L
arangan Buang Air Kecil Dalam Air Yang Tidak Mengalir
Senin, 11 Juni 2012

قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian buang air kecil (atau besar) di air yang diam yang tidak mengalir, lalu ia mandi dari air itu (yang dimaksud selain danau atau kolam besar) (Shahih Bukhari)

Penjelasan makna hadits oleh Al Ustadz Khairullah Ramli

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


فحمدا لرب خصنا بمحمد وأنقذنا من ظلمة الجهل والدياجر والحمدلله الذي شرف الأنام بصاحب المقام الأعلى، وأشهد أن إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد ورسوله المصطفى ، اللهم صل وسلم وبارك وكرم على عبدك وحبيبك ورسولك سيدنا ومولانا محمد سيد أهل الأرض وسيد أهل السماء وعلى آله وأصحابه وتابعين لهم بإحسان إلى يوم اللقاء

Segala puji bagi Allah Yang Maha melimpahkan rahmatNya kepada kita, Yang memberikan kita izin untuk hadir dalam majelis mulia di malam hari ini untuk kesekian kalinya, semoga segala yang kita amalkan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala selalu menginginkan hambanya dalam kesucian zhahir dan bathin, maka Allah mengajarkan dan memberikan tuntunan-tuntunan kepada ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tetap berada dalam kesucian dan kemuliaan. Sehingga banyak hal yang kita dapatkan dalam ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membuat kita selalu dalam keadaan suci, yaitusuci dari dosa kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan kehadiaran kita di majelis ini maka kita telah dilimpahi kesucian oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Shahih bahwa orang-orang yang hadir dalam majelis-majelis dzikir seperti ini, maka dikatakan kepada mereka bahwa ketika mereka bangun dari majelis dzikir itu mereka dalam keadaan diampuni oleh dosa-dosanya, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir kepada Allah dan tidak mengharakan dari perkumpulan itu kecuali ridha Allah, kecuali malaikat akan menyeru dari langit : Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian”

Maka ketika kita datang ke suatu majelis dalam keadaan membawa dosa-dosa kita, dan ketika kita pulang dari majelis dosa-dosa kita telah dibersihkan oleh Allah subhanahu wata’ala, hal ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala selalu menginginkan kesucian untuk kita, baik secara zhahir atau bathin. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menuntun kita kepada hal tersebut. Dalam hadits riwayat Al Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَايَبُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِيْ لَايَجْرِيْ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ

“ Janganlah salah seorang dari kalian membuang air kencing di air yang diam tidak mengalir kemudian mandi di dalam air itu”

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan suatu larangan kepada ummatnya, yaitu untuk tidak membuang air kecil (apalagi membuang air besar) dalam air yang tergenang dan tidak mengalir, kemudian mandi dari air tersebut. Maka para Ulama’ menjelaskan tentang hukum membuang air kecil dalam hadits ini atau hadits-hadits riwayat lain yang serupa, bahwa jika airnya sedikit dan miliknya sendiri, bukan milik orang lain maka hukumnya adalah makruh, yang secara bahasa berarti dibenci atau tidak disukai, adapun dalam istilah syariat, makruh adalah sesuatu yang jika ditinggalkan (karena perintah Allah subhanahu wata’ala) maka akan mendapatkan pahala dari Allah, dan jika dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Maka ketika seseorang tidak ingin membuang air kecil atau air besar di air yang tergenang, karena dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana hal itu adalah perintah dari Allah subhanahu wata’ala maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala, karena hal tersebut hukumnya makruh. Adapun jika air tersebut bukan milik seseorang atau tidak ada yang memilikinya (Al Milk Al Mubaah) maka jumhur Ulama’ dalam madzhab Syafi’i juga mengatakan bahwa kencing di air tersebut hukumnya makruh , karena Al Milk Al Mubaah (tidak ada yang memilikinya). Namun jika air tersebut dimiliki oleh seseorang, kemudian ada orang lain yang membuang hajat di air tersebut tanpa izin dari pemiliknya atau belum mengetahui atau yakin bahwa pemiliknya ridha, maka dalam hal ini hukumnya adalah haram karena air itu adalah milik orang lain. Misalanya kita memiliki air ada kolam kecil atau dalam ember yang tidak mencapai 2 qullah ( +- 217 L ) maka haram hukumnya bagi orang lain untuk membuang hajat dalam air tanpa meminta izin atau meyakini bahwa yang memiliki air tersebut ridha. Begitu juga jika air itu adalah milik wakaf, jika ada seseorang yang mewakafkan air, baik air itu sedikit atau banyak dan untuk digunakan berwudhu’, maka hukumnya haram membuang hajat di dalam air tersebut karena air itu adalah milik wakaf dan diwakafkan hanya untuk berwudhu. Adapun jika air yang tidak mengalir itu banyak sekali seperti danau, atau kolam renang yang besar baik itu milik orang lain atau milik sendiri, maka para ulama’ mengatakan bahwa hukum membuang air kecil dalam air tersebut mubah (diperbolehkan). Namun salah seorang ulama’ Syafi’i yaitu Al Imam An Nawawi Ad Dimasyqi, beliau adalah ulama’ besar yang bermadzhab Syafi’I yang kemudian beliau mengambil intisari madzhab Syafii dan dikaranglah sebuah kitab Fiqih yang berjudul Minhaaj, beliau mengatakan dalam salah satu kitab karangannya yang berjudul Majmuu’ Syarh Al Muhadzzab, bahwa membuang hajat di air yang tergenang atau pun di air yang mengalir maka hukumnya adalah haram secara mutlaq, maka oleh sebab itu kita perlu berhati-hati karena pendapat Al Imam An Nawawi adalah pendapat yang kuat dalam madzhab Al Imam As Syafii.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, setelah menyebutkan akan hukum membuang hajat di dalam air yang tergenang / tidak mengalir, kemudian ia mandi di air itu. Di dalam hadits Riwayat Al Imam Muslim dan Abu Daud, disebutkan :

ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ

“ Kemudian mandi dari air tersebut (dengan cara mengambilnya)”

Hadits yang pertama yaitu berendam di dalam air itu, adapaun hadits yang lainnya riwayat Imam Muslim dan Abu Daud yaitu mengambil air dari air itu kemudian mandi dengannya. Maka para Ulama’ menyebutkan tentang hukum mandi dari air yang tergenang baik dengan cara menyelam atau berendam di air tersebut atau dengan mengambil air dengan gayung dan jika airnya sedikit maka hukumnya adalah makruh, tetapi jika airnya banyak meskipun tidak mengalir seperti berendam di kolam renang yang airnya banyak maka hukumnya mubah (diperbolehkan). Namun dalam hal ini para Ulama’ tidak akan menyia-nyiakan waktu di setiap detiknya kecuali untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dan selalu menjadikan perbuatannya mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala, meskipun dikatakan bahwa mandi di kolam renang yang airnya banyak itu hal itu adalah perbuatan mubah (Jika dikerjakan tidak mendapatkan pahala, dan jika ditinggalakan tidak mendapatkan dosa). Maka ketika mereka mandi di kolam renang tentunya mereka para ulama’ akan memasang niat untuk menjalankan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :

عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمْ السِّبَاحَةَ وَالرِّمَايَةَ وَرُكُوْبَ الْخَيْلِ

“ Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan menunggang kuda”

Maka ketika kita berenang dan berniat karena menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka akan mendapatkan pahala. Dan kita telah mendengar dari Al Allamah Al Habib Abdullah Al Haddar, beliau adalah guru dari guru mulia kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim AL Hafizh, di wilayah Baidha’ Hadramaut, dimana suatu waktu ketika beliau berenang di danau bersama murid-muridnya, kemudian beliau bertanya kepada muridnya : “Apa yang kalian niatkan ketika kalian menyelam?”, mereka justru bertanya : “Apa yang seharusnya kita niatkan wahai guru?”, beliau berkata : “berniatlah ketika kalian menyelam untuk mengqadha’ (mengganti) setiap mandi sunnah yang terlewatkan”, mungkin ketika akan shalat Jum’at tidak melakukan mandi sunnah, atau ketika akan shalat Idul Fitri tidak mandi sunnah karena terburu-buru atau yang lainnya. Begitulah para Ulama’ kita memberikan tuntunan untuk menjadikan setiap perbuatan mubah mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan kita keberkahan di dunia dan di akhirat, memberikan kita ilmu yang bermanfaat, dan semoga guru kita Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa selalu diberi kesehatan dan dipanjangakan usianya dalam keluhuran amin Allahumma amin…

وبالله التوفيق والهداية والعفو منكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tausiah Al Habib Munzir Al Musawa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menjadikan waktu-waktu tertentu menjadi lebih luas untuk hamba-hambaNya untuk mendekat kehadiratNya, dimana Allah Yang Maha Dekat telah menyampaikan kepada sang nabi melalui firmanNya untuk kemudian disampaikan kepada segenap ummatnya, dimana jika seorang hamba bertanya tentang Allah subhanahu wata’ala kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

( البقرة : 186 )

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.( QS. Al Baqarah : 186 )

Kalimat ini sungguh akan merobek jiwa-jiwa yang mencintai Allah subhanahu wata’ala, jawaban dari Sang Maha Raja Langit dan bumi, Sang Maha Pencipta alam semesta dari tiada, Sang Maha menghamparkan kerajaan langit dan bumi dari tiada, serta menjadi Pengatur tunggal atas seluruh keseimbangan alam ini, yang mana telah dikatakan oleh para Ilmuwan bahwa semua planet yang jumlahnya triliyunan bahkan lebih kesemuanya berputar pada porosnya, dan jika dalam satu detik saja ada satu saja planet diantara triliyunan planet tidak berputar pada porosnya, maka planet itu akan beradu dan saling hantam antara planet-planet yang lainnya, sehingga mengakibatkan kehancuran alam semesta ini. Begitu pula dengan manusia, jika satu butir sel dalam tubuhnya tidak lagi berfungsi melakukan tugas yang semestinya, maka keadaan tubuh tidak akan sempurna dan menjadi kacau atau hancur, karena tubuh berasal dari rangkaian sel yang berjumlah sangat banyak yang saling mengikat satu sama lain sehingga menjadi tubuh yang sempurna. Demikian pula keadaan ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak akan bisa terpisah dengan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam baik di dunia atau pun di akhirat, dimana pun dan kapanpun kalimat أشهد أن لا إله إلا الله محمد رسول الله akan mengikat ummat dengan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka di malam-malam luhur di bulan Rajab ini, yang mana semakin mendekat pada puncak undangan tunggal Ilahi kepada hamba yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala (malam Isra’ Mi’raj), yang mana dengan mencintainya maka seseorang akan dicintai Allah subhanahu wata’ala, yang dengan mengikutinya maka seseorang akan dicintai Allah, dimana cinta seorang hamba untukNya ditolak kecuali dengan mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firmanNya :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(آل عمران :31 )

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Ali Imran : 31)

Jika seseorang mengatakan bahwa ia mencintai Allah, namun tidak mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka Allah tidak akan mencintainya. Sungguh cinta Allah ada pada sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dengan mengikuti gerak gerik, ucapan-ucapan dan tuntunan sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka seseorang akan menjadi orang yang dicintai Allah subhanahu wata’ala. Dan di majelis seperti ini kita berada dalam tempat yang menjadikan kita memanut sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena dalam majelis seperti ini kita selalu mendengarkan tuntunan-tuntunan sang nabi serta berusaha dengan niat yang mulia untuk merubah diri menjadi lebih indah dan mulia dari hari-hari sebelumnya menuju kedekatan kepada Yang Maha Indah, Allah subhanahu wata’ala.

Oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala menyampaikan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika seseorang bertanya kepada beliau tentang Allah subhanahu wata’ala bahwa DIA dekat dengan hamba-hambanNya, sebagaimana firmanNya QS. Al Baqarah : 186. Maka mendekatlah kepada Allah agar kita mengetahui bahwa Allah sangat dekat dengan kita, dan ketika kita menyeruNya maka Allah subhanahu wata’ala menjawab seruan kita dan jawaban itu bukanlah berupa suara, namun berupa anugerah-anugerah Allah yang tidak diberikan oleh satu makhluk kepada yang lainnya, yang mana akan membuat seorang hamba terharu dan mengeluarkan air mata cinta, karena begitu besarnya anugerah yang diberikan Allah kepada hambaNya yang ingin dekat kepadaNya, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

( الإنشقاق : 6 )

“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”. ( QS. Al Insyiqaaq: 6 )

Ayat ini merupakan bisyarah (kabar gembira) bagi orang-orang yang selalu berusaha dan rindu untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala, maka telah Allah sampaikan bahwa ia pasti akan berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Dan ayat ini juga sebagai teguran untuk mereka yang masih terus meremehkan dan menghinakan cinta Allah yang terus ditawarkan kepada mereka. Allah subhanahu wata’ala menawarkan cintaNya dalam setiap waktu untuk diterima oleh hamba-hambaNya, untuk berbuat hal-hal yang diridhaiNya sehingga kita mendapatkan cintaNya, dan cinta itu akan didapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa Isra’ Mi’raj didatangakan kepada beliau dua wadah, yang satu berisi susu dan wadah yang satunya berisi arak, akan tetapi arak yang berada di surga bukanlah arak yang memabukkan dan meruka akal manusia sebagaimana arak yang ada di dunia, akan tetapi berupa minuman yang sangat lezat berasal dari sari buah-buahan segar. Dan setelah diperintahkan kepada nabi Muhammad untuk meminum salah satu dari dua wadah tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil wadah yang berisi susu dan meminumnya, kemudian malaikat Jibril As berkata :

هُدِيْتَ لِلفِطْرَةَ أَمَّا أَنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ

“ Sungguh engkau telah ditunjukkan(memilih) kepada kesucian , jika engkau mengambil arak niscaya umatmu akan tersesat”.

Tidakkah kita perhatikan bahwa Allah sangat mengikat amal perbuatan hamba-hambaNya dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, jika nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memilih arak maka ummatnya akan tersesat, padahal di surga meminum arak diperbolehkan meskipun di dunia diharamkan. Setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memilih susu maka dikatakan kepadanya bahwa kesucian telah dipilihnya, sehingga dalam hal ini ummat beliau juga akan terbawa dalam perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Allah Yang Maha Lembut telah mengikat perbuatan sang nabi dengan ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga dikarenakan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih susu maka banyak dari ummat beliau di dunia yang selamat dari minuman keras, walaupun masih banyak diantara ummat beliau yang terjebak ke dalam hal tersebut, namun jika ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memilih arak maka di dunia semua ummatnya akan tersesat karena terjebak ke dalam minuman keras. Kita perhatikan keindahan dan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala yang menjadikan perbuatan sang nabi sebagai penyelamat ummatnya di dunia, sungguh beruntungnya ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga mereka yang belum bisa meninggalkan minuman keras segera diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin.

Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat An Najm :

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى، مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى، وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى، عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى، ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى، وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى، ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى، فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى، مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى، أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى

( النجم : 1-12 )

An Najm adalah bintang yang memiliki cahaya, dan berbeda dengan kaukab yang dikatakan bahwa kaukab adalah bintang yang mengambil cahaya dari bintang yang lainnya, seperti bulan yang termasuk ke dalam kelompok Al Kaukab, adapun matahari termasuk kedalam kelompok An Najm karena mempunyai cahaya sendiri. Adapun kalimat النجم bintang yang berpijar itu, yang dimaksud adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Arif billah Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh, bahwa makna kalimat والنجم إذا هوى yaitu keadaan sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di malam Isra’ dan Mi’raj yang bergetar dengan cahaya cinta karena berhadapan dengan kekasihnya, Allah subhanahu wata’ala. Kemudian disebutkan dalam ayat ini bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berbicara karena hawa nafsunya, akan tetapi berbicara dengan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya melalui malaikat Jibril As. Alangkah indahnya lidah yang berbicara karena Allah subhanahu wata’ala, itulah lidah mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Maka dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini setelah sampai malaikat Jibril dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di batas muntahaa al khalaaiq, malaikat Jibril pun tidak bisa menemani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tinggallah makhluk termulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala. Di dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘Iyadh dijelaskan bahwa saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar gemuruh tasbih para malaikat, namun ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di batas Muntaha Al Khalaa-iq, yaitu batas yang tidak bisa ditembus oleh semua makhluk kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian berhadapan dengan Allah subhanahu wata’ala , ketika itu tiada lagi suara yang terdengar atau pun pemandangan yang terlihat. Kemudian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala dimana kerajaan langit dan bumi berada dalam genggaman kekuasaannya, setiap nafas hamba adalah milikNya. Dan ketika itu sebagaimana disebutkan dalam kitab As Syifaa oleh Al Imam Qadhi ‘iyadh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar ucapan : “mendekatlah wahai Muhammad, dan tenangkanlah rasa takutmu”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekat. Kemudian diwahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ibadah shalat, sebagai undangan tunggal untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para ummatnya. Disebutkan dalam kitab As Syifaa bahwa ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud kemudian duduk dan mengucapkan :

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله

“ Segala penghormatan, keberkahan, shalawat dan kalimat yang baik semua hanya milik Allah”

Kemudian Allah subhanahu wata’ala menjawab :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“ Salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah untukmu wahai nabi “

Lalu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

“Salam sejahtera untuk kami dan para hamba yang shalih”

Alangkah indah dan mesranya hubungan Allah dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa saya katakan kalimat mesra, karena hubungan yang sangat dekat dan mesra seharusnya hanyalah ada diantara makhluk dan penciptanya, Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Ada sebelum kita ada, Maha Ada sebelum kita wafat dan Maha Ada hingga alam ini tiada. Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

“ Sanubari tidak berdusta akan apa yang dilihatnya”

Dan Allah tidak berkata :

مَا كَذَبَ مُحَمَّدٌ مَا رَآى

“ Muhammad tidak berdusta akan apa yang dilihatnya”

Gelar yang sangat agung, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam digelari Al Fuaad (sanubari), sebagai kekasih Allah subhanahu wata’ala , maka Sang sanubari tidak berdusta akan apa yang dilihatnya. Sang sanubari itu adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kekasih Alla subhanahu wata’ala. Maka kemana akan mencari keselamatan dari neraka dan mendapatkan kemuliaan surga jika bukan dengan mengikuti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemana langkah kita untuk mencari cinta Allah jika bukan dengan menapaki langkah-langkah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa malam lagi kita akan sampai di malam yang mulia (Isra’ Mi’raj) dan layak untuk diperingati sebesar-besarnya, karena setiap kita mendapatkan bagian dari kemuliaan Isra’ Mi’raj, yaitu percakapan antara Allah subhanahu wata’ala dengan sang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu kita dalam shalat ketika duduk tasyahhud :

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لله، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِي وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ،اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ.

“Segala penghormatan, keberkahan, shalawat dan kalimat yang baik semua hanya milik Allah, Salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah untukmu wahai nabi, Salam sejahtera untuk kami dan para hamba yang shalih”

Kalimat tersebut adalah percakapan antara Allah dengan sang nabi di malam terluhur, di malam pertemuan Allah dengan makhlukNya yang tercinta, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian kalimat luhur itu diwarisakan kepada kita ummat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga kita bisa mengemban cahaya cinta dan cahaya kemesraan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga Allah menaungi kita dengan cahaya keberkahan malam Isra’ Mi’raj. Ya Allah, kami tidak mampu mengkiaskan keindahan malam itu , namun Engkau Maha Tau akan rahasia keluhurannya, maka tumpah ruahkanlah kepada kami, pastikan seluruh wajah kami bercahaya dengan cahaya keluhuran Isra’ Mi’raj, dengan keberkahan Isra’ dan Mi’raj. Ya Allah pastikanlah tidak satu pun diantara kami kecuali akan berjumpa dengan sang nabi di telaga Al Kautsar, di telaga Haudh dan di surga Firdaus, maka jauhkan dan lepaskan kami dari siksa api neraka, lepas dari siksa kubur, lepas dari himpitan pedihnya sakaratul maut, lepas dari sulitnya kehidupan dunia, lepas dari semua permasalahan yang membuat kami terjebak ke dalam dosa. Wahai Allah, limpahilah kepada kami kebahagiaan dan kemudahan di dunia dan akhirat, amin allahumma amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.