Jaltsatul istnain Majelis Rasulullah

Senin, 17 Agustus 2020

Al-Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Atthos

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kita ucapkan selamat datang kepada guru kita Kh.salman yahya dan kita doakan guru-guru kita Al-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi dan Habib Muhammad Al-Bagir bin Yahya di dalam kesehatan dan di dalam ke afiyatan dan di jaga oleh Allah Swt di dalam keluar dakwahnya keluar kota mudah-mudahan Allah Swt selamatkan dan di berikan oleh Allah Swt keberkahan dunia dan akhirat.

Begitu juga para asatidza yang lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa ta’dzim dan hormat kami kepada antum sekalian. Sebagaimana biasa sebelum kita memulai pengajian kita di dalam kitab fiqih kita baca dari pada doa nya Al-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
نعم المولى ونعم النصير

Alhamdulillah wa syukrulillah di malam hari ini kita kembali dalam kajian kita di dalam kitab Matan Ghoyah Wattaqrib yang di karang oleh Al-Imam Abi Suja’ Ahmad bin Husein Al-Asbahani di dalam fiqih Imam Syafii masih berkaitan dengan sholat. Yang kemarin telah kita bahas dari syarat wajib nya sholat kemudian masuk ke dalam sunnah-sunnah nya sholat atau sholat-sholat yang di sunnahkan. Sekarang masuk di dalam pembahasan yaitu tentang syarat sah nya sholat. Kemarin sudah saya katakan di dalam kitab ini di bedakan antara syarat wajib dan syarat sah. Syarat sah nya sholat di kitab safinah ada 8. Di dalam kitab Mukhtashor begitu juga dalam kitab Abi Suja’di katakan 5. Kemarin saya bilang sebagian menggabung antara syarat wajib dan syarat sah nya. Ada yang nambahkan juga bukan 5 bukan 8 tapi 15.  Dan di tambahkan lagi hal-hal yang membatalkan sholat di gabung dengan syarat sah nya sholat. Karena di dalam kitab safinah di antara syarat sah nya adalah meninggalkan hal-hal yang membatalkan sholat. Hal-hal yang membatalkan sholat ada 7 di antaranya maka di masukan menjadi 15 dari pada syarat sah nya sholat. Tapi di sini di ambil dalam kitab Minhaj dan kitab Roudhoh nya Imam Nawawi bahwa syarat nya sholat ada 5. Mungkin ini yang intinya yang di ambil oleh Imam Nawawi. Inti dari sholat dan syarat sah nya sholat ada 5.

Syarat-syarat sahnya sholat sebelum masuk ke dalam nya ada 5 perkara

  • Bersih anggota tubuh nya dari hadast baik itu kecil baik itu hadast besar dan dari najis dua-dua nya tidak boleh dia sholat. Kata ulama ada yang boleh yaitu orang yang tidak ada air dan tidak ada tayammum dan hukumnya di maafkan dan bukan hukum inti dan prinsip tapi dia di maafkan dan wajib dia mengqodho sholat nya lagi karena sholat nya itu hanya penghormatan kepada waktu sholat.

 

Najis:

Penjelasan tentang najis:

Najis ada bagian di dalam badan, ada bagian di dalam pakaian, ada bagian di dalam tempat. Di katakan badan seluruh yang menempel di badannya. Baik rambut nya, baik kulitnya, baik tulang nya semua yang menempel di badannya di namakan badan. Semua yang berada di dalam pakaiannya di namakan pakaian. Walaupun pensil atau pulpen ente taro , dompet ente taro yang menggantung di pakaian kita berarti itu termasuk dari pada pakaiannya.

 

Menutup aurat dengan pakaian yang bersih:

Penjelasan:

Menutup dengan makna tidak terlihat warna dari pada kulitnya walaupun dengan tanah kata ulama. Bahkan ulama mengatakan boleh dengan air yang keruh untuk menutup aurat dan sholat nya dengan cara pakai kepala saja isyarat nya. Kata ulama kalau misalkan ada pakaian yang najis tapi tidak ada penggantinya lagi kita boleh sholat dengan keadaan telanjang dan sebagian ulama mengatakan sah sholat nya dan tidak mengulang dengan syarat dia sholat nya menyendiri jangan di depan orang atau di tempat yang gelap yang tidak terlihat orang.

  • Berdiri di atas tempat yang suci.
  • Mengetahui dengan masuk nya waktu

Penjelasan: kalau dia sholat ternyata belum masuk waktunya wajib dia sholat lagi.

 

  • Menghadap kiblat

Penjelasan: kiblat bagi orang yang di dalam masjidil harom wajib dia melihat ka’bah. Kalau jauh dari ka’bah mu’tamad di dalam mazhab Imam Syafii harus tetap mengarah ke ka’bahnya.

Imam Ghozali mengatakan kalau jauh dari ka’bah seperti kita di Indonesia boleh menuju arah nya ka’bah.

Kiblat kata ulama ada 3 yaitu kiblat sholat,kiblat doa, kiblat murid. Kiblat sholat ka’bah, kiblat doa langit dan kiblat murid adalah guru pembimbing nya.

 

  • Boleh meninggalkan kiblat di dalam sholat di dalam dua keadaan yaitu ketika perang sudah berkecamuk atau menghawatirkan datang nya musuh dan itu di maafkan.

 

Dalam sholat-sholat sunnah yang di lakukan di perjalanan di atas tunggangannya. Karena Nabi Saw sembahyang di atas tunggangannya tergantung kemana arah tunggangannya berjalan. Kalau terjadi mungkin kuda nengok ke kiri dan kanan tidak ke arah yang di tuju kalau dia terlalu lama nengok nya maka sholat nya batal karena sudah berpaling dari arah tujuan yang dia tuju di dalam bepergiannya . begitu juga kalau jalan kaki. Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor kalau keluar rumah sembahyang sambil berjalan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.