sungguh dangkal sekali hujjah mereka dan betapa mereka tak faham dan berkeras kepala dg kebodohannya.

    Sanggahan:
    Pertama :
    hadits itu berbunyi : Barangsiapa yg mengadakan hal yg baru dalam islam selama itu baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya, dan barangsiapa yg membuat hal baru dalam islam berupa keburukan maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya\"

    kalau si penulis ini berkata bahwa yg dimaksud adalah sunnah nabi yg telah ada yg dibangkitkan kembali, maka apakah ada sunnah nabi yg buruk..?, bukankah dalam hadits itu ada hal baru yg baik dan hal baru yg buruk, berarti sunnah nabi itu ada yg buruk pula?

    Kedua,
    tidak ada hadits bertentangan

    Ketiga :
    mereka memang tak faham bahasa.

    Keempat :
    sangat banyak, berikut akan saya lampirkan sebagian.
    Kelima
    sunnah yg ada adalah sunnah Nabi saw, lalu bagaimana dg hal hal baru seperti penjilidan Alqur\’an?, Alqur\’an dibubuhi terjemah, itu semua bukanlah sunnah nabi saw, lalu apa?

    Dalilnya hadits:
    Barangsiapa yang menghidupkan salah satu sunnahku lalu orang-orang
    ikut mengamalkannya, maka ia mendapatkan pahala dari orang yang ikut
    mengamalkannya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan
    barangsiapa yang mengadakan suatu bid\’ah lalu mengamalkannya, maka
    ia akan mendapatkan dosa dari orang yang ikut melakukannya, tanpa
    mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.[ Sunnan Ibnu Majah no.209,
    disahihkan oleh Al-Albani]

    tu kata \"menghidupkan\" darimanakah munculnya?, tafsir darimana kah?,

    lalu Al Abani itu, maaf.. saya bukan merendahkan orang, dia itu bukan muhaddits, siapa pula mengakui dia muhaddits?

    dia menghukumi hadits dimasa kini dg sisa sisa hadits ada, kalau Imam Ahmad bin Hanbal saja hafal 1 juta hadits dg sanad dan hukum matannya, sedangkan beliau tak sempat menulis haditsnya, musnad Ahmad itu berakhir di nomer 27.688, jadi kira kira 930 ribu hadits lainnya tak sempat ditulis, lalu Imam bukhari hafal 600 ribu hadits dimasa usianya masih muda, dan beliau hanya mampu menulis sekitar 7000 hadits dalam shahihnya dan beberapa kitab riwayat hadits kecil lainnya, lalu kemana sisanya?,

    logikanya ada jutaan hadits yg sudah hilang, sedangkan hadits yg ada sekarang ini semuanya dari semua periwayat tidak mencapai 150 ribu hadits.

    lalu kemanakah sisanya..?, sudah sirna ditelan zaman..

    kan lucu kalau ada orang zaman sekarang muncul mau menghukumi hadits hadits, yg ini dirubah jadi dhoif, yg itu dirubah jadi hasan, yg itu dirubah jadi shahih,

    wah.. untuk menghukumi hadits masa kini sudah terlambat, karena hadits yg ada kini kurang dari 1% hadits yg ada dimasa lalu

    Keenam
    tafsiran ini rancu.

    Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram.
    Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

    Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?

    duh.. ini kan ada di artikel saya…, ini saya nukil dari artikel saya di web ini, udah jelas semua kok, sudah terjawab semua.

    maaf ya saudaraku, saya bukan mau menghina siapa siapa, cuma kita bawa santai dan rileks aja deh, daripada kita berkeras otot dan meledak marah atas saudara2 kita yg bodoh namun keras kepala dg kebodohannya.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam

    #77483681
    Dani Herdiana
    Participant

    assalamualaikum …..

    mohon maaf bila pertanyaan saya ini membuat kesel guruku tercinta, dan mohon ampun juga bila dengan lantunan pertanyaan ini malah menambah dosa saya.

    namun ada satu ganjalan di hati saya ketika saya membaca artiel bid\’ah dan membaca jawaban guruku tercinta terhadap \"mereka menolak bid\’ah hasanah\".

    begini guruku, mohon diberikan penerangan buat hati saya, dan buat semua keluarga saya. dulu sejak saya masih berumur 17 thn, saya pernah mendengar bahwa shalat sunat lebih baik dilakukan sendiri. apakah itu benar? mungkin saat itu saya terlalu bodoh dan saya percaya terhadap himbawan itu tanpa menanyakan bukti-buktinya. lalu bagaimana dengan shalat tarawih berjamaah yang diadakan oleh umar bin khatab? mohon maaf, dari semua bid\’ah hasanan yang saya temui, saya selalu ragu pada shalat tarawih.

    mohon diberi kan penerangan hati untuk saya, agar saya bisa tenang dalam menghadapi saudara-saudaraku yang telah sependapat dengan \"shalat sunat lebih baik dilakukan sendiri\".

    assalamualaikum………………..

    #77483733
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    tentunya bila kita yg hina ini sangat ingin selalu dalam sunnah, maka bagaimana dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra yg merupakan mertua Rasulullah saw, yg hartanya dan jiwanya dikorbankan penuh untuk Nabinya saw, dan hal tarawih itu disetujui pula oleh Khalifah Utsman bin Affan ra, Khalifah Ali bin Abi Thalib kw, dan ratusan sahabat yg masih ada saat itu radhiyallahu’anhum yg Jumhur mereka menyetujuinya, lalu diikuti oleh para Tabi’in, Para Imam Imam yg hafal jutaan hadits, para huffadh yg hafal ratusan ribu hadits, mereka semua tak ada yg melakukannya sendiri, akankah kita mendahulukan pendapat kita dari mereka saudaraku?,

    Tenanglah dan sejukkan jiwamu dengan kebersamaan para Imam dan para Sahabat radhiyallahu’anhum, sungguh mereka itulah yg bersama Rasulullah saw, kita tak akan bersama Rasulullah saw kecuali bila kita mengikuti mereka.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam

Viewing 4 posts - 1 through 4 (of 4 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru