Forum Replies Created

Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)
  • Author
    Posts
  • in reply to: Keberadaan Allah #71837220
    Handlight
    Participant

    Assalamu \’alayku wr. wb.
    Saya hanya ingin menambahkan sedikit. Kita ummat Islam adalah ummat yang berakal. maka janganlah kita berfikir sebagaimana anak kecil berfikir. Dalam Injil Barnabas diceritakan bahwa salah satu murid nabi Isa bertanya, \"Bagaimana Allah tidak berputra, sedangkan Dia Bapak kita?\" Maka nabi Isa menjawab dengan bijak, \"Janganlah kamu menanggapi amtsal para nabi secara harfiah.\"
    Ketika kecil, kita sering diajarkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Fikiran kita yang masih polos tanpa filter waktu itu mungkin mengira bahwa surga itu benar-benar berada di bawah telapak kaki ibu. Tapi kini kita mengerti bahwa itu adalah sebuah kata-kata puitis. Jika Anda mendengarkan syair-syair para penyair, mungkin Anda akan menganggap mereka itu telah kafir disebabkan syair-syai yang Anda pahami secara salah. Maka jangan menanggapi syair-syair itu secara harfiah. Dan Allah punya cara untuk mengekspresikan Diri-Nya. Jika Anda tidak memahami maksudnya, maka imanilah akan ayat tersebut, adapun bagaimana-bagaimananya, tidak usah kita fikirkan dan jangan kita tanyakan. Misalnya Allah beristiwa di atas arsy. Berimanlah akan ayat yang menybutkan sifat Allah itu, jangan Anda katakan bahwa itu ayat palsu. tetapi jangan Anda fikirkan bagaimana Allah beristiwa di atas arsy.
    Mungkin peristiwa tanya jawab antara Imam Malik dan salah satu muridnya bisa menjadi pelajaran. Jadi tidak perlu kita memikirkan bagaimana yang dimaksud \’Allah beristiwa di atas arsy\’. Tetapi imanlah bahwa Allah telah menyifati Diri-Nya demikian.
    Mohon maaf jika ada kesalahan.
    Wassalamu \’alaykum wr. wb.

    in reply to: terjemah qasidah mushohabatur rijal #71780270
    Handlight
    Participant

    Jazakallahu khairan katsiran

    in reply to: tentang ijazah #71754681
    Handlight
    Participant

    Apa yang dimaksud dengan ijazah secara khusus dan apa pula ijazaah secara umum?
    Apakah ada bedanya jika mengamalkan Ratibul Haddad dengan ijazah dan tanpa ijazah?
    Jika ada bedanya, tolong kiranya Habib mengijazahkan Ratibul Haddad itu secara umum.

    in reply to: Hijab pada Wanita #71747365
    Handlight
    Participant

    Saya setuju dengan pendapat: apabila belum dapat dikerjakan secara keseluruhan, kerjakanlah semampunya.
    Wanita yang masih ingin menampakkan auratnya saat ini terkadang berdalih bahwa dia ingin menghijab hatinya dulu sebelum menghijab lahirnya. Padahal segala sesuatu itu hendaknya bertahap. Dan tahap yang paling mudah dalam hal ini adalah menghijab lahiriah. Adapun tingkah-laku dan hati, bisa menyusul kemudian. Kalo menunggu hati kita ini sempurna, lalu kapan kita akan menutup aurat? Sedangkan hati atau keimanan itu pastilah berubah-ubah, kadang naik kadang turun, kadang bertambah kadang berkurang.
    Tutuplah aurat lahiriah dan janganlah berbicara soal tingkah wanita berjilbab yang masih \’nakal\’. Sebab orang yang membicarakan belum tentu lebih baik dari orang yang dibicarakan.
    Jika Anda membuka aurat dan berlaku \’nakal\’, bukankah itu lebih parah daripada wanita yang berjilbab dan bertingkah \’nakal\’?
    Wallahu a\’lam.

