Syarat sah dan syarat mengerjakan Shalat Jum’at

Jaltsatul istnain Majelis Rasulullah

Senin, 5 April 2021

Al-Habib Ja’far bin Muhammad Bagir Al-Atthos

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kita ucapkan selamat datang kepada guru kita Kyai Salman Yahya, Ust.Ahmad Afif  dan para Asatidz lainnya dan seluruh yang nonton live streaming Majelis Rasulullah Saw dimanapun berada hadirin dan hadirat yang mudah-mudahan Allah Swt berikan curahan yang terbesar dari rahmat Allah Swt dari ampunan Allah Swt dari keridhoan Allah Swt dari kecintaan Allah Swt dan rasul nya Amin Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Sebelum kita membaca dari pada kitab kajian kita kitab Ghoyah Wattaqrib sebagaimana biasa kita membaca dari pada doa nya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالنَّفْعَ وَالاِنْتِفَاعَ، وَالْمُذَاكِرَةَ وَالتَّذْكِيْرَ،
وَالإِفَادَةَ وَالاِسْتِفَادَةَ، وِالْحِثُّ عَلَى تَمَسُّكِ بِكِتَابِ الله،
وَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلَّم،
وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدِّلالَةَ عَلَى الْخَيْرِ،
اِبْتِغَاءَ وَجْهِ الله وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
نعم المولى ونعم النصير

Alhamadulillah Wa Syukru Lillah di malam hari ini kita kembali dalam kajian kita dalam kitab Ghoyah Wattaqrib yang di karang oleh Abi Suja’ Al-Imam Ahmad bin Husein Al-Asfahani masih berkaitan tentang sholat Jum’at. Yang kemarin pada bulan yang lalu telah kita paparkan makna definisi dari pada Jum’at dan yang berkaitan tentang sholat Jum’at dari kewajiban-kewajibannya. Masih kita di dalam syarat-syarat nya dan kini kita masuk di dalam syarat sah nya mengerjakan Jum’at.

Walaupun di sini hanya di utarakan 3 . di kitab yang lain yang pernah kita pelajari ada 7. Di sini di ringkas oleh Imam Abi Suja’menjadi 3 bagian. Alhamdulillah kita berada di penghujung bulan Sya’ban. Yang patut kita perhatikan diri kita untuk mempersiapkan diri kita untuk masuk nya bulan Ramadhan dengan berbagai macam rencana dan niat-niat kita dengan Allah Swt. Karena kita sudah keluar dari 10 terbaik di bulan Sya’ban. Kalau awal di bulan Rajab 10 terbaik nya di awal nya, di bulan Sya’ban di pertengah nya dan di bulan Ramadhan di akhir nya.

Kita sudah masuk di hari ke 22  Sya’ban dan sudah habis 10 pertengahan di bulan Sya’ban. Tapi bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri kita dengan niat-niat kita. Alhamdulillah mungkin semua nya hadir di dalam Nisfu Sya’ban dengan panjatan doa-doa dengan Allah Swt, dengan niat-niat yang baik dan benar dengan Allah Swt paling tidak kita mempersiapkan diri kita untuk bertaubat kepada Allah Swt yang sebenar-benar nya taubat.

Di katakan oleh Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad: taubat yang suci yang benar dengan Allah Swt yang bersih adalah awal langkah seseorang yang ingin menuju Allah Swt untuk mendapatkan benteng yang kokoh dari segala dosa-dosa dan kesalahan yang dia kerjakan. Kalau ingin mendapatkan benteng dari Allah Swt yang menutupi dari pada dosa-dosa nya dan keinginan-keinginan, pikiran-pikiran , lintasan-lintasan dari perbuatan dosa dia harus memperbaiki dari pada taubat nya dengan Allah Swt. Kita ingat dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita, ke khilfan-ke khilafan kita baik dengan Allah Swt atau dengan sesama kita hendak nya kita berusaha sesungguh-sungguh nya , se semangat-semangatnya untuk memperbaiki jalan dan jalinan hubungan kita dengan Allah Swt dan orang-orang di sekitar kita yang kita telah berbuat dosa kepada nya. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan limpahan rahmat nya dan membuka pintu taubat nya yang terbesar untuk kita sehingga Allah Swt memudahkan dan meringankan dari keinginan kita semangat kita untuk memperbaiki diri kita dengan cahaya taubat yang kuat di dalam batin kita dengan keimanan yang kuat di dalam batin kita dengan kecintaan kita yang kuat dengan Allah Swt dan Rasulnya untuk sampai kepada menggapai keridhoan yang terbesar yang Allah Swt berikan kepada hamba-hambanya, kekasih-kekasih pilihannya Amin-Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap manusia ada 3 golongan  nya. Sebagaimana yang di kutip oleh Al-Imam Ghozali: dalam setiap ibadah ada kalangan awam , khawas dan khawasul khawas dan kita ini berusaha terus meningkatkan posisi kita peringkat kita di sisi Allah Swt dari kalangan awam yang hanya beribadah dengan zohir ibadah nya saja. Menjaga dari pada hal-hal yang membatalkan puasa nya dari semenjak terbit fajar Shodiq sampai dengan terbenam nya matahari. Dia menjaga dirinya dari hal-hal yang membatalkan puasa nya yang zohir, yang kelihatan yaitu: makan, minum, berhubungan, ini orang-orang awam kelas nya.

