December 4, 2020

Pemikiran Ahmad Hartono Jaiz

Home Forums Forum Masalah Umum Pemikiran Ahmad Hartono Jaiz

Viewing 4 posts - 1 through 4 (of 4 total)
  • Author
    Posts
  • #85948634
    Arul
    Participant

    Assalammualaikum Warohmatullahi Wabarokattu,

    Habib Munzir yg saya mulyakan, semoga habib dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa diberikan kesehatan dalam menjalankan dakwah habib yg semakin lama terasa semakin luas, semoga dakwah habib dapat menambah keimanan pada kami semua dan lebih mencintai junjungan nabi besar Muhammad SAW serta dapat mengikuti jejak langkahnya.

    Bib, perkenankan saya kembali bertanya mengenai beberapa hal sbb : Semoga pertanyaan ini tidak membuat habib bosan, masalahnya di kantor saya dan kantor2 lain mengalami fenomena dmn apa yg kita amalkan selama ini selalu dipermasalahkan oleh kelompok lain dengan cara dikirimi artikel lewat email atau kliping2 di mesjid sekitar kantor dsb. Tidak sedikit teman2 yg sebenarnya dulu berfaham sama dengan kita Aswaja menjadi terpengaruh dan berbalik menyerang faham yg diajarkan oleh orang tuanya. Atas dasar itulah sy selalu bersemangat untuk bertanya kepada habib dan mudah-mudahan bisa saya sharing dengan teman-teman di kantor yg masih berfaham Aswaja.

    Pada kesempatan kali ini saya ingin tanggapan Habibbana tentang pemikiran Ahmad Hartono Jaiz, yg buku2nya sangat laris di pasaran,

    1. Ahmad hartono Jaiz, menolak istighotsah dengan dalil sbb :

    Thabrani meriwayatkan di dalam Kitab Isnadnya bahwa pada zaman Nabi saw terdapat seorang munafik yang selalu menyakiti orang mukmin. Maka di antara orang mukmin itu berkata: \"Marilah kita minta dihilangkan kesukaran kita dari kelakuan munafik ini kepada Nabi saw.
    Kemudian Rasulullah saw bersabda:

    \"Sesungguhnya tidak boleh itighotsah kepadaku, tetapi istighotsah itu
    seharusnya hanya kepada Allah saja.\" (HR At-Thabrani, lihat Kitab Tauhid,
    Syaikh Muhammad At-Tamimi, halaman 81).

    2. Kutipan dari artikel Ahmad hartono Jaiz ttg penolakan mencari berkah dengan alasan sbb :

    Mencari berkah dengan menghadiri kubur-kubur para wali. Masalah ini
    bertentangan dengan hadits nabi SAW:

    Dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda: \"Janganlah diikatkan kendaraan-kendaraan melainkan ke tiga masjid: Masjid Haram, Masjid Rasul SAW, dan Masjid Al-Aqsha.\" (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari 2/56, Muslim 4/102, 126, Abu Dawud nomor 2033, Ahmad 2/501, Darimi 1/330, Ibnu Majah nomor 1409 dan An-Nasaa\’i).

    Ustadz Abdul Hakim Abdat menjelaskan hadits tersebut sebagai berikut:
    a. Janganlah diberhentikan kendaraan di satu tempat dengan maksud untuk mencari berkat dan keutamaannya kecuali kepada tiga masjid yang tersebut di atas. (Disebutnya kendaraan karena biasanya orang yang mengadakan perjalanan/ safar itu dengan menaiki kendaraan).

    b. Janganlah mengadakan perjalanan/ safar ke suatu tempat dengan maksud mencari berkah dan keutamaannya di situ kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul saw, dan Masjid al-Aqsha.

    Di dalam salah satu lafadz Imam Muslim (4/126) disebutkan sebagai berikut:
    \"Hanyasanya (dibolehkan) safar ( ke suatu tempat untuk mencari berkah dan keutamaannya) kepada tiga masjid: Masjid Ka\’bah, Masjidku, dan Masjid Iyliaa (Masjidil Aqsha).\" (HR Muslim).

    Mengenai hadits tersebut Ustadz ini menjelaskan:
    Nabi saw telah MENGHARAMKAN umatnya mengadakan safar atau ziarah atau memilih/ mengkhususkan tempat dengan maksud TABARRUK dan IBADAH, bahwa tempat itu lebih utama dari tempat-tempat lainnya seperti: Masjid-masjid (kecuali tiga masjid di atas), tempat-tempat bersejarah (Gunung Thur, Goa Ash-habul Kahfi, Goa Hira\’, Goa Tsur) atau ziarah ke kuburan para nabi dan orang-orang sholih buat tabarruk (mencari berkah) sehingga diadakan safar atau dipilih secara khusus ke tempat-tempat tersebut (tusyaddur rihalu). Misalnya, orang yang berziarah ke Masjid Demak di Jawa dengan maksud ibadah dan mencari berkah lantaran Masjid Demak itu dibangun oleh \’para wali\’, maka yang demikian itu terkena larangan Nabi saw di atas. Karena tidak ada perbedaan antara Masjid Demak dengan masjid Ar-Rahman atau masjid mana saja, tentang mendapatkan keutamaan shalat di tiap-tiap masjid. Karena kita dilarang memilih suatu masjid untuk mencari kelebihan dari yang lain kecuali kepada tiga masjid yang Nabi saw bolehkan di atas. Dari sini kita dapat mengerti dengan sebaik-baiknya pemahaman bahwa mencari berkah di masjid tertentu -kecuali tiga masjid yang disebutkan Rasulullah saw mengenai keutamaannya- maka bagaimana dengan TEMPAT YANG BERNAMA KUBUR!??? Apakah kubur lebih utama daripada masjid? Jawablah wahai orang-orang yang berakal!

    3. yg ketiga ini saya ingin mengetahui bagaimana status hadits yg menyatakan bahwa shalat akan batal jika lewat di depat mushalli adalah wanita, anijng hitam dan keledai. Setahu saya hadits tersebut adalah HR Bukhari Muslim yg disepakati sbg hadits shohih. Apakah shalat sy batal ketika shalat di rumah yg kiblatnya kebetulan menghadap sebuah jalan , dan tiba-tiba seorang wanita lewat.

    Demikianlah habib Munzir yg saya mulyakan, Mohon maaf kalau terlalu banyak dan merepotkan. Terima kasih atas segala pencerahannya semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yg berlipat ganda, Amiin.

    #85948659
    Munzir Almusawa
    Participant

    1. ISTIGHATSAH
    Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yg diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yg nyata, karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

    Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yg bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yg bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

    Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yg memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, Rasulullah saw yg mengajari hal ini.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam, bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu, yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

    Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yg lari mencari tim SAR tidak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

    Walillahittaufiq

    2. Lalu bagaimana dengan perbuatan Rasul saw yg berziarah ke Makam Baqi..?, riwayat shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasul saw berziarah ke makam Baqi.

    lalu riwayat shahih Bukhari bahwa Rasul saw mendatangi Masjid Quba setiap sabtu, sedangkan Masjid Quba itu bukan tiga masjid yg disebut dalam hadits tsb?,

    Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar AL Asqalaniy menjelaskan bahwa yg dimaksud dalam hadits itu adalah dilarangnya melakukan niat kunjung masjid dengan bergegas dan semangat selain pada 3 masjid itu, yaitu masjidilharam, masjidinnabawiy dan masjidil Aqsha, ini menunjukkan betapa mulianya ketiga masjid itu, dan berbeda dengan ziarah shalihin, bertabarruk pada yg hidup dan yg wafat, atau mencari ilmu, atau berdagang maka tak ada larangannya (Fathul Baari bisyarh shahihul Bukhari hadits no.1115)

    berkata pula Al Hafidh AL Imam Nawawi : bahwa pendapat yg mengatakan bahwa diharamkan safar selain pada 3 masjid itu maka faham itu salah, dan Jumhur ulama mengatakan maksud hadits itu adalah tidak ada fadhilah dalam mendatangi masjid manapun seperti 3 masjid itu (Syarh nawawi ala shahih Muslim hadits no.2475).

    tentunya fatwa fatwa para Imam diatas telah cukup membungkam fatwa para wahabi jahil itu, maaf saya mengatakan ini karena kita memahami siapa Imam Al Hafidh Ibn Hajar, beliau digelari Alhafidh yg berarti telah hafal lebih dari 100 ribu hadits dg sanad dan hukum matannya, dan buku beliau ini yaitu Fathul Baari bisyarah shahih Bukhari adalah marja\’ (induk) dari penjelasan shahih Bukhari yg paling sempurna, demikian pula AL Hafidh Imam Nawawi, ribuan Muhaddits dan hujjatul Islam mengakui Ibn Hajar dan Imam Nawawi.

    tentunya tak bisa kita bandingkan dengan fatwa sempalan yg tak hafal satupun hadits yg berikut sanad dan hukum matannya.

    3. mengenai hadits itu berkata Imam Nawawi : Bahwa Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanafi dan Jumhur seluruh ulama bersepakat bahwa shalat tak batal dg lewatnya salah satu dari 3 hal tsb, namun yg dimaksud adalah memutus khusyu\’nya shalat. (Syarah Nawawi ala shahih Muslim hadits no.789)

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #85948673
    Arul
    Participant

    Terima kasih habibana atas penjelasannya yg begitu lengkap dan jelas, penjelasan habib telah menambah ilmu khususnya bagi saya dan umumnya pada pengunjung website ini. Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala yg berlipat ganda.

    Salam Ta\’zim,

    Arul

    #85948696
    Munzir Almusawa
    Participant

    Hayyakumullah.. semoga Allah menyambut anda dengan segala anugerah Nya swt..

Viewing 4 posts - 1 through 4 (of 4 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru