November 27, 2020

perkawinan syarifah

Home Forums Forum Masalah Umum perkawinan syarifah

Viewing 10 posts - 1 through 10 (of 28 total)
  • Author
    Posts
  • #85830289
    muhammad thoha
    Participant

    ass.Wr.Wb
    ya..habib, ana mau tanya:
    1. Kenapa kaum pribumi (laki2) tidak boleh mengawini syarifah, ana pernah tanya sama habib hasan bin ali alidrus bhw untuk mengawini syarifah harus minta ijin sama habaib diseluruh dunia . ma\’af apakah itu termasuk ajaran rasullulloh ?
    2. ana pernah dengar waktu haul di solo, dari ceramah seorang habib bahwa kalau kaum ba\’alwi berbuat baik ia akan mendapat pahala berlipat daripada kaum ahwal, ta[pi sebaliknya kalau ia berbuat maksiat ia akan mendapat dosa yang berlipat , apakah hukum islam mengatur demikian ? padahal Alloh SWT berfirman \" Inna akromakum \’indzallohi atqookum\". tanpa mengurangi rasa cinta ana pada keluarga rasul mohon penjelasannya.
    wassalamu\’alaikum WR.Wb

    #85830326
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Cahaya Rahmat Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda dengan kebahagiaan,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    selamat datang di web para pecinta Rasul saw, kami sangat gembira menyambut kedatangan anda, kita bersatu dalam kemuliaan,
    1. Imam Syafii dan Madzhab Syafii berpendapat pernikahan antara keturunan Rasul saw dengan yg bukan dzurriyah adalah tidak kufu, Imam Syafii juga menganggap tidak kufu pernikahan antara orang miskin dan orang kaya,

    mengapa?, jangan berprasangka buruk dulu terhadap Imam besar ini, sungguh Imam Syafii melihat ketika seorang wanita miskin menikah dengan pria yg kaya, maka sering terjadi sang wanita tersiksa, tak terbiasa mengikuti adat suaminya yg mewah, makanannya, cara bergaulnya, maka jadilah si istri terhina dan dianggap kampungan oleh keluarga suami, hal ini hampir selalu terjadi.

    sebaliknya ketika seorang pria miskin menikahi wanita kaya, maka ia tak akan mampu menutupi kebutuhan istrinya, maka istri harus menahan diri dan tersiksa demi menyesuaikan diri dg pria/suami yg miskin,

    disinilah Imam syafii mengatakan pernikahanya tidak kufu, demi menjaga kelansgungan asri nya rumah tangga itu sendiri.

    dan juga pernikahan wanita syarifah dg pria yg bukan dzurriyyah akan memutus jalur keturunan Rasul saw, semestinya keturunan Rasul saw dilestarikan dan dijaga, sebagaimana firman Allah swt : \"Katakanlah wahai Muhammad, aku tak meminta pada kalian upah bayaran atas jasa ini, terkecuali kasih sayang kalian pada keluargaku\" (QS Assyuura 23).

    namun wanita syarifah sah menikah dg pria yg bukan Dzurriyyah bila walinya setuju dan wanita itu sendiri setuju, namun ada pendapat yg mengatakan yg dimaksud walinya adalah bukan ayahnya saja, tapi semua dzurriyah yg ada dimuka bumi,

    namun pendapat yg mu\’tamad (dipegang) oleh ulama kita saat ini adalah cukup disetujui oleh wanita tsb dan walinya.

    2. ada pendapat yg demikian pernah saya dengar, namun saya tak menemukan dalil yg shahih dari ALqur\’an atau hadits akan hal itu, namun umumnya hal seperti itu diucapkan pada para habaib demi membangkitkan semangat mereka untuk beramal, dan berusaha menjaga diri dari kemaksiatan, sebab memang selayaknya mereka yg mengaku keturunan Rasul saw haruslah berusaha lebih taat pada ALlah dan menjadi contoh dan Qudwah bagi muslimin,

    mengenai firman Allah swt : \"Sungguh yg paling mulia diantara kalian adalah yg paling bertakwa pada kalian\" adalah ayat Targhib littaqwa, yaitu menyemangati untuk bertakwa, namun banyak juga orang orang yg dimuliakan ALlah sebelum mereka bertakwa pada Allah, sebagaimana para Nabi dan Rasul alaihim salam, atau ada pula para bayi yg sejak kecil sudah diberi kemuliaan oleh Allah swt untuk mengetahui isi hati seseorang dan hal hal yg ghaib sebagaimana diriwayatkan pada Shahih Bukhari dll.

    maka ayat itu adalah Aaamun makhshush (umum yg ada pengecualiannya).

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    Wallahu a\’lam

    #85830343
    muhammad thoha
    Participant

    Ass.Wr.Wb.
    sebelumnya Saya mohon ma\’af bila pertannyaan Saya kemarin agak lancang dan kurang sopan santun. Ya..Habib..Lega rasanya Saya mendapat jawaban yang cukup bijaksana dari habib munzdir. Masalah perkawinan syarifah itu terjadi dikeluarga Saya. Yaitu dulu paman Saya menikah dengan seorang syarifah (aldjufri).Keluarga Saya ada dua golongan Jawa dan Arab ( karena adik nenek Saya dikawin oleh Habib Ja\’far bin Abdulloh bin Salim alhaddad lamongan ) Sehingga terjadi pertentangan terutama dikeluarga kami. Sampai- sampai mereka (keluarga arab )secara nggak langsung memutus silaturrahim dengan paman Saya.Tapi benar juga pendapat habib. paman Saya tadi kurang bisa mengikuti budaya dan tradisi mereka begitu juga sebaliknya.Sehingga sekarang cerai dengan Syarifah tersebut.Pertanyaan Saya Habib:
    1. Bagaimana hukumnya memutus silaturrahim karena kasus tersebut ?
    2. Apakah kami juga termasuk Dzurriyat Rasul karena nenek kami dikawin oleh habaib?
    3. Apakah maksud \"Wa\’ala ali Muhammad \"?
    Demikian terimakasih atas perhatian habib. kalau ada waktu bisakah kita bertemu dihaul habib abu bakar asseggaf Gresik? (tgl 27 Desember 2007 ) Habib biasanya duduk diposisi sebelah mana ana kepingin ketemu. Dan kalau ada waktu juga ana mengharap barokah Habib Munzdir menghadiri haul Alhabib Abdulloh Bin Salim Alhaddad Lamongan tgl.23 Des 2007 ba\’dal ashar.
    Semoga habib diberi panjang umur dan Doakan ya Habib semogaSaya berharap bisa dikumpulkan dengan para habaib didunia dan diakherat bersama seluruh keluarga Saya.
    Ass.Wr.Wb

    #85830363
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Limpahan Rahmat dan Inayah Nya swt semoga selalu menyelimuti hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. baiknya segera disambung, fihak yg memutus agar segera menyambungnya, atau fihak yg diputus segera menyambungnya, jika salah satu fihak menolak, maka fihak yg bermaksud menyambung jangan sampai memusuhinya, maka mereka tak kena dosa, dan dosa akan berlanjut pada fihak yg memutus.

    2. pendapat yg mu\’tamad dzurriyah hanya tersambung dari nasab pria, dan pengecualian adalah pada Sayyidah Fathimah Azzahra ra.

    3. pendapat yg mu\’tamad adalah keluarga Bani Hasyim dan Bani ABdulmuttalib.

    4. duh.. saya ini selalu sembunyi kalau hadir kesana, saya biasa diluar masjid, sebab kalau saya masuk maka akan ditarik kedepan dan disuruh ceramah pula, cukuplah Hb Jindan saja.

    Insya Allah saudaraku kita akan jumpa, entah di Gresik atau di Lamongan atau lainnya, salam takdhim tuk keluarga anda.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #85830389
    Arul
    Participant

    Assalammualaikum wr wb.

    Bib sy tertarik ama topik ini, suatu hari ada sesorang yg ngobrol ama adik istrinya, saat itu sedang membicarakan masalah silsilah keluarga, adik istrinya mengatakan bahwa bapaknya memiliki silsilah ke Joko Tingkir. Setelah dikonfirmasi kepada istrinya ternyata benar bahwa keluarganya memang memiliki silsilah ke Joko Tingkir. Pada keesokan harinya seseorang tadi ngobrol2 dengan seorang ustad dan ustad itu mengatakan bahwa Joko Tingkir adalah keturunan Rasulullah SAW, ini berarti sesorang itu telah menikah dengan seorang Syarifah. Pertanyaan sy adalah

    1. apakah benar Joko Tingkir merupakan keturunan Rasulullah SAW?
    2. Apakah salah apabila seorang lelaki menikahi seorang syarifah karena dia tidak mengetahui bahwa calon istrinya itu seorang syarifah ?
    3. Apakah salah apabila menyembunyikan identitas dirinya sebagai keturunan Rasulullah SAW ?

    #85830410
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kebahagiaan dan Pengampunan Nya semoga selalu menyelimuti hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. saya dengar begitu, namun belum disahkan oleh fihak Rabithah Alawiyyah.

    2. tentunya jjika tidak tahu maka tak mengapa.

    3. tentunya salah, karena ia menyembunyikan nasab yg Nabi saw melarang orang untuk menyembunyikan nasab

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #85830445
    muhammad thoha
    Participant

    assalamualaikum Wr.WB.
    ya.. Ustadzanal kariim…
    Banyak kyai jawa yang menyembunyikan nasabnya karena tawandzuk, seperti Romo Kyai ABD.Hamid Abdulloh Pasuruan padahal Beliau keturunan Basyaiban dan Romo KH.Asrori Surabaya Padahal kualitas keilmuan & akhlaq mereka tidak diragukan lagi. Yang menjadi pertanyaan Saya :
    1.Mohon dijelaskan silsilah joko Tingkir kalau memang beliau dzurriyah Rasul?dan kenapa kok belum disyahkan?
    2. Mohon dijelaskan hadist Rasullulloh yang melarang menyembunyikan nasab?dan bagaimana kalau bertujuan untuk tawadzuk atau pamer?
    3.Banyak kenalan Saya, habaib kalau pagi ikut majlis taklim malamnya ke diskotik, mereka hafal maulid habsyi tapi tidak lupa mengkomsumsi sabu2, pantaskah mereka menyandang gelar cucu rasul?Haruskah kami menghormati mereka?
    ya..habib..tolong dijelaskan supaya tidak menjadi bahan cemoohan golongan diluar kita ( Alirsyad, Muhammadiyah, Salafi Dll).
    Sebelumnya Saya mohon ma\’af bila kurang sopan.
    Wassalamu\’alaikum Wr. Wb

    #85830480
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kebahagiaan dan Kelembutan Nya semoga selalu menyelimuti hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. menyembunyikan nasab bisa dikatakan tawadhu,namun fatal jika ia mempunyai anak wanita, atau anak lelakinya saat akan menikah dg syarifah maka akan ditolak, karena nasabnya tak diakui, dan akan menyebabkan dosa besar bagi orang lain, karena sebab dia maka orang orang akan mendustakan nasab anak anaknya.

    sebenarnya tidak ada ulama yg menutupi nasabnya jika mereka mengerti syariah, namun mereka tak senang membanggakannya, mereka lebih senang dipanggil ustadz, kyai, daripada digelari sebagai cucu Rasulullah saw karena malu, namun jika ditanya dg serius maka mereka akan jujur dan tak mungkin dusta dengan mengatakan : \"nasab saya tidak bersambung kepada Rasulullah saw\", ucapan ini mungkar.

    2. saudaraku, saya bukan ahli nasab dan tidak hafal nasab joko tingkir, dan fihak Rabithah belum mengakui karena belum ada riwayat tsiqah untuk mengesahkannya, demikian kejelasan dari Pimpjnan Maktab Daimiy Rabithah alawiyyah pusat Jakarta.

    Rasul saw bersabda : \"Barangsiapa yg mengaku ayah pada selain ayahnya dan ia mengetahuinya maka sorga baginya haram\" (shahih Muslim) berkata Imam Nawawi yg dimaksud dalam hadits ini adalah menolak nasabnya

    dan tentunya dusta adalah perbuatan mungkar, maka mustahil ulama berdusta atas nasabnya.

    3. kecintaan pada keturunan Rasul saw adalah kecintaan yg suci dan tulus, tak bisa terkotori hanya dengan perbuatan buruk mereka, karena kecintaan kita bukan karena mereka tapi karena Rasulullah saw,

    sebagaimana kita mencium hajarul aswad, tentunya bukan karena hajarul aswad, tapi karena telah dicium oleh Rasulullah saw, maka lebih lagi mereka dari keturunan Rasul saw, mengenai masalah mereka hafal maulid dan mereka mungkar, maka kita mengajaknya kepada kebaikan semampunya dan mendoakannya, bukan mencela dan mencaci mereka,

    jika anda melihat terdapat najis di Ka\’bah apakah anda berhenti menghadapkan kiblat ke Ka\’bah?, justru berusahalah membenahi dan menyucikannya kembali, demikian jika terdapat najis pada hajarul aswad, apakah kita mencopot dan membuangnya?, tentunya orang yg berakal sehat akan membersihkannya dan tak mau menyebarluaskannya.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

    #85830492
    Arul
    Participant

    Assalammualaikum wr wb,

    Maaf habibana, ijinkan saya memberikan informasi buat saudara m0t tentang joko tingkir yg baru sy dapat dr sebuah artikel yg bersumber pada majalah alkisah, artikel lengkapnya sudah di posting di majelisrasulullah@yahoogroups.com dgn judul
    \"Dakwah Sepanjang Hayat, Teladan Sepanjang Jalan\", ini sedikit cuplikan artikelnya.

    \"Dan yang sangat menarik ialah, ternyata Jaka Tingkir juga masih mempunyai
    nasab sampai ke Rasulullah SAW. Jaka Tingkir yang juga dikenal sebagai
    Pangeran Hadiwijaya adalah pendiri Kerajaan Pajang, beberapa saat
    setelah surutnya kerajaan Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak
    Bintara. Jaka Tingkir punya nama yang menyiratkan bahwa dia seorang
    habib: Sayid Abdurrahman Basyaiban. Tahun lalu wartawan Alkisah,
    Musthafa Helmy, yang berziarah ke makam Mbah Sambu di Lasem,
    Rembang, Jawa Tengah, melihat prasasti marmer ukuran kecil dalam
    bahasa Arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang
    sebenarnya ialah Sayid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayid Abdurrahman
    Basyaiban.

    Menurut H.A. Hamid Wijaya, mantan khatib am Syuriah NahdlatuI Ulama
    dan anggota DPR-GR dari Partai NU tahun 1960-an, Sayid Abdurrahman
    Basyaiban adalah Jaka Tingkir. Hamid Wijaya sendiri mengaku sebagai
    keturunan Jaka Tingkir. Itu sebabnya ia menggunakan nama belakang
    Wijaya (dari Hadiwijaya). Setidaknya ada tiga orang keturunan Mbah
    Sambu yang menjadi orang besar: Kiai Mutamakkin (Pati), penulis kitab
    tasawuf dalam bahasa Jawa (Serat Cabolek), Kiai Saleh Darat (Semarang);
    dan K.H. Hasyim Asy\’ari;(Jombang) , pendiri Nahdlatul Ulama.\"

    Untuk saudara m0t, kalau ingin mengetahui tentang keutamaan ahlul bait baik dari segi dalil dan yg lainnya, mgkin habibbana tidak bisa menuliskannya disini semua, karena sangat banyak. Sebagai informasi yg mgkin bisa membantu saudara m0t bisa membuka buku online ttg keutamaan ahlul bait karangan KH. Abdullah bin Nuh dan yg lainnya di website http://www.asyraaf.com/v2/buku/fadhail_ahlulbait/

    Mudah2an informasi ini bisa membantu saudara m0t, Mohon maaf habibbana, mohon diberitahu apabila ada kekeliruan.

    #85830497
    Munzir Almusawa
    Participant

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Kebahagiaan dan Kelembutan Nya semoga selalu menyelimuti hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    sungguh saya tidak mengingkari nasab beliau, namun saya telah menghubungi Sayyid Abdurrahman Basurrah selaku pimpinan maktab Daimiy Rabithah alawiyyah jakarta Pusat, bahwa nasab Joko tingkir belum disahkan secara tsiqah.

    Rabithah Alawiyyah adalah badan sensus para keturunan Rasul saw di Indonesia, dan pusatnya adalah di Jakarta, cabangnya banyak diantaranya cabang pekalongan pimpinan Hb Lutfi dan banyak lagi dihampir seluruh kota besar di Indonesia.

    maka beliau Hb Abdurrahman Basurrah menjelaskan pada saya demikian, bahwa beliau sering mendengar kabar tentang itu namun belum menemukan sanad yg tsigah atas silsilah Joko tingkir.

    Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

    Wallahu a\’lam

Viewing 10 posts - 1 through 10 (of 28 total)
  • The forum ‘Forum Masalah Umum’ is closed to new topics and replies.

Artikel Terpopuler

Artikel Terbaru