Home Forums Forum Masalah Tauhid Orang tua Rasuk mati Musyrik?

Viewing 9 posts - 21 through 29 (of 29 total)
  • Author
    Posts
  • #77723834
    kadam
    Participant

    Assalammu\’alaikum wr.wb.

    Habib saya cukupkan sekian masalah ini disini, karena saya tidak punya kemampuan untuk hal ini. karena itu ini terakhir nukilan dari saudara saya al Akhi Abu Al jauzaa.

    Ana telah membacanya dijawaban asli Forum MajelisRasulullah. Tidak ada hajat ana untuk menanggapi. Ketika ana ajak untuk mengembalikan kepada matan asli dalam riwayat Abu Dawud, dengan segala kilahnya Pak Habib Munzir ingin membawanya dengan alasan ada \"satu riwayat\" yang lain. Riwayat yang mana ? Abu Dawud ? Telah ana tuliskan. Jadi hujjah dengan menggunakan dalil yang mengatakan Rasulullaah shallallaahu \’alaihi wasallam menerima undangan makan dari keluarga mayit adalah [b]gugur[/b]. Dan bahkan tertolak.

    Kemudian tentang makna [i]bid\’ah makruhah [/i]atau [i]ghairu mustahabbah[/i]; ini juga perlu diperinci. Memang, dalam Ushul-Fiqh, salah satu definisi dari makruh adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Habib Munzir. Muara dari keseluruhan definisi makruh tersebut adalah perintah untuk meninggalkannya, baik dengan larangan yang bersifat tahrim atau makruh (tidak sampai pada derajat tahrim). Kalau kita melihat gaya bahasa An-Nawawi dalam kitab-kitabnya (misal : Syarah Shahih Muslim, Al-Majmu\’, dan yang lainnya dari karangan beliau) akan kita dapati bahwa beliau sering menggunakan kata [i]ghairu mustahabbah [/i]dan [i]bid\’ah [/i]pada perkara-perkara tercela untuk ditinggalkan. Apalagi istilah yang lebih keras seperti milik Al-Haitsami :[i] bid\’atun munkaratun makruhatun [/i]yang jelas-jelas menunjukkan celaan beliau terhadap perbuatan tersebut. Namun di sini – sekali lagi – dengan daya upayanya, Pak Habib selalu membawa pada kemubahan – walau di sisi lain ia mengatakan makruh (bukan haram). Inilah letak perbedaannya. Makruh versi ulama dengan makruh versi Pak Habib Munzir.

    Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    كنا نرى الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة

    “Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)” (HR. Ahmad nomor 6905 dan Ibnu Majah nomor 1612).

    Dari Thalhah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    قدم جرير على عمر فقال : هل يناح قبلكم على الميت. قال : لا. قال : فهل تجتمع النسآء عنكم على الميت ويطعم. قال : نعم. فقال : تلك النياحة.

    Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

    Dari Sa’id bin Jubair radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    من عمل الجاهلية : النياحة والطعام على الميت وبيتوتة المرأة ثم أهل الميت لبست منهم

    “Merupakan perkara Jahiliyyah : An-Niyahah, hidangan keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit” (HR. Abdurrazzaq 3/550 dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafadh yang berbeda). Ketiga riwayat tersebut saling menguatkan.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    اثنتان في الناس هما بهم كفر الطعن في النسب والنياحة على الميت

    “Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan meratapi mayit (an-niyahah)”. (HR. Muslim nomor 67)
    Ya….. riwayat-riwayat ini sepertinya dianggap angin lalu saja sama Pak Habib. Padahal Pak Habib tidak mampu membawakan dalil sama sekali untuk menguatkan pendapatnya, selain dari kata si Fulan demikian dan demikian. Taruhlah apa yang dikatakan ulama tersebut benar adanya (maksudnya : ulama yang disitir pendapatnya oleh Pak Habib itu membolehkannya), bukankah sikap kita adalah mengedepankan dalil dan mengesampingkan pendapat-pendapat yang menyelisihi dalil ?

    Silakan ikhwah MyQ menilainya………..

    NB : Pak Habib ini sering mengatakan : jumhur ulama dan muhadditsin. Ini adalah klaim dusta mengatasnamakan ulama. Itu bila yang dimaksudkan adalah ulama dan muhadditsin terdahulu yang mu\’tabar. Namun jika yang dimaksudkan Pak Habib adalah para ulama-ulama beliau dari Yaman (baca : guru2 beliau), nah…. ini bari \"benar\".

    Dan makna makruh yang menguatkan pada hal yang ana isyaratkan (makruh tahrim) adalah beberapa riwayat yang ana bawakan :

    #77723843
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda,

    saudaraku yg kumuliakan,
    tentunya saya bila mengatakan Jumhur Ulama, atau Mu\’tamad, yg saya maksud adalah ulama ahlussunnah waljamaah, bukan wahabi atau syiah.

    sepanjang yg saya baca dari awal sampai akhir, tak ada satupun ucapan ulama yg mengharamkan tahlilan,

    barangkali saudara kita dari yg berfaham wahabi itu belum pernah tahu apa itu itu tahlilan, coba mereka hadir dan lihat, ada apa sih dalam tahlilan itu?,
    bukan pesta dan makan makan sebagaimana yg dilakukan kaum jahiliyah masa lalu yg dilarang para muhaddits sebagai hal yg makruh. (bukan haram).

    walaupun ada pendapat yg mengharamkan namun sebagian besar mengatakannya Makruh, dan itu telah dijelaskan oleh jawaban beliau itu sendiri, mereka tak mengatakannya haram mutlaqan, mereka mengatakan makruh.
    makruh sudah jelas, dan haram sudah jelas.

    berbeda dengan tahlilan yg sekarang dijalankan ini, mereka hanya menyuguhkan kopi, atau teh, dan rengginang dan kue kue murah, itupun sering dibawa oleh tetangga.

    maka tidak ada masalah dalam hal ini, apalagi setiap mereka yg melayat bisa dipastikan sebagian besar membawa amplop kecil berisi uang, ada yg memberikan langsung pada keluarga, ada yg disediakan guci atau lainnya.maka ini menguntungkan dan membantu keluarga mayyit.

    lalu dimana ucapan Ittikhadzuddhiyafah…?, dimana ucapan : \"Pesta perjamuan..?\"
    maka hal diatas adalah mubah, dan pesta perjamuan adalah makruh,

    lalu bila keluarga mayyit mau bersedekah pada yg hadir melayat mereka maka sunnah, atau sedekah pada yg melayat dg niat pahalanya untuk mayyit maka sunnah,.

    kita ahlussunnah waljamaah mempunyai sanad, bila saya bicara fatwa Imam Bukhari, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Bukhari,
    bila saya berbicara fatwa Imam Nawawi, saya mempunyai sanad guru kepada Imam Nawawi, bila saya mempunyai fatwa Imam Syafii, maka saya mempunyai sanad Guru kepada Imam Syafii.

    demikianlah [b]kita[/b] ahlussunnah waljamaah, kita tak berguru kepada buku, karena Buku bukanlah Rawi (periwayat), buku adalah hujjah yg dhoif karena kertas bukanlah ruwaat yg tsiqah,
    bisa diciptakan kafir, bisa berubah satu huruf maka berubahlah seluruh makna, dan tak bisa dipertanggungjawabkan apalagi bertanggung jawab.

    kita mempunyai sanad guru, boleh saja dibantu oleh Buku buku, namun acuan utama adalah pada guru yg mempunyai sanad.

    kasihan mereka mereka yg keluar dari ahlussunnah waljamaah karena berimamkan buku.
    agama mereka sebatas buku buku, iman mereka tergantung buku, dan akidah mereka adalah pada buku buku.
    jauh berbeda dengan ahlussunnah waljamaah, kita tahu siapa Imam Nawawi, Imam Nawawi bertawassul pada nabi saw, Imam nawawi mengagungkan Rasul saw, beliau membuat shalawat yg dipenuhi salam pada nabi Muhammad saw,
    ia memperbolehkan tabarruk dan ziarah kubur, demikianlah para ulama ahlussunnah waljamaah.

    demikianlah hal yg saya jelaskan, mengenai saudara saudara kita yg ber imamkan buku buku, dan bertahan dg kejahilan dan kedangkalan pemahaman terhadap syariah, dan tetap bersikeras bahwa yg makruh adalah haram,

    mereka terkena Hadits Rasul saw : [b]
    [size=4]
    إن أعظم المسلمين في المسلمين جرما من سأل عن شيء لم يحرم على المسلمين فحرم عليهم من أجل مسألته
    [/size][/b][b]
    Sabda Rasulullah saw : “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yg bertanya tentang hal yg tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena pertanyaannya” (shahih Muslim hadits no.2358)[/b]

    #77723841
    agus riman
    Participant

    Saudara Si;liwangi Kalau Ane Salah Menafsirkan Antum Ane Minta Maaf, ane udah Buka My Qur\’an Yg antum Jadikan Rujukan,
    Sekarang Ane Mau Tanya Apa Tujuan Antum Menayangkan perdebatan ini ,

    #77723845
    Munzir Almusawa
    Participant

    saya telah menjelaskan dengan hujjah aqlan wa syar\’an,

    hujjah saya adalah, Guru besar kita Al Musnid Al hafidh Al Habib Umar bin Hafidh, mengakui bahwa ayah bunda nabi bukan musyrik, dan ayah dan nasab nabi saw hingga Adam as dan segenap ayah ayah para Nabi adalah bukan musyrik, tapi suci dalam tauhid dan bimbingan para nabi sebelumnya.

    demikian pula pendapat guru beliau, demikian sanad berlanjut hingga Rasulullah saw dengan sanad Muttashil dari para guru yg tsiqah.

    maka bagi yg akan meneruskan bantahan atas pembahasan ini agar menyebutkan sanadnya kepada periwayat, bila disebut fatwa Imam Nawawi maka sebutkan sanad gurunya kepada Imam Nawawi, bila menyebut fatwa Imam Muslim maka sebutkan sanadnya pada Imam Muslim, bila menyebut fatwa Imam Baihaqi maka sebutkan sanadnya pada Imam baihaqi, bila menyebut fatwa Imam Imam lainnya silahkan sebutkan sanadnya kepada Imam Imam tersebut.

    Alhamdulillah saya mempunyai sanad kepada Imam Imam kutubussittah (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Abu Dawud), juga kepada Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafii, Imam Malik, Imam Hanafi, Imam baihaqi, Imam Hakim, Imam Ibn katsir, dan banyak lagi para Muhadditsin,

    dan sanad kepada Rasulullah saw.

    dan pembahasan ini saya tutup bagi yg membantah namun tak bisa menyebutkan sanadnya,
    karena mereka yg tak memiliki sanad kepada Imam Imam itu maka hujjahnya Maqtu\’, sanadnya terputus, dan fatwanya tidak diakui dalam syariah islam,

    maka ketika dua pendapat berselisih, yg lebih tsiqah dan Kuat adalah yg mempunyai sanad kepada Imam imam tersebut.

    wallahu a\’lam

    #77723976
    alwi yusuf
    Participant

    Na\’udzubillah…

    Lha koq ada ya orang yang mempunyai pemahaman seperti ini. Ga takut sama api neraka kali ya? Atau sudah ketemu dalil untuk tidak usah takut dengan api neraka? Tsumma na\’udzubillah…

    Inilah pemahaman dajjal, yang dhallun mudhallun, sesat lagi amat menyesatkan. Lha koq nekat dan ngotot bilang kalau Nabi orangtuanya itu musyrik?
    Pakai aja deh, logika yang pualing GUOBLOK…jika saya menyatakan seseorang itu orangtuanya kafir musyrik, padahal saya mempunyai bukti-bukti kuat akan hal itu. Bukankah anak itu sudah jelas dan pasti akan membenci saya? Pastinya dan mendengar nama saya saja sudah pasti akan menyakitkan hatinya. Boro-boro meminta tolong, menemui sayapun pastinya dia akan enggan. Bagaimana jika anda melakukan hal itu terhadap Sang Pembawa Syafaat? Hehehe…bahkan ditilik pun tidak.

    Bisanya gitu lho menyibukkan dirinya mencari dalil-dalil untuk MEMBUKTIKAN NABI BERORANGTUAKAN MUSYRIKIN. Laa haula walaa quwwata illa billah.

    Makanya,…yuk rame-rame kita hafalin 10 ayat pertama Surat Al-Kahfi, supaya terhindar dari fitnah keji seperti ini,
    Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg menghafal 10 ayat pertama pada surat Alkahfi maka ia aman dari fitnah Dajjal”, riwayat lain mengatakannya adalah 10 ayat terakhir surat Alkahfi. (Shahih Muslim hadits no.809)

    Siapa hayoo yang mau nolongin kita nanti selain Rasulullah? Emang cukup apa ibadah saja, emang cukup apa cuma menjelangkan waktu dengan mencari-cari hadits untuk berhujjah, WALLAHI…ITU TIDAK CUKUP. Sebab syurga itu bukan tempat bagi orang yang ahli ibadah, bukan pula tempat bagi orang yang pintar, meskipun pintar dalam hal mencari dan memahami dalil. Camkanlah! Bahwa syurga itu adalah tempat bagi mereka yang berakhlak, bagi sesama kita saja diWAJIBKAN kita berakhlak, terlebih kepada Rasulullah.

    Wahai orang yang berilmu dan pintar, wahai mereka yang menghabiskan waktunya untuk mencari bukti musyriknya orangtua Rasulullah, wahai mereka pandai berhujjah dan licik memelintirkan penafsiran, wahai yang berlidah bathil…MANA AKHLAKMU KEPADA NABIMU, ATAU ENTAH MUHAMMAD RASULLULLAH ITU TIDAK KAU ANGGAP SEBAGAI NABIMU?

    Apakah engkau merasa aman-aman saja setelah engkau membuat risalah KEJI demikian, setelah memusyrikkan orangtua Nabiku yang sungguh kucintai dan yang kuberharap syafaat darinya? Hai…lidah api neraka menantimu, bahkan adzab qubur pun tidak sabar lagi menunggu kehadiranmu di perutnya. Sungguh telah runtuh aqidahmu, telah hilang dan rontok imanmu kepada Nabimu. Maka dengan ini saya memberikan salam indah kepada anda wahai pengumpat orangtua Nabi…Salaamun \’alaa manittaba\’al huda.

    Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Quran namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).(HR Bukhaari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban
    Hehe….mungkin dia-dia ini gundul kali ya…n_n

    Hati-hati dalam berkalam…malaikat pencatat tidak pernah tidur dan lalai akan apa yang anda lakukan, dan bahkan tangan anda kelak akan bersaksi bahwa anda pernah menggunakan tangan anda dan bercapek-capek dengan tangan anda mengetik risalah hanya untuk memusyrikkan orang tua Nabi Muhammad. Na\’udzubillah…

    Tidakkah cukup mencaci maki muslimin dengan hal-hal bid\’ah? Tidakkah cukup anda meremehkan para Muhadditsin yang mulia? Apalagi menganggap musyrik pada orangtua NABI? Senantiasa kami sampaikan dan kami tegaskan bahwa mencintai Nabi Muhammad SAAW adalah tindakan terpuji bahkan teramat mulia untuk sebuah ibadah dan sama sekali tiada akan menyeret kita ke liang kesesatan. Oleh karena itu kenapa selalu ada saja orang selalu tidak senang melihat kita mencintai seseorang mulia ini SAAW, aneh sungguh aneh…adakah anda mencintai Nabi anda Sayyidina Muhammad? Atau cuma sekedar lisan saja, tidak dengan hati? Cintai Nabi dengan sesungguh cinta. Kalau saya mencintai seseorang, sudah pasti saya akan mati-matian berusaha untuk mencintai orangtuanya. Aneh khan kalau ada orang yang mengaku lebih paham akan kecintaan kepada Nabi, namun malah mati-matian memusyrikkan orangtua Nabi.

    Nastaghfirullahal azhiim wa natuubu ilaih, ga ada bosan-bosannya…seseorang dengan gampangnya bermodal dalil-dalil lantas menetapkan bahwa orangtua Nabi itu MUSYRIK?

    [i]-berkata,\’ Semestinya ia melihat argumentasi (dalil) pendapat-pendapat itu sesuai kemampuannya.\’ [/i]
    ——————–
    Agama ini bukan argumen, bukan pula pendapat. Iman yang menjadi tolak ukur, dan akhlak yang menjadi hasil. Lantas dikemanakan dalill AQLI? Bukankah kita diperintahkan untuk berakal dengan hati? Inilah akhlak. Hati yang bersih adalah cerminan akhlak.

    [i]-Habib, jangan sampai matahari yang menyinari bumi terang benderang menjadi gelap dan tertutup oleh bulan yang sedikit sinarnya. dibawah ini sanggahan dari teman saya bermanhaj-kan Salafus sholeh berbentuk tanya jawab….Ini adalah masih sambungannya dari Akhi Abu Al Jauzaa, mudahan dapat mengambil hikmahnya dari semua ini. ….Saudara saya akhi Abu Al-Jauza…..[/i]
    ——————–
    Iya…hikmahnya adalah, kita jadi semakin tahu bahwa betapa jahat dan sesatnya pemahaman seperti ini, bagaikan musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring. Virus seperti inilah yang akan menggerogoti iman kita orang Islam, sekilas seperti sepemahaman, sejalan. [b]Dan, bagi anda yang mencari hikmah, [/b]ana ingatan saja bahwasanya bulan tidak akan pernah memiliki sinar. Artinya jangan sampai anda mencari paku hilang kampak. Dan inilah kebenaran ucapan Nabi, jika berteman dengan tukang minyak wangi pasti akan kebagian wanginya, begitupun jika berteman dengan tukang api besi, yang akan membuat baju kita bolong-blong terkena percikan api. Khan begitu? Jika anda belajar dengan Habibana Mundzir, tinggalkan mereka yang menyesatkan anda, karena sifat mereka itu muta\’anid, menularkan kesesatan. Nah…dijadikan teman bergaul saja berbahaya apalagi dijadikan saudara?

    [i]-Kalau Pak Habib mengatakan bahwa orang tua nabi tidak meninggal dalam keadaan kafir/musyrik, tentu ini sangat bertentangan dengan penjelasan Imam Nawawi sendiri. Apalagi jika kita mau mencermati Shahh Muslim; maka kita akan tahu pemahaman yang ingin diambil dari hadits tersebut. Imam Muslim memasukkan hadits tersebut “Penjelasan bahwasannya siapa saja meninggal dalam kekafiran maka ia berada di neraka dan ia akan memperoleh syafa’at dan tidak bermanfaat baginya hubungan kekerabatan”. Nah, ini semakin jelas bahwa Imam Muslim memahami orang tua Nabi mati dalam keadaan kafir. Dan penjelasan Imam An-Nawawi yang tidak kalah jelas itu juga sebenarnya menjabarkan pemahaman dari Imam Muslim terhadap hadits tersebut.
    +Siapa yang menerima hadits dla’if munkar (atau bahkan maudlu’) ? Kalau antum menyebut Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Masaalikul-Hunafaa fii Waalidayyal-Musthafaa; maka kita tahu bahwa beliau adalah seorang ulama yang terkenal mudah sekali mengambil hadits-hadits yang tidak shahih.[/i]
    ———————–
    Menuduh seorang Imam besar turut mengkafirkan orangtua Nabi? hehehe rasanya susah membayangkan betapa banyak dan besarnya dosa seorang pemfitnah Imam besar seperti Imam Muslim dan Imam Nawawi. Ditambah lagi menuduh seorang ‘alim besar seperti Imam Suyuthi, anda tahu ada riwayat yang menjelaskan bahwa beliau Imam Suyuthi ini, jika datang padanya hadits yang meragukan, dhoif atau tidaknya. Maka beliau akan masuk ke dalam mihrabnya (kamarnya) dan beliau bertemu Nabi dalam keadaan yaqzhah (sadar/tidak tidur) dan langsung menanyakan apakah hadits ini benar ucapan beliau SAW. Silahkan banyak berburuk sangka kepada riwayat-riwayat mulia ini, jika memang anda tidak mempunyai sopan santun.

    [i]-berkata lagi,\’Ini adalah logika-logika bathil yang dibangun atas dasar asumsi.\'[/i]
    ——————–
    Logika bathil? Hai…inilah akhlak, dan bukan berdasarkan asumsi tapi dengan iman.

    [i]-Dan perlu dicatat bahwa hadits yang menerangkan status orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bukan yang diriwayatkan oleh Muslim saja. (Nanti akan ana tuliskan)[/i]
    ——————–
    Semangat dalam mencari dalil untuk mengkafirkan Nabi ini, kelak akan berbalik menjadi saksi yang akan menghinakan.

    [i]-Metode istidlal macam apa yang telah diperbuat oleh Pak Habib ? Hadits yang antum sebut itu adalah dla’if bima’na munkar !! Di sini antum mengingkari hadits shahih namun malah menerima hadits dla’if sebagai penjelas ayat Al-Qur’an. Metode semacam ini tidak dikenal di kalangan ahlul-‘ilmi. Ingat Pak Habib dalam ilmu musthalah hadits tentang definisi Hadits Munkar. Ana ingatkan jika antum memang lupa. Hadits Munkar (secara ringkas) adalah hadits dla’if yang menyelisihi/bertentangan dengan hadits shahih. Kedla’ifan hadits munkar ini merupakan tingkat kedla’ifan yang sangat berat. Tidak bisa terangkat menjadi kuat karena qarinah selainnya. [/i]
    ——————–
    Walaupun ada pendapat yg mengatakan hadits ini dhoif, hadits itu dhoif, akan tetapi adalah merupakan ucapan KUFUR jika ia mengatakan hadits ini dusta/palsu/munkar, karena orang yg mendustakan apa apa yg diucapkan Rasul saw maka dia kufur. Tak ada seorang muhaddits besar terdahuu yang berani menafikan hadits dhoif menjadi hadits munkar terlebih hadits palsu atau dusta. Eh…muncul nih pasukan Dajjal yg berkedok ulama hadits yg bermunculan di akhir zaman ini yg berani menafikan hadits Rasul saw, mereka bukan pakar hadits. Belajar untuk berprasangka baiklah…! Dikemanakan akhlak anda kepada Rasulullah? Nah…kalau misalnya nanti di akhirat Nabi memberikan kesaksian bahwa apa yang anda anggap hadits dhoif itu ternyata adalah ucapannya, bagaimana? Barangsiapa yg mendustakan ucapanku maka hendaknya ia bersiap mengambil tempatnya di neraka (shahih Bukhari). So prepare your self on it!

    [i]-Dan jika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa kedua orang tua beliau meninggal dalam keadaan kafir, maka kita terima dan imani itu. Itulah konsekuensi dari khabar-khabar yang dibawa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.[/i]
    ——————–
    Maka jelas iman seperti ini bukanlah iman pecinta Rasulullah, pecinta mana yang akan mengGHIBAH orangtuanya orang yang dicintainya? Dan anda pun akan dan PASTI menerima konsekuensi atas pernyataan mengkafirkan orangtua Nabi yang anda terima dan yang anda imani. Na\’udzubillah…