    in reply to: Tanya tentang tawasul ? #71731694
    Handlight
    Participant

    Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur\’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. Al-Baqarah: 89]
    Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang Yahudi sebelum Nabi Muhammad lahir, yang mereka bertawassul dengan Nabi akhir zaman agar dimenangkan terhadap orang-orang kafir. Akan tetapi ketika Nabi tersebut telah dibangkitkan, mereka ingkar kepadanya. Kemudian tersebut dalam kitab hadits:
    Bahwasanya Nabi SAAW pernah berdo?a dengan mengatakan, ?Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.? [HR. Imam Thabrani]
    Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, ?Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: ?Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.? Lalu Allah berfirman: ?Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?? Adam menjawab: ?Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ?Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah? sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.? Lalu Allah Berfirman: ?Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.? [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]
    Dari Abu Sa?id Al-Khudry ra. berkata: Rasulullah SAAW bersabda, ?Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk shalat, lalu membaca: ?Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan haq orang-orang yang memohon kepada-Mu dan dengan haq perjalananku ini, karena aku tidak keluar dalam keadaan kufur ni?mat, sombong, riya`, atau pun sum?ah, tapi aku keluar karena takut murka-Mu dan karena mencari ridha-Mu, karena itu aku mohon kepada-Mu kiranya Engkau memelihara aku dari neraka dan mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.? Maka Allah menghadap dengan wajah-Nya dan tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampunan untuknya.? [Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkar berkata: Hadits ini adalah hasan, dikeluarkan oleh Ahmad ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Tauhid, Abu Naim dan Ibnus Sunni.]
    Dalam hadits di atas dikatakan bahwa Rasul bertawassul dengan orang yang berdoa kepada Allah, bukan dengan kecintaan beliau kepada orang yang berdoa kepada Allah. Jadi dalam bertawassul dengan nabi atau orang shalih, seseorang bukanlah bertawassul dengan amal shalihnya, berupa kecintaannya kepada nabi atau orang shalih tersebut. Tetapi seseorang bertawassul dengan nabi atau orang shalih itu, dengan derajat mereka, dengan kedekatan mereka di sisi Allah. Jadi, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang bertawassul dengan nabi atau pun orang shalih, dia harus mengi?tiqadkan bahwa ia bertawassul dengan amal shalihnya, yaitu berupa kecintaannya kepada nabi atau orang shalih. Orang berpendapat seperti ini adalah orang yang meng-haramkan bertawassul dengan nabi atau pun orang shalih, atau pun dengan malaikat. Padahal dalam hadits di atas telah begitu jelas bagaimana nabi bertawassul. Lalu atas dasar apa mereka mengatakan bahwa tawassul dengan orang yang berdoa kepada Allah itu haram, bertawassul dengan nabi itu sudah dihapus, bertawassul dengan nabi itu harus mengi?tiqadkan bahwa ia bertawassul dengan amal shalih, kalau tidak demikian berarti haram. Mana dalilnya? Mana dalil yang mengharamkan bertawassul dengan nabi? Mana dalil yang menunjukkan bahwa hadits bertawassul dengan nabi telah dihapus? Mana dalil yang menunjukkan bahwa seseorang harus mengi?tiqadkan bahwa ia bertawassul dengan amal shalihnya berupa kecintaan kepada nabi? Mana dalilnya? Mengapa bertawassul dengan nabi disebut syirik, sedangkan bertawassul dengan amal shalih sendiri tidak disebut syirik? Bukankah amal shalih juga makhluq? Bukankah derajat nabi lebih tinggi dari amal shalih kita yang belum tentu ikhlash? Hadits di atas telah jelas. Begitu juga hadits-hadits shahih berkenaan dengan hal ini.
    Jadi adalah boleh bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih sebab Allah mencintai mereka. Dan bolehnya perbuatan ini tidak bisa dihapus hanya dengan persangkaan-persangkaan. Jika ada yang mengatakan bahwa keterangan yang jelas ini telah dihapus, maka ia harus mengemukakan dalil yang jelas pula dari Al-Qur`an atau hadits yang jelas dan shahih, bukan berdasarkan persangkaan seorang ustadz. Jika yang menghapus itu adalah seorang ustadz tanpa nas yang jelas, kemudian ada orang yang mengikutinya, maka pengikutnya itu telah menyembah ustadz tersebut, sebab pengikutnya telah mengangkat sang ustadz sebagai syari? (pembuat syari?at).
    Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [QS. At-Taubah: 31]
    Jika seseorang mengganti perkataan ?Ya Rabbi bil Musthafa? dengan ?Ya Rabbi bit taqwana?, maka aku bertanya, manakah yang lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, Muhammad Al-Musthafa ataukah taqwa kita yang tidak seberapa?
    Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Syafi?i di Makkah pada abad yang lalu berkata: ?Kesimpulannya, bahwa menurut paham Ahlussunnah wal Jama?ah adalah sah bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW, baik ketika hidup beliau, maupun sesudah beliau meninggal. Begitu juga boleh bertawassul dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang lain, dengan auliya-auliya dan orang-orang shalih sebagaimana dianjurkan oleh hadits-hadits yang telah kami terangkan terdahulu. Kita kaum Ahlussunnah wal Jama?ah mengi?tiqadkan bahwa tiada seorang pun yang dapat memberi efek, mengadakan, menjadikan, meniadakan, memberi manfaatnya, memberi mudharat, kecuali hanya Allah Yang Maha Esa saja, tidak bersekutu bagi-Nya. Kita tidak mempercayai Nabi mengadakan ta?tsir (memberi efek), Nabi memberi manfaat pada haqiqat, memberi mudharat dengan jalan mengadakan, memberi bekas/efek, dan juga tidak bagi lain Nabi, baik orang yang telah mati maupun yang masih hidup. Maka tidak ada perbedaan dalam soal ini dan dalam soal tawassul ini antara Nabi SAW dan Nabi-Nabi yang lain, rasul-Rasul, Wali-Wali dan orang-orang shalih, tidak ada perbedaannya hidup atau mati, karena mereka tidak menciptakan suatu juga, mereka tidak berkuasa sama sekali, hanya berkat mereka diambil karena kekasih Allah; mencipta dan mengadakan hanya milik Allah, Tunggal dan tidak bersekutu. Orang-orang yang memperbedakan antara orang yang hidup dengan orang mati, maka orang itu mengi?tiqadkan bahwa orang hidup bisa mencipta apa-apa dan orang mati tidak bisa lagi. Kita berkeyakinan dan beri?tiqad bahwa yang menjadikan tiap-tiap suatu adalah Allah, dan Allah itu menjadikan kita dan menjadikan pekerjaan kita. (Lihat QS. 37: 96) Orang-orang yang membolehkan tawassul dengan orang yang masih hidup tetapi melarang tawassul dengan orang yang telah wafat maka orang itu pada haqiqatnya telah masuk syirik dalam i?tiqad dan tauhid mereka, karena mereka mengi?tiqadkan bahwa yang hidup bisa mencipta, sedang orang yang telah wafat tidak bisa lagi. Orang-orang beri?tiqad macam itu, bagaimana pula mereka mengatakan bahwa mereka memelihara tauhid, dan orang lain dikatakannya telah masuk kepada syirik, sedang pada haqiqatnya merekalah yang kemasukan syirik. Mahasuci Engkau, ya Rabb! Itulah bohong mereka yang besar (buhtaanun ?azhiim).? [Kitab ?Syawahidul Haq? karangan Syeikh Yusuf bin Isma?il an Nabbani hal. 159]

    Istighatsah
    Istighotsah atau meminta tolong kepada manusia adalah boleh selama kita beri?tiqad bahwa pada haqiqatnya Allahlah yang memberi pertolongan. Para shahabat pun pernah beristighatsah kepada Nabi dan paman beliau, dan bahkan diantara mereka ada yang bersyair, ?Kalau bukan kepada engkau, kemana kami akan pergi. Kemanakah manusia akan meminta bantuan kalau bukan kepada Rasul Ilahi.? Akan tetapi Nabi tidak memarahi mereka, bahkan Nabi berdo?a kepada Allah bagi mereka.
    Dan dalam Injil Barnabas pasal 11 ada dikisahkan mengenai orang yang berpenyakit kusta datang kepada Nabi Isa dan berkata, ?Tuan, berilah aku kesehatan.? Nabi Isa mencelanya, ?Kamu adalah bodoh, berdoalah kepada Allah yang telah menciptakanmu, dan Dia akan memberimu kesehatan, karena aku adalah seorang manusia seperti kamu.? Orang itu menjawab, ?Saya tahu bahwa engkau adalah seorang manusia, tetapi engkau seorang suci utusan Allah. oleh sebab itu mohon engkau doakanlah kepada Allah, dan semoga Dia berkenan memberikan daku kesehatan.? Maka Nabi Isa berdoa, ?Allah Tuhan Mahakuasa, demi kecintaan para Nabi Suci, Engkau berilah kesehatan terhadap orang yang sakit ini.? Dalam hal ini ada istighotsah, tawassul dengan Asma dan Sifat Allah, tawassul dengan meminta dido?akan, juga tawassul dengan para Nabi.

    Wallahu a?lam.

    in reply to: Buku Kristologi #71746191
    Handlight
    Participant

    Syukron atas informasinya. Mudah-mudahan saya bisa bertemu dengan beliau untuk membahas hal ini. Jazakallahu khairan katsira.

    in reply to: ?Agar ILMU Bermanfaat? #71693033
    Handlight
    Participant

    Doa seperti itu, alhamdulillah, telah saya amalkan sejak saya kecil. Alhamdulillah, ilmu yang telah saya pelajari memang mudah muncul ketika saya membutuhkannya. misalnya ketika saya menghadapi suatu permasalahan atau pun ketika saya ditanya orang mengenai suatu hal.
    Jadi titipkanlah kepada Allah segala apa yang telah Dia ajarkan, dan mohonlah agar ilmu itu dikembalikan kepada kita ketika kita memerlukannya.
    Berdoalah seperti yang Habib ajarkan. Insya 4JJI, ilmu kita tidak akan hilang, sebab kita menitipkannya kepada Yang Mahamenjaga lagi Mahamemelihara.

    in reply to: Kesucian Al-Qur`an #71731889
    Handlight
    Participant

    Jazakallahu khoiran katsira ya habib! Semoga Allah menjagamu selalu dan menjadikan diriku selalu mencintaimu dan datukmu saaw.

    in reply to: iqab ibadah #71732021
    Handlight
    Participant

    Jazakallah ya habib! Tetapi saya sudah keluar dari kelompok pengajian tersebut sekarang. Tetapi insya 4JJI akan saya tanyakan lewat teman saya. Syukron atas penjelasannya.

Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)