November 29, 2020

Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah

Home Forums Iseng dalam keluhuran Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • Author
    Posts
  • #72472349
    Arul
    Participant

    Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil \’aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa\’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba\’du…

    Sayid Muhammad Al-Maliki Ulama Kenamaan Makkah
    ]

    Berita dukacita datang dari kota suci Mekkah. Sayid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Alhasani, wafat pada 15 Ramadhan 1425 H, bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004. Meninggalnya ulama kelahiran Mekkah tahun 1943 (1362H) cukup mengejutkan warga kota Mekkah, khususnya para mukimin Indonesia yang tinggal di Kota Suci itu. Karena, ulama yang menjadi panutan para kyai di banyak negara ini, sebelum menghembuskan nafas terakhir masih menunaikan shalat subuh di kediamannya.

    Ketika jenazah Sayid Muhammad Al Maliki hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga kota Mekkah bergantian menggusung jenazahnya. Dikabarkan sejumlah warga Afrika banyak yang menangis dan histeris. Sementara toko-toko di sekitar Masjidul Haram yang dilewati jenazah mematikan lampu sebagai tanda dukacita.

    Jenazah almarhum di makamkan di pemakaman Ma\’la di Mekkah, berdekatan dengan makam Sayidatina Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Harian Arab Saudi Okaz sengaja mengetengahkan tiga halaman suratkabarnya untuk memuat kegiatan, aktivitas, dan biografi almarhum.

    Kebesaran Al Maliki, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara Afrika, Mesir, dan Asia Tenggara. Ayahnya Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Ashari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama (NU) yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki. Sepeninggal Sayid Alwi, kiprahnya dilanjutkan oleh Sayid Muhammad Al-Maliki.

    Sayid Alwi juga pernah mengajar di Masjidil Haram, Makkah. Almarhum ayahnya ini dulu tinggal di Aziziah, yang tidak jauh dari Masjidil Haram. Di masjid yang dijadikan sebagai kiblat umat Islam ini, Sayid Alwi mengajar murid-muridnya yang datang dari berbagai negara, termasuk para jamaah dari Indonesia. Warga Betawi sendiri pada masa-masa itu, banyak mengirimkan anak-anak mereka belajar ke tanah Hejaz (sebutan Kerajaan Arab Saudi kala itu).

    Ketika dua tahun lalu saya berkunjung di kediamannya di Rushaifah sekitar empat kilometer dari Masjidil Haram, terlihat ratusan muridnya yang berdiam di pesantren dan sekaligus kediamannya. Banyak diantara mereka yang berasal dari Indonesia. Di samping dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan sejumlah negara di Afrika.

    Ketua Umum DPP PAN Amien Rais pernah berkunjung ke Sayid Muhammad Al-Maliki. Demikian pula Hamzah Haz saat masih menjabat sebagai wakil presiden. Banyak ulama Indonesia, saat melaksanakan ibadah haji dan umrah, selalu sowan ke rumah Al Maliki.

    Almarhum yang telah beberapa kali ke Indonesia dan murid-muridnya mempunyai banyak pesantren di pulau Jawa, Sulawesi dan Sumatera, punya perhatian khusus pada Indonesia. Seperti saat Hamzah Haz tahun lalu mengunjunginya, di hadapan para ulama Mekkah dan berbagai negara Islam, ia berdoa agar bangsa Indonesia dipersatukan Allah, dan tidak bercerai berai.

    Di depan kediamannya, terdapat sebuah masjid cukup besar. Sementara di bagian dalam, terdapat sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu dalam jumlah besar. Boleh dikata Al-Maliki tidak pernah sepi menerima banyak tamu tiap hari. Al-Maliki yang murah senyum dan berwajah tampan, ketika itu, tengah mengadakan pertemuan dengan sejumlah ulama, di antaranya dari Afrika dan Eropa. Pertemuan silaturahmi semacam ini hampir tiap malam dilakukan.

    Dalam pertemuan itu dibacakan maulid Nabi Muhammad SAW, yang boleh dikatakan jarang terjadi di Arab Saudi. Menurut keterangan, di antara murid-muridnya itu banyak para mukimin asal Indonesia yang telah menjadi warga Arab Saudi. Biasanya, setelah shalat Isya para tamu kemudian makan bersama berupa nasi kebuli. Satu nampan besar umumnya dihidangkan untuk 5 hingga 6 orang. Almarhum yang pada tahun 1970-an dan 1980-an kerap berkunjung ke Indonesia. Ia singgah di berbagai pesantren dan perguruan Islam di Indonesia. Ia juga pernah beberapa kali berkunjung ke Majelis Taklim Kwitang, Attahiriyah, dan Assyafiiyah.

    Tak henti belajar

    Sayid Muhammad Al Maliki memulai pendidikan di Masjidil Haram, tempat ayahnya pernah mengajar. Kemudian dilanjutkan di sekolah Tahfidil Quran. Masih dalam usia muda, Sayid yang tidak pernah bosan menempa ilmu itu kemudian berkeliling ke India dan Pakistan. Di sini ia belajar di kota Bombay, Hederabad, dan Karachi dari ulama di kota-kota tersebut.

    Ia kemudian melanjutkan pelajarannya di Universitas Al-Azhar Bidang Usuluddin dan mendapat gelar doktor. Dari Al-Azhar ia melanjutkan pendidikan ke Maroko dan beberapa negara Afrika Utara. Setelah ayahnya wafat, pada 1971 ia menjadi guru besar di Masjidil Haram. Sebelumnya menjadi dosen syariah di Universitas Makkah Mukarommah. Ia juga pernah dipilih sebagai ketua penelitian internasional dalam perlombaan MTQ pada pertengahan tahun 1970-an. Sayid Muhammad Al Maliki mendirikan tidak kurang 30 buah pesantren dan sekolah di Asia Tenggara. Karangannya mencapai puluhan kitab mengenai usuluddin, syariah, fikih dan sejarah Nabi Muhammad. Ia mendapat gelar profesor dari Universitas Al-Azhar pada tanggal 6 Mei 2000. Ratusan murid yang menampa pendidikan di pesantrennya, biaya makan dan pemondokan ditanggungnya, alias gratis.

    Menurut Habib Abdurahman A Basurrah, wakil sekjen Rabithah Alawiyah yang lama mukim di Arab Saudi, di Indonesia di antara murid-murid Al-Maliki banyak yang menjadi ulama terkenal dan pendiri dari berbagai pesantren. Murid-muridnya itu antara lain Habib Abdulkadir Alhadad, pengurus Al-Hawi di Condet, Jakarta Timur; Habib Hud Baqir Alatas pimpinan majelis taklim As-Shalafiah; Habib Saleh bin Muhammad Alhabsji; Habib Naqib Bin Syechbubakar yang memimpin majelis taklim di Bekasi; Novel Abdullah Alkaff yang membuka pesantren di Parangkuda, Sukabumi.

    Di antara ulama Betawi lainnya yang pernah menimba ilmu di Makkah adalah KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah madrasah/pesantren masing-masing di Tebet, Jakarta Timur, dan dua di Depok. Masih belasan pesantren dan madrasah di Indonesia yang pendirinya adalah alumni dari Al-Maliki. Seperti KH Ihya Ulumuddin yang memiliki pesantren di Batu, Malang. Demikian pula Pesantren Riyadul Solihin di Ketapang (Probolinggo), dan Pondok Pesantren Genggong, juga di Probolinggo.

    ( alwi shahab )
    Sumber: Harian Republika

    #72472753
    khunthai
    Participant

    Assalamu\’alaikum wrwb.

    Mohon informasi.. adakah penerus perjuangan beliau Syaikh Muhammad bin Alwi al Maliki di negeri Saudi saat ini? Siapakah ulama-ulama penerus generasi beliau yang berjuang di sana saat ini? Adakah ada putra-putra (putri) beliau yang meneruskan?

    Benarkah beliau ulama terakhir yang memperjuangkan dakwah ahlu sunnah wal jamaah di tanah suci melawan paham wahaby? Kalau benar… innalillahi wa innailaihi roji\’un.

    Kami sangat bersykur jika ada yang menulis tentang hal ini.

    Terima kasih.

    Wassalamu\’alaikum wrwb.

    #72479476
    maftuh
    Participant

    Tambahan sedikit Manaqibnya
    KH Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Almanafi ( bandung – sumedang ) pernah berkata “sayyid muhammad bin alawi almaliki qoddasallahu sirohu adalah syaikhu suyukh di daerah hijaz dan timur tengah.karena seluruh ulama di daerah hijaz dan timur tengah pernah bermimpi kedatangan Sayyiduna Rosul SAW.dan beliau SAW menyuruh agar para ulama sehijaz dan timur tengah agar berguru kepada cucu beliau yaitu sayyid muhammad bin alawi almaliki.” dan ketika itu guru saya-yg pada saat itu di bawa oleh sayyid muhammad ke sebuah acara maulid di madinah- mendengar langsung para ulama sehijaz dan timur tengah mendaulat beliau sebagai suyukh.

    #72479508
    Arul
    Participant

    [b]khunthai tulis:[/b]
    [quote]Assalamu\’alaikum wrwb.

    Mohon informasi.. adakah penerus perjuangan beliau Syaikh Muhammad bin Alwi al Maliki di negeri Saudi saat ini? Siapakah ulama-ulama penerus generasi beliau yang berjuang di sana saat ini? Adakah ada putra-putra (putri) beliau yang meneruskan?

    Benarkah beliau ulama terakhir yang memperjuangkan dakwah ahlu sunnah wal jamaah di tanah suci melawan paham wahaby? Kalau benar… innalillahi wa innailaihi roji\’un.

    Kami sangat bersykur jika ada yang menulis tentang hal ini.

    Terima kasih.

    Wassalamu\’alaikum wrwb.[/quote]

    Sepengetahuan sy ada yg bernama Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Alwi al maliki, mungkin beliau adalah putra dari Syeikh Muhammad bin Alwi al Maliki, Wallahualam.

    #72479574
    danang yogisworo
    Participant

    Assalamu\’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    perkenalkan nama saya danang, saya merekomendasi untuk membeli terjemahan dari kitab2 beliau seperti

    1. insan kamil, buku ini menceritakan kesempurnaan sayyidina Muhammad saw

    2. faham-faham yang perlu diluruskan (mafahin wajib an tu shahih), buku ini meluruskan pemahaman beberapa hal seperti ziarah kubur, tabaruk, maulid, dll, buku ini terbitan rosda bandung dibagi menjadi 3 jilid… hubungi toko buku terdekat

    demikian informasi dari saya, maaf bila informasi ini mengganggu

    wassalamu\’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    #72479607
    Arul
    Participant

    Buat sdr Maftuh, apakah antum dr bandung.
    kalo dr bandung, sy mau tanya, apakah di bandung banyak habaib?

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • The forum ‘Iseng dalam keluhuran’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru