Jalsatul itsnain Majelis Rasulullah Saw

20 Januari 2020

-Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
نعم المولى ونعم النصير

Yang sama kita hormati dan kita muliakan guru-guru kita khusus nya Al-Habib Jakfar bin Bagir Al-Atthos kita doakan mudah-mudahan beliau panjang umur dan sehat wal afiyah. Guru kita Al-Habib Muhammad Bagir bin Alwi bin Yahya kita doakan panjang umur sehat wal afiyah, juga kepada Al-Habib Husein Al-Habsyi kita doakan semua guru-guru kita. Alhamdulillah malam ini lengkap ada Habib Jakfar, ada Habib Bagir Insya Allah majelis malam ini tambah berkah.

         Bapak-bapak ibu-ibu hadirin dan hadirat demikian para pendengar Live Streaming Majelis Rasulullah Saw dimanapun berada mudah-mudahan Allah Swt merahmati kita semua, mengampuni dosa kita, memudahkan segala urusan kita dan ilmu yang kita pelajari berguna dan bermanfaat Insya Allah. Alhamdulillah malam ini kita kembali di pertemukan oleh Allah Swt dalam rutinitas yang mulia dalam kegiatan kita yang penuh dengan keluhuran yaitu menghadiri Majelis Rasulullah Saw melanjuti pelajaran kita malam ini dalam kitab Riyadhussholihin tepat nya hadist yang ke 13 atau hadist yang terkahir dari pada bab pertama dari kitab Riyadhussholihin. Kita akan membaca bersama hadist malam ini hadist nya panjang tapi Insya Allah akan kita bagi menjadi 3 bagian. Ini bagian yang pertama dan kita baca bersama     

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

وعن أبي عَبْد الرَّحْمَن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخطَّابِ، رضيَ اللهُ عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله ﷺ يَقُولُ: انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ الْمبِيتُ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فانْحَدَرَتْ صَخْرةٌ مِنَ الْجبلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا الله تعالى بصالح أَعْمَالكُمْ قَالَ رجلٌ مِنهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوانِ شَيْخَانِ كَبِيرانِ، وكُنْتُ لاَ أَغبِقُ قبْلهَما أَهْلاً وَلا مالاً  فنأَى بِي طَلَبُ الشَّجرِ يَوْماً فَلمْ أُرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا فَحَلبْت لَهُمَا غبُوقَهمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِميْنِ، فَكَرِهْت أَنْ أُوقظَهمَا وَأَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدِى أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ وَالصِّبْيَةُ يَتَضاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمي فَاسْتَيْقظَا فَشَربَا غَبُوقَهُمَا. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَة، فانْفَرَجَتْ شَيْئاً لا يَسْتَطيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهُ. قَالَ الآخر: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانتْ لِيَ ابْنَةُ عمٍّ كانتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ

وفي رواية: كُنْتُ أُحِبُّهَا كَأَشد مَا يُحبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءِ، فَأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهِا عِشْرينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ففَعَلَت، حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا

وفي رواية: فَلَمَّا قَعَدْتُ بَيْنَ رِجْليْهَا، قَالتْ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفُضَّ الْخاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ، فانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِليَّ وَتركْتُ الذَّهَبَ الَّذي أَعْطَيتُهَا، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعْلتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فانفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا. وقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجرَاءَ وَأَعْطَيْتُهمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذي لَّه وَذَهبَ فثمَّرت أجْرَهُ حَتَّى كثرت منه الأموال فجائني بَعدَ حِينٍ فَقالَ يَا عبدَ اللهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي، فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى منْ أَجْرِكَ: مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَم وَالرَّقِيق فقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ لا تَسْتهْزيْ بي، فَقُلْتُ: لاَ أَسْتَهْزيُ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْه شَيْئاً، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فخرَجُوا يَمْشُونَ متفقٌ عليه.

Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khaththab berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Dulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan kemudian mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka merekapun masuk ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.

Salah seorang diantara mereka berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdo’a kepada Allah ta’ala dengan menyebutkan amal-amal shalih yang pernah kalian perbuat.’

Salah seorang di antara mereka menimpali, ‘Wahai Allah, saya mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta, saya biasa mendahulukan memberi minuman susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya menemui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya.

Karena saya mendapati mereka berdua telah tidur maka saya pun enggan untuk membangunkan mereka. Kemudian saya berjanji tidak akan memberi minum susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah bunda.

Saya menunggu ayah bunda, hingga terbit fajar barulah keduanya bangun sementara anak-anakku menangis, mereka mengelilingi kakiku. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman susu kepada keduanya. Wahai Allah jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan wajahMu maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Maka bergeserlah sedikit batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.

Yang lain berkata, ‘Wahai Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai.’ Pada riwayat yang lain dikatakan, ‘Saya sangat mencintainya sebagaimana lazimnya orang laki-laki mencintai seorang perempuan, kemudian saya ingin berbuat zina dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan kemudian datang kepada saya dan saya berikan kepadanya 120 dinar, dengan syarat ia harus mau bersebadan dengannya, dan ia pun setuju.

Ketika saya sudah menguasainya, pada riwayat lain dikatakan, kemudian ketika saya berada di antara kedua kakinya dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah dan jangan kau robekkan selaput daraku kecuali dengan cara yang benar.’ Kemudian saya meninggalkannya, padahal dia adalah seseorang yang sangat saya cintai dan saya telah merelakan emas (dinar) yang saya berikan kepadanya. Wahai Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengaharapkan ridhaMu, geserkanlah batu yang menutup gua ini.’ Maka bergeserlah batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.

Orang yang ketiga berkata, ‘Wahai Allah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan semuanya saya gaji dengan sempurna kecuali ada seorang yang pergi, meninggalkan saya dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak.

Selang beberapa lama dia datang kepada saya dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu.’ Saya berkata, ‘Semua yang kamu lihat itu baik onta, sapi, kambing maupun budak yang menggembalakannya adalah gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan saya.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempermainkan kamu.’ Kemudian diapun mengambil semuanya dengan tidak meninggalkan sisa sedikit pun. Wahai Allah jika saya berbuat itu karena mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu itu.’ Lalu batu itupun bergeser dan mereka bisa keluar dari dalam gua.” (Muttafaqun ‘Aleih)

         Hadist malam ini lumayan panjang dan kita membaca nya hanya di bagian awal karena bila kita sempurnakan satu hadist ini pasti nya waktu kita sangat terbatas dan tidak cukup. Hadist malam ini di bawa oleh salah satu sahabat rasul yaitu Imam Abi Abdurrahman yang bernama Abdullah. Beliau adalah anak dari pada Amirul Mukminin yaitu Umar bin Khottob semoga Allah Swt meridhoi mereka berdua dan kita mendapatkan barokah nya dan Imam Abdullah bin Umar sudah beberapa kali kita buka tentang biografi atau sejarah beliau dan Insya Allah mudah-mudahan di lain waktu kita akan mengulangi nya lagi karena keterbatasan waktu dan hadist panjang.  قَالَ ( beliau berkata) سَمِعْتُ رسولَ الله ﷺ يَقُولُ ( saya mendengar baginda Nabi Muhammad Saw beliau bersabda dan sabda nya Nabi di sini seperti sedang bercerita dan memang itu suatu kejadian nyata. Ulama mengatakan Wallahu ‘alam boleh jadi itu keadaan sebelum di utus baginda Nabi besar Muhammad Saw) Tapi kejadian ini sangat menarik untuk di ambil pelajaran buat kita ummat nya Rasul Saw. 

         Lalu Rasul menceritakan kepada kita  انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ ( zaman dahulu ada 3 orang ) مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ( sebelum kalian ada 3 orang) حَتَّى آوَاهُمُ الْمبِيتُ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، ( mereka itu sedang berjalan dan di tengah perjalanannya kita tidak sebut hutan kalau hutan mungkin tropis ada pohon-pohon tapi mungkin di zaman dahulu atau mungkin di timur tengah hutannya berbentuk seperti padang pasir atau lainnya yang mungkin tidak kita ketahui. Intinya mereka itu dalam suatu perjalanan ke hujanan. Kata ulama sebagian mengatakan kehujanan, ulama lain mengatakan mereka itu kemalaman akhir nya mereka melihat ada goa. Mereka bertiga ini masuk ke dalam goa فانْحَدَرَتْ صَخْرةٌ ( setelah mereka masuk tiba-tiba batu ) صَخْر ini batu besar. Bahasa arab batu macam-macam. Ada batu besar bergeser dari atas gunung atau atas bukit seperti gempa batu itu berguling tergelincir dari puncaknya sampai ke bawah bertepatan menutupi pintu goa. فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ ( sehingga menutupi pada mereka pintu goa yang mana mereka berada di dalam nya) إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا الله تعالى بصالح أَعْمَالكُمْ ( mereka bertiga bingung mau berteriak tapi tidak ada orang yang mendengar karena mereka jauh dari lingkungan masyarakat dan akhirnya salah satu dari mereka berkata tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali kita berdoa kepada Allah Swt dengan menyebutkan amal-amal baik apapun yang pernah kita perbuat untuk menjadikan wasilah). Sebagaimana kalau kita pergi ke Masjid Nabi mengajarkan kita doa Ya Allah berkah saya menempuh kerumah mu dan memohon kepadamu dengan kaki yang kugunakan untuk melangkah kepadamu. Mereka juga berwasilah dengan amal soleh karena amal soleh bisa menjadi wasilah, contoh nya: Ya Allah saya hadir ke Majelis Rasulullah Saw dengan niat semoga dosa saya di ampuni. Ya Allah saya bertawasul kepadamu dengan takdirmu yang engkau takdirkan kepada aku sehingga aku bisa melangkah duduk di Majelis bersama mereka orang-orang soleh dan kabulkanlah hajatku. Ini semua wasilah.

         Sebagaimana Rasul di dalam cerita nya ini. Akhir nya di antara mereka berkata tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali kita sebut di dalam permohonan doa kita kepada Allah Swt dengan sesuatu amal yang paling baik yang pernah kita lakukan. قَالَ رجلٌ مِنهُمْ: ( akhirnya salah satu di antara tiga orang ini mulai berdoa اللَّهُمَّ( Ya Allah) كَانَ لِي أَبَوانِ ( dahulu saya mempunyai bapak dan ibu ) شَيْخَانِ ( yang sudah tua-tua) كَبِيرانِ، ( yang sudah tua renta) وكُنْتُ لاَ أَغبِقُ قبْلهَما ( saya itu tidak pernah makan dan tidak pernah minum sebelum ibu saya makan, sebelum bapak saya makan , sebelum ibu saya minum, sebelum bapak saya minum baru saya, anak saya, keluarga saya, pembantu saya, budak saya makan. Tapi mendahului tidak karena adab pelajaran buat kita. 

         Kalau orang tua kita belum makan jangan langsung nyomot. Kalau bapak ibu kita terlebih khusus ibu kita belum makan jangan buru-buru kita makan sebelum mereka. Apapun jangan mendahului bukan hanya bab makan,bukan dalam bab bicara bahkan yang lebih jauh lagi seperti duduk jangan di depan orang tua kita tapi di belakang orang tua kita, jalan juga seperti itu jangan sampai kita berjalan di depan orang tua kita .

         Imam Abu Hurairah melihat ada anak mudah sedang berjalan bersama kakek kakek, lalu di Tanya anak muda tersebut, wahai anak muda siapa ini? Ini bapak saya, kamu tidak tahu sopan santun dan hak nya anak kepada orang tua apa? Jangan jalan di depanya, jangan duduk di depannya, jangan panggil bapak dari namanya langsung.

         Kita kembali ke dalam pelajaran kita, di sini tiga orang ini salah satu nya berdoa Ya Allah saya mempunyai Ibu bapak yang betul-betul saya hormati saya junjung tinggi saya jaga tata krama saya tidak akan saya makan dan minum kecuali mereka terlebih dahulu makan dan minum. كُنْتُ لاَ أَغبِقُ قبْلهَما أَهْلاً وَلا مالاً ( baik saya, keluarga saya atau saya punya budak, tidak ada yang makan sebelum Bapak dan ibu saya makan) فنأَى بِي طَلَبُ الشَّجرِ ( pada suatu hari saya pergi jauh untuk mencari daun dari pohon ) فَلمْ أُرِحْ عَلَيْهمَا ( saya tidak bisa pulang untuk kembali kepada ibu bapak saya karena juah) حَتَّى نَامَا ( sehingga ketika saya balik saya jumpai mereka sudah keburu tidur dan di dalam doa dia mengatakan seperti ini) فَحَلبْت لَهُمَا غبُوقَهمَا ( setelah saya sampai saya langsung memeras susu kambing atau unta yang saya siapkan di dua mangkuk atau dua gelas untuk nanti lansgung di minum oleh Bapak dan ibu saya) فَوَجَدْتُهُمَا نَائِميْنِ،( setelah saya memeras susu dan menaruh nya di mangkuk saya suguhkan ke Ibu bapak saya mereka sudah tidur dua-dua nya) فَكَرِهْ ( enggan saya untuk) فَكَرِهْت أَنْ أُوقظَهمَا ( membangunkan mereka berdua, mau bangunin kasian tidak tega. Ini pelajaran buat kita. Cukup saudara setahun dua tahun lima tahun ketika kita masih orok masih bayi ibu kita baru tidur kita nangis minta susu. Baru tidur mereka berdua kita menangis minta di gendong cukup sudah setelah aqil baligh kalau ibu bapak kita tidur sekiranya waktu itu bukan waktu sholat biarkan mereka tidur. Karena mereka sedang menikmati istirahat nya. Ini orang soleh di dalam doa nya saya enggan membangunkan ibu bapak saya yang lagi tidur. Karena terkadang ada anak yang usil, ada anak yang jahil, ibu nya lagi tidur, bapak nya lagi tidur di kagetin, di godain, di bohongin, sekali nya bangun minta duit.

         Dahulu Al-Habib Umar pernah bercerita kucing saja tidur jangan di bangunin. Kalau kita mungkin sebagian menyerim dengan air panas. Kita harus jaga makhluk Allah Swt apalagi dia itu orang tua. 

         Sabda Nabi: bukan dari golongan saya orang yang tidak taat dengan orang tua, tidak menyayangi anak kecil.

Maka saya enggan membanguni mereka bedua وَأَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا ( demikian juga saya enggan untuk makan dan minum termasuk susu yang sudah saya peras sebelum Bapak dan Ibu saya minum. أَهْلاً أَوْ مَالاً،( baik keluarga saya, anak saya, istri saya, budak saya pun demikian tidak saya kasih. Kenapa? Karena ibu bapak saya belum minum. فَلَبِثْتُ ( maka saya tetap terdiam di depan Ibu bapak saya yang lagi tidur ) وَالْقَدَحُ عَلَى يَدِى ( sementara tangan saya sambil memegang manguk yang berisi susu أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما( saya berdiri pegang mangkuk itu yang berisi susu sampai Bapak ibu saya bangun dari tidur nya) حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ( sampai terbitlah waktu Subuh atau Fajar) dari malam bukan setengah jam, bukan satu jam, mungkin 5 jam dia berdiri pegang mangkuk. Kita di suruh sama ibu kita tunggu rumah sebentar udah kwlahan, tungguh rumah sebentar, pergi kesana sebentar udah ngeluh seakan-akan orang tua ini barang murah teman kita lebih berharga dari pada ibu kita. Nak tolong beli cabe di sana, nak tolong beli indomie nak, aduh bu saya sudah janji nih sama teman saya teman saya sudah menunggu  teman saya sudah tlpon berkali-kali padahal di suruh hanya sebentar.

         Ini anak soleh dalam hadist ini berdiri pegang mangkuk dari habis isya sampai subuh وَالصِّبْيَةُ يَتَضاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمي ( sementara anak anak saya sayang masih kecil merengek di kaki saya nangis kelaparan.) bisa kita bayangkan sayang nya kita sama anak kita rela lapar demi anak kita kenyang. Kita rela telanjang demi anak kita memakai baju kita rela berhutang demi anak kita agar bisa sekolah. Tapi jangan lupa dan jangan terlena ada kewajiban juga di atas kita yaitu Bapak ibu kita. Jangan kita kenyang tapi Bapak ibu kita kelaparan, jangan kita memakai baju bagus Bapak ibu kita telanjang, jangan sampai kita bagi-bagi duit Bapak ibu kita berhutang. Jadi dia tega tidak tega. Anak merengek di bawah kaki tetep dia tidak kasih itu susu karena kenapa? Karena Bapak ibu nya belum minum. 

         Lalu di katakan فَاسْتَيْقظَا ( akhir nya Bapak dan ibu saya bangun) فَشَربَا غَبُوقَهُمَا. ( bapak ibu saya yang sudah tua renta akhirnya bangun dan meminum itu susu) اللَّهُمَّ ( ya Allah) إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ ( jika saya melakukan itu tulus karenamu, ikhlas karenamu ) فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ ( maka langkan lah Ya Allah kesulitan dan kesukaran yang sedang kami derita saat ini dari batu) فانْفَرَجَتْ ( akhir nya terbuka mulai geser batu yang besar itu akhir nya tergeser). Tapi tetep mereka tidak bisa keluar karena baru begeser. Artinya apa? Doa nya anak ini yang tawassul dengan amal soleh nya di Kabul sama Allah Swt. artinya apa? Amal baik kita kepada Bapak ibu kita nilainya sungguh luar biasa. Sudah poisisi terjepit tidak ada solusi tidak ada jalan keluar berdoa Ya Allah kalau saya melakukan itu berbuat baik sama ibu bapak saya pengorbanan yang sudah saya lakukan itu tulus karena mu tolong buka lah mulut goa ini dan geser batunya dan di Kabul saat itu juga sama Allah Swt. walau memang tidak bergeser secara total hanya bergeser sedikit tapi lihat bukti doa. Artinya apa? Hubungan anak dengan orang tua apapun yang dia lakukan di catat oleh Malaikat. Kalau baik ada pahala, kalau jelek di catat durhaka oleh Allah Swt. 

         Bapak ibu hadirin-hadirat yang di rahmati oleh Allah Swt setiap malam selasa Alhamdulillah panjang umur sehat dan afiyah kita hadir di sini dan kita dengar pembacaan riwayat maulid lalu kita Asyroqol. Dalam Asyroqol mahlul qiyam wabihi fandzur ilaina wa’thina bih kulla mathma’ artinya Ya Allah berkat Nabi pandang lah kami dan berkat beliau berikan segala permohonan yang kami ingin-inginkan. Ingat lah saudara Allah Swt tidak akan memandang kita sedikitpun. Pandangan apa bib? Pandangan rahmat. Kalau pandangan azab iyah tapi kalau pandangan rahmat tidak. Bagi siapa? Bagi 3 orang kata Rasulullah Saw. Dalam Hadist riwayat Imam Ahmad Imam Nasai Imam Thabrani dari Imam Abdullah bin Umar: 3 orang tidak akan di lihat oleh Allah Swt di hari kiamat.

  1. Durhaka kepada bapak ibu. 

Penjelasan: nangis teriak-teriak wabihi fandzur ilaina tapi ketika ente nyakitin orang tua ente tidak mendapat pandangan Allah Swt. 

2. Wanita yang bermolek seperti laki-laki. 

Penjelasan: dia perempuan tapi bergaya seperti laki-laki dalam segala hal

3. Laki-laki atau suami yang tidak cemburu kepada keluarganya. 

 

Lalu kata Nabi 3 orang yang tidak akan masuk surga. Kalau tadi tidak mendapatkan rahmat 3 lagi tidak akan masuk surga. Siapa Ya Rasul? 

  1. Anak yang durhaka sama bapak dan ibu. 
  2. Orang yang kerjaan nya minum khamar. 
  3. Orang yang suka ngungkit-ngungkit pemberian.

Ini tidak akan masuk surganya Allah Swt. oleh karena itu ulama ngasih qoidah catat baik baik. Anak yang berbakti kepada kedua orang tua di dunia walaupun dia busuk dan amal soleh nya jelek dia tidak akan di masukan ke dalam nerakanya Allah Swt. tetapi anak yang durhaka kepada bapak dan ibu nya tapi amal dia sama Allah Swt bagus, sholat nya luar biasa, ahli tahajjud, ahli sodaqoh, ahli puasa, tapi durhaka sama bapak dan ibu nya dia tidak akan masuk surga nya Allah Swt. kenapa? Karena dia telah mengingkari nikmat Allah Swt yang paling mahal setelah islam setelah iman setelah Rasul, apa nikmat yang paling mahal bib? Firman Allah Swt: berterima kasih lah engkau wahai hamba kepada ku dan berterima kasih lah kalian kepada kedua orang tuamu. 

         Jadi anak yang durhaka sama kedua orang tua anak yang tidak berterima kasih akan keberadaan bapak ibu nya. Bapak ibu hadirin hadirat yang di rahmati oleh Allah Swt. jangan bangga ketika kita memberangkatkan kedua orang tua kita haji setiap tahun, jangan bangga ketika kita memberi makan untuk kedua orang tua kita setiap hari, itu tidak ada apa-apanya ketika dahulu susah payah ketika di gendong mengandung selama 9 bulan, makanan enak di tinggalin. Sayyidina umar melihat ada anak muda menggendong ibunya memutar ka’bah lalu anak muda itu di panggil oleh Sayyidina Umar dan bertanya kepada anak muda tersebut siapa yang kau gendong? Ini Ibu saya. Wahai amirul mukminin dia ibu saya dan saya gendong untuk pergi haji kesini dari syam untuk menunaikan ibadah haji saya gendong, makan pagi siang malam saya suapin, minum saya kasih, sekarang saya gendong, kira kira cukup atau tidak untuk menutupi hak ibu saya kepada saya? Berkata sayyidina Umar sama sekali tidak, satu teriakan ketika ibu mu melahirkanmu  tidak sebanding walaupun engkau gendong ibu mu untuk pergi haji. Kenapa? Karena ibumu susah saya mengurus kamu dari kecil berharap kamu sehat, kamu hidup, panjang umur tapi kalau anak beda berharap kedua orang tua nya buruh-buruh wafat. 

        Makanya kita jadilah seperti sayyidina anas bin malik. Ibu nya anas bin malik ini datang kepada Rasulullah dan mengeluh wahai Rasul saya mempunyai anak dan saya kangen dan rindu dia hidup bersama kamu kalau sudah di rumah ogah makan bareng sama saya. Lalu di panggil Anas bin Malik sama Rasulullah Saw dan Rasul bertanya kepada Anas bin Malik kenapa kamu tidak mau makan bareng sama ibumu? Lalu Anas bin Malik menjawab saya takut wahai Rasul makan bareng sama ibu saya, apalagi satu nampan, takut saya mengambil sesuatu lalu saya makan tapi makanan itu sudah di lihat oleh ibu saya dan mau di makan sama ibu saya nanti di hari kiamat saya takut menjadi anak durhaka wahai Rasulullah. Terkadang kedua orang tua kita suka kita nomor dua kan hanya karena fulus. Ada anak bunuh ibu nya.

         Berkata ulama: siapa orang memandang kedua orang tuanya karena sombong malaikat Allah Swt menahan langit, kenapa? Karena langit ingin menimpa dia lalu di tahan sama malaikat. Bagaimana kalau seorang anak lebih memilih istrinya di banding ibunya?

         Padahal di dalam Hadist Rasul siapa anak yang memandang Ibu nya dengan pandangan ridho maka Allah Swt akan memberi pahala umroh. 

         Tapi di zaman kita sampai di ceritakan belakangan ini ada seorang bapak mata nya sudah rabun dengar suara burung di jendela lalu bapak itu bertanya kepada anak nya. Wahai anakku suara apa itu? Lalu anak nya menjawab suara burung pak lalu 5 menit bertanya lagi itu suara apa nak? Lalu di jawab lagi itu suara burung pak? Lalu 5 menit bertanya lagi suara apa itu nak? Lalu marah anaknya dengan jawaban bapak budek ya? Itu suara burung. Lalu kata bapak nya kamu marah nak? Kata anak nya masa bapak tidak mengerti sudah 3 kali saya jawab?sini nak antar bapak ke rak buku lalu di antar sama anaknya, ada agenda bapak buka lah lalu di buka sama anak nya, berkata bapak nya dulu bapak pernah tulis nak pas usia kamu tiga tahun kamu bertanya kepada bapak suara apa itu pak di jendela bapak jawab suara burung. Kamu bertanya kepada bapak sampai 25 kali dan bapak menjawab setiap jawabanya bapak jawab dengan senyuman dan sampai engkau menghapal dan mengetahui nya anakku. 

         Hadirin hadirat yang di rahmati oleh Allah Swt oleh karenanya jangan kita tutup atau kita buang surga yang ada di hadapan kita karena ego kita padahal itu surge yang paling dekat 

         Kata Nabi: baktilah kepada ibu bapakmu karena surga ada di tangannya

Mudah-mudahan Allah Swt ridho kepada kita dan Allah Swt rahmati kita semua dan ilmu yang kita pelajari ada guna dan manfaat nya .wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.