Kunjungan Dakwah ke Denpasar
Mei 2007

{mosimage}Sabtu siang pk 13.00 WITA, 26 mei 2007 kami tiba di bandara Ngurah Rai Denpasar, disambut oleh para kordinator Dakwah di wilayah Denpasar, Ustaz H Badrudin, Hb Talib Assegaf, H. Kholid dll, dua mobil yang sarat dipenuhi para penggerak dakwah itu telah berjam-jam parkir di bandara Ngurah Rai menanti kedatangan kami, setibanya kami disana maka salam dan peluk hangat kerinduan tak terhindarkan setelah 3 tahun lamanya kami tak kunjung ke Bali, padahal sebelumnya kami mengunjungi Bali setiap bulannya.

Kami segera menuju Kediaman Ustaz H Badrudin untuk majelis pembukaan dan sambutan, seraya pembacaan Maulid Simtudduror bersama puluhan para aktifis dakwah di wilayah setempat, diakhiri dengan penyampaian ceramah, lalu makan siang. Setelah ramah tamah beberapa lama lalu kami melakukan shalat ashar berjamaah dan lalu menuju Masjid Kampung jawa, disana masyarakat telah menunggu karena telah diumumkan seminggu sebelumnya, pembacaan maulid singkat lalu saya menyampaikan ceramah dengan dihadiri wakil ketua pendeta Hindu setempat.

{mosimage}{mosimage}Perlu diketahui bahwa wilayah Bali adalah wilayah Non muslim terbesar di Indonesia, yaitu jumlah muslimin hanya mencapai 2,5% dari jumlah total penduduk Bali, oleh sebab itu hubungan dengan para pendeta hindu sangat perlu dijalin, mengingat kerisauan atas tekanan kaum hindu kepada muslimin akan berkurang dan berkurang, sebagaimana di beberapa tempat tekanan masih sering terjadi, misalnya bila menara masjid lebih tinggi dari menara “Pura” maka menara masjid akan dirobohkan, dan pelarangan adzan dengan pengeras suara di banyak tempat, atau kewajiban mematikan lampu saat hari nyepi, bila ada rumah muslim yang masih menyalakan walau lilin maka akan hancur dilempari.

Mereka memiliki pasukan adat, yang dikenal dengan nama laskar hindu, pasukan adat ini lebih disegani dari militer, dan mereka berhak mengatur diatas militer karena merupakan pasukan adat. Dan masih banyak keluhan-keluhan lain dari muslimin disana, namun hal itu dapat diredam dengan menjalin hubungan baik dengan para “Pedande” (pendeta) Hindu. Wakil pimpinan Pedande Bali ini rupanya ramah, dan iapun sering hadir di majelis-majelis menemani kedatangan para Ulama dari luar Bali, ia mengenal ucapan “Insya Allah”, Alaikumsalam, Bismillah, dan ucapan-ucapan muslim lainnya, semoga Allah memberinya hidayah.

{mosimage}Selesai majelis kami meneruskan ramah tamah di kediaman haji Khalid yang merupakan Aktifis dakwah di wilayah tersebut, kami dikediaman beliau hingga waktu magrib, lalu shalat magrib berjamaah dan isya, lalu menuju Masjid Agung Sudirman, inilah acara puncak, berpadu puluhan majelis taklim yang memang telah diundang untuk menghadiri silaturahmi akbar, majelis dipimpin oleh Hb Fahmi Alkhanaiman yg memang satu satunya habib yang paling gigih menegakkan dakwah di wilayah Denpasar dan sekitarnya, acara selesai pk 23.00wita.

Kami menuju tempat peristirahatan disebuah Villa besar yang dilengkapi kolam renang dan taman, kabarnya milik seorang Pakistan yg memang selalu meminjamkan Villa nya untuk para tamu dari luar Bali, kami duduk beramah tamah dengan kunjungan para Kyai, ustaz dan tokoh masyarakat yang silih berganti, ada yang bertanya, minta dan khususnya adalah laporan dalam kendala Dakwah di wilayah masing-masing serta dimusyawarahkan, pk 02.00 dinihari saya masuk ruangan istirahat tuk menanti subuh.

{mosimage}Dinihari Ahad 27 Mei 2007 kami shalat subuh berjamaah di Musholla Annikmah, diteruskan dengan kuliah subuh hingga menjelang Isyraq, kami kembali ke Villa untuk bersiap-siap menuju Kediaman Hb Talib Assegaf di Klungkung, beliau adalah seorang aktifis dakwah di wilayahnya yg gemar mendatangkan para da’I dari luar Bali, kami menghadiri jamuan makan pagi bersama 3 mobil lainnya, rumah itupun sarat dengan jamaah, lalu perjalanan diteruskan Ziarah ke Makam Assayyid Alhabib Ali Alhamid di Kusambe sekitar 30km dari Denpasar, di tempat itu kami bertemu pula dengan rombongan Hb Fahmi Khanaiman, maka semakin semaraklah ziarah itu, kemudian bersama-sama menuju Ma’had di Kusambe, pesantren yg belum lama dibuka itu telah dipenuhi santri-santri, kami disambut dengan maulid Dhiya’ullami oleh para santri, lalu saya menyampaikan Mau’idhah hasanah dan diakhiri dengan Ijazah Sanad Shahih Bukhari, Hadits Rahmah dan Hadits mahabbah.

Perjalanan diteruskan ke kediaman Hb Segaf Asegaf yg juga di klungkung untuk jamuan makan siang, lalu hawa yg sangat panas terik itu mengundang kami tuk beristirahat di wilayah padang bay, yaitu pelabuhan Bali, kami beristirahat disebuah penginapan selama 60 menit, waktu yg sangat singkat, saya mandi sebentar lalu menjatuhkan tubuh dipembaringan, masya Allah.. perjalanan yg sangat melelahkan dan tak ada istirahat dalam beberapa hari sebelumnya, karena memang saya pada hari kamis dan jumat di kualalumpur dengan jadwal yg padat pula, jumat di jakarta dan sabtu berangkat ke Denpasar, uh.. sangat teramat lelah.. acara akan dimulai ba’da asar, saya punya waktu 40 menit saja.

Tubuh saya rebahkan dan tertidur lelap.. subhanallah, saya terbangun dan sangat ketakutan, karena terasa tidur sudah sangat lama sekali, bagaikan tidur 5 atau 6 jam, namun ketika saya lihat jam ternyata hanya 20 menit, subhanallah.. sungguh tidur yg sangat puas, Allah beri kekuatan walau hanya 20 menit namun terasa sangat lama, saya mandi bergegas dan waktu sudah saatnya kembali ke klungkung, kami sempat shalat asar lalu segera bergegas ke klungkung untuk menghadiri majelis taklim Khairunnisa.

Majelis untuk kaum Nisa di kediaman Hb Segaf, menjelang magrib kami bergegas ke Denpasar untuk menuju majelis terakhir ba’da Isya yaitu di Musholla Nurul Iman, acara selesai pk 21.00 wita, lalu kami menuju bandara Ngurah Rai untuk Boarding sambil beramah tamah, peluk tangis perpisahan tak terelakkan lagi, saya segera mempercepat langkah karena tak tahan menahan airmata perpisahan dengan mereka, pesawat Lion Air tertunda sangat lama, maka pk 23.30 WITA kami meluncur kembali ke Jakarta.

{mosimage}Lampu bergemerlap diatas Bumi Denpasar yg kusaksikan dari jendela pesawat saat lepas landas sangat indah, bagaikan ucapan salam perpisahan yg mengharukan, dalam beberapa detik saja gemerlap lampu itu berubah menjadi gelap gulitanya laut Bali sangat mencekam, entah telah berapa banyak jiwa para Da’I yg mengunjungi pulau ini untuk mengenalkan Tauhid, entah mereka kembali atau menetap disana, entah mereka selamat atau celaka dan syahid..

Namun satu munajat yg kuhembuskan dalam nafasku diatas laut Bali… rabbiy.. jadikan pulau ini pulau tauhid, pulau muslimin, runtuhkan patung-patung berhala penyembahan pada selain Mu diatas Bumi yg milik Mu ini.. jadikan pulau ini pulau sujud.. penduduk yg berdzikir, tolonglah muslimin muslimat disana.. Rabbiy.. mereka telah bersabar hidup ditengah-tengah kekufuran demi Dakwah, mereka menahan diri dari hewan-hewan Babi yg berkeliaran mengotori halaman rumah mereka dan mengotori anak-anak mereka, mereka bersabar dan bersusah payah mencari makanan yg halal demi keridhoan Mu dan menghindari apa-apa yg kau haramkan.., Rabbiy.. padahal bumi itu milik Mu.. Rabbiy.. tolonglah mereka, curahkan Inayah Mu atas mereka, pastikan mereka wafat dalam husnul khatimah, jadikan setiap kejapnya curahan hidayah dan taufiq atas mereka yg masih menyembah selain Mu disana.., jadikan setiap detik ada diantara mereka yg bersyahadat dan memeluk islam.. doa munajat kami siang dan malam atas wilayah ini agar segera dihujani hidayah dan Tauhid, amiin.. amiin..