May 7, 2021

nuzulul qur\’an

Home Forums Forum Masalah Umum nuzulul qur\’an

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • Author
    Posts
  • #168213925

    Assalamu\’alaikum Wr WB…
    semoga Habibana diberikan kesehatan oleh Allah SWT dlm mnjlani rutinitas dakwahnya..

    Habibana yang ana cintai dan dimuliakan Allah..
    Insya Allah,hari ini ana berangkat k Jakarta sendiri,mudah2an tidak ada halangan untuk menghadiri Acara di AT.Tien dan Majlis di ALmunawwar dan mohon do\’anya agar ana selalu dalam lindungan Allah SWT..

    Sungguh sedih hati ini,,ketika ana mendengar celetukan dari seseorang \"ngapain menghdiri acara 17 ramadhan,bid\’ah itu\",,teriris hati ini ana mendengar orng itu…
    bagaimana menyikapi orang seperti itu? karena ketika ana jelasin sebagaimana di Buku kenalilah aqidahmu karangan Habibana itu itu,,,dia menjawab \"nampaknya ada perbedaan pandangan dan perbedaan pintu pemahaman diantara kita . Antum meyakini apa yg antum ilmui, dan demikian juga ana.\".
    jadi dia itu merasa benar..

    beribu-ribu maaf ana terlalu lancang.

    Wasslm

    #168213946
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur\’an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, Keluhuran Badr Alkubra, dan Ijabah pada hari hari shiyam dan qiyam semoga selalu menaungi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    saya menyesal tak bisa jumpa dg anda tadi, saya tanyakan pada ainiy apakah fauzan sudah tiba di markas?, katanya di kalibata dan akan jumpa di majelis, namun saya tidak tahu bisa jumpa atau tidak tadi.

    mengenai orang itu, biarkan saja, doakan ia, kasihani ia, semoga ALlah swt memberinya hidayah,

    salam rindu..

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #168214054

    Assalamu\’alaikum Wr.Wb.(bang admin tolong pargrf ke 2nya disembunyikan)
    Siang tadi ana pulang dari Jakarta,,kemarin di at tien ana tidak enak melwti jamaah border,dan hari senin ana jatuh sakit sehingga tidak bisa menghadiri di almunawwar,tapi ana mendengarkan pengjian tersebut via telpon.padahal ana sangat ingin untuk bisa jumpa dan meminta ijazah sama Habibana,namun tidak apa2,bisa memandang Habibana dan menghadiri Acara di At\’tien merupakan suatu kebahagiaan yang tak tehingga..

    Habibana,kemarin itu ana berniat kalaupun jumpa,ana pengen cium tangan dan meminta ijazah Tariqat Alawiyah,tapi kemarin tidak sempat,namun ketika malamnya ana tidur,dan bermimpi silaturahmi dgn Habibana,dan cium tangan kemudian Habibana pun memberikan ijazah tariqat alawiyah kepada ana,,yang ana tanyakan apakah di mimpi itu ijazahnya sah?kalaupun tidak,ana minta ijazahkan di forum ini..

    Habibana,mohon kiranya Habibana memberikan nama untuk majlis kami dan mendoakan agar menjadi mercusuar dakwah di wilayah kami yang insya allah kami adakan setiap malam minggu sehabis lebaran ini,,dan apakah boleh kalau menggunakan Majelis Rasulullah SAW juga?..

    beribu2 maaf,,ana telah merepotkan semua kru MR dan terutama Habibana..

    Jazakumullah Khair.

    Wasslm.

    #168214101
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur\’an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, Keluhuran Badr Alkubra, dan Ijabah pada hari hari shiyam dan qiyam semoga selalu menaungi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    rindu dan niat saya pada anda sudah dipenuhi Allah swt dialam ruh, saya ijazahkan pula dalam forum ini Ijazah Thariqah alawiyyah pada anda, salam rindu sedalam dalamnya untuk anda dan jamaah di Kalsel, boleh memakai nama Majelis Rasulullah saw namun berhati hatilah karena saya risau anda akan terserang fitnah karena di Kalsel Majelis Rasulullah saw sudah dikenal dipimpin oleh saya, namun anda istikharahlah, jika jawabannya anda mantap maka silahkan dilanjut, asal jangan dikira akan bersaing pula dg majelis lain krn menggunakan nama tsb,

    senoga sdr ku tercinta selalu dalam kemudahan dan keluhuran, salam rindu tuk anda

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #168214109

    Kesejukan dan Kekuatan semoga selalu diberikan Allah SWT kepada Habibana..

