December 1, 2020

TAWASSUL DAN YUSUF QARDHAWI

Home Forums Iseng dalam keluhuran TAWASSUL DAN YUSUF QARDHAWI

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #75336445
    AZIS NURYADIN
    Participant

    Yusuf Qardhawi mendefinisikan tawassul sebagai ‘Menggunakan wasilah (perantara) untuk mencapai sebuah hal. Hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah.’
    Jelaslah bahwa definisi seperti itu adalah tidak benar. Sebab, dalam bertawassul, terkadang kita bertawassul dengan amal shalih kita. Jika dikatakan bahwa ‘hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah (yaitu amal shalih kita)’, maka jelaslah bahwa ini adalah definisi yang bathil. Mana mungkin ada sesuatu ‘yang tidak akan terwujud tanpa menggunakan amal shalih kita’? Padahal, yang benar adalah bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin terwujud, kecuali dengan Allah. Wasilah bukanlah yang mewujudkan sesuatu itu.
    Kemudian Yusuf Qardhawi mengomentari ayat ke-35 dari surat Al-Ma`idah yang berbunyi:
    \"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu mendapat keberuntungan.\" (Al-Ma`idah: 35)
    Yusuf Qardhawi berkata, \"Wasilah dalam ayat di atas adalah jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan hal yang dicintai dan diridhai Allah. Baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun niat.\" Dia tidak menyebut soal ‘Nabi’ dan ‘Orang-Orang Shalih’ sebagai yang juga dicintai dan diridhai Allah. Suatu pandangan yang tidak lengkap.

    Lalu Yusuf Qardhawi berkata bahwa tawassul yang disepakati itu ada empat, yaitu:
    1. Tawassul dengan Dzat Allah.
    2. Tawassul dengan Asma dan Sifat Allah.
    3. Tawassul dengan amal shalih.
    4. Meminta doa kepada orang shalih.

    Lalu Qardhawi berkata lagi bahwa tawassul dengan Nabi Muhammad, salah seorang Nabi, atau pun orang-orang shalih adalah hal yang diperselisihkan.
    Padahal pendapat lain mengatakan bahwa yang diperselisihkan itu bukan bertawassul dengan Nabi, melainkan bertawassul dengan orang shalih itulah yang diperselisihkan. Dan lagi bukan ‘bertawassul dengan orang shalih’-nya yang diperselisihkan, sebab suatu pendapat mengatakan bahwa boleh saja kita bertawassul dengan orang shalih, asalkan orang shalih tersebut memang jelas keshalihannya. Adapun Nabi, sudah jelas keshalihannya, maka tidak ada ikhtilaf dalam hal ini. Namun mengenai keshalihan seseorang selain Nabi, kita tidak dapat memastikannya. Jadi bukan ‘tawassul dengan orang shalih’ yang diperselisihkan, tetapi keshalihan orang yang dijadikan sebagai wasilah itulah yang menjadi ikhtilaf. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa bertawassul dengan orang shalih itu sebaiknya dihindari, kecuali jika orang tersebut diyakini keshalihannya hingga akhir hayatnya. Jadi, mengkategorikan ‘tawassul dengan orang shalih’ sebagai perkara khilafiyah adalah suatu kesalah-pahaman atas aqidah yang dipegang oleh kaum salafus shalih.

    Lebih lanjut, untuk menolak tawassul dengan Nabi dan orang-orang shalih, Yusuf Qardhawi berkata, \"Antara Allah dan makhluq-Nya tidak terdapat penghalang. Inilah kelebihan aqidah Islam yang telah menghapus segala bentuk monopoli perantaraan Allah dan manusia yang dilakukan oleh pendeta serta pemuka agama. Aqidah tersebut telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.\" Lalu dia mengutip ayat:
    \"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.\" (Al-Baqarah: 186)

    Perlu diketahui bahwa orang yang bertawassul dengan Nabi itu tidak pernah meminta sesuatu kepada Nabi dalam doanya, mereka hanya berdoa, misalnya, ‘Ya Allah, demi Nabi-Mu, ampunilah aku.’ Dan doa semacam ini pernah dicontohkan Nabi Muhammad, dimana Nabi telah berdoa, \"Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.\" [HR. Imam Thabrani]

    Yusuf Qardhawi, dengan komentarnya tersebut, sepertinya telah salah memahami ‘tawassul dengan Nabi’. Dalam komentaranya tersebut, dia seakan berkata bahwa kita tidak perlu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal Allah menyuruh kita untuk mencari wasilah yang mendekatkan kepada Allah. Dalam komentar itu, dia juga seakan berkata bahwa jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Dengan komentar demikian, berarti dia telah menyalahi tawassul yang disepakati. Yusuf Qardhawi berkata, \"Aqidah Islam telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.\" Jika hal ini dia maksudkan untuk menolak ‘tawassul dengan Nabi’, maka sesungguhnya hal tersebut juga telah menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Pertama, karena orang yang kita anggap shalih itu belum tentu shalih. Kedua, karena jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Mengapa harus meminta doa dari orang shalih? Bukankah Allah itu dekat?

    Maka, jika dia menolak ‘tawassul dengan Nabi’ dengan komentar demikian, seharusnya dia juga menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Tetapi karena dia tidak menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’, maka seharusnya dia juga menerima ‘tawassul dengan Nabi atau pun orang shalih’. Ini hanyalah salah satu contoh dari kecacatan cara berfikir Yusuf Qardhawi dan para pendukungnya, dimana mereka berfikir secara parsial.

    Allah memang Mahadekat lagi Mahamendengar. Namun adalah suatu sunnah untuk berdoa dengan \’bertawassul dengan nabi\’ atau dengan meminta didoakan. Penolakan Yusuf Qardhawi terhadap \’tawasul dengan Nabi\’ adalah suatu penolakan yang lemah dan tidak sah.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • The forum ‘Iseng dalam keluhuran’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru