November 26, 2020

Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW

Home Forums Forum Masalah Umum Kerusakan – kerusakan dalam Maulid Nabi SAW

Viewing 8 posts - 1 through 8 (of 8 total)
  • Author
    Posts
  • #77637435
    Iqbal_Nur_Iman
    Participant

    Asalamualaikum Wr Wb

    Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat serta perlindungan-Nya kepada Habib Munzir Almusawa.

    Bib, saya mendapatkan artikel ini dari : [color=#FF0000]http://sunnahku.blogspot.com/2007/03/kerusakan-kerusakan-maulid.html[/color]
    inilah isi artikelnya :

    Saturday, March 31, 2007
    KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID
    Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

    Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka mengatakan:

    يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد
    يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد

    “Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
    Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
    Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
    Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “

    Sungguh, seandainya saja Rasulullah sholllahu ‘alaihi wa sallam hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita hanyalah Allah Ta’ala saja.

    Allah Ta’ala berfirman:
    أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan kesusahan….”(QS. An-Naml: 62).

    Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada segenap manusia:

    قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا

    “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan….” (QS. Al-Jin: 21).

    Bahkan Nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wa sallam sendiripun bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan juga umat beliau lainnya):

    إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

    “Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). “ HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits ini Hasan Shohih”).

    Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

    لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

    “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).

    Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba’ yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan di yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).

    Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan perantara seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan diberi wahyu oleh Allah.
    Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba’ yang menyatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Ini pun juga ucapan dusta, karena Allah Ta’ala justru berfirman:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. “(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

    Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid nabi itu banyak terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam satu tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka), padahal ini diharamkan dalam syariat agama kita.

    Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid nabi ini, sering terjadi sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang mencapai jumlah jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap padahal mengumpulkannya sering dengan susuh payah, dan sesungguhnya hal itu lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan lainnya, seperti membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak yatim dan sebagainya.

    Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi dan transfortasi sering membuat lengah atau lalai para panitia peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai meninggalkan sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang lainnya.
    Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat subuh berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan ada yang tidak subuh sama sekali.

    Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh (meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah, orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari natal atau ulang tahun setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan merayakan bid’ah tersebut. Padahal, Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam mengingatkan kita:

    مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka. “(HR. Abu Dawud, shahih).

    Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam hadir didalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta’ala berfirman:

    وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
    “Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. “(QS. Al-Mu’minin: 100).

    Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.

    Di samping itu, seandainya Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. “(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih)

    Maroji’:
    Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

    Sumber:
    BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi’ul Awal / 1425

    mohon penjelasannya dari Habib, atas perhatian Habib saya ucapkan terimakasih.
    Wassalam.

    #77637462
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    mereka ini memang tak tahu apa apa, bisanya Cuma menukil satu dua halaman lalu berfatwa, sungguh rasul saw akan selalu mendoakan ummatnya bila mereka memuji beliau saw dan minta pertolongan pada beliau saw,

    Sekarang saya punya pertanyaan pendek :
    1. bolehkah minta pada teman anda?, pada juragan anda?, pada ayah anda?, pada ibu anda?, pada Lurah?, pada orang kaya?, mengedarkan proposal?, syirik kah?

    Lalu kalau A diserang ular lalu minta pada tolong pada temannya, tolonglah saya, bantulah saya, selamatkan saya dari kematian.., syirikkah..??

    Aduh.. dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini.

    Lalu kalau minta bantuan pada anjing pun boleh, pada ayah boleh, pada ibu boleh, pada teman boleh, demi Allah tiada satupun makhluk yg paling bisa memberi bantuan kepada kita melebihi sayyidina Muhammad.. !

    Dan meminta pertolongan Pada utusan Allah hakikatnya minta pertolongan pada Allah..,

    Kalau saya minta pertolongan pada polisi bukankah berarti saya minta pertolongan pada Negara..?

    Sampai disini semua logika orang yg berakal menerima bolehnya meminta pada makhluk.