Kemudian naik kepada orang-orang Khowas yang menjaga, memperhatikan maknawiyahnya dari pada puasa nya meninggalkan hal-hal yang di haramkan oleh Allah Swt dari Bathiniyah nya, dari bermaksiat kepada Allah Swt dengan anggota tubuhnya dan terlebih dengan hati dan pikiran nya. Di bersihkan semuanya sehingga dia naik kelas nya  bukan hanya menjaga dari hal-hal hawa nafsunya makan, minum dan keinginan syahwatnya tapi dia benar-benar menjaga anggota tubuhnya dari hal-hal yang di haramkan oleh Allah Swt dan benak pikirannya benar-benar ingin mendapatkan keluhuran dari Allah Swt sampai Allah Swt naikan kelas nya menjadi orang  yang dekat dengan Allah Swt mengenal dengan pengenalan yang istimewa dari makrifat khossoh dari Allah Swt  yang di berikan kepada hamba-hamba nya, pilihan-pilihannya dari kekasih-kekasih nya Allah Swt dimana di situ lah tujuan dari pada semua dari pada ibadah kita menjadi hamba Allah Swt yang dekat dengan Allah Swt mengenal Allah Swt dengan sebaik-baik pengenalan. Mudah-mudahan Allah Swt sampaikan kita kepada tingkatan yang tertinggi di sisi Allah Swt dan Allah Swt sampaikan kita di bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiyah, panjang umur di berikan oleh Allah Swt semangat baru, keinginan baru, rencana-rencana yang baru di dalam bulan Ramadhan untuk memperbaiki diri kita kepada Allah Swt Amin Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Dan jangan lupa di bulan Sya’ban ini kita masih di anjurkan terus untuk memperbanyak sholawat kepada Baginda Nabi Muhammad Saw. Karena tidak ada yang bisa bantu kita untuk mempercepat langkah kita menuju Allah Swt melainkan pintunya adalah Rasulullah Saw. Semakin banyak semakin kita benar-benar punya keyakinan yang mantap di dalam hati kita dengan Rasulullah Saw semakin dekat langkah kita menuju kepada makrifat nya Allah Swt. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kemampuan Taufiq dan Hidayah di dalam hati kita untuk banyak berzikir kepada Allah Swt dan bersholawat kepada Baginda Rasulullah Saw yang Allah Swt jadikan bulan nya ini bulan Sya’ban bulan nya Rasulullah Saw.

Kita lanjutkan kajian kita di dalam kitab Ghoyah Wattaqrib di dalam syarat-syarat pekerjaan nya mengerjakan dari pada Jum’at ada 3 perkara. Di sini di sebutkan 3 perkara. Kemarin saya katakan ada syarat kewajiban nya yang kemarin kita telah bahas ada 7. Sekarang masuk di dalam syarat sah nya dan syarat mengerjakannya  ada 3 perkara

  • Bahwasannya negeri tersebut baik itu bentuk nya kotak bisa di kategorikan kota atau kampung yang terpenting dia dalam tengah-tengah kampung nya atau tengah-tengah dalam negeri nya. Orang dulu ada batas batas kota dan rumah-rumah bersusun di kampung tersebut sampai pada batas kampung nya. Maka nya orang yang musafir terus menerus tidak wajib sholat Jum’at. Di kisahkan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad karena sering nya keluar dakwah sehingga nyaris tidak wajib baginya sholat Jum’at.