    [i]-Di sini antum kelihatan gigih sekali membela hadits munkar/palsu dan meninggalkan hadits shahih. Aneh. Sekali lagi, hadits dla’if tidak bisa memansukh hadits shahih Pak !! Kalau antum menemukan kaidah dalam Ulumul-Hadits seperti itu, tolong deh jelaskan pada kami…. Mungkin ana bisa mengambil manfaat dari penjelasan antum. Namun jika kaidah itu tidak ada, jangan lupa katakan kepada kami bahwa memang itu tidak ada.
    Sebagai tambahan saja Pak Habib, dalam ilmu hadits, kalaupun ada dua hadits shahih yang mungkin dianggap “berlainan” matan (bahasa haditsnya : Maqbul Mukhtalaf); tidak serta merta kita katakan bahwa hadits A menasakh hadits B. Tidak seperti itu !! Harus ada qarinah yang kuat yang mengindikasikan bahwa hadits itu benar-benar dinasakh. Karena pada asalnya, ketika kita katakan hadits A menasakh hadits B, ada kemungkinan pula justru hadits B yang menasakh hadits A. Para ulama telah menjelaskan bahwa jika ada dua hadits shahih yang kelihatan bertentangan (mukhtalaf), maka ditempuh dua jalan:
    1. Thariqatul-Jam’i
    2. Thariqatut-Tarjih (yang di dalamnya ada pembahasan nasikh-mansukh).[/i]
    ——————–
    Inilah yang ditakutkan, mereka yang berilmu dan mengaku lebih memahami hadits koq malah menyeret kita untuk memahami betul bahwa orangtua Nabi kafir. Habibana Mundzir memuliakan orangtua Nabi, lantas dia? Coba bayangkan dengan sekedar saja, mana yang kelak akan ditolong oleh Nabi Sang Pembawa Syafa\’at?

    [i]-Muhadditsin siapa pak ? Tolong sebutkan Muhadditsin yang mu’tabar. Jangan antum menyebut yang tidak mu’tabar[/i]
    ——————–
    Yang jelas ruuh para Muhadditsin pun tidak akan rela jika difitnah telah menuduh mengkafirkan orangtua Nabi SAW. Muhadditsin itu adalah orang yang suci dan mulia, bahkan Habibana Mundzir meriwayatkan akhlak Imam Bukhari dengan riwayat yang kuat dan memang beliau memiliki sanad yang jelas kepada Imam Bukhari. Bahwa beliau jika ingin menulis satu hadits saja untuk dibukukan, maka beliau akan mandi dan berwudhu mensucikan diri, tidak hanya itu, beliau shalat sunnah wudhu dahulu, kemudian dalam keadaan memakai sifat dan senantiasa bersiwak, barulah beliau menuliskan SATU HADITS SAJA, itupun selalu di tempat yang sama, Raudhah Asy-Syarif Masjid Nabawi. Betapa beliau begitu berakhlak dan begitu memuliakan kalam (hadits) Rasulullah. Betapa bagaimana mungkin beliau berkeyakinan dengan keyakinan yang sangat tidak menunjukkan AKHLAK KEPADA NABI dengan mengumpat orangtua beliau SAW?

    [i]- Ya….. riwayat-riwayat ini sepertinya dianggap angin lalu saja sama Pak Habib. Padahal Pak Habib tidak mampu membawakan dalil sama sekali untuk menguatkan pendapatnya, selain dari kata si Fulan demikian dan demikian. Taruhlah apa yang dikatakan ulama tersebut benar adanya (maksudnya : ulama yang disitir pendapatnya oleh Pak Habib itu membolehkannya), bukankah sikap kita adalah mengedepankan dalil dan mengesampingkan pendapat-pendapat yang menyelisihi dalil ?[/i]
    ——————–
    Ucapan musang berbulu domba yang hanya melulu soal dalil, kelak dalil-dalil yang mereka kemukakan akan menggugat mereka dengan segala kepedihan.

    [i]-NB : Pak Habib ini sering mengatakan : jumhur ulama dan muhadditsin. Ini adalah klaim dusta mengatasnamakan ulama. Itu bila yang dimaksudkan adalah ulama dan muhadditsin terdahulu yang mu\’tabar. Namun jika yang dimaksudkan Pak Habib adalah para ulama-ulama beliau dari Yaman (baca : guru2 beliau), nah…. ini bari \"benar\".[/i]
    ——————–
    Kesombongan yang menyakitkan dan malahan akan menjatuhkan anda sendiri, beginilah jika anda hanya belajar lewat buku-buku dan buku, juga dengan guru yang belajar hanya dengan buku dan dengan guru yang belajar lagi lewat buku, yang tak akan pernah ada habisnya. Dan tentunya tak akan pernah sampai keilmuannya kepada batas pantasnya seseorang itu disebut berilmu, karena hakikatnya ilmu itu ialah dengan sanad! Habibana adalah seorang guru yang berilmu dan bersanad, ilmunya itu terbimbing dan terpelihara oleh sanad mulia, sehingga beliau tsiqah dalam hal ini. Tidak seperti halnya anda yang hanya bermodalkan pintar berbahasa arab, pintar memelintir dalil, pintar berdebat, namun tidak jauh dari makna kebodohan yang hanya akan membawa anda kepada kekufuran.

    Mereka memang tidak pernah bersopan santun atau memang tidak memiliki sopan santun kepada seseorang yang lebih mulia dari pada mereka. Jika anda main kerumah saya, tentu anda akan berusaha bersopan santun dengan orangtua saya, kecuali jika memang anda tidak memiliki adab…Semoga Allah Ta\’ala merahmati mereka yang dengan gigihnya memperjuangkan bahwa ayah dan ibu dari Rasulullah adalah seorang kafir, sehingga mereka dapat mengungkapkan kecintaannya kepadaMu dan RasulMu sebelum ajal menjemput mereka….

    [b]Akhlak Mulia adalah menghormati Nabi Muhammad SAAW dan keluarganya, terlebih kepada KEDUA ORANGTUANYA[/b].

    Saya katakan disini, mereka yang selalu menjadikan yang haq itu batil, dan yang batil adalah haq. Orang seperti ini durhaka terhadap Rasulullah SAAW, tidak mempunyai adab terhadap junjungannya SAAW yang rela menumpahkan darah hanya demi ummatnya, rela dicaci, difitnah, bahkan dianiaya.. demi ummatnya. Koq ada yang ngaku ummatnya Nabi tapi bersikap sungguh tidak sopan kepada Nabi dengan menuduh orangtuanya Nabi musyrik. Ga akan ada bosan-bosannya pecinta Rasulullah membela kehormatan Nabi SAW. Dan kelak panji Pecinta Rasulullah akan menenggelamkan pemahaman jahat ini.

    Wahai para pecinta Rasulullah, eratkan barisan, bersama usung panji suci nan luhur ini. Dukung dan bela kita punya guru! Betapa hati ini tidak rela dan ridha atas pernyataan yang menyebut-nyebut bahwa Guru Mulia Habibana Mundzir mengingkari bahkan meninggalkan hadits shahih? Lantas mengkaitkan Habibana dengan kata pepatah : Bila seseorang bicara di luar bidang keahliannya, maka ia datang dengan membawa keajaiban-keajaiban. Menuduh Habibana bermain-main dengan logikanya? Menuduh Habibana berdusta? Kaifa hadza? Kemana akhlak mereka para WAHABI / SALAFI terhadap guru mulia?

    Sungguh guruku dan kalian telah mengajari dan membimbing kita untuk mencintai Nabi Muhammad. Haqqan Billah. Untaian indah dari kalam penuh kemuliaan dari seorang mulia yang mengajarkan untuk mencintai dan menghormati kita punya Nabi, inilah miftahul jannah, kunci dari segala kebahagiaan yang kelak akan kita dapatkan para pecinta Rasulullah SAW. Yakinkan, bahwa kelak kita akan diingatkan oleh Allah bahwa disaat kita pernah menerima dan menjalankan petuah beliau, maka pada saat itu kita akan mengucapkan syukur yang tiada berbulir akhir. Bersyukur bahwa kita telah dituntun dan dibimbing pada jalan yang haq, yakni memuliakan Nabi Muhammad SAAW.

    Walillahit taufiq wal \’inayah…

    #77723987
    Munzir Almusawa
    Participant

    Allahummahdiy Qaumiy fa innahum laa ya\’lamuun…

    #77724002
    khunthai
    Participant

    Assalamu\’alaikum wrwb.
    Ilmu ini tidak akan menambah dekatnya seorang kepada Allah SWT, dan/atau Rasulullah SAW. Bahkan semakin menjauhkan dari beliau SAW.

    Ilmu ini hanya sebagai bahan perdebatan saja. Tidak lebih dari itu. Hanya sebatas sampai di kerongkongan. Benarlah ramalan beliau SAW,

    Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang orang muda yang bodoh fikirannya. Mereka banyak mengucapkan perkataan \"Khairil Bariyyah\" (Maksudnya firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi.) Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai munculnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka\" (Sahih – Imam Bukhari)

    #77724032
    agri dimitri
    Participant

    Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillahirabilalamin
    Allahuma shali ala sayidina muhammad wa ala ali sayidina muhammad
    Semoga habiby dan keluarga selalu dalam lindungan Allah swt

    “Wahai Tuhan kami, (sesungguhnya) kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan kalau engkau tidak mengampunkan kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”.

    Segala puji bagi Allah yang dengan kelembutannya kita diberikan hati (Qalbu), yang dengan hati ini kita dapat merasakan kebaikan dan meyakini kebenaran.

    Wahai sahabatku yang kumuliakan, sesungguhnya teramat baik seseorang menuntut ilmu, karena ilmu yang bermanfaat dapat menjadi nilai ibadah yang tidak terputus meskipun maut telah menjemput.

    Ada suatu cerita yang mengisahkan perbedaan antara penerimaan akal (logika) dan hati (qalbu):

    Fulan: Ibu sesungguhnya ada seorang pemuda yang hendak meminangku, ia bertanya padaku siapakah kedua orang tuaku…
    Fulan: Karenanya, aku hendak bertanya siapakah ibu kandungku?
    Ibu: Benar, akulah ibu kandung mu.

    Untuk saat itu si fulan dapat menerima bahwa ibu itu adalah benar ibu kandungnya.
    Namun syaitan laknatullah berusaha menggodanya dengan bisikan-bisikan yang menimbulkan keraguaan di dalam hati si fulan (apa benar ibu itu adalah ibu kandungnya). Kemudian si fulan berusaha mencari bukti yang dapat diterima akal sehatnya (logika), karenanya si fulan bertanya pada penduduk kampung dan juga kepada seorang bidan yang membantu proses kelahirannya. Setelahnya si fulan merasa puas akan jawaban bahwa si fulan adalah benar anak kandung dari si ibu. Kemudia si fulan kembali bertanya kepada si ibu

    Fulan: Jadi benar ibu adalah ibu kandungku, maka siapakah ayah kandungku?
    Ibu: Si (A) adalah ayah kandung mu.

    Untuk saat itu si fulan dapat menerima bahwa Si (A) adalah benar Ayah kandungnya.
    Namun syaitan laknatullah kembali berusaha menggodanya dengan bisikan-bisikan yang menimbulkan keraguaan di dalam hati si fulan (apa benar Si (A) itu adalah Ayah kandungnya). Keraguan yang dibisikan syaitan laknatullah membuat hatinya benar-benar risau kepada siapa si fulan harus bertanya dan mencari jawaban yang dapat diterima akal sehatnya (logika)… Jika si Fulan tidak percaya atas jawaban dari si ibu maka kepada siapa dia harus bertanya…??

    Demikianlah cerita ini menggambarkan betapa akal sehat (logika) tidak mampu menjawab pertanyaan itu, karenanya hanya dengan hati yang bersih dan ke-ikhlas-an lah semua itu dapat di terima dan tanpa di perdebatkan.

    Wahai sahabatku yang hendak menuntut ilmu, carilah seorang guru yang menurutmu tidak ada keraguan untukmu, sehingga setiap apa-apa yang diajarkannya dapat diterima dengan hati yang lapang dan ilmu yang didapatkan dapat bermanfaat dan menjadi amalan yang baik.

    Sesungguhnya seorang guru adalah seperti ibumu yang mengajarkan ilmu sesuai dengan batasan-batasan pengetahuan yang dapat anda terima. Seorang guru tidak akan mengajarkan ilmu yang anda sendiri belum siap untuk menerimanya. Karenanya belajarlah dengan seorang guru, jangan hanya dengan buku.

    Demikian semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

    Semoga Allah me-ridho-i dan mempermudah perjuangan dakwah habib ke singapore.

    Wassalamu’alaikum

    #77724884
    Barata Aditya Akbar
    Participant

    ungkapan saya pertama adalah.
    hebat, berani, syetan saja berani menentang sama Dzat yang Menciptakannya, apalagi manusia tempat lupa dan salah, kalau anda tidak setuju, dengan pendapat orang lain, wajar kalau orang lain juga akan tidak mau mendengan pendapat anda, katanya belajar kok ngeyel. apa ini yang diajarkan gurumu, selalu ngeyel dengan pendapat orang lain,apa pernah anda mendengar riwayat dimana Nabi mengajarkan Ilmu kepada para sahabat, terus ramai ramai sahabat membantah, kalau bukan orang yahudi ???. jawab dengan kepala dingin.

    apa rela kalau ternyata orang tua anda bernasab sampai kepada penyembah patung ( karena agama pertama yang adi indonesia adalah bukan islam ) trus kamu dituduh bernasabkan penyembah patung ??
    tus apa gunanya sholat, puasa, ta\’lim keliling web, baca buku, kalau nantinya kamu dihukumi orang yang bernasab penyembah patung ??

    tangga akan tidak bisa disebut tangga kalau salah satu dari anak tangga itu terputus.

    kalau dari buku sih orang yang bisa baca tulis pasti bisa cari buku.

    saya komentar karena melihat kegigihan saudara siliwangi, untuk menolas semua pembahasan Al-Habi. ciri orang mencari ilmu adalah mendengan, memperhatikan, memahami, memperaktekkan.
    bukan mendengar, membandingkan dengan pendapat pribadi,buku, atau orang yang gak jelas. memahami terus melontarkan sanggahan sumber dari lainnya, dan memperaktekkan atau memberi sumber segala macam web yang bertentangan dengan yang ditanyakan.

    ingat sekali lagi, orang yahudi adalah orang pintar tapi umat yang disesatkan oleh Alloh SWT

Viewing 9 posts - 21 through 29 (of 29 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Tauhid’ is closed to new topics and replies.