    2. pertanyaan kedua adalah apakah dalam memberi manfaat dan mudharrat itu ada perbedaan antara hidup dan mati?

    Bukankah mudharrat dan manfaat itu milik Allah ?, diberikan Nya kepada siapa yg dikehendaki Nya..?

    dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini, bila orang yg sudah mati mutlak tak bisa memberi manfaat maka kekuatan Allah tertutup dengan kematian hamba Nya swt..?

    sungguh yg mati adalah tubuh, dan ruh tetap hidup, bahkan jelas jelas Allah swt berfirman : “Jangan sesekali kau katakan bahwa mereka yg wafat di jalan Allah itu wafat, sungguh mereka itu hidup dan diberi rizki oleh Allah swt” (QS Annaml – 82).

    Lalu nabi saw mengajari kita minta pada beliau saw :
    ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.

    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10050)

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405),

    juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…

    Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam, bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu,

    yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

    Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg lari dengan mobilnya tetap tak selamat, mereka yg lari mencari tim SAR tetap tak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam

    #77637553
    Saqqaf
    Participant

    Assalamu\’alaikum
    Ana ras pertanya jamaah tentang ajarannya wahabi ini cukup meresahkan juga ya.. walaupun sebenarnya habibana sudah menjelaskan cukup panjang lebar dalam artikel-artikel lainnya. Sabar ya habibiy…

    Kemudian ana juga mau ikut sumbang sedikit bib.. menanggapi pernyataan berikut :
    \"Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

    لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

    “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).\"

    Untuk ana cukup jelas bahwasanya puji-pujian pada Rasulullah SAW yang harus dijauhi adalah memuji sebagaimana pujian Kaum Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam yang sampai Menuhankannya… Itulah batasannya…..

    Dasarnya :
    Karena memang pantaslah Nabi Muhammad dipuji, ini akhlak kita bersyukur kepada sang pembawa Risalah dari Allah… Oleh karena melalui perantaraannya maka kita mengenal indahnya ibadah kepada Rabbul Alamin.

    \"Dan sesungguhnya Allah dan Malaikatnya Bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah atasnya (saw) dan berilah salam atasnya dengan sebaik-baik salam\"

    Dan juga Surat Alam Nasyrah :
    [94 : 4] Warafa\’naa laka dzikraka
    Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

    Dan tentunya batasannya adalah jelas, jangan seperti kaum Nasrani kepada nabinya.

    Betul dhahirnya Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana manusia pada umumnya.. beliau makan, minum, beristri, punya anak… Namun satu hal juga harus kita ketahui, bahwa dalam QS Surat FUSHSHILAT [41: 6]
    \"Katakanlah: \"Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,….. (sampai akhir ayat) \".

    Cukup jelas juga bahwa Rasul adalah manusia sebagaimana kita. Dengan sisi kemanusiaannya itulah maka dia (SAW) adalah contoh hidup dari suri tauladan yang dapat kita ikuti dan teladani. Dan masih diayat ini kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW berbeda (selain sisi dhahirnya yang sama dengan kita), yaitu dengan diwahyukannya Al Qur\’an kepadanya (SAW). Ana arasa dengan telah diwahyukannya Al Qur\’an tersebut kepadanya, maka itu sudah merupakan derajat yang luar biasa, yang membedakannya dengan manusia seperti kita..

    Selesai sudah masalah perbedaan Nabi Muhammad SAW dengan manusia lain pada umumnya. Dan dengan perbedaan tersebut, kita tidak sampai menuhankan Nabi SAW sebagaimana Kaum Nasrani Menuhankan Nabi mereka..

    Oleh karenanya lah, kita tidak perlu lagi membingungkan diri kita dengan pemahaman-pemahaman wahabi ini… Tentunya penjelasan Habibana Mundzir sudah cukup jelas, dan gamblang diberbagai artikel yang tersebar di web ini.. Dan saran ana untuk yang lain.. jangan terlalu meruwetkan pikiran kita dengan pemahaman mereka.

    Cukuplah bagi kita berpegang teguh pada pemahaman Ahlusunnah Waljamaah yang telah dipegang oleh guru dan orang-orang tua kita. Pelajarilah itu dan jangan terlalu menyibukkan diri dengan pemahaman lain yang sifatnya merusak, untuk menguatkan aqidah kita. Sibukkanlah hari-hari kita dengan ini.

    ——————————————————————————————-

    wa mimmaa yasurrul qolba minnii
    luzuumukum thoriiqota aabaaii wa ahlii wa ajdaadi
    minassalafil qoumilladziina tawajjahuu ilallaahi
    yaqfuunannabil mushthofal haadii

    [dan yg paling menggembirakan hatiku
    teguhnya kalian pada thorigoh leluhur, keluarga dan kakek-kakekku
    para salaf yg kepada Allaah mereka mencurahkan segala usaha
    mengikuti petunjuk Nabi pilihan-Nya]

    * dari syair Shohibul Magom, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    ——————————————————————————————–

    Namun kalau tetap masih ada keraguan silahkan ditanyakan lagi dengan habib.

    Wassalamu\’alaikum

    #77638006
    Purno edi
    Participant

    [b]saqqaf tulis:[/b]
    [quote]Assalamu\’alaikum
    Ana ras pertanya jamaah tentang ajarannya wahabi ini cukup meresahkan juga ya.. walaupun sebenarnya habibana sudah menjelaskan cukup panjang lebar dalam artikel-artikel lainnya. Sabar ya habibiy…

    Kemudian ana juga mau ikut sumbang sedikit bib.. menanggapi pernyataan berikut :
    \"Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

    لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

    “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).\"

    Untuk ana cukup jelas bahwasanya puji-pujian pada Rasulullah SAW yang harus dijauhi adalah memuji sebagaimana pujian Kaum Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam yang sampai Menuhankannya… Itulah batasannya…..

    Dasarnya :
    Karena memang pantaslah Nabi Muhammad dipuji, ini akhlak kita bersyukur kepada sang pembawa Risalah dari Allah… Oleh karena melalui perantaraannya maka kita mengenal indahnya ibadah kepada Rabbul Alamin.

    \"Dan sesungguhnya Allah dan Malaikatnya Bershalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah atasnya (saw) dan berilah salam atasnya dengan sebaik-baik salam\"

    Dan juga Surat Alam Nasyrah :
    [94 : 4] Warafa\’naa laka dzikraka
    Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.

    Dan tentunya batasannya adalah jelas, jangan seperti kaum Nasrani kepada nabinya.

    Betul dhahirnya Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana manusia pada umumnya.. beliau makan, minum, beristri, punya anak… Namun satu hal juga harus kita ketahui, bahwa dalam QS Surat FUSHSHILAT [41: 6]
    \"Katakanlah: \"Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,….. (sampai akhir ayat) \".

    Cukup jelas juga bahwa Rasul adalah manusia sebagaimana kita. Dengan sisi kemanusiaannya itulah maka dia (SAW) adalah contoh hidup dari suri tauladan yang dapat kita ikuti dan teladani. Dan masih diayat ini kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW berbeda (selain sisi dhahirnya yang sama dengan kita), yaitu dengan diwahyukannya Al Qur\’an kepadanya (SAW). Ana arasa dengan telah diwahyukannya Al Qur\’an tersebut kepadanya, maka itu sudah merupakan derajat yang luar biasa, yang membedakannya dengan manusia seperti kita..

    Selesai sudah masalah perbedaan Nabi Muhammad SAW dengan manusia lain pada umumnya. Dan dengan perbedaan tersebut, kita tidak sampai menuhankan Nabi SAW sebagaimana Kaum Nasrani Menuhankan Nabi mereka..

    Oleh karenanya lah, kita tidak perlu lagi membingungkan diri kita dengan pemahaman-pemahaman wahabi ini… Tentunya penjelasan Habibana Mundzir sudah cukup jelas, dan gamblang diberbagai artikel yang tersebar di web ini.. Dan saran ana untuk yang lain.. jangan terlalu meruwetkan pikiran kita dengan pemahaman mereka.

    Cukuplah bagi kita berpegang teguh pada pemahaman Ahlusunnah Waljamaah yang telah dipegang oleh guru dan orang-orang tua kita. Pelajarilah itu dan jangan terlalu menyibukkan diri dengan pemahaman lain yang sifatnya merusak, untuk menguatkan aqidah kita. Sibukkanlah hari-hari kita dengan ini.

    ——————————————————————————————-

    wa mimmaa yasurrul qolba minnii
    luzuumukum thoriiqota aabaaii wa ahlii wa ajdaadi
    minassalafil qoumilladziina tawajjahuu ilallaahi
    yaqfuunannabil mushthofal haadii

    [dan yg paling menggembirakan hatiku
    teguhnya kalian pada thorigoh leluhur, keluarga dan kakek-kakekku
    para salaf yg kepada Allaah mereka mencurahkan segala usaha
    mengikuti petunjuk Nabi pilihan-Nya]

    * dari syair Shohibul Magom, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    ——————————————————————————————–

    Namun kalau tetap masih ada keraguan silahkan ditanyakan lagi dengan habib.

    Wassalamu\’alaikum[/quote]

    #77638007
    Purno edi
    Participant

    [b]iqbalnuriman tulis:[/b]
    [quote]Asalamualaikum Wr Wb

    Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat serta perlindungan-Nya kepada Habib Munzir Almusawa.

    Bib, saya mendapatkan artikel ini dari : [color=#FF0000]http://sunnahku.blogspot.com/2007/03/kerusakan-kerusakan-maulid.html[/color]
    inilah isi artikelnya :

    Saturday, March 31, 2007
    KERUSAKAN-KERUSAKAN MAULID
    Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

    Di dalam kitab beliau, Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah wat Thoifah Al-Manshuroh, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan kerusakan dan penyimpangan acara peringatan Maulid Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut:

    Pertama: Kebanyakan orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid terjatuh pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka menyanyikan bait-bait syair (nasyid-nasyid atau qosidah) pujian kepada Rasulullah dalam acara itu (yang sering di sebut sholawatan). Mereka mengatakan:

    يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد
    يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد

    “Wahai Rasulullah, berilah kami pertolongan dan bantuan.
    Wahai Rasulullah, engkaulah sandaran kami.
    Wahai Rasulullah, hilangkanlah derita kami.
    Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan melarikan diri. “

    Sungguh, seandainya saja Rasulullah sholllahu ‘alaihi wa sallam hidup dan mendengar nyanyian tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar (bahkan beliau pasti akan melarang mereka dari perbuatan tersebut). Mengapa? Karena pemberian pertolongan, tempat sandaran dan pembebasan dari segala derita hanyalah Allah Ta’ala saja.

    Allah Ta’ala berfirman:
    أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
    “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah pula) yang menghilangkan kesusahan….”(QS. An-Naml: 62).

    Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam agar menyampaikan kepada segenap manusia:

    قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا

    “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan….” (QS. Al-Jin: 21).

    Bahkan Nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wa sallam sendiripun bersabda (dalam rangka memberi nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan juga umat beliau lainnya):

    إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

    “Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah). “ HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits ini Hasan Shohih”).

    Kedua: Mayoritas perayaan maulid yang diadakan itu didalam terdapat sikap Al-Ithro’ (berlebih-lebihan) dan menambah-nambah dalam menyanjung (memuji) Nabi shollallahu ‘alahi wa sallam. Padahal Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut dalam sabda beliau:

    لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ

    “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanya seorang hamba, maka katakanlah (tentang aku) ‘Abdulllah (Hamba Allah) dan Rasul-Nya!’“ (HR. Al-Bukhari).

    Kemudian dalam acara Maulid itu juga, sering dibacakan kitab Diba’ yang berisi sejarah perjuangan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam salah satu syair kitab ini menceritakan dan di yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad sholallahu ‘alahi wa sallam dari cahaya-Nya, lalu Ia menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad (cahaya Muhammad).