 

  • Dan harus jum’at tersebut jumlah nya harus 40 di dalam mazhab Imam Syafii. Walaupun saya katakan kemarin ada 14 pendapat. Kalau mau lihat di Taqrirat di ta’lik nya di situ di syarahkan ada 14 pendapat ulama tentang sholat Jum’at. Ada yang mengatakan 1, ada yang mengatakan 2, ada yang mengatakan 3, wal hasil ada 14 pendapat. Tapi kita mazhab Syafii mengatkan 40 orang-orang yang ahli kampung nya. Yang dia tidak keluar dari kampung nya, tidak keluar dari kotanya kecuali keperluannya saja.

 

  • dan adalah waktunya masih tersisa. Waktunya Jum’at adalah waktunya sembahyang zuhur. Kalau zuhur masih ada waktunya berarti jum’at nya masih ada. Kecuali kalau sisa waktu zuhur tinggal 1 rakaat dan itu sudah tidak mungkin.

 

Kalau sudah keluar waktu atau tidak ada syarat-syarat tersebut maka harus nya dia sembahyang zuhur. Dan kewajiban nya juga ada 3

  • dua khutbah yang berdiri pada keduanya

penjelasan: dia tidak mampu berdiri  dia boleh duduk, tapi kalau masih ada yang bisa berdiri afdhol nya yang bisa bediri kecuali di satu kampung tersebut tidak ada lagi yang bisa khutbah.

 

  • Duduk di antara kedua nya

Penjelasan: di jeda antara khutbah pertama dan khutbah kedua dengan duduk  dan duduk nya hanya sekedar lebih ringkas dari pada 2 rakaat sunnah. Paling tidak baca surat Al-Ikhlas 3 kali atau Sayyidul istighfar dan dia langsung bangun lagi. Tidak boleh lebih dari 2 rakaat sunnah.dan makna 2 rakaat sunnah adalah yang wajib wajib saja.

 

  • Dan di lakukan sembahyang 2 rakaat dalam keadaan berjamaah.

Penjelasan; kalau satu saja batal maka batal semuanya. Kalau jeda nya lama mengulang lagi sholat Jum’at nya. Kalau hanya yang hadir 40 orang saja. Kalau yang hadir 100- 200 batal satu tidak masalah. Ini yang di permasalahkan kalau yang hadir hanya 40 orang yang wajib. Kalau di tambah yang muqim tidak terhitung. Tetep hitungan nya yang wajib.

Sunnah-sunnah hayyiat ada 4:

  • Mandi

Masuk waktunya dari terbit nya fajar. Sebagian mengatakan masuk waktunya di pertengahan malam. Akhirnya ketika orang tidak mendapatkan Jum’at

 

  • Membersihkan jasad nya.

Yang di maksud adalah gunting kuku nya, rapikan jenggotnya, potong dari pada kumis nya, membersihkan bulu-bulu ketiak dan bulu-bulu kemaluannya. Itu termasuk bagian dari membersihkan jasadnya. Dan setelah mandi membaca Ya Muhaimin 100 kali makna nya menentramkan hati.

 

  • Di sunnah kan memakai pakaian putih.

Penjelasan; kalau orang yang sudah balik di sunnahkan memakai gamis kemudian jubbah kemudian Imamah. Kalau di Hadromaut orang yang memakai Imamah berarti orang yang sudah menikah.

 

  • Memotong kuku.

Penjelasan: sunnah nya dari telunjuk tangan kanan kemudian ke kelingking boleh langsung ke jempol lalu pindah kekelingking tangan kiri sampai ke jempol dan balik ke jempol tangan kanan nya. Kalau dari sisi kaki nya yaitu dari kelingking kaki kanan ke kelingking kaki kiri

 

Sunnah memakai wangi-wangian. Kalau laki-laki yang aromanya strong tapi warnanya putih aja dan yang afdholnya lagi di campur dengan air kembang.

Di anjurkan berdiam di waktu khutbah. Dan siapa orang yang masuk dan Imam sedang berkhutbah maka dia sholat dua rakaat yang ringkas atau yang wajib-wajib nya saja yang di laksanakan. Sebagian ulama mengatakan kalau khutbah nya pertama. Tapi kalau khutbah ke dua jangan sholat dua rakaat tapi langsung duduk saja.. tapi sebagian bilang tidak apa-apa karena yang terpenting Imam nya dalam keadaan khutbah pertama atau khutbah ke dua.

Kemudian baru dia duduk untuk sholat Jum’at. Kalau berbicara di dalam sholat Jum’at sebagian mengatakan makruh. Yang penting juga berbicara dalam masalah mendengarkan dari pada isi khutbah. Yang 40 orang harus wajib dia mendengarkan nya. Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Imam Rofii mengatakan hanya dengan Fi’il.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.