    Qobiltu Ijazah.
    Ana terima ijazahnya Bib..

    Insya Allah akan ana laksanakan,karena semua ini teman2 ana yang meminta,mereka sangat mencintai Majelis Rasulullah SAW,mereka selalu meminta downloadkan majlis mingguan di almunawwar,dan tiap bulan ada saja teman ana yg nitip minta belikan jaket MR kpd Ana,dan insya Allah ana akan selalu melaporkan perkembangan dakwah ini kepada Habibana.

    dan Habibana ana mendapat pesan dari seorang wahabi,dia membantah tentang buku Habibana itu,karena ketika dia mempertanyakan suatu dalil,ana kirim Buku yang ditulis Habibana Bab Bid\’ah kemudian dia membalas..
    \"BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG BID\’AH DAN JAWABANNYA

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’Utsaimin

    Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya : Bagaimanakah pendapat anda tentang perkataan Umar bin Khatab Radhiyallahu \’Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka\’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama\’ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata : \"inilah sebaik-baik bid\’ah …. dst\".

    Jawabannya.

    Pertama.
    Bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta\’ala berfirman :

    \"Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih\". [An-Nuur : 63].

    Imam Ahmad bin Hambal berkata : \"Tahukah anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah ?. Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya akan binasa\".

    Ibnu Abbas Radhiyallahu \’anhu berkata : \"Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar\".

    Kedua.
    Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu \’anhu termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta\’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaupun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dengan firman Allah, yang artinya : \" … sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak …\" [An-Nisaa : 20] bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasan mahar.

    Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihahnya, tetapi dimaksudkan dapat menjelaskan bahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tidak melanggarnya.

    Oleh karena itu, tak patut bila Umar Radhiyallahu \’anhu menentang sabda Nabi Muhammad Shallallahu \’alaihi wa sallam dan berkata tentang suatu bid\’ah : \"Inilah sebaik-baik bid\’ah\", padahal bid\’ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam : \"Setiap bid\’ah adalah kesesatan\".

    Akan tetapi bid\’ah yang dikatakan oleh Umar, harus ditempatkan sebagai bid\’ah yang tidak termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam tersebut. Maksudnya : adalah mengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan shalat sunat pada malam bulan Ramadhan dengan satu imam, di mana sebelumnya mereka melakukannya sendiri-sendiri.

    Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu \’anha berkata : \"Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannnya pada malam keempat, dan bersabda :
    \"Artinya : Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedanghkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya\". [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

    Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjamaah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Namun disebut bid\’ah oleh Umar Radhiyallahu anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama\’ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu\’minin Umar Radhiyallahu \’anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid\’ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid\’ah, karena pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam.

    Dengan penjelasan ini, tidak ada suatu alasan apapun bagi ahli bid\’ah untuk menyatakan perbuatan bid\’ah mereka sebagai bid\’ah hasanah.

    Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya : Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam, tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti; adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam : \"Setiap bid\’ah adalah kesesatan ?\".

    Jawabnya : Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid\’ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah : \"Sarana dihukumi menurut tujuannya\". Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan ; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan ; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat.

    Firman Allah Ta\’ala.

    \"Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan\". [Al-An\’aam : 108].

    Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang yang musyrik adalah perbuatan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya, mejelek-jelekan Rabbul \’Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang.

    Ayat ini sengaja kami kutip, karena merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila bertujuan untuk pengajaran ilmu syar\’i, maka pembangunannya adalah diperintahkan.

    Jika ada pula yang mempertanyakan : Bagaimana jawaban anda terhadap sabda Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam.

    \"Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..\".

    \"Sanna\" di sini artinya : membuat atau mengadakan.

    Jawabnya :
    Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula : \"Setiap bid\’ah adalah kesesatan\". yaitu Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta\’ala atau sabda Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam.

    Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam menyatakan : \"man sanna fil islaam\", yang artinya : \"Barangsiapa berbuat dalam Islam\", sedangkan bid\’ah tidak termasuk dalam Islam ; kemudian menyatkan : \"sunnah hasanah\", berarti : \"Sunnah yang baik\", sedangkan bid\’ah bukan yang baik. Tentu berbeda antara berbuat sunnah dan mengerjakan bid\’ah.

    Jawaban lainnya, bahwa kata-kata \"man sanna\" bisa diartikan pula : \"Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah\", yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata \"sanna\" tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan.

    Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda.

    \"Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..\".

    Dari sini, dapat dipahami bahwa arti \"sanna\" ialah : melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau : \"Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan\", yaitu : \"Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik\", bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau : \"Kullu bid\’atin dhalaalah\".

    [Disalin dari buku Al-Ibdaa\’ fi Kamaalisy Syar\’i wa Khatharil Ibtidaa\’ edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid\’ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor – Jabar]

    ETIAP BID\’AH ADALAH KESESATAN

    Oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’Utsaimin

    Apabila masalah tadi sudah jelas dan menjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapapun yang berbuat bid\’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid\’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta\’ala, yang artinya : \" Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu …..\" . Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya.

    Anehnya, ada orang yang melakukan bid\’ah berkenan dengan dzat, asma\’ dan sifat Allah Azza wa Jalla, kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah, dan untuk menuruti firman Allah Ta\’ala.

    \"Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah\". [Al-Baqarah : 22]

    Aneh, bahwa orang yang melakukan bid\’ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenan dengan dzat-Nya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang menuruti firman-Nya : \"Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah\", dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

    Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid\’ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Dengan perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid\’ah mereka.

    Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan : \"Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya\". Padahal dengan bid\’ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta\’ala telah berfirman.

    \"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui\". [Al-Hujuraat : 1]

    Pembaca Yang Budiman.

    Disini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang anda berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawab yang sesuai dengan tuntunan agama anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan).

    Apa pendapat anda terhadap mereka yang melakukan bid\’ah dalam agama Allah, baik yang berkenan dengan dzat, sifat dan asma\’ Allah Subhanahu wa Ta\’ala atau yang berkenan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Kemudian mengatakan : \"Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?\".

    Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung jaripun dari syari\’at Allah, yang berkata : \"Kami beriman kepada syari\’at Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan ; kami menolak apa yang tidak ada dalam syari\’at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?\".

    Siapakah, menurut anda, yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya .?

    Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata : \"Kami mengimani dan mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa yang diperintahkan ; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak patut kami mengada-adakan dalam syari\’at Allah atau melakukan bid\’ah dalam agama Allah\". Tak syak lagi bahwa mereka inilah orang-orang yang tahu diri dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Bukan golongan pertama, yang melakukan bid\’ah dalam agama Allah, dalam hal akidah, ucapan, atau perbuatan. Padahal, anehnya, mereka mengerti sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

    \"Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid\’ah, setiap bid\’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam neraka\".

    Sabda beliau : \"setiap bid\’ah \" bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka mengetahui hal itu.

    Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam yang menyampaikan maklumat umum ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau Shallallahu \’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya, Maka ketika Nabi shallallahu \’alaihi wa sallam bersabda : \"Kullu bid\’atin dhalalah\", Beliau menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulus terhadap umatnya.

    Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu : diucapkan dengan penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya.

    Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid\’ah dapat kita bagi menjadi tiga bagian, atau lima bagian ?

    Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa ada bid\’ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak lepas dari dua hal.

    Pertama : kemungkinan tidak termasuk bid\’ah tapi dianggapnya sebagai bid\’ah.
    Kedua : kemungkinan termasuk bid\’ah, yang tentu saja sayyi\’ah (buruk), tetapi dia tidak mengetahui keburukannya.

    Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid\’ah hasanah, maka Jawabannya adalah demikian tadi.

    Dengan demikian, tak ada jalan lagi bagi ahli bid\’ah untuk menjadikan sesuatu bid\’ah mereka sebagai bid\’ah hasanah, karena kita telah mempunyai senjata ampuh dari Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam, yaitu :

    \"Artinya : Setiap bid\’ah adalah kesesatan\"

    Senjata itu bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan datang dari Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam dan dibuat sedemikian sempurna. Maka barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun dengan bid\’ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam telah menyatakan : \"Setiap bid\’ah adalah kesesatan\".

    [Disalin dari buku Al-Ibdaa\’ fi Kamaalisy Syar\’i wa Khatharil Ibtidaa\’ edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid\’ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-\’Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor – Jabar]

    PEMBAGIAN BID’AH.[1]

    [1]. Bid’ah Haqiqiyah.
    Yakni bid’ah yang tidak memiliki indikasi dari syar’i baik dari Kitabullah, dari Sunnah dan Ijma’. Dan juga tidak ada dalil yang digunakan oleh para ulama baik secara global maupun rinci. Oleh sebab itu, disebut sebagai bid’ah karena ia merupakan hal yang dibuat-buat dalam perkara agama tanpa contoh sebelumnya[2].

    Di antara contohnya adalah bid’ahnya perkataan Jahmiyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, bid’ahnya Qadariyah, bid’ahnya Murji’ah dan lainnya yang mereka mengatakan apa-apa yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam dan para Shahabatnya

    Contoh lain adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan hidup kependetaan (seperti pendeta) dan mengadakan perayaan maulid Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam, Isra’ Mi’raj dan lainnya.

    [2]. Bid’ah Idhafiyah.
    Adapun bid’ah Idhafiyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi. Pertama, terdapat hubungannya dengan dalil. Maka dari sisi ini dia bukan bid’ah. Kedua, tidak ada hubungannya sama-sekali dengan dalil melainkan seperti apa yang terdapat dalam bid’ah haqiqiyah. Artinya ditinjau dari satu sisi ia adalah Sunnah karena bersandar kepada Sunnah, namun ditinjau dari sisi lain ia adalah bid’ah karena hanya berlandaskan syubhat bukan dalil.

    Adapun perbedaan atara keduanya dari sisi makna adalah bahwa dari sisi asalnya terdapat dalil padanya. Tetapi jika dilihat dari sisi cara, sifat, kondisi pelaksanaannya atau perinciannya, tidak ada dalil sama sekali, padahal kala itu ia membutuhkan dalil. Bid’ah semacam itu kebanyakan terjadi dalam ibadah dan bukan kebiasaan semata.

    Atas dasar ini, maka bid’ah Haqiqi lebih besar dosanya karena dilakukan langsung oleh pelakunya tanpa perantara, sebagai pelang-garan murni dan keluar dari syari’at sangat jelas, seperti ucapan kaum Qadariyah yang menyatakan baik dan buruk menurut akal, mengingkari hadits ahad sebagai hujjah[3], mengingkari adanya Ijma’, mengingkari haramnya khamer, mengatakan bahwa para Imam adalah ma’shum[4] (terpelihara dari dosa)… dan hal-hal lain yang seperti itu[5].

    Dikatakan bid’ah Idhofiyah artinya bahwa bid’ah bila ditinjau dari satu sisi disyari’atkan tapi dari sisi lain ia hanya pendapat belaka. Sebab dari sisi orang yang membuat bid’ah itu dalam sebagian kondisinya masuk dalam kategori pendapat pribadi dan tidak di-dukung oleh dalil-dalil dari setiap sisi[6].

    HUKUM BID’AH DALAM AGAMA ISLAM.

    Sesungguhnya agama Islam sudah sempurna dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam. Allah Suabhnahu wa Ta\’ala berfirman:

    \"Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maaidah: 3]

    Rasulullah Shallallahu \’alaihi wa sallam telah menyampaikan semua risalah, tidak ada satupun yang ditinggalkan. Beliau Shallallahu \’alaihi wa sallam telah menunaikan amanah dan menasehati umatnya. Kewajiban seluruh umat mengikuti petunjuk Nabi Muhammad \’Alaihi Shallatu wa sallam, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu \’alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Wajib bagi seluruh ummat untuk mengikuti beliau Shallallahu \’alaihi wa sallam dan tidak berbuat bid’ah serta tidak mengadakan perkara-perkara yang baru karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.

    Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu \’alaihi wa sallam

    \"Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”[7]

    Demikian juga sabda beliau Shallallahu \’alaihi wa sallam

    \"Artinya :Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”[8]

    Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri.

    Ada bid’ah yang menyebabkan kekufuran (Bid’ah Kufriyah), seperti berthawaf keliling kuburan untuk mendekatkan diri kepada para penghuninya, mempersembahkan sembelihan dan nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada mereka, meminta keselamatan kepada mereka, demikian juga pendapat kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah.

    Ada juga bid’ah yang menjadi sarana kemusyrikan, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, shalat dan berdoa di atas kuburan dan mengkhususkan ibadah di sisi kubur.

    Ada juga perbuatan bid’ah yang bernilai kemaksiyatan, seperti bid’ah membujang -yakni menghindari pernikahan- puasa sambil berdiri di terik panas matahari, mengebiri kemaluan dengan niat menahan syahwat dan lain-lain[9]

    Ahlus Sunnah telah sepakat tentang wajibnya mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, yaitu tiga generasi yang terbaik (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in) yang disaksikan oleh Nabi j bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia. Mereka juga sepakat tentang keharamannya bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kebinasaan, tidak ada bid’ah yang hasanah.

    Ibnu ‘Umar Radhiyallahu \’anhuma berkata:

    \"Artinya : Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandang baik.” [10]

    Imam Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 61 H)[11] berkata:

    \"Artinya : Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin dia untuk bertobat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.” [12]

    Imam al-Barbahary Rahimahullah berkata: “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”[13]

    [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama\’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
    _________
    Foote Note
    [1]. Lihat al-I’tisham (I/367), dan seterusnya.
    [2]. Ibid.
    [3]. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan orang-orang yang serupa dengannya. Lihat kitab ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hal. 148).
    [4]. Seperti yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyah.
    [5]. Al-I’tisham (I/221).
    [6]. Ibid.
    [7]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44). Hasan Shahih, dari Shahabat ‘Irbadh bin Saariyah Radhiyallahu \’anhu.
    [8]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu \’anha.
    [9]. Lihat Kitabut Tauhid (hal. 82 ) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan Nuurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah (hal. 76-77).
    [10]. Riwayat al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbary fil Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushulil Bid’ah (hal. 92).
    [11]. Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri. Abu ‘Abdillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah, faqih, ahli ibadah dan Imamul hujjah. Beliau meninggal pada tahun 61 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau di dalam kitab Taqriibut Tahdziib (I/371).
    [12]. Riwayat al-Lalikaiy dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no. 238.
    [13]. Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahary (no. 7), tahqiq Khalid bin Qasim ar-Radady, cet. II-Daarus Salaf, th. 1418 H. \"

    itu bantahan mereka Bib,ana bingung mau jawab,mereka ini sangat keras.

    Mohon maaf dan ampun yang sebesar2nya..

    #168214152
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kemuliaan Ramadhan, Kesucian Nuzulul Qur\’an, Cahaya Keagungan Lailatul Qadr, Keluhuran Badr Alkubra, dan Ijabah pada hari hari shiyam dan qiyam semoga selalu menaungi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    sebenarnya jika ia mendalami ucapan para Hujjatul Islam dan para Imam mengenai Bid\’ah, ia akan mengenal kebenaran, karena utsaimin ini tidak sampai sebutir debu para Hujjatul Islam dan para Imam,

    pakar hadits mempunyai syarat untuk menghukumi hadits, ada gelar Alhafidh, yaitu yg hafal lebih dari 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, ada gelar Hujjatul Islam yaitu yg hafal lebih dari 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya.

    Imam Nawawi adalah Hujjatul Islam, Imam Syafii jauh diatasnya, dan banyak lagi para Hujjatul Islam dan Imam yg menjelaskan tentang makna kalimat bid;ah.

    namun ditentang oleh wahabi dan kelompoknya yg mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya.

    hafal hadits berikut sanad dan matannya adalah hafal haditsnya, dan nama nama periwayatnya sampai ke Rasul saw berikut riwayat hidup mereka, guru mereka, akhlak mereka, kedudukan mereka yg ditetapkan para Muhadditsin, dan lainnya.

    namun wahabi cuma menukil dari buku sisa sisa yg masih ada saat ini, buku buku hadits yg ada saat ini hanya mencapai sekitar 80 ribu hadits, dan tak ada kitab yg menjelaskan semua periwayat berikut sejarahnya kecuali sebagian kecil hadit saja,.

    maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab,

    namun saya perjelas masalah tarawih dan bid;ah sbgbr :

    TAMBAHAN DALAM HAL BID’AH HASANAH

    mengenai ucapan Al Hafidh Al Imam Assyaukaniy, beliau tidak melarang hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran logika dan sandaran Naqli nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan beliau :[size=4]
    [b]
    وهذا الحديث من قواعد الدين لأنه يندرج تحته من الأحكام ما لا يأتي عليه الحصر وما مصرحه وأدله على إبطال ما فعله الفقهاء من تقسيم البدع إلى أقسام وتخصيص الردببعضها بلا مخصص من عقل ولا نقل
    فعليك إذا سمعت من يقول هذه بدعة حسنة بالقيام في مقام المنع مسندا له بهذه الكلية وما يشابهها من نحو قوله صلى الله عليه وآله وسلم كل بدعة ضلالة طالبا لدليل تخصيص تلك البدعة التي وقع النزاع في شأنها بعد الاتفاق على أنها بدعة فإن جاءك به قبلته وإن كاع كنت قد ألقمته حجرا واسترحت من المجادلة
    [/b][/size][b]
    “hadits hadits ini merupakan kaidah kaidah dasar agama karena mencakup hukum hukum yg tak terbatas, betapa jelas dan terangnya dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian Bid’ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada sebagiannya (penolakan thd Bid;ah yg baik) dengan tanpa mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil tulisan (Alqur’an/hadits),
    maka bila kau dengar orang berkata : “ini adalah Bid’ah hasanah”, dg kau mengambil posisi melarangnya dg bertopang pada dalil bahwa keseluruhan Bid;ah adalah sesat dan yg semacamnya sebagaimana sabda Nabi saw : “semua Bid’ah adalah sesat” dan (kau) meminta dalil pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal Bid’ah yg menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid;ah yg baik atau bid’ah yg sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid;ah (hal baru), maka bila ia membawa dalilnya (tentang Bid’ah hasanah) yg dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan dalilnya (aqlan wa syar’an) maka sungguh kau telah menaruh batu dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan” (Naylul Awthaar Juz 2 hal 69-70).
    [/b]
    Jelaslah bahwa ucapan Imam Assyaukaniy menerima Bid;ah hasanah yg disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil Alqur’an atau hadits), bila orang yg mengucapkan pada sesuatu itu Bid’ah hasanah namun ia tak bisa mengemukakan alasan secara logika, atau tak ada sandaran Naqli nya maka pernyataan tertolak, bila ia mampu mengemukakan dalil logikanya, atau dalil Naqli nya maka terimalah.

    Jelas jelas beliau mengakui Bid’ah hasanah[size=4].[b]

    وقال ابن رجب في كتابه جامع العلوم والحكم ما لفظه جوامع الكلم التي خص بها النبي صلى الله عليه وسلم نوعان أحدهما ما هو في القران كقوله تعالى إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي قال الحسن لم تترك هذه الاية خيرا إلا أمرت به ولا شرا إلا نهت عنه والثاني ما هو في كلامه صلى الله عليه وسلم وهو منتشر موجود في السنن المأثورة عنه صلى الله عليه وسلم انتهى
    [/b][/size][b]
    Berkata Ibn Rajab dalam kitabnya Jami’ul Uluum walhikam bahwa lafadhnya : kumpulan seluruh kalimat yg dikhususkan pada nabi saw ada dua macam, yg pertama adalah Alqur’an sebagaimana firman Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dg kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” berkata Alhasan bahwa ayat ini tidak menyisakan satu kebaikanpun kecuali sudah diperintahkan melakukannya, dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya.
    Maka yg kedua adalah hadits beliau saw yg tersebar dalam semua riwayat yg teriwayatkan dari beliau saw. (Tuhfatul Ahwadziy Juz 5 hal 135)
    [/b]

    jelas sudah bahwa semua hal yg baik sudah diperintah oleh Allah swt walau belum ada dizaman Rasul saw, demikian pula hal buruk sudah dilarang walau belum ada dimasa Rasul saw, seperti penjilidan Alqur\’an, pembuatan hukum untuk periwayat hadits, dan semua hal baik, sudah diperintah oleh Allah swt,

    dan semua hal buruk sudah dilarang oleh Allah swt walau belum ada dimasa Rasul saw, sebagaimana narkotika, ganja, dan banyak hal mungkar dan buruk, sudah dilarang oleh Allah swt walau belum ada dimasa Rasul saw.

    hal bid;ah hasanah mestilah ada sandaran secara logika bahwa itu membawa kebaikan, atau sandaran dalil penguatnya.

    ucapan Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar :[size=4]
    [b]
    ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة، فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما وكذا القول في المحدثة وفي الأمر المحدث الذي ورد في حديث عائشة من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد كما تقدم شرحه ومضى بيان ذلك قريبا في كتاب الأحكام وقد وقع في حديث جابر المشار اليه وكل بدعة ضلالة وفي حديث العرباض بن سارية وإياكم ومحدثات الأمور فان كل بدعة ضلالة وهو حديث أوله وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة بليغة فذكره وفيه هذا أخرجه احمد وأبو داود والترمذي وصححه بن ماجة وابن حبان والحاكم وهذا الحديث في المعنى قريب من حديث عائشة المشار اليه وهو من جوامع الكلم قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم أخرجه أبو من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشافعي
    وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محمودة انتهى وقسم بعض العلماء البدعة الى الأحكام الخمسة وهو واضح. [/b]
    [/size][b]
    “semua hal baru yg tak ada asal/dalil dalam syariah dinamakan Bid’ah, namun apa apa yg ada dasar syariahnya maka bukanlah Bid’ah,
    maka kalimat Bid’ah dalam makna syariah adalah hal yg buruk, namun berbeda dengan makna bahasa, karena dalam bahasa kesemua hal baru disebut Bid’ah, sama saja apakah itu yg baik atau yg buruk, demikian pula dalam hal hal baru, sebagaimana hadits yg diriwayatkan oleh Aisyah ra: “barangsiapa yg membuat hal baru dalam urusan kami (syariah) yg bukan dari syariah maka ia tertolak”, sebagaimana penjelasannya sudah kukemukakan beserta penjelasannya dalam kitab Al Ahkam, lalu pula terjadi pada hadits riwayat Jabir ra : “Semua yg bid;ah adalah sesat”, demikian pula hadits riwayat Al Irbadh bin Saariyah ra : “Hati hatilah dg hal yg baru, maka sungguh semua yg bid;ah itu sesat”, hadits itu diawali dengan wasiat Nabi saw pada kami dengan wasiat yg indah, maka disebutlah hadits itu, hasdits itu dikeluarkan oleh Ahmad, dan Abu Dawud, dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibn Majah, dan Ibn Hibban dan Hakim, maka hadits ini dg makna yg dekat dg hadits Aisyah sebagaimana disebutkan, dan terpadu padanya banyak sumber pemahaman kalimat, dan berkata Imam Syafii bahwa Bid;ah terbagi dua, Bid;ah terpuji dan Bid;ah tercela, maka hal hal baru yg sesuai dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tak sesuai dg sunnah maka tercela, demikian diriwayatkan dari Abu, dari Ibrahim bin Aljuneid, dari Assyafii.
    Dan juga datang dari riwayat Assyafii sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Al Baihaqi dalam manakibnya, bahwa hal hal baru adalah dua macam : yaitu apa apa dari hal baru yg bertentangan dg Kitab dan Sunnah atau Atsar sahabat, atau Ijma; ulama maka itu adalah Bid;ah dhalalah, dan hal hal baru berupa kebaikan yg tak bertentangan dg hal hal diatas maka hal itu terpuji.
    Dan sebagian para Ulama telah membagi Bid’ah kepada 5 hukum, dan hal ini telah jelas.[/b] (Fathul baari Almasyhur Juz 13 hal 254)

    berkata Hujjatul islam Al Imam Nawawi mengenai hadits riwayat shahih Muslim no.1017 ini yaitu barangsiapa yg membuat buat hal yg baru berupa kebaikan… dst.

    [size=4]:[b]
    هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه وسلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة[/b][/size]

    [b]pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105
    [/b]
    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam
    [size=3][/size][size=3][/size][size=3][/size]

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru