Kita bersyukur kepada Allah ta’ala pada malam ini untuk mengizinkan kita dapat hadir di Majelis ini, yang Allah bentangkan hidangan ampunan, hidangan maaf, hidangan ridho, hidangan pengampunan dosa, serta jaminan surga dari Allah ta’ala. Alhamdulillah kita dapat hadir di Majelis yang Majelis nya bersambung pada Nabi Muhammad saw. Majelis yang di pantau oleh Nabi Muhammad saw, para penerus Nabi Muhammad saw, khalifah Nabi Muhammad saw. Sungguh nikmat dari Allah ta’ala yang telah memberikan keberuntungan ini kepada kita, anugrah & nikmat dari Allah ta’ala.

Dalam salawat kepada Rasulullah, ajaran nya, ke taatan kepada nya, semua berada di bawah bendera Nabi yang agung Muhammad saw. Wahai Allah, kumpulkan lah kami bersama orang orang yang kami cintai kelak di surga firdaus mu, aminn. Nikmat dari Allah di bentangkan untuk kita sekalian, tau kah Majelis nya Nabi muhammad saw yang dulu dihadiri oleh para sahabat sahabatnya Rasulullah saw, dihadiri oleh orang orang yang di pilih oleh Allah swt adalah Majelis adab, khusyuk, tawadhu, dimana disitu dijaga adab nya ajaran ajaran Rasulullah saw, sehingga di Majelis tersebut di ungkapkan oleh para ulama ahli sejarah bahwa mereka yang hadir disitu selalu menundukan kepalanya, tidak berani menatap langsung matanya Rasulullah saw, bahkan tidak ada suara berisik, tidak ada obrolan di belakang, sampai di ungkapkan mereka khusyuk sampai tidak bergerak. Sehingga di dalam Majelis itu yang bisa berdialog menanggapi Rasulullah saw hanya sayyidina Abu Bakar dan sayyidina Umar untuk mewakili sahabat sahabat yang lain.

Seperti inilah Majelis besar Nabi Muhammad saw, tidak dapat memandang atau mensifati wajah Nabi Muhammad saw karena wajah itu di sinari dengan wibawa yang besar. Lalu di buku maulid kita dapati banyak yang mensifati wajah Nabi Muhammad saw, itu berasal dari sahabat yang masih muda, masih kecil, masih kanak kanak, merekalah yang belum mengerti wibawa tersebut, merekalah yang mensifati wajah Nabi Muhammad saw. Sahabat sahabat Rasulullah saw tidak ada yang berani angkat suara di hadapan Rasulullah saw, jika mereka bicara dengan Rasulullah saw dengan suara yang pelan sampai sampai Nabi menyuruh mengulang ulang ucapan mereka, sebab tidak terdengar oleh Rasulullah saw. Mereka pakai adab takut amalan mereka menjadi hancur, hilang, begitu saja di karenakan kurangnya adab di hadapan Nabi Muhammad saw.

Dan Majelis kita ini Majelis yang di pantau oleh Rasulullah saw, Majelis yang tersambung dengan Rasulullah saw, yang mengundang kita, yang menunjukan, yang mengumpulkan, yang memberikan kita kabar gembira akan Majelis ini adalah Nabi besar Muhammad saw. Al Imam Ali Alhabsyi beliau cerita “Kalau saya hadir di Majelis nya guru saya, Al Imam Abu Bakar bin Abdullah Al Attos, majelis yang bersambung pada Nabi Muhammad saw. Maka jika Majelis itu berlangsung selama satu tahun, maka saya tidak akan kepikiran untuk makan dan minum, tidak bakalan jenuh dan jika guru saya bicara, tidak akan kepikiran dunia dalam majelis itu”. Lantas murid murid beliau Al Imam Ali bin Muhammad Alhabsy bilang “Dulu waktu beliau (al Imam Ali bin Muhammad Al Habsyi) masih ada diantara kita, sungguh ketika kita hadir di Majelis nya pagi, siang, sore, malam, kita tidak pernah merasa hidup di dunia melainkan merasa ada di surga, namun ketika beliau wafat kita baru sadar kalau kita hidup di dunia. Tempatnya bala, masalah, urusan, ujian dan kesulitan”. Majelis yang mulia semacam ini, Nabi menyatakan kehadiran dalam majelis majelis yang semacam ini, sebagaimana Allah mengungkapkan kepada Nabi Muhammad agar menyatakan kehadirannya dalam majelis yang mulia seperti ini bersama orang orang yang mulia dan jangan kalian mengikuti orang orang yang hatinya di tutup oleh Allah ta’ala, orang yang mengikuti hawa nafsunya. Majelis ini mengikuti kemauan Nabi Muhammad saw, sehingga Allah berfirman “Ketahuilah bahwasanya di tengah tengah kalian adalah Rasulullah saw”. Di Majelis ini yang kita sebut Rasulullah saw, sifatnya, akhlak nya, sunnah nya, adab nya, ilmu nya, zuriyah nya Nabi Muhammad saw, ada pantauan Nabi, pantauan khalifahnya Nabi Muhammad saw, nikmat yang sulit kita cari di zaman ini.

Alhamdulillah Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz senantiasa memantau, mencurahkan perhatian besar nya kepada kita terutama pada Majelis Rasulullah saw. Kepada keluarga besar almarhum Habib Munzir bin Fuad Almusawwa, kepada jamaah Majelis Rasulullah saw, kita di asuh oleh Guru Mulia Habibana Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Yang bicara, berdiri, yang mengajar disini bukan dengan kemauan nya sendiri, tapi ditunjuk, di arahkan oleh Alhabib Umar dan inilah yang di cita citakan oleh Alhabib Munzir bin Fuad Almusawwa dari dulu, di atur oleh Gurunya. Sehingga kita ini murid murid nya Alhabib Umar bin Hafidz, kita ibarat bidak bidak catur, kita tidak berjalan sendiri tapi dijalankan, disuruh ketengah, maju, mundur, kepojok, kita jalankan itu semua kenapa? Taslim kepada Rasulullah saw, kepada khalifah nya Rasulullah saw. Allah ta’ala berfirman “Tidak demi Allah Tuhan ku, mereka itu tidak beriman sampai kapanpun, hingga mereka menjadikan Rasulullah saw sebagai hakim atas semua problem mereka, merujuk kepada hukumnya Rasulullah saw, menyerahkan pada apa yang di putuskan Nabi Muhammad saw”. Sampai Imam Ja’far Shodiq beliau mengatakan “Sesat orang yang tidak punya guru untuk membimbing nya, hina orang yang tidak punya orang orang yang membela nya”. Disebutkan oleh Allah ta’ala dalam Alquran “Yang diberikan hidayah oleh Allah, dia mengikuti jalan petunjuk tersebut dan disesatkan oleh Allah orang yang tidak punya munsyid/guru pembimbing”.

Rasulullah saw di akhir akhir hayatnya menunjuk pemimpin pasukan, yaitu seorang pemuda yang umur nya belasan tahun Sayyidina Osamah bin Zaid. Ditunjuk untuk memimpin pasukan yang mana di didalam pasukan itu adalah senior sahabat sahabatnya Rasulullah, para sepuh sepuh, orang orang tua. Tapi panglimanya dimata mereka adalah anak kecil, waktu itu Rasulullah saw masih hidup. Saat itu ketika ingin berangkat, Sayyidina Osama bin Zaid mendengar kabar Rasulullah saw sakit, maka pasukan memutuskan untuk berkemah saja di luar Madinah, sampai Rasulullah saw pun wafat dan mereka men sholat kan Rasulullah saw. Sampai Sayidina Abu Bakar menjadi khalifah, datang beberapa orang kepada Sayyidina Abu Bakar, mereka meminta untuk menganti panglima pasukan, sebab di mata mereka panglima sekarang adalah anak kecil. Maka Sayyidina Abu Bakar berkata “Saya tidak akan pernah melepas bendera yang telah di ikat oleh tangan nya Rasulullah saw, tugas pertama saya untuk kalian adalah pasukan Osamah bin Zaid harus segera jalan”. Ayahnya, Zaid bin Harisah adalah kesayangan nya Rasulullah saw dan anak nya Osamah bin Zaid adalah kesayangan dan kecintaan nya Rasulullah saw. Ketahuilah, segala keberkahan ada didalam perintah, kata Rasulullah saw “Tidak beriman seorang hamba, hingga keinginan nya ikut kepada Rasulullah saw”. Alhamdulilah ini Majelis suci Insya Allah, sama seperti ke inginan Rasulullah saw. Semua yang bicara, duduk, berdiri, mengajar disini semuanya bukan kemauan sendiri, melainkan perintah dari wakil nya Rasulullah saw, khalifah Rasulullah saw, pewaris Rasulullah saw yaitu Guru Mulia Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Kemulian bukan dimana kita di tempatkan, tapi bagaimana kita menjalankan perintah dengan sebaik baik nya.

Kemarin Guru Mulia dalam perjalanan safari dakwahnya di Jakarta fi Monas, di Haul Imam Syech Abu Bakar bin Salim, Guru Mulia melihat banyak perkembangan dakwah yang pesat dan meningkat di Majelis Majelis, di Majelis Rasulullah saw dan semua Majelis yang di bawah pantauan Alhabib Umar bin Hafidz. Intinya beliau senang, gembira, ridho dengan apa yang sudah berjalan selama ini dan berharap yang semacam ini dapat terus ditingkat kan. Salah satu peningkatan nya adalah, kita tahu selama satu tahun Alhabib Ahmad beliau disini mengajar bukan kemauan nya sendiri, tapi Alhabib Umar yang menunjuk dan menugaskan untuk mengisi Majelis ini, selama satu tahun beliau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. Kemudian pada hari Senin sebelum Guru Mulia berangkat ke Monas, beliau memanggil saya (Alhabib Jindan) dan Sayyid Muhsin ke dalam kamar beliau, intinya adalah Guru Mulia menugaskan Alhabib Ahmad untuk lebih fokus kepada daurah daurah, pesantren pesantren kilat yang selama ini sudah berjalan dengan baik dan untuk fokus sepenuhnya disitu. Semuanya yang dilakukan Habib Ahmad didaurah atau didalam Majelis Rasulullah saw, semuanya membuat Alhabib Umar gembira, senang dan ridho.

Adapun untuk mengajar di Jalsatu Isnain, Alhabib Umar menunjuk tiga orang yaitu Alhabib Ja’far bin Muhammad Bagir bin Abdullah Salim At’tos, Alhabib Alwi bin Ustman dan syech Ridwan Al’amri. Mereka ditugaskan oleh Alhabib Umar untuk mengajar disini, mengatur siapa yang ceramah, yang bicara disini, tanggung jawab mereka penuh sampai tiga bulan yang akan datang. Untuk tiga bulan selanjut nya, nanti Guru Mulia yang akan menentukan nya kembali. Itu semua untuk menunjukan kepada kita ketaatan kita dan taslim kita kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Kita mengikuti apa yang di inginkan oleh Allah dan Rasul. Mereka para aulia orang orang sholeh tidak melakukan sesuatu melainkan dengan izin, isyarah, istikhoroh yang mereka lakukan sehingga inilah yang keluar dari mereka.

“Sami na wa athona”, kita dengar, kita laksanakan apa yang diperintah kan tersebut, mudah mudahan makin maju Majelis ini. Saya berdiri disini diperintah oleh Alhabib Umar bin Hafidz untuk menyampaikan kepada Alhabib Ahmad, kepada ketiga orang tersebut dan kepada jamaah Majelis Rasulullah saw. Intinya Majelis ini kendalinya, supir nya, dayung nya di tangan Guru Mulia Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, beliau yang mengantur semua nya dan inilah yang di jaga terus oleh Guru Mulia agar senantiasa Majelis ini maju, berkah, luas seperti keinginan almarhum Alhabib Munzir, semoga Allah selalu memberikan futtuh kepada keluarga almarhum Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa, kepada anak anak nya, saudara saudara nya, jamaah nya selalu dalam kebaikan dan keberkahan nya Allah, aminn.

~Alhabib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan~