November 25, 2020

Adakah Bid\’ah Hasanah?

Home Forums Forum Masalah Fiqih Adakah Bid\’ah Hasanah?

Viewing 9 posts - 11 through 19 (of 19 total)
  • Author
    Posts
  • #77319418
    WIDAYAT NUR AZIS
    Participant

    Assalamu\’alaikum.

    Semoga limpahan Rahmat selalu tercurah pada Habib dan keluarga,

    Sungguh ana sangat dapat mengambil manfaat dengan apa yang disampaikan Habib terhadap masalah Bid\’ah ini, semoga benang kusut (bid\’ah) yang selama ini menyelimuti umat Islam ini akan cepat terurai.

    Dan untuk mas Alfatih, ana juga mengucapkan terima kasih dan salam hangat dari ana, semoga antum selalu dalam lindungan dan kasih sayang Allah, dengan inisiatif Mas Alfatih, Habib Munzir mau mengurai masalah Bid\’ah ini dengan segala ilmu yang dimilikinya, semoga hal ini kalau benar adanya tidak akan menutup kemungkinan mas Alfatih akan kembali lagi ke pangkuan Ahlussunnah Wal Jamaah.

    Untuk teman2 dan saudara2 yang lain, kedepankan sikap santun, lemah lembut dan kasing sayang terhadap sesama Muslim.

    Semoga Habib mau meneruskan pembicaraan mengenai Bid\’ah ini dengan sejelas-jelasnya,

    Sekali lagi salam ana buat Habib dan Keluarga, semoga selalu dalam limpahan kasih sayang Allah, dan semoga sakitnya cepat digantikan dengan kesembuhan (karena saya lihat senen malam selasa kemarin Habib pakai tongkat untuk berdiri).

    #77319429
    khunthai
    Participant

    Assalamu\’alaikum wrwb
    Semoga kemuliaan dan kesehatan selalu menyertai habib Munzir sekeluarga.. amien.

    Alhamdulillah ..penjelasan habib munzir sangat mencerahkan kami. Tapi ada yang sedikit mengganggu, tentang ini,
    [quote]mengenai ucapan Al Hafidh Imam Ibn Rajab, beliau tidak melarang hal yg baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau naqli nya, maka bila orang yg bicara hal baru itu punya sandaran logika dan sandaran Naqli nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan beliau :

    ……………….

    Jelaslah bahwa ucapan Imam Asyaukaniy menerima Bid;ah hasanah yg disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil Alqur’an atau hadits), [/quote]

    Yang benar..Imam Ibn Rajab ataukah Imam Asyaukamiy?

    Terima kasih pak habib penjelasannya.

    #77319436
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    terimakasih atas doanya, doakan saya cepat sembuh ya mas widayat?,

    semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam

    #77319590
    alfatih
    Participant

    Assalamu\’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat:

    [size=4][b]بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ [/b][/size]

    Beliau rahimahullah berkata:

    [b]اي خالقهما على غير مثال سبق قال مجاهد و السدي: و هو مقتضى اللغة ومنه يقال للشيء المحد ث بدعة كما جاء في صحيح مسلم: فان كل محد ثة بدعة وكل بدعة ضلا لة – والبد عة على قسمين: تارة تكون بدعة شرعية كقوله: فان كل محد ثة بدعة وكل بدعة ضلا لة و تارة تكون بدعة لغوية كقول امير المؤ منين عمر بن الخطاب عن جمعه اياهم على صلاة التراويح واستمراهم: نعمت البدعة هذه[/b]

    \"Yaitu yang menciptakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya, Mujahid dan as-Sadi berkata hal tersebut merupakan keperluan bahasa dan daripadanya dikatakan terhadap sesuatu yang baru adalah bid’ah. Sebagaimana di dalam Shahih Muslim: [i]“Karena sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. [/i]Bid\’ah itu ada dua macam, yakni pertama menurut syara\’ seperti sabda Raulullahi Shallallahu \’alaihi wa sallam,\"Karena sesungguhnya setiap perkara yang dibuat-buat dalam agama adalah bid\’ah dan setiap bid\’ah itu sesat\". Sedangkan kedua menurut bahasa, sebagaimana perkataan Umar bin Khaththab mengenai perbuatannya ketika mengumpulkan orang-orang untuk shalat tarawih dan secara kontinyu,\"inilah sebaik-baik bid\’ah\".(Tafsir QS: Al-Baqoroh 117, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim Ibnu Katsir, hal 223 cet. Maktabah at-Taufiqiyah Cairo Mesir)

    Dengan demikian kita tidak boleh berdalil dengan bid\’ah menurut bahasa untuk urusan (perkara) agama. Karena perbedaannya sangat jelas seperti di atas.

    Demikian semoga memperjelas. Afwan jiddan dari ana yang dhoif jika kurang berkenan

    Barakallahu fiik
    Wassalamu\’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

    #77319599
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Semoga Keagungan Cahaya Rajab dan kemuliaan Isra wal Mi’taj selalu menerangi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    makna bid\’ah sudah saya jelaskan diatas, bahwa hal yg tak ada landasan secara logika dan dalil (aqlan wa syar\’an), diluar itu maka boleh,

    saudaraku Fatih yg kumuliakan, sadarlah, guntingan2 ucapan itu tak bisa menipu kami bahwa mereka para Imam itu mengatakan Bid\’ah pada hal hal yg baru yg bermanfaat, selama ada sandarannya aqlan wa syar\’an.

    kami tahu sejarah Imam Nawawi, ia membenarkan tabarruk di kubur2, kami tahu Imam Syafii, ia bertabarruk dg Jubah Imam Ahmad bin hanbal ketika muridnya itu disiksa dan dicambuk di penjara., kami tahu Imam Ahmad bin Hanbal mewasiatkan agar potongan Rambut Rasulullah dimasukkan dalam kafannya,

    kami tahu Imam Syaukani yg merupakan tokoh sufi yg banyak menulis shalawat2 atas nabi saw.

    bukan menggunting sana sini lalu memfitnah mereka itu adalah sejalan dengan pemikiran wahabi,

    mereka adalah guru guru kami, penipuan dengan potongan potongan ucapan seperti ini mentah, karena kami mengenal mereka dan sejarah mereka,

    anda lihatlah ucapan khulafa urrasyidin, anda lihat perbuatan sahabat, lihat perbuatan para Imam dan Muhaddits, apakah mereka ini bodoh semua hingga berbuat bid\’ah hasanah?

    anda bertobatlah dari madzhab sempalan itu, tidak ada ajaran apa apa selain menuduh dg dalil yg gunting tambal, dan memusyrikkan orang yg beriman,

    hanya sebatas itulah wahabi ini, tidak lebih dari itu.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam

    #77319636
    MK Mattawaf
    Participant

    [size=4]
    IHYA ULUMIDDIN (Imam Al-Ghazali)
    Penerbit As-Syifa Semarang Tahun 1992; terjemahan indonesia
    Buku ke tiga (jilid III)
    Bab Pertama Mengenai Tata kesopanan makanan
    Halaman 5-6. Tertulis (silahkan dicek)
    Tertulis Berikut:

    ———————– start ——–

    Anas bin Malik rahimahumullah berkata : ”Rasulullah saw tidak makan diatas meja dan tidak didalam piring”.
    Ditanyakan: ”Diatas apakah kamu makan ?” maka ia menjawab : ”diatas hamparan”.

    Dan dikatakan: Empat hal yang diada adakan setelah Rasulullah saw yaitu meja makan, ayakan tepung, wijikan (cucian tangan, pegrm) dan kenyang. Ketahuilah bahwa kami meskipun makan atas hamparan itu lebih utama namun kami tidak mengatakan makan diatas meja makan itu dilarang dengan larangan makruh atau tahrim karena tidak ada larangan yang sah padanya. Dan tidak dikatakan bahwa itu bid`ah setelah Rasulullah saw karena tidak setiap yang diada adakan itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah bid`ah yang berlawanan dengan sunnah yang sohih, dan menghilangkan urusan syara’ padahal illatnya masih. Bahkan kadang-kadang bid`ah itu wajib di dalam sebagai keadaan apabila sebab-sebabnya telah berubah.
    Sedangkan pada meja makan itu tidak ada kecuali mengangkat makanan dari lantai untuk memudahkan makan. Hal hal yang semacam itu termasuk sesuatu yang tidak makruh.

    Sedangkan empat macam yang terkumpul bahwa itu adalah bid`ah adalah tidak sama. Bahkan wijikan itu baik karena padanya terkandung kebersihan karena sesungguhnya mencuci itu disunnahkan agar bersih. Sedangkan wijikan itu lebih sempurna didalam membersihkan sedangkan mereka tidak mempergunakannya karena barangkali mereka tidak terbiasa, atau wijikan itu tidak mudah atau mereka sibuk dengan urusan urusan yang lebih penting daripada menyangatkan didalam melakukan kebersihan. Dan mereka tidak mencuci tangan mereka juga. Sapu tangan mereka adalah lekuk lekuk kaki mereka. Itu tidak mencegah keadaan mencuci itu disunnahkan.

    Adapun ayakan maka tujuannya adalah membaikkan makanan, dan hal itu mubah selama tidak berakhir kepada meng-enak enakkan yang melampaui batas.
    Adapun meja makan maka untuk memudahkan makan, dan itu mubah selama tidak berakhir kepada kesombongan dan membesarkan diri.

    Adapun kenyang itu paling berat diantara empat hal itu. Karena kenyang itu mengajak kepada bergeloranya syahwat-syahwat dan menggerakkan beberapa penyakit di dalam badan. Maka ketahuilah perbedaan diantara hal-hal yang diadakan baru ini.[/size]

    ——— end ————-

    Telah cukup jalas diterangkan oleh Imam Al-Ghazali mengenai bid`ah yang baik
    adapun yang tidak baik adalah yang bertentangan dengan hadits shohih.
    kanapa harus dipertahankan tidak ada bid`ah yang baik sementara kita sendiri
    bergelut, bercampur baur dengannya.
    Saudaraku janganlah kita turuti ego kita sendiri yg akan menjerumuskan kita
    ke dalam jalan jalan yang menyimpang, kenapa pula kita harus mempertahankan yang sesuai dengan akal kita, padahal ada jelas jelas dikatakan para imam.

    jika anda tetap berkeyakinan seperti itu kenapa anda paksakan orang lain agar sesuai dengan pikiran anda, Nauzu billah.
    Yaa… Allah lindangilah kami dari gangguan orang – orang yang memaksakan kehendaknya kepada kami.

    Salam

    #77319675
    Munzir Almusawa
    Participant

    Allahummahdiy Qaumiy, fa innahum laa ya\’lamuun..

    #77326094
    Qudamah
    Participant

    Assalamu\’alaikum,,
    Habib yang saya muliakan,,maaf mengganggu lagi ya,,

    ini ada kutipan dari orang salafy bib, yang ana kurang faham dan cukup membingungkan, karena disini dikatakan bahwa Imam Syafi\’i membagi bid\’ah kedalam syar\’iayah dan lughowiyah..
    Nah yang benar yang mana bib ?

    ومراد الشافعى رحمه الله ماذكرناه من قبل : إن البدعة المذمومة ما ليس لها أصل من الشريعة يرجع اليها وهى البدعة فى إطلاق الشرع وأما البدعة المحمودة فما وافق السنة يعنى: ما كان لها أصل من السنة يرجع إليه وإنما هى بدعة لغة لا شرعا لموافقتها السنة

    Dan maksud Syafi’i rahimahullah adalah apa yang kami telah sebutkan sebelumnya: Bid’ah mazmumah adalah apa saja yang tidak ada baginya asal dari syariat yang kembali kepadanya maka bid’ah itu adalah dalam pengertian syara’ dan adapun bid’ah mahmudah adalah apa saja yang sesuai dengan sunnah yakni apa yang baginya memiliki asal dari sunnah yang kembali kepadanya. Dan sesungguhnya bid’ah ini hanyalah merupakan bid’ah dalam arti bahasa bukan syara’ karena sesuai dengan sunnah.
    (Jami’ Al Ulum Ibnu Rajab hal. 360-361)

    ini juga bib,,,

    و أما ما وقع فى كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنما ذللك فى البدع اللغو ية لا الشرعية فمن ذللك قول عمر لما جمع الناس فى قيام رمضان على إمام وإحد فى المسجد وخرج وراهم يصلون كذللك فقال: نعمت البدعة هذه

    Dan adapun apa yang dikatakan salaf tentang baiknya sebagian bid’ah, maka sesungguhnya yang demikian itu hanyalah merupakan bid’ah secara bahasa bukan secara syariat maka diantara yang demikian adalah perkataan Umar ra tatkala mengumpulkan orang-orang untuk shalat qiyamu ramadhon dengan satu orang Imam di masjid dan mereka keluar menunaikan sholat lalu Umar ra berkata: “ini sebaik-baik bid’ah”

    (Al-Muwaththo’ I/114, Shohih Bukhori no. 2010 dikutip dari Jami’ Al Ulum Ibnu Rajab Al Hanbali hal. 358)

    dan perkara tafsir Ibn Katsir yang sering dijadikan alat dari orang salafy untuk menolak bid\’ah hasanah,

    mohon bib, penjelasannya,,saya cukup bingung,,,

    jazakallah,,

    #77326125
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kebahagiaan dan Cahaya Kelembutan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dan keluarga,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    ucapan imam syafii itu benar, dan ucapan Imam Imam ahlussunnah waljamaah itu benar dan semakna, kesemuanya tak menentang hal baru selama itu bermanfaat bagi muslimin, karena telah diperintah oleh Allah swt.

    bid;ah adalah membuat buat shalat yg baru, menambah shalat jadi 6 waktu, menambah jumlah takaat shalat fardhu, dan hal hal semacam itu tentunya kategori bid\’ah yg buruk.

    sebenarnya hanya perbedaan pendapat dalam bahasa, namun yg jelas, semua hal yg baru selama tidak bertentangan dg syariah, dan membawa manfaat bagi muslimin maka hal itu sudah diperbolehkan olrh Rasul saw sebagaimana hadits beliau saw : :\"Barangsiapa yg mengajarkan hal baru berupa kebaikan dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya, dan barangsiapa yg membuat kebiasaan buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya\" (Shahih Muslim).

    sebagaimana Abubakar ra shiddiq ra menyetujui penjilidan Alqur;an, dan hal itu tak diperintah oleh Rasul saw, dan tak ada dalil yg mendukungnya, hanya maslahat muslimin saja.

    demikian pula dua kali adzan pada shalat jumat, yg dilakukan mulai dimasa Utsman ra (shahih Bukhari) hal itu tak ada dalil pendukungnya, hanya maslahat muslimin saja, lalu apakah kita mengatakan para khulafa\’urrasyidin ini ahlul bid\’ah…?

    penjelasan saya sebelumnya telah jelas dalam hal ini.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

Viewing 9 posts - 11 through 19 (of 19 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Fiqih’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru