June 20, 2021

najis hukmi

Home Forums Forum Masalah Fiqih najis hukmi

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • Author
    Posts
  • #146234649
    chandra abiesuman
    Participant

    assalamualaikum ya habibana..
    saya dengar kabar bahwa habibana sedang sakit samapai dirawat di RS?

    Ya Allah berikanlah kesembuhan dan kekuatan pada guru kami habib Munzir agar ia senantaiasa dalam keadaan sehat wal afiat dan dapat melanjutkan dakwah dijalanMu ya Rabb..

    Bib, saya punya pertanyaan lagi masih seputar najis..

    1. Jika najis yang ainnya sudah tidak ada lagi, baik warna, bau dan rasaya sudah tidak ada maka ia kan dihukumi najis hukmi.. nah najis hukmi ini jika terdapat dilanatai, maka apakah ia harus dialirkan air agar suci?
    akan sangat merepotkan bib jika kita harus mengalirkan air ke lantai yang saluran pembuangan (lubang pembuangan air) berada agak jauh.. yang ada saya malah akan menambah genangan air yang membanjiri seluruh lantai..
    maka selama ini saya berusaha mensucikan lantai yang terkena darah (misalnya), dengan mengelap darah tersebut sampai hilang 3 indikatornya, mengelap dengan lap basah (dengan sumber air mutlak), mengerinkannya lalu mengelap lagi dengan lap basah yang sudah dibilas dengan air mutlak lagi..
    apakah sudah benar cara thaharah saya tersebut?
    yang jadi pertanyaan saya sebetulnya maksud \"mengalirkan\" air itu bagaimana? dikucurkan, atau dibasuh/digosok?

    2. jika air yang telah dipakai mensucikan najis ain, tentulah mutannajis..
    namun jika dipakai untuk mensucikan najis hukmi, yang sama sekalai tidak ada 3 indikator najisnya, lalu air tersebut beberapa tetesannya terciprat pada pakaian kita, apakah termasuk najis yang dimaafkan?

    3. Apakah najis hukmi dimaafkan dalam shalat? karena saya pernah membaca, didalam mazhab kita najis yang dima\’fu adalah najis yang tidak terlihat oleh mata kita..

    4. Apakah najis hukmi bisa menular? misalnya lantai yang terkena setetes air mutannajis yang tidak memiliki 3 indikator najis, telah mengering lalu terinjak kaki yang basah? lalu kaki tersebut menginjak sajadah..
    apakah sajadah tersebut duhukumi najis??

    saat ini saya sedang dilanda rasa was2 yang disebabkan oleh kedangkalan ilmu fikih saya bib..

    sungguh, niat saya adalah setulus2nya untuk menjalankan syar\’i yang benar agar amal ibadah saya diridhai Allah..

    namun akhir2 ini perasaan was2 ini semakin menghantui saya..

    mohon bimbingannya bib..

    jazzakullah
    Wass

    #146234657
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. caranya, guyurkan air pada tempat tsb maka ia telah suci, dan disapukan air itu kearah pembuangan air sebisanya, maka telah suci dan sisa sisa air itu ma\’fu (dimaafkan).

    2. tidak menjadi najis jika tidak diyakini adanya najis, misalnya begini, ada air najis dan ada air suci didepan kita, lalu ada banyak lalat hinggap pada keduanya, dan salah satu lalat menempel ditubuh atau dibaju anda, dan terasa lalat itu basah, maka hukumnya tetap suci selama tidak ada satu dari 3 sifat najis.

    3. najis jika diyakini adanya, jika tidak yakin maka ma;fu.

    4. jika kering maka tidak menjadi mutanajis, sebagaimana kaidah fiqih Aljaaf bil Jaaf, tohir bilaa khilaaf, yaitu kering bersentuhan dg kering, suci tanpa ada khilaf lagi, misalnya najis kering, bersentuhan dg anggota tubuh atau apapun yg kering pula, maka tidak berpindah najis tsb, dan yg tersentuh tetap suci.
    kecuali jika salah satunya basah, maka yg menyentuhnya menjadi mutanajis

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #146234658
    chandra abiesuman
    Participant

    1.jadi sebaiknya saya menyiram seluruh lantai lalu menyerok/mendorong airnya sampai keluar rumah?
    karena jika selama ini saya salah dalam cara mengepel lantai rumah, maka saat ini lantai rumah saya pastinya dihukumi mutannajis.. begitukah bib?

    Apakah tidak ada cara lain yang lebih ringan bib? seperti menyiram, lalu mengeringkan dengan lap kering samapai airnya terserap lalu mengeringkan lantainya dengan kipas angin?

    2.Apakah dalam mazhab kita ada najis yang dimaafkan dalam shalat? seperti najis yang sangat sedikit (darah nyamuk,bisul/jerawat dll), kalau tidak salah dalam ihya ulumuddin Imam Ghazali bahkan meringankan beberapa jenis najis yang sulit dihindari.. fatwa mufti kesultanan Brunei yang bermazhab syafi\’i bahkan meringankan percikan air kencing yang sulit dihindari. Bagaimana ini bib? Sepertinya permasalahan hukum air dan najasah (bab Thaharah), hanya mazhab kita yang paling ketat.. yang saya ketahui, dalam mazhab hanafi bahkan untuk najis basah dimaafkan sampai ukuran setelapak tangan.. sedangkan najis yang mengering dipakaian sebesar dirham.

    ketika saya membaca bab thaharah dalam al majmu syarah al muhadzdzab, saya jadi merasa amat sangat sulit memenuhi kriteria thaharah yang benar dalam mazhab syafi\’i..
    padahal saya sangat mencintai syar\’i dalam mazhab ini..
    Imam Nawawi bahkan menjelaskan bahwa imam Syafi\’i tidak menganggap sah shalat yang wudhunya membuat ia ragu, bahkan jika diperlukan maka orang yang ragu tersebut harus mandi setiap kali mau melaksanakan shalat sampai ia yakin ia suci.

    hampir setiap kali buang air kecil saya menjadi paranoid, hati2 sekali dalam beristinja..
    namun kadang2 sulit sekali untuk menghindari percikan air istinja yang menetes kedalam toilet lalu terciprat mengenai kaki kita.
    sebelum saya mengetahui tentang air tergenang, saya akan dengan tenang menyiram kaki yang terkena percikan sisa istinja itu dan lalu berwudhu..

    namun setelah saya membaca dan membaca, ternyata jika setetes percikan dikaki saya itu mutannajis (walaupun warna,bau dan rasanya tidak berubah), maka jika ia menetes kepada genangan air dilantai, maka seluruh lantai yang tergenang air menjadi najis pula..

    lalu air untuk wudhu saya yang dari pipa ledeng itu mengalir terus kelantai lalu terciprat kesana kemari, tidak dapat dihindari jika ada yang mengenai tubuh atau pakaian saya.. lalu jika meliat hukum air tergenang, maka akhirnya saya harus mengganti baju dan mandi karena saya tidak dapat memastikan letak yang terkena najis dari tubuh dan pakaian saya (kaidah harus mencuci seluruhnya jika yakin pakaian terkena najis namun tidak jelas letak terkenanya). Karena tidak mungkin saya sholat dengan mencuci baju tersebut (yang sebelumnya saya pakai) karena pastinya masih basah kuyup.
    inilah yang sering terjadi pada saya sehingga saya bisa sampai 3 kali ganti baju dalam satu hari hanya karena percikan air mutannajis.
    lalu air yang tergenang dilantai itu bib, apa memang sudah benar pendapat saya seperti diatas?

    lalu kaidah: kering bertemu kering = tidak tertular najis, basah bertemu basah = tertular najis..
    jika lembab bagaimana bib? karena sering sekali kaki saya sudah saya keset dengan handuk, namun untuk menjadi benar2 kering agak sulit. lalu kaki saya itu menginjak lantai yang terdapat najis hukmi yang sudah kering (dari tetesan air mencuci pakaian yang terkena najis, namun warna, bau dan rasanya tidak berubah dari air mutlak). apakah kaki saya menjadi mutanajis?

    itulah sekelumit keadaan saya dari yang saya pusingkan setiap hari..
    saya merasa kehilangan kekhusyukan dalam sholat2 saya akhir2 ini, padahal pada awalnya niat saya adalah menuju kepada kesempurnaan shalat. Namun pada akhirnya hakikatnya tidak tercapai, malah saya semakin was-was.
    saya sudah mengamalkan pengusir was-was dari syaitan dari hadits riwayat imam bukhary, berta\’awuz lalu meniup kekiri 3x, berdzikir dengan asma ya hayyul ya qayyum..

    namun saya merasa ini asalnya bukan dari syaitan lagi, melainkan kecetekan saya dalam ilmu fiqh.. Wallahu alam..

    lalu mengenai najis hukmi bib, bolehkah saya ambil pendapat para ulama yang menyatakan air yang dipakai untuk mensucikan najis hukmi dihukumi musta\’mal saja, bukan mutannajis? karena dengan begitu saya dapat lebih mudah dalam perihal bersuci.

    saya sering menangis karena hal2 ini bib..
    saya ingin dekat dengan Allah Azza Wa jalla..
    saya ingin memperbanyak ibadah..
    saya tidak ingin kebodohan saya dalam fiqh thaharah menghambat saya dalam beramal..

    mohon maaf kalau saya malah jadi curhat..

    mohon jawaban penenangan jiwa dari habib..