    Sungguh ini adalah ucapan dusta. Sebaliknya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam itu justru diciptakan Allah dengan perantara seorang bapak dan ibu. Beliau adalah manusia biasa yang dimuliakan dengan diberi wahyu oleh Allah.
    Bahkan mereka juga menyenandungkan syair Diba’ yang menyatakan bahwa Allah menciptakan alam semesta ini kerena Muhammad. Ini pun juga ucapan dusta, karena Allah Ta’ala justru berfirman:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. “(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

    Ketiga: Dalam acara perayaan atau peringatan maulid nabi itu banyak terjadi ikhthilat, (bercampur laki-laki dan wanita dalam satu tempat, tanpa adanya hijab/tabir pemisah diantara mereka), padahal ini diharamkan dalam syariat agama kita.

    Keempat: Dalam penyelenggaraan acara maulid nabi ini, sering terjadi sikap tabzdir (pemborosan harta), baik untuk biaya dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya yang terkadang mencapai jumlah jutaan. Uang sebanyak itu habis dalam sekejap padahal mengumpulkannya sering dengan susuh payah, dan sesungguhnya hal itu lebih dibutuhkan umat Islam untuk keperluan lainnya, seperti membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak yatim dan sebagainya.

    Kelima: Waktu yang digunakan untuk mempersiapkan dekorasi, konsumsi dan transfortasi sering membuat lengah atau lalai para panitia peringatan maulid, sehingga tidak jarang mereka sampai meninggalkan sholat berjamaah dengan alasan sibuk atau yang lainnya.
    Dan tak jarang pula acara peringatan Maulid itu berlangsung hingga larut malam, akibatnya banyak di kalangan mereka tidak sholat subuh berjamaah di masjid (karena bangun kesiangan) atau bahkan ada yang tidak subuh sama sekali.

    Keenam: Merayakan maulid (hari kelahiran) adalah sikap tasyabbuh (meniru atau menyerupai) orang-orang kafir. Mengapa? Lihatlah, orang-orang Nasrani punya tradisi memperingati natal (hari kelahiran) Isa Al-Masih, dan juga hari natal atau ulang tahun setiap anggota keluarga mereka. Lalu, umat Islam pun ikut-ikutan merayakan bid’ah tersebut. Padahal, Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam mengingatkan kita:

    مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

    “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka. “(HR. Abu Dawud, shahih).

    Ketujuh: Sudah menjadi tradisi dalam peringatan maulid itu, bahwa di akhir bacaan maulid, sebagian hadirin berdiri, karena mereka menyakini bahwa pada waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam hadir didalam majelis mereka. Sungguh ini adalah kedustaan yang nyata. Mengapa? Ya karena Allah Ta’ala berfirman:

    وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
    “Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah mati) ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan. “(QS. Al-Mu’minin: 100).

    Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatasan antara dunia dan akhirat, sehingga tidak mungkin orang yang telah mati bangkit atau ruhnya yang bangkit.

    Di samping itu, seandainya Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam masih hidup, tentu beliau tidak senang di sambut dengan cara berdiri menghormat beliau, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

    “Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam. Tetapi jika mereka melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mereka tidak berdiri untuk (menghormati) beliau, karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah membenci hal tersebut. “(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, shohih)

    Maroji’:
    Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

    Sumber:
    BULETIN DAKWAH AT-TASHFIYYAH, Surabaya Edisi: 15 / Robi’ul Awal / 1425

    mohon penjelasannya dari Habib, atas perhatian Habib saya ucapkan terimakasih.
    Wassalam.[/quote]

    #77638008
    Purno edi
    Participant

    [b]munzir tulis:[/b]
    [quote]Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Kebahagiaan dan Kesejukan rohani semoga selalu menghiasi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    mereka ini memang tak tahu apa apa, bisanya Cuma menukil satu dua halaman lalu berfatwa, sungguh rasul saw akan selalu mendoakan ummatnya bila mereka memuji beliau saw dan minta pertolongan pada beliau saw,

    Sekarang saya punya pertanyaan pendek :
    1. bolehkah minta pada teman anda?, pada juragan anda?, pada ayah anda?, pada ibu anda?, pada Lurah?, pada orang kaya?, mengedarkan proposal?, syirik kah?

    Lalu kalau A diserang ular lalu minta pada tolong pada temannya, tolonglah saya, bantulah saya, selamatkan saya dari kematian.., syirikkah..??

    Aduh.. dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini.

    Lalu kalau minta bantuan pada anjing pun boleh, pada ayah boleh, pada ibu boleh, pada teman boleh, demi Allah tiada satupun makhluk yg paling bisa memberi bantuan kepada kita melebihi sayyidina Muhammad.. !

    Dan meminta pertolongan Pada utusan Allah hakikatnya minta pertolongan pada Allah..,

    Kalau saya minta pertolongan pada polisi bukankah berarti saya minta pertolongan pada Negara..?

    Sampai disini semua logika orang yg berakal menerima bolehnya meminta pada makhluk.

    2. pertanyaan kedua adalah apakah dalam memberi manfaat dan mudharrat itu ada perbedaan antara hidup dan mati?

    Bukankah mudharrat dan manfaat itu milik Allah ?, diberikan Nya kepada siapa yg dikehendaki Nya..?

    dangkal sekali pemahaman tauhid mereka ini, bila orang yg sudah mati mutlak tak bisa memberi manfaat maka kekuatan Allah tertutup dengan kematian hamba Nya swt..?

    sungguh yg mati adalah tubuh, dan ruh tetap hidup, bahkan jelas jelas Allah swt berfirman : “Jangan sesekali kau katakan bahwa mereka yg wafat di jalan Allah itu wafat, sungguh mereka itu hidup dan diberi rizki oleh Allah swt” (QS Annaml – 82).

    Lalu nabi saw mengajari kita minta pada beliau saw :
    ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.

    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10050)

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yg telah mati daripada yg masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dlsb, kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori2 lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yg mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabien kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu kepada Musa, lalu kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405),

    juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…

    Maka hadits ini jelas jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang orang ber istighatsah kepada manusia, dan rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah di hari kiamat ternyata hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yg silam, bagaimana air laut yg setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yg lari ke makam shalihin selamat, inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam2 shalihin itu terdapat benteng yg tak terlihat membentengi air bah itu,

    yg itu sebagai isyarat ilahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yg taat pada Nya swt, tubuh tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yg hidup.., tubuh yg tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan Nya swt kepada mereka mereka yg berlindung dan lari ke makam mereka.

    Kesimpulannya : mereka yg lari berlindung pada hamba hamba Allah yg shalih mereka selamat, mereka yg lari ke masjid masjid tua yg bekas tempat sujudnya orang orang shalih maka mereka selamat, mereka yg lari dengan mobilnya tetap tak selamat, mereka yg lari mencari tim SAR tetap tak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan Nya swt?, kenapa bukan orang yg hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a\’lam[/quote]

    #77646198
    Lakana
    Participant

    Assalamu\’alaikum Wr Wb
    Semoga habibana dalam keadaan sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT

    Ya Habibana ana mau nanya neh, Ana mau tau sedikit tentang Syaikh Muhammab bin Jamil Zainu.

    Terimakasih atas jawaban dari habibana Munzir

    Wassalamu\’alaikum Wr Wb

    #77646207
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Cahaya kemuliaan Nya swt semoga selalu menerangi hari hari saudaraku dalam kebahagiaan,

    mengenai pribadi beliau maka saya tak jelas dengan pasti, namun kita bisa menilai dari tulisan beliau diatas, jika itu adalah benar tulisan beliau, maka jelaslah sudah kedangkalan pemahamannya terhadap hadits, dan fatwanya tentunya tak bisa dijadikan sandaran

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

Viewing 8 posts - 1 through 8 (of 8 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru