November 27, 2020

Tukar Menukar Barang

Home Forums Forum Masalah Umum Tukar Menukar Barang

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • Author
    Posts
  • #72149030
    WIDAYAT NUR AZIS
    Participant

    Assalamu\’alaikum.
    Semoga limpahan rahmat Allah selalu tercurah pada diri Habib, Keluarga dan Umat Muhammad SAW hingga akhir zaman.
    Ada beberapa pertanyaan Bib yang akan saya ajukan, semoga Habib tak bosan2 menjawabnya.
    1. Bagaimana tukar menukar barang yang benar menurut ilmu syariah. Karena pernah saya dengar/baca, bisa-bisa kita akan terjerumus riba.
    Mohon dijelaskan tukar menukar barang yang bisa ke arah riba.
    2. Mengenai faham wahabi Bib.
    Pernah Majelis Rasulullah (pada Iseng Dalam Keluhuran) memuat tulisan sejarah berdirinya Wahabi ini, dan orang-orang Wahabi membuat sanggahan bahwa tulisan itu adalah dusta. Mohon dijelaskan.
    3. Tentang hadits Dhaif Bib, apa kita udah jelas-jelas tak boleh mengamalkannya.
    Mohon dijelaskan.
    4. Mengenai mengangkat tangan dan mengusap muka pada waktu kita berdoa, apa diperbolehkan. Karena pada suatu waktu saya mendengar pengajian, hal tersebut disunahkan tapi ada juga yang membid\’ahkan.

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    #72149031
    AZIS NURYADIN
    Participant

    Assalamu \’alaykum wr. wb.

    Mengenai sejarah wahabi tsb, saya menyalinnya dari seseorang yang juga menyalinnya dari majalah Cahaya Nabawi, yang mana penulisnya merujuk pada buku-buku yang dapat dipegangi. Saya belum tahu bagaimana sanggahan orang Wahabi terhadap tulisan tersebut. Jika mereka hanya berkata bahwa tulisan itu dusta, maka hal itu tidak bisa dijadikan sanggahan. Jika mereka ingin menyanggah, mereka harus memaparkan bagaimana sejarah berdirinya Wahabi menurut mereka, dan berdasarkan apa mereka membuat paparan tersebut.
    Akan tetapi, jika Anda memang ingin mengetahui bagaimana cara berfikir orang Wahabi, Anda bisa melihat situs mereka di http://www.salafy.or.id.
    Di situ Anda bisa melihat betapa nyeleneh pandangan Abdullah bin Baz tentang Acara Peringatan Maulid Rasul. Atau kunjungi halaman berikut:
    http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=914

    Kalau tidak keberatan, bisa nggak Anda tuliskan bagaimana sanggahan mereka itu? Tentunya sanggahan mereka yang bersifat ilmiah. Dan ada satu hal dari sifat mereka yang berbahaya, mereka itu lebih cenderung beragama ?Qola Ustadz? dibandingkan beragama dengan ?Qolallahu Ta?ala atau pun qola Rasul saaw?. Kalau ustadznya bilang bid\’ah, ya berarti bid\’ah, walau pun tidak ada dalil yang kuat untuk membid\’ahkannya. Kalau kata ustadznya bahwa hadits itu telah dihapus atau pun lemah, maka ya mereka tinggalkan, padahal mereka tidak tahu hadits mana yang telh menghapusnya, dan atas dasar apa hadits itu dianggap lemah.
    Kalau boleh kasar, Wahabi ini mirip dengan JIL. Mereka diperalat oleh orientalist untuk membingungkan dan menyesatkan ummat.
    Wallahu a\’lam.

    Wassalamu \’alaykum wr. wb.

    #72149034
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Limpahan Anugerah Nya semoga selalu memayungi hari hari anda dalam keridhoan Nya,

    1. Tukar menukar yg menjadi riba hanyalah pada tiga hal, Yaitu pertukaran emas, perak, dan makanan dg makanan. dan tak ada pertukaran yg riba selain dg 3 hal diatas.
    tukar menukar emas dengan emas, perak dengan perak dan makanan dengan jenis makanan yg sama, misalnya beras dengan beras, kurma dengan kurma. dan uang termasuk kepadanya, misalnya pertukaran rupiah dengan rupiah, dolar dengan dolar, mesti menepati 3 persyaratan :
    a. Tidak menunda pertukaran
    contoh sebaliknya adalah berkata penjual : \"saya jual sekarung beras ini dengan sekarung beras yg sama dg penundaan hingga satu bulan\", berkata pembeli : \"saya terima\". maka pertukaran ini riba, karena ada penundaan, (sekali lagi saya ingatkan bahwa ini hanya pada tiga macam pertukaran, tidak termasuk kedalamnya pertukaran uang dengan barang misalnya, maka tidak termasuk riba)

    b. saling mengambil barang yg ditukarnya ditempat jual beli.
    contoh sebaliknya adalah berkata penjual : \"saya jual sekarung beras ini dengan sekarung beras yg sama\", lalu berkata pembeli : \"saya terima\", lalu mereka berpisah tanpa membawa masing masing barangnya. maka pertukaran ini riba, karena disyaratkan mengambil barangnya masing masing, lain lagi bila setelah mengambilnya dan perjanjian selesai, maka ia menitipkan dulu barang itu pada penjual, maka ini bukan riba.