    #146234659
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. lantai rumah anda sudah suci, diguyur saja lalu disingkirkan airnya dan selesai, tidak usah terlalu was was saudaraku, berbuatlah semampunya, sisanya mohon maaflah pada Allah swt.

    2. dalam shalat najis dimaafkan, jika mengalir darah sekalipun tetap shalat tidak batal, asal jangan berpindah/menetes ke anggota tubuh lain, misal darah di kepala, lalu mengalir terus sampai ke kaki, tetap shalatnya tidak batal, yg membatalkan shalat adalah jika darahnya berpindah, misalnya dari wajah ke dagu, lalu menetes ketangan, maka batal shalatnya, jika mengalir tanpa menetes maka tidak membatalkan shalat.

    jika darah itu belum sebesar uang dirham maka dimaafkan, demikian dalam madzhab syafii, justru saudaraku madzhab syafii adalah madzhab yg paling ringan, sebagaimana madzhab hanafi harus berwudhu dari air yg memancur, tidak sah wudhu dari bak sebagaimana madzhab syafii.

    saudaraku, yg dimaksud di majmu. nawawi itu adalah jika ia ragu sudah wudhu atau belum?, maka wajib wudhu, namun jika ia sudah wudhu dan ragu apakah sudah batal atau belum maka tidak batal wudhunya.

    anda tak perlu was was dengan air itu, air yg tidak jelas apakah ada najisnya atau tidak maka hukumnya suci, jika ternyata ada najisnya maka ma\’fu, kecuali anda temukan sifat satu dari 3 sifat najis tsb, maka baru hukumnya mutanajis.

    jika lembab saja tanpa basah maka tetap suci.

    saudaraku, Rasul saw bersabda : Agama ini mudah, siapa yg mempersulitnya maka ia akan dipersulit oleh agamanya sendiri. (Shahih Bukhari).

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #146234661
    chandra abiesuman
    Participant

    alhamdulillah.. saya jadi sedikit tenang membaca jawaban habibana..

    jadi tetesan air yang telah mengalir diatas najis pun harus diyakini dulu kemutanajisannya (dalam artian benar2 tercampur dengan najis / berubah 3 sifatnya), baru dapat dihukumi mutanajis?

    jika benar, maka was2 saya hilang seketika..

    lalu 1 pertanyaan lagi bib, jika satu tetes air yang kita yakini sebagai air mutananjis (walaupun tidak ada 3 sifat kenajisannya), lalu menetes ke ember yang berisi air sedikit (kurang dari 2 qullah) maka seluruh air di ember tersebut mutlak tertular kenajisannya?
    lalu apakah ember tersebut harus dibilas dengan air mengalir dari kran/ledeng? atau cukup disiram dengan gayung, lalu menggosok2nya?

    itulah bib, saya ini seorang hamba Allah SWT yang fakir, cetek ilmu, namun senantiasa ingin berada diatas sunnah Rasulullah SAW..

    hanya modal membaca buku, masih sangat perlu bimbingan dari seorang guru yang fasih seperti habibana Munzir Almusawa..

    Terimakasih banyak Bib.. Sungguh banyak sekali ilmu yang saya dapat langsung dari jawaban2 habib..

    Semoga Allah SWT membalas segala amal baik Habib, melimpahkan rahmat dan kasih sayangNya pada Habib dan keluarga.

    Jazzakullah..

    Wass

    #146234682
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kesejukan kasih sayang Nya semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    was was adalah dosa, tinggalkanlah was was anda, Yang Maha Mengampuni tak akan menyusahkan hamba Nya, saudaraku saran saya mundurlah dari segala keraguan tsb, ada hal hal besar pada diri kita yg menanti untuk pembenahan, seperti khusyu nya shalat, sempurnanya puasa, maka tenanglah dan sejuklah saudaraku dari kerisauan anda.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Fiqih’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru