Semangat Para Pembela Rasul saw di Bangka IX

{mosimage}Ahad 9 April 2006, pukul 20.30 wib, Masjid Baitulmajid Bangka IX Mampang Prapatan Jakarta selatan dipenuhi masyarakat sekitar, kami menerima laporan bahwa wilayah ini adalah salah satu wilayah yang terserang wabah gerakan kelompok anti maulid, dan hal ini bukan hanya terjadi di wilayah Bangka semata, sebagaimana beberapa wilayah wilayah lainnya seperti Depok, Radio dalam, dan wlayah wilayah cakupan Cabang mejelis Rasulullah saw lainnya,dan kini memang wabah ini telah bertebaran di hampir seluruh belahan Bumi, bahkan Yaman, makkah dan Madinah, mereka menebar fitnah pada masyarakat dan memecah belah keluarga dan ulama-ulama serta tokoh-tokoh masyarakat hingga saling bermusuhan dan memutus hubungan silaturahmi, demikianlah akibat buruk dari Ma’had mereka yang bercokol di wilayah tersebut, ma’had berkedok Taklim Alqur’an ini ternyata adalah sumber musibah bagi masyarakat wilayah sekitar.

Tiga bulan yang lalu, beberapa pemuda yang sudah aktif di Majelis Rasulullah saw mengadukan keadaan masyarakat mereka, sebagaimana telah mendahului mereka pengaduan dari Aktifis Majelis Rasulullah wilayah Depok, maka kamipun segera mengatur jadwal untuk meluncur ke wilayah itu, Majelis Rasulullah saw mulai membuat majelis bulanan, sambutan majelis pertama cukup hangat, lalu kami bergabung dengan Organisasi pemuda Pela Mampang bersama para ulama dan ustadz ahlussunnah waljamaah setempat, maka majelis semakin dahsyat, Puncaknya adalah pada ahad malam 9 april yang lalu, masyarakat berdesakan, anak-anak, pemuda, orang tua, lelaki dan wanita, jumlah mereka mencapai lebih dari 1000 (seribu) personil yang memadati Masjid baitulmajid dan jalan dan bahkan pelataran luas, mereka telah rindu dengan maulid dan ceramah agama yang menyejukkan sanubari, sanubari mereka bangkit untuk mengenal keluhuran, mereka bosan berpecah belah dan bermusuhan mengikuti ajaran fitnah yang sedang gencar di wilayah sekitar, dan pada 14 april 2006 mendatang Insya Allah akan diadakan majelis akbar maulid Nabi saw bertempat di Masjid Attaqwa Bangka III, yang telah sepuluh tahun terakhir tak pernah lagi diperbolehkan untuk diadakan acara Maulid Nabi saw.., padahal Pimpinan Masjid itu seorang yang Mahabbah pada Rasul saw, namun ia pun kerepotan menghadapi fitnah dari gerakan anti maulid ini, maka gerakan pemuda Pencak silat di wilayah itupun bangkit semangat mereka untuk mendukung cahaya Dakwah sang nabi saw di masjid mereka, maka pada 14 april ini, Masjid Attaqwa ini akan bergemuruh dengan dzikir dan shalawat pada nabi saw, sebagaimana Makkah yg kurang lebih sepuluh tahun tertutup dari Cahaya Bimbingan Muhammad saw, lalu terjadilah Fatah makkah, dan kini Insya Allah Fatah Masjid Attaqwa terbuka dengan kekuatan Rabbul ‘alamin melalui semangat para Pemuda dan Masyarakat yg beridolakan Sang Nabi saw.

Sebenarnya yang menjadi permasalahan bukanlah perbedaan masalah khilafiyah, namun yang menjadi masalah yang harus diluruskan adalah bahwa gerakan fitnah ini membuat terpecah belahnya masyarakat, mereka berusaha sekuat tenaga membuat masjid-masjid Ahlussunnah waljamaah berantakan dan pengurusnya saling bermusuhan, maka jelaslah harus diberantas dan diperangi, dengan kelembutan tentunya, dengan bayan dan dalil yang jelas dan shahih, dan juga dalil-dalil ‘aqli yang merupakan mutiara hikmah dari hikmah ilahiah, dan meluruskan kesesatan mereka yang berhujjah dengan hawa nafsu dan kesesatan, demikianlah kemenangan Sayyidina Muhammad saw..

Semoga Allah mencurahkan Rahmat dan Pertolongan Nya pada kami, untuk terus membersihkan wilayah ini dari sampah yang paling berbahaya dan penyakit menular yang paling kronis, yaitu penyakit hati yg menolak kemuliaan Muhammad saw, penyakit ini adalah penyakit Iblis yg menolak memuliakan Adam as, sebagaimana Iblis tak pernah menolak bila diperintahkan sujud kepada Allah swt, namun Iblis menolak memuliakan orang yg dimuliakan Allah swt, penyakit kronis ini menular dan hingga kini wabah ini sedang gencar gencarnya menyerang masyarakat muslimin.. Semoga dalam waktu dekat bangkitlah semangat muslimin untuk mengobati dirinya, keluarganya, anak-anaknya, tetangganya, masyarakatnya, dengan beridolakan Sayyidina Muhammad saw, satu-satunya idola yang paling pantas untuk dicintai, digandrungi dan dipanut segala gerak geriknya sepanjang masa.

Ada apa pada kelahiran Sang Nabi saw ?
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “dan Engkau saat kelahiranmu terbitlah cahaya di permukaan Bumi dan terang benderanglah Angkasa dengan cahayamu, maka kami selalu dalam naungan sinar itu dan dalam cahaya yang terang benderang dan terus mendalami Bimbingan Kebahagiaan”
Syair diatas diriwayatkan :
– Majmu’izzawa’id oleh Imam Ibn Hajar Alhaitsami Juz 8 / hal 217
– Almustadrak ‘Ala Shahihain oleh Imam Hakim Juz : 3 / hal : 34 / hadits no.5417
– Majmu’ul Kabiir Imam Thabrani Juz.4 / hal.213 / hadits no.4167
– Sir A’lamunnubala oleh Imam Addzahabiy Juz.2 / hal.103
– Shafwatusshafwah oleh Imam Abul Faraj Juz.1 / hal.54
– Al Isti’ab oleh Imam Yusuf Ibn Abdulbar Juz 2. / hal.447

Demikian luapan kegembiraan para sahabat Rasul saw dalam merayakan dan memuliakan hari kelahiran Sang Nabi saw, demikian pula kesemua orang-orang mukmin hingga kini, selalu ingin membangkitkan syiar agar bangkit pada sanubari ummat ini semangat untuk mengingat dan mencintai Sang Nabi saw. Dan siapapula yang tak gembira dengan kelahiran sang Nabi saw?, hanya syaitan dan pengikutnya yang sangat membenci hari kelahiran pembawa hidayah ini, dan tiada hari yang paling mereka benci sepanjang usia bumi ini selain hari kelahiran sang Nabi saw, karena dengan lahirnya Nabi terakhir ini, bermulalah seluruh kemuliaan yang menyempurnakan seluruh ajaran ajaran Allah sebelumnya, namun sebaliknya para Mukminin, khususnya ummat beliau saw, tentulah bagi mereka tak ada kegembiraan melebihi kegembiraan pada hari kelahiran sang Nabi saw.

Allah swt berfirman dalam surat Al Hijr ayat 72, “DEMI USIAMU (Wahai Muhammad), SUNGGU MEREKA ITU TEROMBANG AMBING DALAM KESESATAN”, Ayat tersebut sebagaimana Tafsir Imam Qurtubi, Tafsir Imam Thabari, Shahih Bukhari dan Ijma’ segenap Ulama bahwa Allah swt menunjukkan kemuliaan Sang nabi saw dan Allah Bersumpah dengan Kehidupan sang nabi saw, ada apa pada kehidupan sang Nabi ?, karena pada kehidupan beliaulah Allah menyempurnakan segenap ajaran ajaran Nya yg terdahulu melalui para Nabi sebelum beliau saw, Dan usia beliau ini tentunya dimulai pada Kelahiran beliau saw hingga wafatnya, maka fahamlah kita betapa mulianya hari kelahiran beliau saw, sebagaimana Allah bersumpah dengan usia beliau saw.

Seputar acara pesta kelahiran Sang Nabi saw.
Mengenai perayaan kelahiran Rasul saw memang tak pernah diadakan di zaman Rasul saw, tak pula di zaman sahabat radhiyallahu’anhum, karena memang tak perlu dirayakan, karena tak dirayakanpun mereka telah sangat mencintai Rasul saw dan beridolakan Rasul saw, sebagaimana sedemikian banyak syair-syair para sahabat yang diantaranya disebutkan diatas. Ketika semakin jauhnya ummat ini dari kehidupan sang Nabi saw, maka mereka semakin jauh dari syariah, semakin jauh dari ketaatan, semakin jauh dari mengenal sang Nabi saw apalagi mencintainya, apalagi beridolakan beliau saw, maka para Ulama mulai berfikir untuk menghidupkan kembali semangat kecintaan pada Nabi saw, karena seluruh ketaatan kepada Allah adalah Syariah dan Sunnah Rasul saw, bila seseorang telah mencintai Nabinya, maka tentulah mereka akan mengikuti ajarannya saw.

Maka dibuatlah perayaan untuk membesarkan syiar kelahiran Nabi saw, dan hal ini merupakan Bid’ah hasanah, sebagaimana penjilidan Alqur’an pun merupakan Bid’ah hasanah, karena tak ada perintah dalam ayat manapun ataupun hadits Rasul saw agar Alqur’an di bukukan dalam satu kitab, hal ini merupakan Ijma’ sahabat di masa Khilafah Utsman bin Affan ra, sebagaimana dikumpulkanlah seluruh Qurra’ dan Huffadh yang ada, termasuk padanya Ali bin Abi Thalib ra, Abdullah bin Abbas ra, Abdullah bin Umar ra, dan seluruh Ulama sahabat, lalu ditulislah satu kitab dengan kesaksian mereka semua, dan disahkan sebagai Kitab Alqur’an (Al Itqan, oleh Alhafidh Imam Assuyuthi).

Inilah Bid’ah terbesar yang pernah ada dalam ummat ini, namun ini adalah Bid’ah hasanah, karena merupakan maslahat bagi ummat. Demikian para sahabat, mereka tak menuding seluruh Bid’ah adalah kemungkaran, sebagaimana pemahaman sempit yang muncul di zaman sekarang.. Lalu muncul pula Bid’ah bid’ah lainnya, seperti Pembukuan Hadits, juga Ilmu Hadits, Ilmu Mustalah Hadits, Ilmu Tafsir, yang kesemua itu adalah Bid’ah Hasanah. Lalu pula pemberian titik pada Alqur’an, karena di zaman sahabat Alqur’an itu belum ada titiknya, hingga tak dapat dibedakan antara Jiim, haa, atau Khaa’. Tak pula bisa dibedakan antara Taa, Tsaa, dan Baa’. Barulah kemudian diberi titik, jauh setelah zaman sahabat radhiyallahu’anhum, inipun Bid’ah, namun siapa pula yang dapat mengenal membaca Alqur’an dimasa kini bila tidak ada titiknya?, sahabat memahaminya karena mereka hafal atau paling tidak sering mendengarnya dari Rasul saw. Lalu kemudian dimasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Alquran itu diberi harakah, yaitu Fathah, Kasrah, Dhammah, Tasydiid, dan lainnya. Tidak lain agar lebih mudah dibacanya, dan inipun Bid’ah.

Demikian pula perayaan Maulid Nabi saw, yang diada-adakan dengan tujuan mulia, yaitu memunculkan sosok Muhammad saw sebagai idola dan Pimpinan Terbesar, dan tak ada tujuan lain selain membangkitkan kecintaan pada beliau saw, dan ini merupakan Bid’ah hasanah. Sebagaimana landasan kita dan landasan para Ulama’inalkiram dan para sahabat mengenai Bid’ah Hasanah yaitu Hadits riwayat Imam Muslim Sabda Rasul saw :
“Barangsiapa yang membuat buat didalam islam kebiasaan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala semua yang mengamalkannya tak dikurangkan sedikitpun dari pahala itu, dan Barangsiapa yang membuat-buat didalam islam kebiasaan yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa semua yang mengamalkannya tanpa dikurangkan sedikitpun dari dosa-dosa itu”. (Shahih Muslim Juz.2 / hal.705 / hadits no.1017 dan juga pada Juz.4 / hal.2059 / hadits no.1017).

Maka gemuruhlah barat dan Timur dengan perayaan kelahiran Rasul saw, Alhamdulillah.. walaupun tak dapat dipungkiri bahwa ada oknum yang membuat perayaan ini sebagai kedok dengan maksud lain, entah politik kah atau lainnya, sebagaimana pernah terjadi pada Dinasti Fathimiyyun, namun itu semua merupakan hal yang lumrah terjadi dalam segala hal, dan tidak bisa dijadikan landasan dalil untuk mengharamkan perayaan maulid Nabi saw, karena hal itu terjadi pula pada pembangunan masjid, sedekah, Kurban dan lainnya, mestilah ada penyelewengan, maka apakah dengan sebab penyelewengan itu lalu kita melarang pembangunan masjid, sedekah, atau kurban dan lainnya?, hanya karena oknum?.

Oleh sebab itu jelaslah bagi kita, dan wajib bagi setiap muslim untuk bergembira atas kelahiran Nabinya saw, dan sangat mulia bila kita mengadakan tasyakkuran atas kelahiran beliau saw, dengan tujuan utama adalah membangkitkan sanubari ummat untuk kembali pada sunnah Nabi saw, beridolakan Nabi saw, mencintai Nabi saw, atau paling tidak kita jadikan perayaan Maulid ini ajang silaturahmi dan amr ma’ruf nahi munkar dalam Dakwah ilallah.

Mengenai penentuannya setiap tahun sekali, maka itu tak ada larangannya, boleh-boleh saja setahun sekali, atau sebulan sekali, atau seminggu sekali, atau sebagaimana Gerakan Dakwah “Majelis Rasulullah saw” kita ini, yang mengadakannya setiap hari, bukan lain dengan maksud sebagai Medan Dakwah untuk menyampaikan risalah beliau saw. Wallahu a’lam..