    c. sama beratnya.
    contoh sebaliknya : berkata penjual : \"saya jual padamu emas 5 Gram ini dengan yg sepertinya dua kali lipat\", lalu berkata pembeli : \"saya terima\". maka pertukaran ini riba, karena berbeda beratnya.
    contoh lain bila saya menukar selembar uang 10.000 rupiah dengan uang pecahan 100 rupiah hingga berjumlah 10.000 rupiah, maka disyaratkan tidak menunda jual beli, dan tidak membiarkan uang itu dg menunda untuk segera mengambilnya, walaupun boleh saja saya mengambilnya lalu menitipkannya kembali pada si pembeli misalnya, ini sudah berbeda pembahasannya,
    dan disyaratkan pula agar tak menambah jumlahnya, misalnya saya harus membeli selembar uang 10.000 rupiah dengan recehan 10.000 ditambah 500 rupiah, ini riba. demikian pula sebaliknya.
    walaupun boleh saja setelah terjadi pertukaran maka si penjual meminta upah 500 rupiah atas jasanya misalnya, karena ia telah mengumpulkan pecahan 100 rupiah dengan susah payah, atau ia telah mencari selembar 10.000 rupiah dg susah payah, maka kita membayar jasanya, bukan menambah nilai tukarnya, atau saya memberinya hadiah 500 rupiah maka itu boleh boleh saja.

    pertukaran yg kedua adalah pertukaran yg berbeda :
    emas dengan perak atau perak dengan emas, dan makanan dengan makanan yg lain jenis, disyaratkan hanya dua hal yg pertama diatas, yaitu tidak menunda pertukaran, dan saling mengambil barangnya ditempat, contohnya saya menukar rupiah saya dengan US dolar, maka haruslah mengambilnya ditempat, dan pembelian haruslah tanpa penundaan, dan dalam pertukaran antara mata uang yg berbeda ini, atau emas dengan perak, atau perak dengan emas, atau makanan dengan jenis makanan lainnya, boleh boleh saja mengambil untung, boleh boleh saja menukar sekarung beras dengan 10 karung kurma misalnya, namun syaratnya adalah dua syarat yg pertama (a dan b) lain dengan pertukaran rupiah dengan rupiah, atau emas dengan emas, atau perak dengan perak, atau makanan dengan jenis yg sama, maka disyaratkan 3 hal (a, b dan c) (sumber : Yaqutunafiis alaa madzhab Ibn Idris Bab Riba)

    terus terang saja Bab Riba ini sangatlah panjang, butuh lebih dahulu dijelaskan hukum jual beli, dg definisinya, 3 rukun jual beli, 4 syarat sah bagi penjual dan pembeli, 5 syarat sah barang yg diperjualbelikan, dan 13 syarat sah perjanjian jual beli, yg setiap poin butuh penjelasan luas pula, barulah membahas Bab Riba, dengan definisinya, hukumnya, syarat2nya dll, namun jawaban diatas saya singkat saja semoga difahami, dan boleh ditanyakan lagi bila ada yg belum difahami, karena Bab Fiqih mestinya diajarkan dengan temu muka.

    wallahu a\’lam.

    #72149036
    Munzir Almusawa
    Participant

    3. mengenai beramal dg hadits dhaif, merupakan hal yg diperbolehkan, namun tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum.
    namun tak sepantasnya kita menafikan hadits dhaif, karena ia hanyalah hadits yg lemah sanad periwayatnya, atau pada matannya, namun bukan berarti ia adalah palsu, [b]karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau Batil, bukan hadits dhaif.[/b]

    tidak sepantasnya kita menafikan hadits dhaif karena hadits dhaif diakui sebagai ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yg berani menafikannya, karena menafikannya berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur : \"Barangsiapa yg sengaja berdusta dengan ucapanku, maka hendaknya ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka\" (Shahih Bukhari hadits no.110), sabda beliau saw pula : \"sungguh dusta atasku tak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yg sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka\" (Shahih Bukhari hadits no.1229), cobalah anda bayangkan, mereka yg melarang beramal dengan hadits dhoif berarti mereka mendustakan ucapan Rasul saw, dan merekapun jelas jelas menuduh para periwayat itu telah berdusta dan telah kufur karena meriwayatkan hadits palsu.

    sesekali kita tak boleh memusuhi mereka ini, mereka jahil dan tak mengerti ilmu hadits, wahai saudaraku ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman Rasul saw, ilmu hadits itu adalah Bid\’ah hasanah, baru ada sejak Tabi\’in, mereka membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yg hilang dan tak dikenal, namun mereka sangat berhati hati, karena mereka mengerti hukum, bila mereka salah, walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan mereka ini yg dengan ringan saja melecehkan hadits Rasul saw.
    wallahu a\’lam.

    #72149037
    Munzir Almusawa
    Participant

    4. tak satupun dari mereka yg mencapai derajat Alhafidh, mereka hanya menukil dari buku buku hadits, entah karena kelicikannya atau karena kebodohannya dalam ilmu bahasa, [b]saya lebih senang berpendapat bahwa mereka ini terlalu bersemangat namun tidak berilmu lalu berfatwa seakan menyamai para muhadditsin, padahal buku buku hadits yg masih ada kini sudah hanya tinggal sisa sisa saja dari jutaan hadits yg tak sempat dibukukan,

    kita memiliki sanad guru, yg melihat dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga Rasul saw, semua guru guru kita adalah orang shalih, adalah ulama, adalah pecinta Rasul saw, [/b]

    jelas jelas mereka menusuk ucapan Ibn Hajar Al Atsqalaniy rahimahullah yg mengatakan bahwa hadits itu hasan bighairih, karena ada dari periwayat lainnya, mereka malah menuduhnya munkar atau Bid\’ah.

    1. Bahwasanya Rasul saw saat akan tidur di pembaringannya, menggabung kedua telapak tangannya lalu nafatsa (meniup dg sedikit meludah) pada kedua telapak tangannya lalu membaca surat Al Ikhlas dan Alfalaq dan Annaas, lalu mengusapkannya ke wajahnya, dan seluruh tubuh yg mungkin dicapainya, neliau mengulanginya 3X (Shahih Bukhari hadits no.4729).

    2. Bahwasanya Rasul saw bila telah menuju pembaringannya nafatsa pada kedua telapak tangannya dengan Qulhuwallahu ahad dan Mu\’awwidzatain, lalu mengusapkannya kewajahnya dan anggota tubuhnya yg dapat dicapai kedua tangan beliau saw, berkata Aisyah ra, ketika beliau sakit maka beliau menyuruhku untuk melakukannya untuk beliau saw (Shahih Bukhari hadits no.5416)

    jelas jelas hadits riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa Rasul saw mengusap wajahnya dalam doa beliau saw, terutama saat akan tidur dan saat sakit.
    [b]memang tak ada hadits shahih dalam mengusap wajah disetiap selepas doa, namun hadits Bukhari ini jelas jelas merupakan hujjah yg menafikan larangan mengusap wajah setelah doa, karena Rasul saw melakukannya saat akan tidur, dan surat Alfalaq dan Annaas maknanya adalah doa untuk dilindungi dari syaitan dll. beliau saw melakukannya, [/b]
    kita bertanya, mengapa beliau mengusapkannya kewajah dan seluruh tubuhnya?, karena kedua tangan yg terangkat kehadirat Allah swt itu terlimpahi keberkahan, dan beliau saw mengusapkannya keseluruh tubuhnya, demikian pula nafas dan air ludah yg dilewati oleh pembacaan Alqur\’an pun membawa keberkahan hingga beliau meniupkannya disertai sedikit ludah pada telapak tangan beliau saw sebelum mengusapkannya, dan hal yg paling penting dari semua ini sebagai kesimpulan, tak ada satupun ayat, atau hadits, atau ucapan Muhadditsin yg melarang mengusapkan kedua tangan ke wajah setelah berdoa, hanya mereka ini yg muncul di akhir zaman melarangnya, dan melarang hal ini merupakan Bid\’ah Dhalalah yg jelas.
    mengenai mengangkat tangan saat berdoa, banyak diriwayatkan dg Nash yg jelas.

    semoga Allah memberi mereka hidayah dan membimbing mereka kejalan yg luhur dan benar, demikian wahai saudaraku,

    Wallahu a\’lam

    #72149035
    Munzir Almusawa
    Participant

    2. mengenai artikel yg telah ditulis oleh sdr Nuryadin, pernah saya baca pada Buku Fitnatulwahabiyyah oleh Syeikh Zaini Dahlan, baiknya mereka itu menjelaskan apa yg tidak benar pada artikel itu, sesekali mereka bukan untuk dimusuhi, namun bukan pula kita biarkan, mereka adalah saudara saudara kita yg ternodai oleh wabah akidah yg muncul di akhir zaman, Jazakumullah Khair untuk Sdr Nuryadin yg telah memberi tanggapan.

    wallahu a\’lam

Viewing 6 posts - 1 through 6 (of 6 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru